
...Dunia ini lah berlakon tanpa bisa menebak akhir cerita milikmu ataupun milik orang lain....
..._Eouny Jeje_...
...Drama akan segera di mulai. Siap-siap berlakon hebat....
..._Imah_...
...꧁❤༆Pelet Janda Penggoda༆❤꧂...
Santi merasa cukup yakin, jika Dukun online yang mahal dan meminta down Payment itu cukup tangguh melawan pendukung besar Aprilia.
"Setidaknya dukun itu mampu membuatku memiliki Anak!dan melenyapkan janda sialan itu."
Santi melirik angka pada jam tangannya. Pukul 16.00 Wib.
"Aku harus segera pulang! Harus menyiapkan skenario dengan Imah!"
Santi melajukan mobilnya dan pulang ke kediamannya segera. Dalam 30 puluh menit dia telah mencapai halaman rumahnya.
"Imah!" teriak Santi seketika mencapai lantai rumahnya.
"Iya, Nyonya."
Santi memanggil Imah mendekatnya, "Si janda itu sudah kau beri makan?"
Imah menganggukan kepala.
"Dengan banyak garam!"
Imah menganggukan kepala. Padahal dia telah berbohong. Setiap sore,Santi tidak pernah mengawasi dapur. Jadi,setiap sore Imah akan memberikan rasa gurih yang pas dan menambahkan daging dan sayur lebih banyak. Karena,dia cukup miris akan sosok mantan Nyonya kedua dalam ruang bawah tanah itu, terlihat seperti mumi hidup. Sangat kurus. Pucat. Kehilangan rona merahnya.
"Imah, mendekatlah padaku," pinta Santi memanggil untuk mengikutinya duduk di sofa.
Imah mendekat dan duduk di lantai dengan tubuhnya berada di dekat kaki besar Nyonya rumah tersebut.
"Aku meminta kau menghafalkan skenario lagi."
Ya,ampun Imah merasa jadi artis sinetron di buat oleh Sutradara Nyonya Santi, sahut Imah dalam hatinya.
"Script Dialog yang bagaimana lagi,Nyah?"
Santi menghirup udara sebanyak mungkin, melontarkan napas,dan berkata,"Saya akan mual-mual kala makan malam nanti,di hadapan Sadewa."
Imah menganggukan kepala.
"Saat saya pergi ke kamar,saya akan mengeluh pusing dan mual. Aku akan menjatuhkan testpack ini."
Santi memperlihatkan batang biru dengan tanda dua garis merah pada Imah.
"Nyonya sedang hamil?" Imah cukup terkejut dan raut wajahnya terlihat bahagia akan kabar sang majikan sedang mengandung.
"Iya. Aku sedang berbadan dua." Santi terpaksa berbohong. Karena, biarlah kehamilan gaibnya hanya diketahui dirinya,dan dukun saja, serta Tuhan yang Maha tahu.
"Aku turut senang."
"Aku ingin memberikan surprise untuk Tuanmu."
__ADS_1
"Baik,Nyah. Setuju!"
Santi mengangkat satu alisnya,seakan memastikan Imah mengerti.
"Ingat! Setelah aku menjatuhkannya. Kau harus memungut testpack tersebut,dan kau tau apa yang harus kau lakukan?"
Imah terlihat menerawang sebentar.
"Ya ampun garis dua! Congrats Nyonya Santi dan Tuan Sadewa."
Santi menghela napas. Menjulingkan matanya sebentar.
"Bukan seperti itu dialognya!" Santi terlihat kesal.
"Lalu, bagaimana?"
"Kau harus pura-pura bego di hadapan Sadewa. Kau mengantarkan batang biru ini dan katakan padanya seperti ini."—Santi berdehem— "Tuan, testpack Nyonya Santi jatuh."
Santi menatap lurus Imah, "Mengerti? Dialognya paham."
"Coba ulangi!"
"Tuan, testpack Nyonya Santi jatuh," ulang Imah yang mengingat semua.
"Ingat harus tepat. Tidak boleh kurang satu katapun, dan lebih satu katapun. Jika salah satu kata saja, ataupun ketinggalan ataupun kelebihan kata, gajimu tidak bulan ini!" ancam Santi.
Imah mengigit bibirnya. Tidak menyangka jika gajinya akan di potong.
"Kau mengerti kan?" tanya Santi dengan dua bola mata menjuling ke atas meminta Imah menjawab segera.
"Segera masak makanan favorit suamiku!"
Santi mengibaskan tangannya menyuruh Imah pergi. Imah ssegera melenggang pergi ke dapur.
Santi mengarahkan bola matanya pada bingkai gambar pernikahannya dengan Sadewa.
Mas, sebentar lagi kita akan memiliki anak. Kita akan menjadi lengkap setelah ini.
Santi menahan napas.
