Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 25


__ADS_3

Nenek Mayang berdiri di sisi ranjang. Dia mengamati setiap detail gerak-gerik kecil Aprilia. Dia menunggu Aprilia, untuk terlelap dengan pulasnya.


Tidak menunggu lama. Dengkuran halus dan teratur terdengar. Nene Mayang menyunggingkan senyumnya. Dia duduk berjongkok. Mengendus perut Aprilia.


"Makananku. Persembahkanlah untukku." Nenek Mayang mengelus perut Aprilia. Seakan meraba dan mencari jejak keberadaan sosok kecil yang sedang berenang-renang dalam kolam rahim Aprilia.


"Kau di sana?"— Nenek Mayang tergelitik — "Masih sangat kecil. Tetapi aku bisa melihat tiap tunas kaki dan tangan kecilmu. Wajahmu mulai membentuk. Wajah itu perpaduan sempurna antara ayah dan ibumu, serta dosa mereka merekat dalam darah dagingmu."


Nenek Mayang mengendus, mendekat pada perut rata Aprilia. "Aku tidak sabar menunggu tumbal kecil." — Nenek Mayang mencium perut Aprilia —" Daging lembut dan darah yang manis, milikku."


Nenek Mayang merekatkan daun telinganya pada perut Aprilia. Seakan dia mencoba mendengar gerak-gerik halus janin kecil. "Nikmatilah dengan berenang sepuasnya. Sebelum manjadi ampas daging yang terkunyang dalam mulutku."


Nenek Mayang berhembus ke alam bawah sadar Aprilia. Dia menciptakan ilusi Jack lagi dan lagi. Kali ini, dia membuat sosok Jack duduk termenung dengan wajah kehilangan warnanya. Dia terlihat sangat pucat, dan tubuh yang terikat ketat di sebuah kursi.


"Aprilia ... Aprilia ...," bibir pria ilusi itu bergerak memanggil dengan sangat lirih.


Aprilia yang terbaring dalam alam mimpinya. Terlihat terbangun dari tidur yang melelahkan. Dia membuka matanya. Samar dia mendengar suara yang sangat familiar di telinganya, sekaligus sangat di rindukan. Dia pun bangun dari taburan ribuan bunga mawar merah yang menguburnya di alam mimpinya. Setiap bunga mawar merah itu berjatuhan dari tubuhnya, kala dia berdiri. Dia pun menajamkan pendengarannya, melangkahkan kakinya ke asal suara. Dia berjalan terus berjalan sepanjang jalan setapak yang mengantatkannya pada sebuah kastil dua.


Aprilia mulai menjejakkan kakinya, berjalan sepanjang lorong. Suara itu makin dekat terdengar. Makin Aprilia mendekat ke asal suara, makin jantungnya berdegup kencang, Deg! Rasanya berdebar dan menjatuhkan dirinya ke titik tergugup. Kulitnya terasa sangat dingin.


Apakah itu suara Jack? mengapa kita selalu bertemu dalam mimpi. Aprilia mengeluh dalam setiap langkahnya yang telah tiba pada suatu ruangan dengan pintu tertutup.


Aprilia berhenti. Dia terlihat ragu untuk masuk. Dia menghela napasnya. Ada rasa jengah bercampur marah yang menyesakkan dadanya. "Bukankah kau dengan Nana?"


Ada rasa cemburu menyelinap begitu saja. Rasa cemburu itu membakar dadanya. Membuat Aprilia melepaskan tangan dari ganggangnya. Aprilia bersiap akan segera berbalik. Namun, suara pria yang tidak asing, menahan langkahnya.


"Aprilia ...." Panggilan itu terdengar lirih dan memohon.


Aprilia kaku sebentar. Pikirannya melayang akan wajah Puspa yang bergelantungan mesra dalam dada pria itu, dan pria itu mengurung Puspa dalam rangkulan tangannya yang melingkar ketat dan hangat. Tersiram cuka. Terbakar cemburu. Aprilia memutuskan meninggalkan Jack begitu saja.

__ADS_1


"Aprilia ...," lirihan itu mengguncang Aprilia.


"Kumohon, bantulah aku."


Luluh akan panggilan itu, terdengar lirih dan sangat menderita. Akhirnya, Tangan Aprilia meraih ganggang dan membuka pintu, Kret!


Seberkas cahaya masuk ke dalam ruang gelap menyoroti sosok pria yang duduk di sebuah kuris, dengan tali tambang yang mengikatnya ketat pada punggung kursi. Sepasang matanya di tutup dengan selembar kain panjang. Peluh keringat bercucur jatuh sepanjang rahang wajahnya. Wajahnya terlihat putih bak kehilangan darah di bawah lapisan kulitnya.


