
...Cinta itu mengejutkanmu. Bumi menyedihkan, kau tetap tertawa untuknya. Bumi membakarmu, kau tersenyum untuknya....
...—Eouny Jeje—...
...Aku juga bisa demam, jika tidak melihatmu sehari saja...
...—Sadewa—...
...꧁❤•༆PJP 64༆•❤꧂...
Sunshine Mall ...
Aprilia merasakan kepalanya sangat pusing. Dia mengalami kurang tidur dalam sebulan ini. Sadewa terus mengganggunya setiap malam, hanya sekedar untuk mencumbunya sepanjang malam. Namun, dia memiliki cukup uang untuk berbelanja. Pria genit itu berhasil membujuk Santi untuk memberikan uang bulanan pada Aprilia yang merawat Ratih. Keadaan Ratih, makin melemah, dia hanya terus berbaring. Dokter bahkan mengira karena faktor usia, karena wanita itu telah mendekati usia 80 tahun.
"Padahal karena obat tidur yang melemahkan otot dan otaknya si wanita tua itu," komentar Aprilia pada dirinya sendiri di dalam ruang bilik ganti. Dia membeli beberapa pakaian indah untuk dirinya.
"Gaji dari wanita butuh cinta Mas Dewa itu, lumayan mampu di mamfaatkan. Dasar wanita bodoh. Rasa cintamu jatuh pada pria yang tergila-gila padaku." Aprilia terkekeh geli pada cermin. Setelah rasa konyolnya hilang, dia pun berputar-putar hanya untuk melihat bagaimana indahnya setelan mahal yang dia gunakan. Ini adalah pertama kalinya dia membeli pakaian dengan harga di atas dua juta.
"Pakaian mahal akan membuatmu terlihat elegan,Aprilia. Harga dua juta tidak sebanding dengan tas Santi yang terbuat dari kulit buaya asli itu. Aku akan memeras mas Sadewa nanti malam, agar dia bersedia membelikanku tas mewah."
Setelah puas dengan pakaian pilihannya. Aprilia membayar pada kasir. Lalu, dia dengan percaya diri keluar dari toko pakaian mahal itu. Dia keluar melangkah linglung sebentar. Kemanakah dia harus pergi?
"Ah, aku tidak ingin pulang cepat ke rumah. Aku hanya akan di minta memijat kaki tangan keriput itu. Ah, malas sekali."
Aprilia menggigit bibirnya. Bingung sebentar. Namun, rindu segera menyergap lagi. Rindu pada sosok Jack,membuat hasrat menggebu tiba-tiba.
"Mengapa rinduku hari ini tidak tertahankan?"
Aprilia memejamkan matanya. Gelisah tercetak jelas pada wajahnya.
"Di mana aku harus menemuinya?" Aprilia mulai menerka di mana dirinya bisa melihat sosok pria yang dia cintai.
__ADS_1
"Rumah Nana?" Aprilia menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mungkin menemuinya di sana."
"Apakah aku bisa bertemunya di club' waktu itu lagi?" Aprilia optimis akan club' tempat pertama kali dirinya bertemu Jack.
Aprilia menatap dirinya. Dari ujung kakinya. Menilai penampilannya sendiri.
"Bagaimana bisa aku pergi dengan pakaian sopan seperti ini?" Aprilia berbalik tidak percaya diri dengan apa yang dia pakai saat ini. Dia kembali ke sebuah toko pakaian wanita.
Seorang pramuniaga cantik menghampirinya. Aprilia tertegun sesaat, akan wajah pramuniaga tersebut. Cantik luar biasa.
Betapa adilnya Tuhan padanya. Walau dia hanya pramuniaga toko, tetapi karunia kecantikan alaminya membuatku iri, iri Aprilia dalam hatinya.
"Apa ada yang bisa di bantu?"
Aprilia terkesiap bangun dari rasa kagumnya. Dia malu ketahuan menatap kagum begitu lama. Aprilia segera mengalihkan pandangannya, dan berpura-pura tidak mendengar dan melangkah masuk ke rak gantungan pakaian minim. Pakaian minim, yang potongannya gaunya berada di atas lutut, dengan rata-rata potongan punggung yang terbuka polos.
Aprilia baru bergerak memilah-milah. Handphone dalam tas tangannya terasa bergetar. Dia segera merogoh, dan dia menarik napas panjang akan nama tercetak. Mas Sadewa.
"Iya, mas."
Aprilia menimang jawabannya. Entah mengapa hatinya tidak ingin pulang saat ini. Hatinya berdesir membuncah rindu pada sosok pria yang menghias mimpi malamnya.