Semoga anak titipan dukun tersebut. Lahir tidak menunjukkan kemiripan dengan tetanggaku! Semoga mirip mas Dewa, sedikit.
Santi merogoh rambut dan air ludah dalam kemasan botol yang dia miliki. Dia terlihat serius akan menjalani ritual manifestasi janin.
Santi mantap akan hal itu. Dia pun segera kembali ke kamarnya. Membersihkan dirinya. Selesai mandi, diapun Menyalakan aroma terapi kamarnya, untung menangkan jiwanya.
"Sial sekali! Suamiku malah impoten!" keluh Santi. Dia mengepalkan tangannya,dan teringat akan sosok Aprilia, "Dasar janda sialan. Jika bukan karena peletmu. Milik suamiku tidak akan loyo seperti ini. Menjengkelkan sekali!"
Santi merebahkan dirinya, dan mengambil ponselnya. Membuka aplikasi noveltoon, dan mulai melanjutkan bacaan novel tertundanya yang berjudul, Terjerat suami orang karya Eouny Jeje.
Santi terlihat menangis usai membaca novel tersebut. Dia geram dan menulis di kolom komentar.
Alea, sungguh malang nasibmu. Menjadi no 2 tanpa sengaja, dan di tuduh perebut suami orang kemudian. Tetapi, memang seperti itu, yang datang terlambat selalu menjadi salah di mata semua orang. Buat Bella, semongko yah! Tindas saja Alea diam-diam! Dan buat Zayn bucin kembali padamu. Istri pertama memang harus sadis untuk basmi nomor dua. Semongko Bella!
Santi pun mengakhiri sesi bacanya, dan layar ponsel pun menghitam kemudian. Dia menyeka air matanya, dan melirik jam. Telah jam 7 malam. Sebentar lagi Sadewa akan tiba di rumah.
Santi segera turun ke ruang tamu, bersiap menyambut kehadiran suaminya. Tepat di saat itu, Sadewa terlihat datang melewati garis pintu ruang tamu. Pria itu hanya berjalan lesu, tanpa satu pandangan mengangkat wajahnya dan tersenyum seperti biasanya.
__ADS_1
Santi kelu seketika. Tangannya terkepal marah ingat akan sosok janda yang berada di ruangan bawah tanah itu. Di sekap dalam kesepian dan gelap.
Mengapa kau harus mengingat sosok janda tersebut? Padahal dia tidak pernah muncul lagi di hadpaanmu, mas!
Santi menghirup udara sebanyak mungkin dengan perlahan, meredakan sesak di dadanya. Seakan saturasi oksigen telah kembali, diapun segera melangkah dan menggandeng tangan Sadewa ke ruang makan seraya berbincang.
"Mas, makanan favoritmu telah di siapkan."
Sadewa hanya mengangguk dan tidak melirik Santi sedikitpun. Dingin.
Sadewa duduk. Santi mulai meletakkan sedikit nasi dan mengambil lauk dan sayur di atas piring tersebut.
"Ummm!" Santi menahan mual.
Imah segera meluruskan punggungnya.
Drama akan segera di mulai. Siap-siap berlakon hebat,pikir Imah mulai tegang.
"Uuuuu!" Santi menggunakan tangannya untuk menutup mulutnya.
Sadewa heran. Kelopak matanya terlipat penuh ke atas. Bola matanya membesar bingung.
Santi segera pergi ke wastafel, dan terlihat muntah.
Sadewa masih diam pada kursinya. Dia bersikap acuh dan tidak acuh akan sikap Santi.
Santi berjalan sambil menyeka bibirnya.
"Mas, aku istirahat dulu!"
Sadewa hanya menganggukkan kepala.
Santi berjalan menjatuhkan batang biru di dekat kaki meja. Dia pun segera melangkah naik ke tangga. Berhenti pada anak tangga ke tiga, dia memberi isyarat dengan matanya pada Imah, untuk segera masuk lakon sandiwara.
Glek! Iman menelan ludahnya.
Santi terlihat segera pergi menuju kamar, setelah yakin Imah akan melakukan lakon dengan benar.
Baiklah pemeran pembantu beraksi, siap Imah menjalankan perannya.
Imah berjalan ke sisi meja makan. Memungut batang biru.
Sadewa yang baru saja mengunyah makanannya. Terlihat mengeryitkan keningnya segera akan batang biru yang tiba-tiba di sodorkan Imah di hadapannya.
Garis dua merah.
Sadewa seakan mengaitkan sesuatu ke Santi. Namun, dia menggelengkan kepalanya kemudian.
Santi kan sulit hamil, pikirnya.
...꧁❤༆Pelet Janda Penggoda༆❤꧂...
Jangan lupa tinggalkan komentar pada episode dengan menggunakan hastag dengan dua pagar seperti ini: #kehamilanpalsu# atau #menipusuami#
...ATAU...
Kalian juga bisa menambahkan komentar pada baris hastag yang tersedia.
__ADS_1