Aprilia kaku bingung sebentar. Seolah terpaku akan sosok tersebut. Aprilia menatap lama dan lekat.f


"Jack," desis Aprilia pelan. Lalu, tangannya bergerak menutup mulutnya, menyamarkan penyebutan nama itu keluar begitu saja dari tenggorokannya. Seketika ada rasa sakit yang mengetok hati Aprilia dengan palu. Terenyuh dalam isak yang bersembunyi dalam diam. Dia masih merasakan sakitnya rasa cemburu itu.


"Aprilia ...," sebut pria itu lirih dan terdengar pilu.


Aprilia menelan isaknya. Berlari maju dan berjongkok melepas tali ikat tambang Jack. Setelah itu, dia melepas penutup mata Jack. Jack tersungkur jatuh dari kursi, jatuh pada pangkuan kaki Aprilia. Napasnya terdengar satu satu.


"K-au da-tang."


"Iya."


"A-aku lama menunggumu di-si-ni."


Aprilia merekuh kepala Jack dan menyandarkan pada dada Aprilia. "A-ada apa denganmu, Jack?"


Jack hanya diam. Sepasang matanya terlihat sangat nanar. Bibirnya perlahan makin sulit membuka. Merapat dan kelu. Tidak lama kemudian, dada Jack melambung tinggi sebentar, dan tarikan napasnya sangat panjang, dan berhembus satu kali.


Setelah itu, pandangan mata Jack terlihat kosong. Napas Jack hilang kemudian. Aprilia terpaku sedih, dan hanya merasakan sentuhan kulitnya hanya menyentuh raga yang terasa kaku dan mulai membeku dingin.


"Jack!" Aprlia histeris dan menangis.

__ADS_1


"Jack!!!!" Aprilia terbangun setelah tarikan nama itu panjang. Aprilia membuka matanya, dan baru menyadari jika dirinya hanya bermimpi. Namun, mimpi itu terasa sangat nyata. Ujung telunjuk Aprilia menyeka sudut matanya. Ada sisa-sisa jejak air mata di sana.


"Aku menangis. Apakah itu pertanda?"—Aprilia menggelengkan kepala— "Biasanya yang mati dalam mimpi, artinya akan panjang umur."


Aprilia kembali menarik napas lega, "Semoga itu benar."


Aprilia mengadahkan matanya ke dinding. Dia melihat angka jam. Pukul 02.00 dini hari. Aprilia menepuk-nepuk wajahnya. "Semoga itu hanya bunga tidur."


Aprilia kembali memejam kan matanya. Dia terlelap kembali dengan cepat. Di saat itu, diapun kembali bangun dalam mimpinya. Dia berada di ruangan yang banyak cermin. Aprilia menatap bingung akan pantulan sosok cantik di cermin.


"Ini aku? atau siapa?" Aprilia berkedip bingung. Menyentuh hidungnya, terlihat tinggi dan ramping. Lalu, sepasang matanya terpaku akan setiap fitur sempurna wajahnya yang baru. Dia menatap lekat dirinya sendiri. Dia melihat dalam pantulan kaca, bibirnya terlihat penuh dan setiap garis tegas menunjukkan betapa indah dan sexy-nya bibirnya. Alis gelap, tebal dan berbentuk ala alis gadis Korea.


Aprilia menangkup kedua rahangnya dengan tangannya, "Bentuk wajahku bukan kotak lebar. Namun, tirus." —Aprilia mencubit dagunya— "Mengapa aku bisa secantik ini?"


Aprilia linglung. Memutar tubuhnya dan berjinjit melihat betapa indahnya gaun yang dia kenakan. "Aku terlihat bak cindrella. Pasti, hanya akan menjadi wajah pembantu lagi kelak," keluh Aprlia dan menyentuh pantulan dirinya di cermin. Dia meraba sosok.keindahan yang terbingkai dalam cermin.


Cantik sekali diriku. Luar biasa.


"Bagaimana aku bisa secantik ini?


"Susuk!" jawab seseorang yang terdengar di telinga Aprilia. Namun, tidak terlihat sosoknya. Aprilia mencari sosok tersebut. Namun, tidak menemukan sosok tersebut. Deg! Aprilia bergindik takut, dan kembali bangun dari mimpinya. Dia bangun dan mengedarkan bola matanya ke kiri dan kanan.


......................


Bersambung ....


Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai dengan episode ini. Besar harapannya author sih, readers terus mengikuti dan membaca, dan jangan lupa berikan hadiah 🎁, Vote 🎫, Like 👍, dan Coment setelah membaca yah .


Besar dukungan kalian sangat di harapkan Lo

__ADS_1


__ADS_2