
...Wǒ yǐjīng zhuì rù nǐ de qíng wǎng...
...Aku sudah memasuki perangkap cintamu...
...I'll love you forever...
...Aku akan mencintaimu selamanya...
..._Aaron Kwok_...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kau berbicara untuknya. Seakan kau lah yang pernah aku sakiti?" jerit Santi dengan suara rendah. Dia tampak takut suara tinggi akan membangunkan Rakha. Dia menunduk jatuh menatap wajah mungil dalam dekapan tangannya. Air matanya jatuh mengenai kepala boneka kecil tampan itu.
"Kakak ipar, kau salah paham. Aku tidak berbicara untuknya. Bukankah dia telah mati. Aku tidak mengenalnya pula. Bagaimana bisa kau terus menyebut kami adalah orang yang sama? itu konyol!"
"Kau membenciku ...." Santi menahan napas dalam getir setiap katanya, dengan telunjuk menggantung di udara menunjuk Aprilia.
Aprilia mendekat, duduk di tepi ranjang, dan tersenyum, "Bukankah orang mati tidak bisa menyakitimu. Yang mengejarmu bukan orang mati itu. Melainkan ...."
Aprilia menghela napas. Satu tangannya memindahkan stopmap ke atas pangkuan pahanya dan kelopak matanya mengatup seraya bibirnya terbuka perlahan berkata, "Dosamu yang hidup dan mengejar dirimu sendiri. Dia tidak akan berhenti mengejarmu."
"Kau dan dia? Sama! Kau adalah orang itu!" Santi berdiri dengan suara tinggi. Membangunkan Rakha dalam gendongan tangannya.
"Owekkkk!!! Owekkk! Owekk!" jerit Rakha berontak.
Santi tidak perduli akan rengekan buah hatinya. Sepasang matanya merah seakan telah bertemu dengan kupu-kupu beracun yang merenggut gula madu dalam istananya. Telunjuknya tegak panjang menunjuk hidung Aprilia.
"Sudah aku katakan. Dari awal hingga langit terbelah menjadi dua. Aku tetap akan mengatakan hal yang sama, Orang mati tidak bisa melukaimu. Dosamu pada orang mati itulah yang melukaimu!"
"Kau hidup lagi, babu jelek. Kau menghantuiku!"
"Itu perasaanmu padanya yang menghantuimu. Aku tidak pernah melukaimu."
"Kau membenciku!" teking Santi dengan seluruh amarah yang menggunung. Wajahnya merah dan berasap.
Aprilia menghela napas. Dadanya terlihat naik turun sebentar.
Tik!
Suara tombol pena di tekan. Aprilia berdiri, "Tanda tangani saja!"
Aprilia membuka stopmap dan membuka lembar terakhir untuk lembar tanda tangan. Persetujuan perceraian.
"Tidak akan! Aku tidak akan bercerai."
"Suamimu tidak menginginkanmu. Hatinya sudah di bawa pergi oleh orang mati itu! Kau mengerti? Kau hanya tinggal untuk memberi pisau kasat mata pada kepalanya. Tali kasat mata yang mengikat leher. Kau membawa pistol kasat mata yang menembak jantung."
"Cukup!"
Santi mengambil pena dan menggores tinta pada kertas, "Aku menyetujui perceraian. Apakah kau senang? Mengakulah padaku ... siapa kau?"
Aprilia menutup stopmap, tersenyum miring, sepasang matanya terlihat sangat gelap.
"Aku bukan dia."
Aprilia pergi meninggalkan kamar. Dia melangkah menaiki tangga menuju kamar Sadewa. Ujung sepatunya lancip mengetok setiap anak tangga, hingga lantai yang menghubungkannya pada kamar pria itu.
Aprilia berhenti di garis pintu. Terlihat Sadewa duduk di kursinya, dengan sebuah gitar yang bersandar pada dadanya, dan jemari panjangnya terlihat memetik nada lama.
