Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 141


__ADS_3

...Seakan membuka album. Aku menitikkan air mata. Mengingat masa lalu. Cara kita bertemu, cara kita bertengkar, dan cara kita berpisah. Lalu, ada satu pertanyaan di tengah kita hadir. Apa salahku? Padahal, aku percaya kau tidak akan pernah mendustaiku....


..._Sadewa_...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sadewa meraup lembar merah muda kenangannya. Merobeknya. Seakan tiada kenangan manis yang harus di timpa luka. Luka yang menggores hingga ke nadinya. Meneteskan darah ke lantai, dan menghentikan jantungnya saat itu. Kenangan itu datang kembali. Sayatan itu ternganga beserta garam melebur dalam tiap daging merah miliknya.


Malam itu,


Di bawah payung yang tergenggam. Terlihat Tina bersikap acuh akan Sadewa yang menyembunyikan air mata berbaur air hujan.


"Mengapa kau membohongiku?"


Tina mengangkat alisnya. Hanya satu alis. Namun, segera dia menyadari, ekspresi bukanlah kesedihan. Dia segera mengubah topengnya. Berpaling dengan payungnya, menghindari tatapan Sadewa. Perlahan, Tina mencari-cari kesedihan yang dia buat, dan akhirnya mampu memaksa keluar embun jatuh berguling membanjiri pipinya. Setelah, dia merasa air mata itu cukup menyakinkan. Dia berjalan mendekati pria di bawah hujan itu. Memberikan payung yang sama. Tangannya tinggi terangkat memayungi pria yang jauh lebih tinggi dari tubuhnya yang terlihat mungil.


"Maafkan aku, Dewa," ucap Tina dengan wajah mengemis kasihan.


Sadewa mundur keluar dari lingkaran payung, dan berkata, "Untuk apa kau memberi payung? jika, aku telah basah kuyup dari ujung kepala hingga ujung kakiku. Bahkan di dalam dadaku, aku juga, ikut basah karena air mataku!"


Tertohok! sakit! perih! mendengar pria itu telah menangis dengan sejuta luka.


Tina mengelap masuk air matanya ke dalam bibirnya. Dia pilu sebentar. Lalu, mengangkat kelopak matanya, sekedar memandang betapa tajamnya netra berkaca pria itu. Kelopak mata Tina, tertunduk dan terlipat. Dia telah jatuh dalam kebohongannya.


"Maaf," sebut Tina lagi.


"Apakah tidak ada pengakuan setelah permintaan maaf? Kau hanya berkata maaf. Tetapi,seakan kau tidak mengetahui salahmu," teking Sadewa dan merasa konyol.


Tina hanya mengeluarkan isak bagai teriakan yang sedang bersanding nyaring dengan suara deru hujan.


"Kau tau salahmu?"


Tina menggelengkan kepalanya. Lalu, menganggukkan kepalanya dengan buru-buru. Dia tidak mampu mengelak lagi. Dia meraba perutnya. Seakan genggaman anak di balik perut itu, mampu dia genggam.


Aku mencintai ayah dari anakku. Namun, hatiku robek oleh pria yang tulus mencintaiku, gelisah Tina haru dan bingung.


"Katakan!" Suara pria itu keras bagai petir yang menembak kepala Tina yang segera bangun dari pikirannya. Kembali ke nyata, menatap dan mendapatkan hukuman.


"Aku menipumu. Aku mengambil uangmu. Aku merayumu. Aku membujukmu. Aku berbohong manis."


"Benar!"


Tina lega sesaat. Detik selanjutnya kembali sesak akan kalimatnya yang menembak kepalanya lagi.


"Setelah aku mengetahui semua itu. Aku tetap mencintaimu. Bahkan menerima anak dalam perutmu."


"Iya, kau benar," ujar Tina terdengar pasrah, dan ujung paku di tancapkan pada daging merahku. Seakan, sedang menebak di mana hati nuraniku.

__ADS_1


"Namun, kau malah mendustaiku lagi. Lari, kembali pada pria itu."


Tina tak bergeming. Lalu, genggaman tangannya melepas ganggang payung, dan membiarkan angin menerbangkan payung itu. Lalu, membiarkan air langit membasahi raganya. Saat ini, dia menangis nyata. Menangis sakit.


Hujan!


