
..."Hukum aku! hukum aku! hukum aku lagi!"...
..._Sadewa_...
...Panah aku lagi! Panah aku lagi! Hingga aku tak mampu mengangkat kelopak mataku! Panah lagi! Panah lagi! Aku menunggunya....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Oppa, adikmu sedang berulangtahun. Apa kau melupakanku?"
Sadewa mengangkat pandanganya. Kepalanya terdongak menatap sosok yang berkata.
Sepasang mata wanita itu terlihat berkaca padanya. Ada isak yang menjerit tanpa suara. Hanya getarnya bagai menggoncang seluruh rongga dada Sadewa kala menatap jauh ke dalam mata Aprilia.
Sepasang mata indah yang menghanyutkan kedalam kesedihan yang dalamnya tidak terukur.
"Kau menangis?" Sadewa heran. Menatap kue ulangtahun. Seakan pesta itu berakhir dengan tanpa sepengetahuannya. Dia tertegun kemudian. Keteduhan di sana, bukan milik Aprilia. Seakan menemui sosok wanita yang pernah terjebak bersamanya di masa lalu.
Dia sudah mati, pikir Sadewa.
Tangan putih halus itu, terlihat terangkat di udara. Punggung tangan itu terlihat menyeka sisa-sisa krim kue pada pria itu.
"Oppa," sebut Tina terdengar sangat lirih. Punggung tangan itu jatuh perlahan.
Sadewa meluruskan pandangannya. Menatap retina yang terlihat lebih jelas menangkap bayang di depannya.
"Aprilia, kau kah itu?" ragu Sadewa. Dia menghela napas. Tertunduk sesaat. Dia keluar dari bangkunya. Duduk berjongkok di dekat kaki wanita itu. Dia menautkan setiap jemarinya bersama jemari tangan wanita itu.
"Apakah kau Aprilia?" Keraguan Sadewa melihat bayang masalalu seakan merubah wajah Aprilia.
"Kau lihat diriku terlihat seperti siapa?" umpan Tina dengan sengaja merubah wajahnya kemudian. Dia terlihat Tina di masa lalu, di masa pertama kali, mereka saling berkenal. Rambut bergelombang merak, dengan bibir merah menyala terang.
Sadewa terhenyak. Sepasang lututnya mendadak lemas. Menubruk lantai. Bibirnya bergetar. Tidak mampu berkata.
"Kau Tina?"
Tina menganggukkan kepala dengan sepasang mata sendu, "Ya, tanggal 12 Maret ulang tahunku. Bulan yang telah terlampau itu. Aku ingin merayakan hari ini, bersamamu, Oppa."
Mengejutkan.
Sadewa mengedipkan matanya berkali-kali. Seluruh bulu roma miliknya sekejap berdiri. Telapak kakinya dingin. Dia menatap dengan perasaan linglung.
"Oppa, apa kau ingat cerita Titanic itu menyebutkan Jack yang mati dan Rose yang terus hidup?"
__ADS_1
Sadewa memucat. Dia linglung. Dia tidak pernah mengibaratkan dirinya dengan Aprilia adalah Jack dan Rose.
"Pergilah," lirih Sadewa melepaskan tautan jemari tangannya pada jemari tangan Aprilia.
Tina menahan pergelangan tangan itu. Mengaitkan dengan erat. Mengirim rasa beku memeluk punggung tangan pria tirani itu.
"Bukan Jack yang mati! Namun, aku!"
Tina melotot.
"Rahasia kelahiran-ku mengubah takdir, Oppa. Aku lahir 12 Maret. Zodiak Pisces, dengan lambang ikan. Takdirku mengatakan aku-lah yang kembali ke laut, dan kau yang tetap hidup. Terdengar menyedihkan! Cerita kita tidak terlihat sama dengan apa yang di sebut tragedi Titanic."
Sadewa menelan ludahnya. Seluruh raganya menjadi lebih beku. Dia bagaikan patung es yang menolak mencair saat ini. Dia ingin membeku untuk seluruh waktunya.
"Kini, aku mengerti perasan Jack, Oppa. Menjadi sosok pemuja yang jatuh menewaskan dirinya dengan sengaja. Apakah kau tau? Sangat dingin berada di bawah dasar sana."
Tina menyentuh pipi Sadewa. Kejutan itu bagai api yang meleburkan patung es. Pria yang membeku itu terlihat bergetar kuat. Tak mampu meloloskan satu kosokatapun. Tenggorokannya tersumbat. Kaki dan tangannya seakan terikat rantai. Dia hanya menatap dengan sepasang mata yang tergenang akan kepiluan yang menampar kehidupannya.
"Rindu dan cemburu, Oppa. Aku merindukanmu, Oppa. Aku ingin menyingkirkan siapapun yang berani menyebut cintanya lebih besar dariku padamu. Oleh itu, laut mulai tidak tenang. Ombak datang bergulung-gulung menuju pantai."
