Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 24


__ADS_3

Aprilia menahan diri. Dia segera kembali ke kamar. Melihat ibunya datang, Dimas langsung datang memeluk erat ibunya.


"Bu, lapar!"


"Apakah Ade tidak memasak untukmu?"


Dimas menggelengkan kepala. Aprilia menghela napas,Bagaimana aku bisa berharap pada Kuyang untuk mengurus anak. Itu seperti mengharapkan tugas air di gantikan api.


"Ibu, akan buatkan." Aprilia segera beranjak ke dapur. Dia di kejutkan dengan dapur yang terlihat mengerikan. Berantakan dan sangat kotor.


"Tadi, Tante Ade mencoba belajar masak bikin kue. Tetapi, dia gagal. Karena tidak bisa membedakan semua dengan baik. Gula dna garam pun dia bingung."


Aprilia tehenyak sebentar. Dia mengintip ke ruang tamu, dan hatinya sedikit bergetar akan pikirannya sendiri, Apa Ade kehilangan fungsi lidah pengecap rasa karena dia kan kuyang. Organnya saja bisa cabut pasang. Pantas saja dia tidak bisa membedakan asin dan manis.


Aprilia menghela napas. Setelah membuatkan satu telor dadar untuk Dimas. Aprilia mulai bergerak cepat membersihkan dapur dari debu tepung. Gula berserakan. Garam berserakan. Adonan gagal. Peralatan masak yang jatuh sembarang tempat.


Pukul 23.00 Wib


Aprilia tampak selesai keluar dari kamar mandi. Dia telah mengenakan daster motif bunga-bunga bewarna merah muda. Setelah itu dia segera merangkak naik ranjang, duduk bersisian dengan Dimas, yang sudah terlelap.


Aprilia meluruskan tulang punggungnya. Dia merebahkan dirinya, tepat di sisi puteranya yang telah terlelap lebih awal. Aprilia baru saja menyelesaikan pekerjaan membersihkan rumah. Wajahnya masih terlihat sangat lelah. Rambutnya basah berantakan. Jejak peluh air dingin terlihat masih membekas sepanjang rahang wajah Aprilia.


Aprilia meletakan bantal di belakang kepalanya. Sepasang matanya menatap langit- langit kamar. Terpejam sebentar. Kemudian, sepasang matanya terbuka lebar kembali. Bayang-bayang Puspa bergelayut manja pada Jack, membuat otak Aprilia mengirim rasa sakit pada jantung. Perih bagai ada seribu jarum menghujam jantungnya.


"Apa ini namanya jatuh cinta? Rasa cemburu bercampur sakit, mengetahui dia dengan yang lain!" Aprilia menggelengkan kepalanya. Telapak tangannya, dia letakkan pada dadanya. Dup-dup-dup, ritma jantungnya terdengar cepat dan tidak beraturan. Tempo cepat itu membuat dada Aprilia sesak, dan sudut matanya menerbitkan air mata yang mengalir perlahan membasahi pipinya. Aprilia segera menyeka air matanya. Menghapusnya dengan perasaan konyol yang ingin menjambak Puspa. Seakan Puspa telah merebut suaminya.

__ADS_1


"Duh!" keluh Aprilia mengetuk-ngetuk dadanya kemudian. "Mengapa rasa sakitnya lebih menyedihkan daripada bercerai dengan Gusti yah? Ketuk palu pak hakim saja tidak bisa di bandingkan dengan Jack yang telah—" Aprilia tidak melanjutkan kalimatnya.


"Mengapa Puspa begitu mudahnya memikat pria?" Aprilia segera duduk di tepi ranjang. Dia langsung menghadap pada cermin lemari. Dia menatap pantulan dirinya. Dia mendesah-kan napasnya berat. Apakah aku sangat jelek? Jack pun tidak menginginkanku?


"Cantik itu perlu, dan perlu uang!" Aprilia dengan telunjuknya mulai menyentuh hidungnya, "Terlalu pesek!"


Lalu, telunjuk Aprilia menyentuh bibirnya yang terlihat mungil dan tipis, "Kurang berisi, jadi kurang indah terlihat."


Aprilia menghela napas dan menangkupkan tangannya pada rahang pipinya, "Terlalu lebar. Ingin tirus! Tetapi, perlu potong rahang!"


Aprilia menghela napas persekian kalinya. Lalu menjatuhkan tubuhnya berbaring miring, dengan sepasang matanya tetap menatap pantulan dirinya pada cermin.


