
Aprilia bangun kembali. Entah dia tidak bisa tidur pulas. Setiap mimpinya bagai nyata yang membekas di benaknya. Aprilia duduk di tepi ranjang menlonjorkan kakinya bergantung di udara. Dia menggoyangkan kakinya naik turun.
Kriuk! Suara perut Aprilia terdengar. Dia menghentikan goyangan kakinya. Menginjak lantai dengan telapak kaki tegap berdiri menyentuh ubin dingin. Dia menyentuh perutnya yang terdengar keroncongan. Di saat tangannya menyentuh kulit perutnya, dia merasakan sesuatu yang terasa kecil berenang-berenang dalam kolam. Bergerak dengan bebas.
Aprilia kosong sesaat. Akhirnya dia terkesiap mencengkram kain daster bunga miliknya, sampai pada kulit perut miliknya ikut terangkat dan terjepit bersama dalam cengkraman miliknya. Dia serasa ingin mencengkram sosok kecil itu.Meremasnya hingga tak mampu berenang lagi.
"Luluhlah menjadi darah." Aprilia membola jijik. Hampir saja dia melupakan janin di dalam perutnya. Namun, sepenuhnya dia tidak yakin akan kehamilan dirinya sendiri. Dia pun ingin memeriksa sendiri. Dia mengambil kotak biru di dalam kotak P3K. Tampaknya benda biru,alat test kehamilan itu selalu menjadi stock tanpa batas di dalam kotak P3K milik Puspa. Aprilia mengigit bibirnya. Banyak keraguan dan ketanuan di dalam dirinya untuk menebak kehamilannya. Bagaimana jika aku sunguh-sungguh hamil? Tidak. Anak siapa ini?
Aprilia melirik ke arah jam dinding lagi. Masih Jam 3 pagi. Aprilia mendesah. Dia baru satu jam tertidur. Telah terbangun lagi rupanya. Dia segera masuk ke kamar mandi di dalam kamar Puspa. Dia melorotkan celana miliknya. Menyobek kertas biru. Mulai mengambil sampel air seni dan menampungnya pada wadah plastik bewarna putih. Setelah itu dia melarutkan benda tipis panjang dengan warna putih ujungnya pada wadah tersebut.
Lalu, tampak air seni itu merangkak naik perlahan. Aprilia menjadi sangat gugup sekaligus takut. Tidak aku tidak inginkan dua garis merah.
Aprilia memejamkan matanya.Aiir seni itu mulai menyerap merangkak naik lebih tinggi pada batang biru.Setelah menunggu satu menit lamanya di dalam hatinya, yang baru selesai berdoa. Aprilia pun membuka matanya. Sepasang matanya rekat perlahan terbuka. Ujung kelopak matanya terlihat bergetar kuat.
Tercetak kemudian. Dua garis merah. Aprilia mencengkram perutnya. Dia terlihat pucat dengan netra yang terus menatap nanar dan tidak percaya.
Deg! Jantung Aprilia akhirnya melompat terjun. Dia duduk merosot di atas ubin dingin kamar mandi. Sepasang matanya mulai berembun, dan dia menangis akan dua tanda garis merah yang terlihat tebal.
"Aku hamil." Aprilia menggelengkan kepala. Dia memukul perutnya. Berharap janin dalam perutnya bisa gugur dan hilang menguap ke udara.
Aku tidak boleh hamil. Aprilia sedih dan pahit. Dia mencengkram daging perutnya. Seakan dia mengarahkan kekuatannya untuk mencekik sosok kecil yang baru terlihat bertunas membentuk tangan kecil dan kaki kecil itu.
"Arrrggggh!" jerit Aprilia merasa dunianya telah ditambahkan satu bencana besar lagi. Yaitu anak haram.
Aprilia menenagis tersedu, dengan raga dingin menyentuh ubin dinding kamar mandi. Stelah cukup tenang, dia meraup wajahnya, membuang air matanya, meremas rambutnya. Lalu, menaikkan celananya hingga ke pinggang kembali.
__ADS_1
"Tidak! Aku tidak boleh hamil," tekad Aprilia bangkit menyeka air matanya lagi. Air matanya tidak pernah bisa berhenti. Aprilia membuang sampel biru tersebut ke bak sampah. Dia pun segera melompat-lompat di tengah kamar. Melompat tinggi,setinggi mungkin.
