Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 18


__ADS_3

Puspa menarik gorden. Membiarkan sepasang matanya takjub melihat Sidney Harbour Bridge dan gedung pencakar langit. Ini adalah pertama kalinya dia menginjakkan kakinya ke luar negeri. Sidney, adalah kota pertamanya. Dia tersenyum melihat matahari yang menyembul di balik gedung-gedung pencakar langit. Untuk kemari, dia harus membayar tinggi.


Puspa meraba lehernya. Cekikan Dandy malam tadi masih terasa sangat menyakitkan. Pria itu memang menyukai kekerasan di atas tempat tidur.


"Ini hanya siksaan sementara. Istri Om Dandy sudah mati. Selanjutnya setelah aku menikah dengan Om Dandy. Om Dandy lah yang akan mati selanjutnya," bisik Puspa pada dirinya menatap pria yang terbaring pulas di atas tempat tidur.


"Pria ini masih bisa tidur. Padahal istri sah-nya mati menggenaskan." Puspa menggelengkan kepala dan berjalan ke meja rias kala melihat ponselnya berkedip. Tampak satu pesan masuk. Om Jack.


Nana tersenyum lebar, bagai matahari yang hangat menyapanya. Puspa segara menarikan jempolnya membuka pesan dari pria yang telah dia pikat dalam satu malam.


Sayang, aku sangat merindukanmu! Haruskah aku menyusul ke Sidney?


Puspa pun segera menari-narikan kedua jempolnya pada papa ketik ponselnya.


Jika menyusul. Bearti aku biarkan Om Dandy pergi lebih dulu. Biarkan Om Jack bersamaku di sini. Berlibur berapa lama?


Tidak menunggu lama. Pesan balasan pun masuk.


Kau lah yang atur, sayang. Setahun di Sidney pun aku rela. Asalkan bersama mu.


Puspa mengangkat dagunya. Jack telah tergila-gila padanya. Bagaikan membalikkan telapak tangan, kini Jack lah yang terus berjuang mencuri kesempatan dan waktu di belakang Dandy, sahabatnya dan rekan bisnisnya sendiri.


Dulu Jack adalah sosok pria yang tidak ingin mengambil wanita milik teman. Namun, berkat susuk yang dia gunakan. Dia mampu menundukkan pria itu dalam satu malam. Tepatnya dua hari yang lalu. Setelah Puspa menggunakan susuk dari nenek Junjung.


Puspa tersenyum membayangkan adegan per adegan yang terjadi dengan Jack. Jack pria yang lebih lembut dan tidak menggunakan kekerasan. Bahkan dia pria yang paling tampan, kaya, dan sangat humoris. Jauh berbeda dengan Dandy. Kasar dan dingin di ranjang.


Dua hari yang lalu


Puspa menunggu di loby hotel Surya Indah. Dia menunggu Jack menyelesaikan meeting dengan klien dari Hongkong.


Puspa harus menunggu tiga jam. Malam itu tepat pukul sepuluh malam. Pria berperawakan tinggi dengan kulit tembaga indah terbakar matahari itu keluar menemuinya di lobby.


Wajah Jack terlihat lelah dan dia duduk berseberangan dengan Puspa. Dia tidak mengambil pembicaraan pertamanya. Dia terus memijat kepalannya yang berdenyut.


Puspa pun membuka topik, "Aku hanya datang mengucapkan terima kasih karena om Jack sudah melunaskan hutang Aprilia."

__ADS_1


"Hmm ...." Jack hanya bergumam tanpa melihat ke arah Puspa yang serius memandangi dengan hasrat menginginkan untuk menundukkan pria ini mencium kakinya.


"Satu lagi Om. Mohon maaf jika Aprilia memberikan rasa buruk pada om. Saat malam itu. Aku rasa dia pun wanita pembohong. Aku tidak pernah percaya jika dia kosong selama bertahun-tahun, benar tidak kan, om?"


Jack mendongakkan bola matanya ke atas, kelopak matanya terlipat. Awalnya Jack hanya ingin memandang lawan bicaranya. Namun, mendadak waktu seakan berhenti saat itu juga. Dia terpana akan sosok wanita yang duduk berseberangan di hadapannya. Jack menelan ludah pertama kali akan wanita milik temannya sendiri.


"Kamu terlihat sangat cantik, Nana, " puji Jack tanpa sadar keluar dari tenggorokannya. Dia terpana akan sosok Puspa yang mengenakan gaun malam bewarna merah jambu. Rambut panjang yang bergelombang indah. Fitur lima inderanya bahkan terlihat sempurna. Sepasang mata yang terlihat belo. Hidung yang tinggi dan mancung. Bibirnya penuh berisi dengan warna merah jambu. Wajah dengan rahang tirus yang terlihat membingkai indah. "Sangat cantik!"


"Terima kasih, om."


