
Puspa membuka matanya sebentar. Lalu mengatupnya lagi. Dia masih sangat mengantuk. Snagat berat untuk sekedar membuka kelopak matanya.
Kret! Pintu kamar Puspa terbuka lebar. Suara langkah terdengar mendekat. Lalu, tangan dingin terasa menyentuh lengannya, dan suara wanita itu terdengar memintanya bangun, "Non bangun sudah sangat malam tertidur. Saatnya mengisi perut."
Puspa mengerutkan matanya ayang masih sangat erat terpejam. Ini adalah kantuk terpanjangnya. Sulit sekali untuk bangun. Dia hanya bergeliat dengan raut wajah merasa berisik telah di minta bangun, "Jam berapa sekarang?"
"Jam 7 malam. Saatnya bangun. Seharian Nona Nana tertidur seperti orang mati."
Orang Mati. Puspa membuka matanya lebar. "Siapa yang kau sebut mati?" bentak Puspa dan duduk bingung. Kepalanya berputar-putar sebentar, merasa sangat pusing. Dia memijat kepalanya. Sangat sakit.
"Tidak ada yang menyebut mati. Hanya saja mirip. Seharian tidak bangun."
Puspa menatap Aprilia. Menajamkan pelihatannya. Kini, rupa Aprilia terlihat begitu jelas. Puspa melambaikan tangan, "Babu jelek. Minggir lah. Jangan sok akrab. Jangan sok baik. Kau perhatian. Tidak ada gunanya. Status kita tetap sama. Majikan dan babu."
Puspa bangkit berdiri. Langkahnya sempoyongan berjalan. Dia mengendus aroma harum makanan. Mendadak dia lapar, dan segera ke dapur.
Puspa menelan ludahnya. Kriuk! Perutnya berbunyi. Dia segera mengangkat dagunya, seakan bunyi perut itu bukan darinya.
Di atas meja dapur, tersedia begitu banyak menu makanan. Semuanya terlihat enak. Puspa langsung duduk. Mengambil nasi. Ikan. Sayur. Kala, dia mengangkat sendok nasi ke mulutnya. Dia menghentikanya di udara. Dia merasa ada yang aneh. Dia meletakkan sendok, menatap tajam Aprilia.
"Darimana kau mendapatkan uang untuk menu makanan sebanyak ini?"
Aprilia tersenyum, "Dari Tuan Jack, nona."— Aprilia mendapatkan kerutan alis tajam Puspa—"Dia menitip uang saku bulanan. Tidak lebih dari itu."
"Jack tidak berkata padaku."
"Nona tertidur." —Aprilia tersenyum tipis— "Nona, bisa bertanya pada Tuan Jack kemudian."
__ADS_1
Puspa hanya menganggukan kepala.
Jack memberikan untukku 20 juta. Anggap saja yang miskin ini berbagi dengan wanita kikir seperti dirimu, lanjut Aprilia dalam hatinya berhasil menggores satu jejak kemajuannya.
Raut wajah Puspa terlihat melunak. Dia tersenyum dan bergumam pada dirinya sendiri, "Sekarang, dia tergila-gila dan mencintai diriku."
Karena peletmu ampuh. Aku harus akui Sihirmu sangat ampuh. Kau yang cantik saja perlu pelet. Apalagi diriku, aku harus double pelet ampuh darimu. Aprilia kesal dalam hatinya.
Merasa terus di tatap, Puspa mendongakkan kepalanya, sepasang matanya menjadi sangat sinis dan terlihat kejam, "Mengapa menatapku? Ingin aku congkel matamu?"
"Aku paling membenci tatapan seseorang. Aku tidak suka! Satu. Tatapan itu hanya untuk menilai. Jika babu menilai Tuannya. Bukankah itu tidak tahu diri. Aku akan mencongkelmu, jika berani menatapku!" bentak Puspa.
Aprilia menghela napas. Menggelengkan kepalanya. Jika kau mencongkel mataku, aku tidak bisa melihat lagi. Memiliki babu buta, apa bagusnya? bukanya metawat rumah. Malah membakar rumah.
"Kau tidak meletakkan racun dalam makanan kan?"
Aprilia menggelengkan kepala. Sebenarnya aku ingin sekali meletakkan racun tikus untukmu. Sudah lama aku ingin membuat mulutmu itu membisu.
Aprilia menggelengkan kepala. Aku belum dapat dukunnya, bagaimana bisa menguna-gunamu. Dukun sekarang saja tarif mahal sekali. Aku yang miskin ini, tidak sanggup.