"Ingin operasi plastik. Tetapi, tidak memilki uang. Memikat pria yang kaya raya itu, harus punya modal mahal."—Aprilia menguburkan wajahnya di bawah bantal— "Apa yang murah?"


"Pelet!" bisik Nenek Mayang berhembus masuk dari telinga ke dalam pikiran Aprilia. Aprilia melepas bantalnya. Deg! Jantungnya melompat terkejut, kala mendengar satu bisikan itu. Terasa sangat nyata dan begitu dekat bisikan itu pada telinganya.


"Mengapa bisa? Pasti Nana telah memelet Dandy dan Jack. Dasar wanita serakah. Pria pun kau ingin miliki sendiri." Aprilia mendesah kesal lagi dan lagi. Tiba-tiba saja ingatan mengenai boneka jerami itu masuk ke dalam pikiran Aprilia.


Apakah boneka itu? Yang mampu memelet Jack. Hingga Jack malah jatuh di dalam tangan wanita serakah itu.


Aprilia bangkit berdiri. Dia teringat akan boneka jerami di dalam kamar Puspa. Dia segera melangkah masuk ke kamar Puspa. Dia berdiri lama di depan lemari Puspa. Sepasang matanya tertuju menatap laci lemari terbawah.


"Mengapa istri Dandy meninggal? Apakah ada hubungannya dengan boneka jerami itu?" Aprilia segera duduk berjongkok. Tangannya bergetar takut menarik laci. Krettt! derit Laci di tarik.


Dup-dup-dup, Jantung Aprilia berdegup cepat lagi, kala tangannya menggengam boneka jerami. Melepaskan photo Aprilia yang tertusuk pada jarum yang menembus boneka jerami.

__ADS_1


Aprilia memandang photo wanita itu. Dia cantik dan terlihat mempesona dalam gambarnya, dan juga jatuh sangat kasihan pada wanita yang mati terbakar tersebut, "Apakah kau mati karena Nana?"


Aprilia menatap mata boneka Jerami, "Apakah kau bisa melakukan segalanya dengan pamrih tanpa meminta imbalan?"


"Aku menginginkan janin haram dalam perutmu," jawab Nenek Mayang. Namun, jawaban itu tidak terdengar telinga jasmani Aprilia.


"Apa kau begitu sakti?" tanya Aprilia dan mengguncang boneka jerami. "Bagaimana caranya agar kau mengikuti ku?"


"Gampang! Kau hanya perlu bernazar dan menyerahkan janinmu, dan berbisik pada boneka jerami, dan teteskan darahmu pada boneka jerami," jawab Nenek Mayang yang berdiri di garis pintu. Walau jawaban darinya masih tidak mampu terdengar Aprilia. Namun, sepasang matanya terlihat tersenyum cerah bahwa Aprilia telah terhasut mengikutinya.


"Bertemanlah denganku, Aprilia." Nenek Mayang berjongkok berbisik. Namun, hanya terdengar bak hembusan angin dingin yang membuat tekuk Aprilia bergindik.


Aprilia terlihat menghela napas, dan bahunya bergetar sebagai respon akan hembusan angin yang terasa menyeramkan raganya. Karena takut, dia segera meletakan kembali boneka jerami pada laci. Kreet! Laci kembali menyatu dengan lemari.


Aprilia berdiri, menatap kamar Puspa yang terlihat tiga kali lebih mewah daripada kamar yang di tepat dirinya dan Dimas.


"Jika Ade pernah menempatinya. Aku juga ingin mencoba tinggal di dalam kamar ini."— Aprilia duduk di tepi ranjang, dia melompat-lompatkan bokongnya merasakan empuknya kasur milik Puspa— "Mari kita mencoba tidur semalam di atas kasur wanita pelakor itu!"


Aprilia menjatuhkan dirinya pada kasur Puspa. Sepasang matanya menatap langit-langit sebentar, dan perlahan memejamkan matanya dan tanpa sadar dia pun terlelap lepas dalam hitungan menit.


"Aku akan menjumpai mu di mimpi Aprilia." Nenek Mayang pun segera berhembus mendekat ke tepi ranjang.


......................


Bersambung ...

__ADS_1


Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai dengan episode ini. Besar harapannya author sih, readers terus mengikuti dan membaca, dan jangan lupa berikan hadiah 🎁, Vote 🎫, Like 👍, dan Coment setelah membaca yah .


Besar dukungan kalian sangat di harapkan Lo


__ADS_2