Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 169


__ADS_3

...Persembahkan bagian dirimu. Mengeluarkan biji mata. Memotong daun telinga. Mengiris lidah. Saat itu, kau hanya akan buta, tuli, dan bisu. Kau berhak memperoleh NIK dalam kartu keluargaku....


..._Nenek Mayang_...


...Semesta berbisik setiap orang berhak melantunkan doa ke langit. Namun, hanya segelintir orang yang Dia dengar....


..._Eouny Jeje_...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sepasang mata Puspa bagai bola yang akan diterjunkan per-nya. Akan melompat terkejut melihat induk belatung terlihat menghisap cairan telur ayam. Lalu, membelah diri menjadi dua. Lalu, berkembang biang lebih banyak dengan menggandakan dirinya.


Jijik.


Madam Marlena mengeluarkan satu bungkusan plastik berisi garam. Dia menuangkan pasir asin itu memenuhi telapak tangannya. Lalu, menjatuhkan butiran asin itu pada setiap belatung yang tampak bergeliat dalam cangkang telur.


Tup! Tup! Tup! Setiap belatung seakan mendidih panas kala butiran garam jatuh dan meletupkan setiap belatung, hingga tak mampu bergeliat.


"Belatung hantu sudah mati!"


Puspa menahan napas. Dia masih nampak shock. Aji yang dia miliki selama ini, bahkan tidak mampu mengalahkan wanita muda itu.


"Keluar dari kamar mandi. Setelah ini, kau harus mengikuti ritual selanjutnya."


Madam Marlena meninggalkan kamar mandi. Puspa segera keluar dari bak mandi. Dia menatap setiap kulit tubuhnya yang terlihat sangat merah condong kecoklatan,tepatnya bagai daging yang telah di goreng sempurna. Matang dalam satu didihan.


Puspa menahan napas. Dia menatap cermin. Seakan, musuhnya telah terbingkai dalam cermin.


"Aku akan membalasmu!" tekad Puspa. Dia segera mengeringkan tubuhnya dengan handuk. Lalu, melilitkan tubuhnya dengan kain bewarna kuning yang telah di sediakan melilit tubuhnya.


Puspa beranjak keluar dari kamar mandi. Tampak, Madam Marlena sedang duduk berhadapan dengan meja. Dia.  berhadapan dengan satu tungku beras, yang di atasnya di letakkan tiga dupa. Dua batang rokok. Satu butir telur ayam kampung.


Puspa berjalan mendekati meja.


"Duduk!" pinta Madam Marlena.


Puspa duduk. Ini adalah kedua kalinya,dia bertemu Marlena. Namun, kesaktian dukun ini bagai jempol yang perlu di junjung tinggi. Kemampuan sihirnya, sangat menakutkan.


"Nana," sebut Madam Marlena seraya menyalakan dupa.


"Yes, Madam."


"Kita akan memanggil Nenek Mayang!"


"Mengapa Nenek Mayang, bukan Nenek  Arum?"


"Sssst! Aku merasakan campuran kekuatan itu juga berasal dari Nenek  Mayang. Wanita yang kau temui itu, kemungkinan besar adalah murid Nenek Mayang."


Glek! Puspa menelan ludahnya, "Bukankah Nenek Mayang, tidak pernah menginginkan setiap orang yang menjujung Nenek Arum, Madam. Aku pernah menggunakan boneka jerami pemanggil Nenek Mayang. Namun, dia selalu enggan menjumpaiku. Dia sangat pemilih, dan selektif!"


"Jika, kau yang memanggilnya. Dia belum tentu datang. Jika, aku yang memanggilnya itu sangat berbeda. Karena, aku adalah Marlena."


Puspa menganggukkan kepala.


"Aku meminta kau berkain kuning. Agar, dia menyukai dirimu. Karena, Nenek Mayang menyukai kuning. Kuning addict!"

__ADS_1


Puspa mengangguk-angguk, hanya memejamkan mata. Tidak lama kemudian. Nenek Mayang mengucapkan mantera-nya. Lalu, tidak lama wanita tua dengan rambut abu-abu merak itu hadir dengan jemari kuku panjang, yang tiba- tiba menjepit satu batang rokok.


Rokok menyala. Wanita tua itu menjepit rokok di sela bibirnya. Dia mengepulkan asap kemudian di depan wajahnya.


"Nenek Mayang!" seru Madam Marlena kala menjumpai wanita renta itu melambai tangan untuknya.


"Hello, Marlen," sapa Nenek Mayang dengan suara baritonnya.


Puspa membuka sepasang matanya. Raganya tiba bergindik. Darahnya berdesir. Jantungnya berdegup kencang. Namun, dia segera menetralisirkan kembali menjadi normal. Dia menolehkan kepalanya, seakan rasa penasaran akan sosok wanita iblis itu. Dia ingin jatuh menyembah wanita kesaktian itu.


Nenek Mayang tampak renta. Namun, pakaian yang dia kenakan, terlihat seperti pakaian wanita yang mengenakan Yukata. Pakaian tradisional Jepang.


"Hello, Yellow Chelsea. Nice to meet you."


Puspa membolakan mulutnya. Tidak akan menyangka, jika dia menemukan sosok wanita iblis yang terlihat modern. Sungguh dia tidak akan pernah menyangka, jika wujud Nenek Mayang akan mengenakan Yukata dengan samurai di punggungnya.


"Nice to meet you too, Grandma," sahut Puspa bertutur lembut.


Nenek Mayang hanya terkekeh. Dia mematahkan batang rokok. Menjatuhkan ke lantai. Lalu, sepatunya menginjak putung rokok yang menyala. Satu putaran. Rokok itu padam.


"Nenek Mayang."


"Yes!"


"Aku membawa satu murid yang cocok untuk menjadi bagian dari-mu."