Tina membawa kepala Sadewa masuk merangkul dingin dalam pelukannya, dan dia berbisik lagi, "Oppa, apa kau lupa dengan setiap apa yang telah kita lewati? Hm ..., kau lupa aku, aku yang selalu berdiri membelamu, yang selalu berdiri mempercayaimu, yang selalu berdiri mendengar keluh kesahmu saat itu."
Tina melepaskan pelukannya. Lalu, mengeluh panjang dalam isaknya, "Aku menangis, Oppa. Kala, kau mengacuhkanku. Perlahan, melupakanku. Perlahan, menjauhiku."
Sadewa meraup wajahnya. Dia hanya mempercayai logika dalam kehidupannya. Dia tidak akan pernah mempercayai hantu mampu hadir di hadapan matanya. Baginya yang datang hanyalah halunisasi yang tampak nyata.
"Aku sedang mabuk. Pasti, hal ini pengaruh alkohol."
Sadewa terkekeh konyol. Dia merasa dirinya di lempar ke dimensi masalalu miliknya sendiri. Lalu, dia melontarkan setiap kalimat yang pernah dia utarakan untuk wanita di masa lalunya.
"Aku akan memiliki kapal besar. Menyingkirkan perahu tak berguna melawan ombak. Kapal itu tidak akan pernah karam. Aku adalah kapten dengan banyak keberuntungan mengikutiku. Jika, aku adalah seorang Jack. Aku akan mampu menjaga awak kapal milikku. Terlebih lagi, menjaga dirimu, Rose. Rose milik Jack, tidak akan pernah tenggelam di perairan manapun. Jika-pun takdir menyebutkan bencana itu terjadi, aku akan membiarkan diriku yang tenggelam, dan membiarkan Rose-ku mengapung dengan selamat."
"Kau masih mengingat setiap katamu untukku. Kau memang pandai berkata-kata. Namun, takdir berkata lain. Kau menumbalkanku! Kau mempersembahkan diriku pada laut."
"Kau adalah ikan. Kau mampu berenang!" Sadewa konyol membela diri. Dia ingin meledak gila saat ini.
Tina mencubit dagu pria itu. Dia melotot berani kemudian.
Sadewa meriak saat ini juga. Sepasang matanya berlinang air mata. Sadewa menampar wajahnya, dua kali lebih keras lagi.
"Hukum aku! hukum aku! hukum aku lagi!"
Kepala Tina menjulur ke sisi telinga Oppa, dan berbisik padanya, "Bukankah kau pernah mengajarkan hal ini padaku. Jika, kau ingin menyakiti musuh besarmu. Sakitilah orang yang paling dia lindungi."
__ADS_1
"Hukum aku saja! Hukum!" Sadewa menampar wajahnya kembali lebih keras.
Tina terhenyak. Melihat warna merah dengan cap jari itu membekas pada pria yang pernah singgah begitu lama di hatinya. Tiba-tiba, api kebenciannya seakan di siram hujan. Padam begitu saja.
Apakah cinta itu perlu di salahkan? Apakah takdir itu perlu di salahkan? Apakah keputusasaan milikku lah penyebabnya?
Perih bagai siraman air garam menabur pada luka yang belum kering. Tina menatap pria itu, dengan sejuta nelangsa yang tak mampu dia ungkapkan.
"Oppa," sebut Tina dengan mengubah wajahnya kembali menjadi Aprilia. Dia ikut turun ke lantai, melemaskan lututnya. Keinginannya saat ini, adalah memeluk pria itu. Perlahan, lututnya menyentuh lantai. Dia berlutut, dengan kedua tangannya menangkap kiri kanan rahang keras pria itu.
Kini, Tina dalam raga Aprilia itu mengubah wujudnya setenang air. Wanita dengan ketenangan luar biasa. Tanpa ada riak di dalam sana.
"Ini aku, seorang Eouny. Kau sedang mabuk. Kau ingat mantan-mu lagi?"
Sadewa memperjelas penglihatannya kembali.
"Aprilia," sebut Sadewa yakin.
Sadewa menatap nelangsa. Satu tangannya bergerak menangkap pergelangan tangan Aprilia. Lalu, kepalanya miring bersandar pada pergelangan tangan Aprilia, dan bibirnya berbisik, "Aku hanya sedang takut."
Sadewa membenamkan wajahnya pada pergelangan tangan itu. Lalu, dia mencium kulit tangan halus itu.
"Apakah aku menakutimu?" tanya Tina.
Sadewa menggelengkan kepala. Perlahan kepala pria itu masuk ke dalam dada Aprilia. Lalu, tangannya merangkul pinggang ramping itu.
"Aku hanya ingin bersandar di saat kesedihanku datang."
"Mengapa kau bersedih?"
"Aku pernah kehilangan seseorang."
"Siapa?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Entah mengapa alurnya jd percintaan rumit semoga tetap kalian sukai dan penasaran....
Sadewa : cintaku penuh misteri.
Author : aku ikut merasakan.
Sadewa : Aku mau nangis
__ADS_1
Author : aku juga 🍰
Sadewa : aku kasih kopi buat u Thor..