"Mas, aku tidak bisa pulang malam ini."
"Mengapa tidak bisa pulang? Padahal aku sudah menyiapkan sesuatu yang bagus untukmu, sayang?" jawab Sadewa di seberang sana, seraya menabur kelopak bunga mawar pada kasurnya. Kejutan romantis yang dia persiapkan untuk isteri keduanya.
"Ibuku menelponku,mas. Aku sedang di stasiun, anakku sedang sakit setelah sunat. Dia demam. Aku akan pulang setelah ku memastikan anakku tidak demam lagi yah mas," karang Aprilia.
"Baiklah. Cepat pulang. Aku juga bisa demam, jika tidak melihatmu sehari saja."
"Iya, mas."
__ADS_1
Tuts! Panggilan berakhir begitu saja. Aprilia terkekeh geli. Rasa cinta Sadewa telah mengakar kuat padanya. Apalagi pria itu tidak pernah mampu menyentuh wanita lain lain. Miliknya telah di pelet penuh, hanya bisa bereaksi pada Aprilia.
Aprilia menarik satu dress bewarna hitam, dan mencoba di bilik. Dia tampak sexy dan menggoda. Tubuhnya berisi dengan tampilan hitam elegan yang memikat. Walau dia cukup kecewa kemudian terhadap wajah yang dia miliki.
"Tidak cukup cantik untuk menggoda seorang Jack."
Ah, apa yang harus ku lakukan? Aprilia jatuh pesimis. Namun, dia teringat akan pelet pada area genital.
Apakah hanya dengan itu? Mampu membuat Jack jatuh memohon padaku.
Aprilia gelap selanjutnya. Pikirannya erotis membayangkan bagaimana Jack akan terus membungkam bibirnya, menyentuh tubuhnya, dan dia kehilangan gairahnya terhadap wanita lain.
"Aku harus membuat Jack tidur denganku sekali lagi? Aku akan membujuknya? Agar dia kehilangan gairah pada isterinya,dan juga Nana. Pelet Nenek Mayang, memang sakti."
Aprilia keluar dari bilik. Lalu, memilah sepatu yang warnanya senada dan selesai memilih, Aprilia membayar ke kasir. Setiap pramuniaga menjilat dan memuji pilihannya. Tentu saja harga gaun miliknya, fantastis. Harga lima juta. Sepatu yang dia pilih, tidak kalah mengejutkan harganya. Tiga juta. Harga awal yang harus dia bayar untuk menarik perhatian sosok Jack yang merupakan pria kalangan atas melebihi Sadewa.
"Nyonya, semangat berbelanja lagi. Gesek terus kartu suami Nyonya."
Aprilia mengerut dahi. Entah, mengapa dia mendadak tidak suka untuk penyebutan Nyonya untuk dirinya. Dia merasa jauh terlihat tua.
"Aku belum menikah, dan aku masih seorang nona," kilah Aprilia kemudian seraya menerima kartunya.
"Oh, maaf." Pramuniaga cantik itu kehilangan setiap katanya. Pramuniga cantik itu memberikan tas belanja berisi pakaian lama Aprilia.
Aprilia tersenyum menerima kantong belanjanya. Dia keluar dengan pakaian baru dan sepatu hak tingginya. Dia berjalan dengan langkah yang dia buat seanggun mungkin. Dagu yang terangkat, dada yang membusung, dan bokongnya yang mundur tertinggal kala berjalan. Dia terus berjalan, tanpa menyadari langkahnya mengetok setiap lantai dengan keras, dan sekali-kali Pangkah terseok tidak biasa dengan sepatu hak 15 cm, menarik banyak perhatian orang sekitarnya. Setiap orang tersenyum dan menyimpan rasa konyol dalam hatinya. Aprilia berpikir sebaliknya, dia mengira semua orang jatuh kagum dengan pakaian ternama dan sepatu ternama, yang dia kenakan.
Klek! Aprilia berhenti berjalan. Suara patah sepatu itu mengejutkannya. Wajahnya pucat seketika. Mengingat sepatu itu, baru dia beli dengan harga tiga juta.
"Aku baru membelinya? Mengapa bisa patah dengan mudah?" Aprilia melepas sepatu kirinya, dan memeriksa sepatu hak 15 cm miliknya. Hak itu patah dengan sempurna.
...꧁❤•༆PJP 64༆•❤꧂...
__ADS_1
Jangan lupa mampir dan dukung karya : Kekasih Tuan Muda Ruan yah, dan Hantu Istriku balas dendam. Cek profile Author yah.