"Kau datang tepat waktu."
Aprilia berjalan membawa stopmap, dan meletakkan pada tepi ranjang, "Dia setuju bercerai denganmu."
"Sesak telah pergi. Bukankah itu lebih baik?"
__ADS_1
"Kau tidak menyayangi hubungan lama kalian? Kau dan dia telah mengenal semenjak lama."
"Kau tinggal bersama kesesakan. Apa yang harus aku perbuat jika aku ingin melihat matahari dan menghirup udara. Aku hanya meminta dia pergi. Itu saja."
Sadewa memetik senar gitar. Sepasang matanya menatap pada wanita yang duduk di tepi ranjang, "Aku ingin menyanyikan lagu untukmu."
Aprilia tersenyum, "Lagu apa?"
"Aaron Kwok judulnya I wanna hold you forever."
Sadewa memetik senar gitar dengan setiap ujung jari yang berpindah-pindah dengan lincah, dan bibirnya pun mulai terbuka bersenandung.
Kěyǐ bù kěyǐ
Bolehkah aku
Zài duōliú yīhuǐ'er
Tinggal sedikit lebih lama
Shuō shuō tiánmì de qínghuà
Untuk berbicara beberapa kata manis yang penuh kasih
Yèkōng de xīngxīng dōu hái zài xuānhuá
Bintang-bintang di langit masih membuat suara
Péizhe wǒ bié jízhuó huí jiā
Menemaniku untuk tidak buru-buru pulang
I wanna hold you forever
Aku ingin memelukmu selamanya
Kau mengedipkan mata tanpa menjawab
Bù yuàn yīqiè zhǐshì gè huànxiǎng
Aku tidak ingin semua itu hanya sebagai fantasi
Wǒ yǐjīng zhuì rù nǐ de qíng wǎng
Aku sudah memasuki perangkap cintamu
Wǒ yǐjīng zhuì rù nǐ de qíng wǎng
Aku sudah memasuki perangkap cintamu
I'll love you forever
Aku akan mencintaimu selamanya
Sadewa berhenti memetik senar. Dia tersenyum pada sosok wanita yang terlihat bagai matahari yang terbit di malam hari. Dia telah menggeser bulan. Baginya setiap kegelapan telah sirna.
"Kau adalah matahariku di malam hari."
"Terlalu silau! Akan di sebut siang."
"Ya. Begitulah aku melihat padamu. Tidak akan pernah ada malam lagi. Tidak akan pernah ada gelap lagi."
Aprilia tersipu merah, dan degup jantungnya seakan melompat keluar dari rumahnya. Dia segera mengalihkan topik segera, "Kau menyukai Aaron Kwok?"
Sadewa menggelengkan kepala, "Aku menyukai lagunya. Bukan namanya. Nama itu mengingatkanku pada kenangan lama."
__ADS_1
Aprilia mengerutkan kening.
"Karena nama itu mengingatkanku pada sosok penyusup dalam barisan garda depan. Bertingkah manis seperti bayi. Namun, menjilat kaki hanya untuk menggigit kaki."
"Bagaimana dengan dia saat ini?"
"Sudah mati!"
Deg! Aprilia terkesiap dan menyapu wajah Sadewa, "Apakah dia menghancurkanmu?"
Sadewa menggelengkan kepala, "Tidak ada yang bisa menghancurkanku kecuali dirimu."
"Sungguh?"
"Sebelum aku naik menjadi seorang pria tirani. Aku pernah duduk bersama mereka di bawah pohon rindang yang besar dan berhantu. Semua wanita menyebut kami, jagoan DPR!"
"Dewan perwakilan rakyat?"
Sadewa meletakkan gitarnya, dia terkekeh, dan menjawab, "Bukan itu. Jagoan DPR artinya jagoan di bawah pohon rindang. Tetapi, karena merebut atensi seorang wanita, kami bubar. Ada yang ingin membuka aibnya. Ada yang ingin menutup aibnya."