"Bagaimana kita mengobrol di balkon kamar hotel di atas. Om punya anggur baru. Tahun 1975. Kau pasti ingin mencobanya, kan."


"Tentu saja, om."


Puspa berjalan dan mengekori Jack naik ke lantai kamar President suite. Puspa berdecak kagum akan tampilan wah kamar presiden suite. Tetapi, selanjutnya Puspa berdehem sengaja. Karena balkon kamar yang di maksud Jack tidak ada.


Jack seakan paham. Seraya membuka anggur, diapun berceletuk, "Aku rasa lebih baik duduk di sofa untuk duduk minum anggur."


Puspa tersenyum geli. Begitu mudahnya menarik perhatian Jack, semenjak menggunakan banyak susuk dalam tubuhnya. Dia pun segera duduk dengan jarak agak menjauh dari pria paruh baya itu. Dia sengaja melakukannya, membiarkan pria itu yang mendekat padanya. Bukan dirinya, yang lari bersikap genit.


"Iya." Saat ini, Jack terus menatap Puspa saat bicara. Bahkan letih di punggungnya, dan rasa sakit kepala yang menyergapnya, seakan hilang seketika kala dia mendapatkan obatnya di depan matanya. Hanya dengan memandang wajah Puspa. Jack sekaan melihat seorang wanita cantik di bawah pohon sakura di musim gugur. Bunga sakura yang jatuh indah, menjadi kilau yang menambah pesona wanita simpanan sahabatnya sendiri.


"Maafkan, jika Aprilia benar-benar mengecewakanmu."


Jack menggelengkan kepala. Bahkan dia tidak mengingat kejadian dan wanita yang bernama Aprilia itu lagi. "Aku sudah tidak mengingatnya."


Jack menggeser bokongnya perlahan dengan dua tangannya masing-masing memegang gelas anggur. Memposisikan dirinya duduk bersisian dengan Puspa.


"Semoga malam ini menghangatkan." Jack menyodorkan gelas anggur.


"Cheers!" sahut Puspa menerima gelas anggur. Kemudian Puspa dan Jack saling menyilang kan tangan dan mendekatkan anggur pada bibir masing-masing.


"Sangat manis. Anggur yang paling mengesankan," puji Puspa. Namun, Jack hanya membisu. Pria itu hanya memandangnya lekat. Seakan terpaku pada benda beharga.


"Ehem!" Puspa berdehem sengaja. Jack bangun ke nyata. Dia mengulas senyumnya. Lesung pipinya melubang dalam pada pipinya. Dia terlihat manis dan menggoda.

__ADS_1


"Kau lebih manis daripada Anggur, dan kau lebih mengesankan pada malam ini."


Puspa menelan ludah akan rayuan yang meluncur mulus dari pria yang mapan dan tegap ini. Dia tidak pernah menyangka, begitu mudahnya memikat pria ini hanya dalam satu kali pertemuan.


"Thanks honey," sahut Puspa sengaja menekankan panggilan barunya pada Jack, honey.


"Manis sekali panggilan itu. Aku menyukainya."


"Honey ...," ucap Puspa sengaja melirih panjang dan berdesah.


Jack meletakkan gelas anggurnya pada nakas di belakang sofa. Lalu, merebut gelas anggur dari tangan Puspa, dan meletakkan di sisi gelas miliknya tadi.


"Kau serius ingin aku menjadi honey?"


"LOL om. Itu hanya bercanda." Puspa sengaja terlihat menarik ulur hati pria di depannya.


"Tatap mataku."


Puspa menatap Jack.


"Aku menyukaimu, mulai hari ini."


Deg! Jantung Puspa melompat bahagia. Dia tidak pernah menyangka, jika Jack akan terpikat dengan mudah.


"Tetapi Om Jack dan Om Dandy." Puspa mengigit bibirnya.


"Kita bisa backstreet darinya."


Setelah menyelesaikan kalimatnya. Jack mencium bibir Puspa. Selanjutnya, apa yang telah direncanakan Puspa, berjalan mulus dengan banyaknya sentuhan kulit dan hujan cumbuan.


......................


Bersambung ...


Duh jahat banget ni novel author! Tokoh wanitanya nggak ada yang baik, pada nakal dan bejat💅 maaf yah readers. Kita angkat ide cerita yang menggambarkan lingkungan mereka pun tidak ada yang baik, saling melompat dan mencuri pasangan orang lain. Sesuai judul Pelet Janda Penggoda. Mengapa demikian? biar anti mainstream lah. Karena yang baik tertindas itu dah banyak. Gimana rasanya yang jahat tertindas yang jahat. Balas membalas. rebut saling merebut.

__ADS_1


Kalau kalian menyukai alurnya, jangan lupa Vote, like dan coment. Jika tidak suka. Tinggalkan.


__ADS_2