Sadewa bergetar panik. Melihat tetesan demi tetesan membasahi wanitanya. Dia segera lari mengambil payung. Memegang kuat, dan berlari kembali pada Tina, dan memayungi wanita itu.


"Cukup pria di bawah hujan. Wanitaku jangan."


Tina terisak getir. Dia segera menyekanya, dan memukul dada pria itu, "Kau masih baik padaku. Setelah aku melukaimu. Namun, aku tidak pantas. Aku tidak sempurna. Aku bukan yang terbaik."


Sadewa akan merangkul. Namun, tangan Tina membentang panjang, menjadi jarak di antara mereka. Kepalanya menunduk. Tatapannya hanya pada kedua ujung sepatu milik mereka.


"Kesalahanku hanya satu yaitu manfaatkan dirimu untuk kebutuhan ekonomiku. Namun, hatiku untuk dia."


"Dimanfaatkan, aku rela. Asal kau berdiri di sisiku."


"Tidak! Aku terlalu jahat untukmu!" Tina mundur, keluar dari lingkaran payung, dan berlari pulang. Menyisakan Sadewa di bawah payung itu.


Sadewa kaku. Tak bergeming. Dia larut dalam kesedihannya bagai letupan bara yang menginjak telapak kakinya. Terbakar, melepuh hingga tulang putih itu terlihat.


Titt! Tittt!


Suara klakson mobil bahkan tidak terdengar. Hanya sorot cahaya lampu yang silau membangunkan dirinya untuk sekedar menoleh.


Brakkk!


Sadewa membola dan rasa sakit menghanyutkanya, membuat pandangannya berangsur gelap perlahan, dan sekejap jantungnya mulai berdenyut pelan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tiga hari kemudian


Di sebuah ruangan dengan dinding biru muda seperti warna langit, di lubangi jendela dengan gorden bewarna kuning jingga. Ada setangkai  mawar di letakkan di atas nakas, yang bersisian dengan bankars. Seorang pria dengan perban melingkari kepalanya. Terlihat membentang diam dalam kebisuan panjang. Genap tiga hari.


Bibir putih pria itu terlihat kering, dan perlahan kelopak matanya berkedut, dan terbuka lebar. Dia menoleh ke tangan kecil halus yang menggenggam erat tangan kokoh miliknya. Dia membuka bibirnya sedikit, dan perlahan meraup udara merasuki rongga dadanya.


Haus. Tenggorokannya minta di lewati air. Dia akan berucap meminta air. Namun, mendadak dia mengurungkan niatnya. Dia menatap tangan halus milik Santi. Gadis itu masih mengenakan pakaian seragam putih abu-abu, dan kepalanya miring terlelap di atas bankars.


Sadewa berkaca. Santi telah menunggunya selama di rumah sakit. Dia mengindahkan larangan Ratih. Gadis itu senantiasa menunggu di sisinya sepanjang hari setelah pulang sekolah. Perlahan tangan Sadewa bergerak dan mengelus rambut kekasih kecilnya, dan dia merapikan setiap anak rambut dengan jemari tangannya. Perlahan dia menyentuh jepitan cemara milik gadis seragam abu-abu itu, dan melekatkan kembali pada rambut hitam legam wanita itu.


Gerakan itu halus, dan ada getar sangat hati-hati. Namun, tetap saja mengejutkan Santi. Santi sontak membuka mata dan menatap lurus pada pria pujaan hatinya. Sepasang matanya membola kasihan. Melihat bibir kering pria itu.


"Mas Dewa, haus?" Santi berdiri mengambil segelas air putih. Meletakkan lebih dulu di nakas. Lalu, membantu pria itu posisi duduk.


Segelas air di antar pada tangan Sadewa. Sadewa meneguk perlahan, dan  tenggorokannya lega menerima banyak siraman. Namun, wajah Santi bagaikan hukuman yang datang untuknya.

__ADS_1


"Kau tidak di cari ibumu?"


Santi menggelengkan kepala.


Sadewa menghela napas panjang. Lalu, tangannya menggulingkan lengan jaket Santi. Ada tanda merah dan ungu menghias pergelangan gadis kecil itu.


"Pulang. Mungkin ibumu masih bersabar, mencubit lenganmu hingga hari ini. Tiba, rasa jengkel ibumu karena kau terus datang mengunjungi aku. Aku hanyalah pemuda miskin. Jika kau terus menemuiku, Ibumu akan murka, mematahkan tangan dan kakimu,  agar kau tak mampu kemari lagi."