"Gugur lah! Gugur!" harap Aprilia berkali-kali sampai peluh keringat membanjiri sepanjang rahang wajahnya dan punggungnya. Dia terus melompat. Menarik napas dalam-dalam. Mengencangkan otot perutnya, dan melompat lebih tinggi dan cepat. Banjir peluh keringat lebih banyak menetes jatuh ke lantai.
Tidak lama kemudian, Aprilia lelah dan duduk berjongkok di lantai. Dia melipat tubuhnya, dan menekan perut intinya. Namun, tanda-tanda sakit perut pun tidak terjadi.
"A-apakah aku ha-rus meminum ja-mu? Bagai-mana aku bisa memiliki dua anak. Satu anak saja membuatku ham-pir gi-la. Satu saja a-alunhampir ti-dak mampu memberinya ma-kan." Aprilia mendongak menatap langit-langit, dia menampung embun di bawah kelopak matanya. Dia teringat betapa congkak dan pelitnya Sadewa, pria paruh baya yang telah menjadi sumber uangnya selama ini. Hanya pria itu yang telah melabuhkan benih pada hari masa subur. Deg! Aprilia menagis terisak.
"Bagaimana bisa meminta hak kepada seorang pria yang sudah beristri?" Aprilia perlahan menjambak dirinya sendiri, dan menyesal akan perbuatan hina yang pernah dia lakukan. Dia telah jatuh bodoh, melayani napsu pria bejat yang berjanji manis akan menikahinya menjadi isteri kedua, dan yang telah meloloskan dirinya dari harga sewa yang melilit dirinya.
"A-apa yang ha-rus ku-lakukan?" Aprilia mengetuk kepalanya. Berharap kepalan tangannya menjadi palu dan memecahkan kepalanya. "Jika ini anak Jack, mungkin aku akan menjaganya."
Aprilia menarik napas sebanyak mungkin, dan merebahkan dirinya kembali ke atas kasur. Dia membenamkan wajahnya. Menekan isaknya.
Deg! Aprilia mendongak bangun. Mengadahkan kepalanya berputar-putar ke sana kemari, mencari sosok yang terdengar membisikinya.
"Siapa yang berbicara?" tanya Aprilia bergetar dan segera memeluk lututnya. Rasa takut menyergap dirinya.
Angin berhembus meniup tekuk, rasanya dingin, dan membuat dirinya bergindik. Sepasang mata Aprilia mengarah pada laci.
Boneka jerami kah yang bicara? Aprilia bergindik makin takut. Namun, tiba-tiba bisikan itu terdengar kembali, "Jangan takut. Aku bisa menolongmu."
Aprilia bergindik makin takut. Dia segera melompat turun dari ranjang. Berlari berhambur kembali ke kamarnya, memeluk Dimas yang masih terlelap. Dia menyembunyikan wajahnya di balik tubuh gempal Dimas. Raganya bergetar kuat, dan telapak kakinya sangat dingin.
"Aprilia ...," bisikan itu berhembus. Aprilia menggelengkan kepalanya kuat. Tidak berani melihat sosok yang terasa berada di belakang punggungnya.
__ADS_1
"Denganku kau akan mendapatkan segalanya," bisik Nenek Mayang.
Aprilia menggelengkan kepalanya. Memeluk Dimas makin erat, dan berkomat-kamit membentuk seuntai doa yang dilontarkan mulutnya.
Nenek Mayang terkekeh geli. Doa Aprilia tidak mampu mengusirnya. Jika kau bukanlah orang yang tidak memiliki iman. Bagaimana mampu mengusirku?
Nenek Mayang lalu mengubah wujudnya menjadi Jack. Dia telah mengetahui, jika Aprilia telah terpikat pada sosok pria mapan itu.
Deg! Jantung Aprilia melompat lagi. Kala seseorang terasa menyentuh telapak kakinya.
"Lihat aku!" suara pria itu terdengar berat dan familiar.
Dup-dup-dup. Aprilia membuka matanya perlahan. Menoleh ke depan ke sosok yang terlihat berdiri di ujung ranjang, yang telah menyentuh kakinya.
"Jack," sebut Aprilia hampir tidak terdengar
Pria itu menganggukan kepala, dan tersenyum mengembang ke arahnya. Lalu, hilang kemudian dalam hitungan detik.
......................
Bersambung ...
Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai dengan episode ini. Besar harapannya author sih, readers terus mengikuti dan membaca, dan jangan lupa berikan hadiah 🎁, Vote 🎫, Like 👍, dan Coment setelah membaca yah .
Besar dukungan kalian sangat di harapkan Lo
__ADS_1