"Cerita apa itu?"
"Cerita pakaian putih abu-abu. Aku hanya bernostalgia, bagaimana seorang kawan akan menusukmu dan tidak mempercayaimu lagi. Semenjak kehadiran wanita itu datang bagai ular. DPR bubar! Oleh itu, jangan pernah menaruh seorang wanita dalam persahabatan pria. Karena, menyukai orang yang sama, itu akan menjadi kehancuran."
Sadewa merebahkan kepalanya pada bahu Aprilia, dan dia terkekeh seakan kembali pada masa lampau di saat dia mengenakan pakaian putih abu-abunya.
"Siapakah wanita beruntung itu? Walau dia menghancurkan. Namun, dia lah Dewi saat itu. Beritahu namanya?"
"Santi. Wanita yang telah menjadi mantan isteriku hari ini."
"Santi?" Aprilia mengerutkan kening dalam, dan dia berbisik pada telinga Sadewa, "Mantan isterimu tetaplah mantan terindah dan terbaik. Kau berjuang merebut dari semua pria serigala. Namun, akhir cerita berkata lain. Hanya waktu yang bisa mengubah segalanya."
Sadewa menganggukan kepala dan dia menepuk-nepuk pipinya yang mulai merah, "Jika mengingat kenangan. Dia adalah bagian beharga. Namun, obsesi itu bisa pudar dan luntur secara perlahan."
"Sejak kapan?"
"Sejak aku menyadari aku hanya ingin berlomba mendapatkan piala. Lalu, aku menjaga dan mempertahankannya. Itu adalah obsesi terbodohku di masa muda. Kini, aku mengerti perbedaan cinta dan obsesi."
"Apa bedanya?"
Sadewa mengangkat kepalanya.Dia tersenyum, "Cinta itu membeli seluruh arogansiku. Keangkuhanku. Mimpiku. Segalanya telah terganti hanya untuk memenuhi mau-mu bukan mau-ku. Memenuhi mimpimu bukan mimpiku."
"Beruntung sekali wanita itu?"
"Ya, dia adalah dirimu Aprilia."
Aprilia segera berdiri. Mengipas tangannya pada wajahnya. Mendadak ruangan dengan suhu 17 derajat itu telah mampu mendidihkan darah dalam nadinya. Suhu dingin itu mendadak menjadi sangat panas bagai di jatuhkan ke dalam neraka, bertemu iblis yang rela menyembah kakinya.
Dup! Dup! Dup! Jantungnya berdetak tidak karuan, rayuan Sadewa bagai api yang menghanguskan air. Segenap seluruh raga Aprilia mendadak haus akan dekapan dan kasih sayang pria ini.
"Jangan menggombal padaku!"
Sadewa turun, meletakkan lututnya di lantai, dan tangannya mengulur menggenggam tangan Aprilia, dan bibirnya mencium punggung tangan wanita itu, dan dia berkata lurus, "Aku berjanji hanya menikah satu kali lagi, dan kau lah yang terakhir."
Aprilia tersenyum, "Antar pulang mantan isterimu lebih awal. Bukankah ini bukan rumahnya lagi."
Sadewa berdiri, memeluk Aprilia, "Besok dia akan berangkat sepagi mungkin penerbangan ke Amerika. Aku dengar kakek dari ibunya, masih sehat."
"Oh."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bye Santi ❤️Hidup bahagia dengan suami baru yah. Aprilia nggak tau kemana mana ... masih mencintai Jack dia 😅 Kasihan Sadewa .... sini buat otor aja .... Lumayan buat di bajak 😅 Tetapi, cma dalam novel aja.
Maafkan Author tllu bikin cerita berkutat Aprilia Sadewa dlu .. karena di saat inj akan ada pertemuan dengan Nana.
__ADS_1
ada yang kangen nenek Mayang? duh di mana dia ... author jg kangen 😌