"...."


"Pulang ...," lirih Sadewa lembut. Namun, bagai pedang menggores leher gadis kecil itu.


Santi merengut. Sepasang mata bola hitamnya besar di biasi air bening, "Tetapi, aku takut kau mati dan meninggalkanku!"


Santi merah dan malu akan ucapannya sendiri. Dia segera menjatuhkan kepalanya. Menelungkupkan wajahnya pada kasur beralas sprei biru muda itu. Dia menangis dan tersedu-sedu.


Namun, pria yang di tangisi hanya diam membisu menatap layar ponsel N-gage. Dia telah menunggu dua hari, untuk mendapatkan balasan pesan Tina, seorang yang telah di sebut ratu dalam hatinya.


Namun, tidak ada satu pesanpun dari Tina. Sadewa perlahan sadar dia hanya menyentuh gunung es milik orang lain.


Sadewa merasa hampa. Seakan dadanya telah kehilangan jantung. Dia ingin mati saat ini. Dia menggulingkan air matanya. Menangis diam. Kini, dia yakin cinta itu mampu membunuh. Cinta itu mematikan.


Jempol Sadewa merangkak bergerak perlahan membuka kotak masuk. Hanya ada pesan Djodi dan Santi yang memenuhi kotak masuknya. Dua hari penuh, dia menunggu sedikit rasa kasihan dari Tina. Hanya menunggu satu pesan. Namun, rasa pengabaian saja yang dia telan. Lalu, jempolnya beralih ke kotak terkirim, dan dia buka pesan yang dia kirim pada Tina malam setelah dia mampu hidup lagi.


Tina, saya Dody, sahabat Sadewa. Sadewa telah meninggal dunia karena kecelakaan terjadi.


Sadewa mendekih seperti orang idiot dengan seribu lara yang hanya di dominasi warna merah seperti darah. Hatinya telah berdarah-darah saat ini. Demi, menarik simpati, diapun rela berdusta. Mengarang kematiannya. Namun, dia malah ditikam kepahitan. Rasanya, mengalahkan pahitnya empedu. Sikap gadis itu dingin mencampakkannya.


Jempol Sadewa bergerak beralih menekan kotak masuk. Membuka pesan Dody yang terbaru. Hatinya sakit sedalam mungkin. Kala, setiap matanya harus mengeja seruan sahabatnya.


Jangan mengharapkan Tina. Kau sebut dirimu mati! dia tetap tidak ingin melihat! Aku bahkan melihat dengan kepalaku sendiri, dia memeluk pria yang kau panggil sahabat, dan yang kau sebut Mak comblang itu. Pagar makan tanaman. Acungin jari tengah buat Mak comblang bangsat.


Sadewa memejamkan matanya. Pilu. Sangat pilu. Palu terus memukul setiap paku ke dalam dadanya. Melubanginya. Mencabutnya. Membuat setiap dada berlubang itu, mengucurkan air darah bagai air mancur.


Seakan membuka album. Aku menitikkan air mata. Mengingat masa lalu. Cara kita bertemu, cara kita bertengkar, dan cara kita berpisah. Lalu, ada satu pertanyaan di tengah kita hadir. Apa salahku? Padahal, aku percaya kau tidak akan pernah mendustaiku, batin Sadewa menatap satu nama yang tertera dalam daftar kontaknya. Randy.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sadewa : sakit mengenang masa lalu. Kau jahat sekali Thor.


Author: Nggak usah merengek! Wanita gitu buang! Buang dan hukum! Hukum lemparin batu! Bidik dan tembak!


Sadewa: Nanti di kira banci!


Author: Nyamar lah lu! Nggak punya akal. Pura-pura jadi cewek manja. Ingat dia tu makan keringat lu. makan duit lu. Permainin lu. Kecuali, dia nggak makan duit lu ! Bidik dan tembak! gass kan ...


Sadewa: Singa berkata pantang menyamar jadi kucing betina! Namun, saya punya cara untuk mengakhirinya.

__ADS_1


Penampakan hape zaman dulu buat main game. Ini andalah para gamers zaman Old. Kaga punya hape ini, kaga keren dulu coi!



__ADS_2