"Baguslah. Aku percaya padamu jelek. Rupa boleh jelek. Tetapi hati jangan bersikap iblis. Hanya orang cantik, yang boleh kejam "—Puspa menunjuk Aprilia —"Rupa sepertimu itu.Jelek. Hanya di ijinkan bersikap lembut, mengalah dan lunak di injak. Agar setiap orang jatuh kasihan."
Aprilia menganggukan kepala lagi. Aku akan lembut, penurut, lunak. Bukan untuk di injak lagi. Tetapi untuk mengembali semuanya suatu hari nanti. Saat ini aku mengalah untuk menang darimu, Nana.
Puspa menarik telunjuknya dan bermain dengan kuku panjangnya, "Keangkuhan. kesombongan. Kekejaman. Hanya di titipkan pada setiap orang cantik seperti diriku. Karena aku memang pantas untuk berlagak seperti itu."
Aprilia menganggukan kepalanya pelan. Terlihat penurut dan polos. Namun, menyembunyikan tinju di belakang tangannya, Kita akan lihat siapa yang menginjak, dan siapa yang akan tertindas.
__ADS_1
Aprilia memaksakan dirinya untuk tersenyum, dan bertutur halus kemudian, "Makanlah selagi hangat."
Puspa tersenyum dia mengangkat sendok. Dia memeriksa lebih dulu setiap makanan di dalam. Dia menghindari daun kelor. Dengan hati-hati dia mengenali sayuran yang di sajikan Aprilia. Setelah yakin, bukan daun kelor dia pun menikmati makan malamnya. Dia mengunyah-ngunyah dengan ekspresi yang memuja betapa lezatnya makanan yang di buat Aprilia.
"Kau pandai masak," puji Puspa selesai menyeka jejak makanan di sekitar bibirnya. Puspa merasakan rumah begitu sepi, dan ada yang hilang. Dia mengangkat pandangannya dan menatap Aprilia, "Kemana Dimas, puteramu? Suaranya bahkan tidak terdengar."
"Dimas, aku titipkan pada nenekku di kampung— Aprilia menyusun piring kotor— "Aku harus bekerja tanpa gangguan."
Puspa menutup mulutnya segera. Tertawa di balik tangannya. Dia mendorong kursi dan melangkah. Berhenti tepat di depan Aprilia, dan menyindirnya, "Jujur saja. Kau ingin menjadi janda merdeka. Kau ingin berpetualang."—Puspa menyentuh pipi Aprilia — "Jangan berlaku murah dan sembarang. Karena cap murah itu ada, karena sembarang memilih. Pilih yang bagus. Tetapi, tidak boleh merebut milikku. Banyak upaya dan penderitaanku untuk mendapatkan pria-pria itu. Apa kau mengerti?"
Aprilia hanya diam. Dia tahu Puspa adalah sosok wanita yang lahir waspada dengan intuisi yang tinggi. Satu kata salah yang terucap, maka dia akan menganggapmu lawan, dan dia akan berpikir untuk menyingkirkan siapapun itu.
Puspa mendekat wajahnya. "Tetapi aku tahu. Kau tidak akan bisa seperti aku. Kau terlalu lemah melangkah. Kurang nekat."—Puspa memicingkan matanya— "Jika kau bersikap nekat . Maka aku yang akan memotong putus leher mu lebih dulu. Ingat air susu tak pantas di balas air tuba."
Puspa terbahak melangkah keluar dari garis dapur, dia melambai pada Aprilia, memberikan satu kecupan yang di terbangkan pada Aprilia, dan berkata, "Aku kan baik padamu. Sangat baik." Sebelum pergi, Puspa memberikan kedipan mata pada Aprilia.
Bibir merah muda Puspa itu pun terbuka dan dia bergumam tanpa suara, "Babu jelek. Kau tidak akan pernah bisa merangkak naik ke atas kepala majikanmu. Karena kau tidak punya mimpi. Jikapun bermimpi, kau tidak tahu cara mewujudkannya."
Deg! Aprilia menahan napas. Ejekan tanpa suara itu. Jelas seperti batu mengenai kepala Aprilia saat ini.
......................
Bersambung ....
Pelet era sekarang yah gini 🤣 menurut Author ... Pelet kaga ribet. Tau beres. Tau jadi aja.
Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai dengan episode ini. Besar harapannya author sih, readers terus mengikuti dan membaca, dan jangan lupa berikan hadiah 🎁, Vote 🎫, Like 👍, dan Coment setelah membaca yah .
__ADS_1
Besar dukungan kalian sangat di harapkan Lo. Yang suka Romance dengan tokoh karakter tsundere. Mampir yah ke De Diktator 🙏 Makasih ❤️