" Ima wa gakusei wa iranai!" komentar Nenek Mayang dalam bahasa Jepang.


"...." Puspa mengangkat alisnya. Tidak mengerti.


Nenek Mayang mendekat pada Puspa. Dia mengangkat dagu Puspa. Sepasang matanya tajam menyipit.


"Apa kau ingin memiliki NIK dalam kartu keluargaku? Aku sangatlah sadis."


"Jika kau ijinkan. Aku akan mendaftar."


Nenek Mayang menghempaskan dagu itu kasar. Ujung kukunya menggores panjang pada pipi Puspa kemudian.


"Arg!" ringis Puspa kesakitan. Kala, kuku tajam itu telah merobek lurus sepanjang rahang kanan wajahnya. Cairan merah naik ke permukaan kulit Puspa.


Madam Marlena menelan ludah. Tidak menyangka jika reaksi Nenek Mayang akan seperti ini. Bukan menyukai kliennya. Malah, terlihat sebaliknya. Mencakarnya.


Tetesan merah jatuh ke lantai. Nenek Mayang menarik ujung kukunya. Dia menjilat manis darah yang membercak pada kuku hitam miliknya.


"Aku sedang tidak buka pendaftaran. Lagipula, kau bukan seleraku. Seleraku adalah polos hatinya. Bodoh pikirannya. Pesimis kekuatannya. Gang buntu adalah keadaannya."


Puspa segera menelungkupkan telapak tangannya rapat pada rahang wajahnya. Seakan, mencegah setiap cairan merah itu menetes lebih banyak.


"Mengapa menolakku menjadi muridmu?"


"Karena, aku lebih menyukai yang lugu dan polos. Kau, sudah terlalu banyak pengalaman mengiblis, Nana. Kau licik dan tidak akan pernah setia dengan satu tuan."


Glek! Puspa menelan ludahnya. Karena, Nenek Mayang seakan telah mengenal kulit luar hingga setiap  organ pikirannya.


"Lagipula. Kau sudah menjadi musuh bebuyutan dari dua puteriku."

__ADS_1


"Who?"


Nenek Mayang mengangkat sepasang alisnya. Dia mengabaikan pertanyaan Puspa. Dia hanya berjalan menuju lemari pendingin Madam Marlena.


"Marlena!"


Madam Marlena segera membuka pintu lemari es.


"Ambil saja seluruh stock dalam kulkas, sebagai cemilan Nenek Mayang  sakti."


Kik! Kik! Kik!


"Aku hanya perlu satu. Aku suka yang fresh! Bukan darah dingin!"


Nenek Mayang mengambil satu kantong darah dalam lemari pendingin. Dia membuka ujung tutup kantong itu. Mengambil sedotan di atas meja, dan menyeruputnya perlahan.


Srup! Srup! Srup!


Nenek Mayang telah menghabiskan satu kantong darah. Lalu, dia melemparkan asal ke lantai.


"Darah yang dingin. Aku tidak pernah suka. Aku berbeda dengan Arum. Jadi, jika kau memanggilku lain kali. Jangan sediakan yang dingin seperti ini."


Tiba-tiba sepasang mata Nenek Mayang menggerling. Lalu, dia telah berdiri tepat di sisi Puspa. Menjatuhkan telapak tangan Puspa yang menutup goresan luka pada rahang wajahnya. Lalu, lidah kecil Nenek Mayang mengecap darah sepanjang rahang Puspa.


Napas Puspa sekaan raib. Jantung berhenti berdetak. Darah dalam nadi ikut membeku.


"Darah segar seperti ini adalah kesukaan milikku. Mengalir langsung dari lapisan kulit dan daging tipis."


Goresan luka itu merapat kemudian. Tidak meninggalkan jejak sedikitpun. Lidah kecil Nenek Mayang kembali ke dalam mulutnya. Lalu, sepasang tangannya melingkar pada leher Puspa.


"Jika kau ingin menjadi muridku. Persembahkan bagian dirimu. Mengeluarkan biji mata. Memotong daun telinga. Mengiris lidah. Saat itu, kau hanya akan buta, tuli, dan bisu. Kau berhak memperoleh NIK dalam kartu keluargaku."


Puspa bangkit dari tempat duduknya. Dia segera menjauh dari Nenek Mayang. Dia segera bersembunyi di balik punggung Madam Marlena, dan membisikkan ketakutannya, "Madam, dia ingin memakanku? Aku sangat takut."


"Nenek Mayang. Aku hanya ingin berkata pada intinya," seru Madam Marlena dengan satu genggaman tangan menyembunyikan belati ular.


"Tidak perlu berusaha membunuhku. Kau bukan lawanku. Arum saja harus berpikir seribu kali berurusan denganku! Apalagi kau hanya patung kacung persembahan Frozen food!"


Tangan Madam Marlena tiba-tiba mengacung mengeluarkan belati ular dari saku celananya. Tangannya kaku, tak mampu dia kendalikan sendiri.


Pletak! Belati ular jatuh ke lantai.


"Aku hanya iseng datang kemari. Pertemuan selanjutnya--" Nenek Mayang menjedakan kalimatnya.


Nenek Mayang mengangkat kelopak matanya lebar, melotot pada Madam Marlena. Mendekat dan berbisik.


"Ketika kau asal menyebut namaku. Aku akan meminta tumbal yang manis dan fresh! Aku tidak akan menyukai makanan dingin, beku! I don't like Frozen food!"


Nenek Mayang tersenyum sinis.


"Siapa Sudi bekerjasama dengan murid Arum!"


Nenek Mayang melambaikan tangan, dan mendesis, "Goodbye."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


apa belum ngeri? belum ada horor? klo belum horor .... aku tambahin lagi yg seram".


__ADS_2