
...Air laut yang pasang berlari ke pinggir pantai, akan menghapus jejak kaki. Bisakah, air mata menghapus jejak-jejak kenangan kita....
..._Sadewa_...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Matahari begitu tinggi naik menghias cakrawala. Silaunya bahkan tidak membangunkan wanita yang terlelap panjang dalam mimpinya. Bagaimana tidak, dia baru saja tertidur dini hari.
Tok! Tok! Tok!
Ketokan pintu itu terdengar 3 kali. Seakan masih terbuai mimpi. Wanita itu tidak kunjung bangun.
Klek!
Pintu terbuka.
Tap-tap-tap!
Langkah pelan masuk terdengar, berjalan ke sisi ranjang dan tangan besar itu meletakkan nampan makanan di atas meja.
Tangan itu kemudian bergerak membangunkan wanita yang terlelap. Dia menggoyangkan bahu sang majikannya.
Aprilia mengerjapkan matanya. Kelopak matanya terasa sangat berat. Namun, dia memaksa kelopak mata itu terlipat. Terbuka lebar. Tampak iris mata yang terlihat indah dan langka.
Deg! Sosok Imah terpaku sesaat. Dia melihat iris wanita itu terlihat tidak asing. Seakan, sepasang wanita yang telah mati terbakar itu. Telah bangkit kembali. Tercekat. Linglung.
"Kenapa memandangku?" tegur Aprilia.
Imah bangun dari rasa linglung. Raganya bergetar. Dia teringat akan sosok mantan nyonya rumah, Santi yang berbisik padanya malam itu.
Imah, apa kau tidak merasakan persamaan antara Lea dan babu jelek itu? Matanya dan suaranya. Seakan wanita itu bangkit hidup lagi.
Pertanyaan itu terbersit kembali pada benak Imah. Dia memberanikan diri mengangkat pandangannya pada wanita cantik di hadapannya, hanya untuk memastikan apa dia telah menemukan persamaannya.
Tidak menemukan. Imah menghela napas.
Hanya perasaanku saja, pikir Imah dan dia segera menjawab, "Nona, terlihat cantik setelah bangun tidur."
Imah memperbaiki postur kikuknya, dan menunjuk nampan, "Nona, sudah bangun. Makan siang dari Tuan Sadewa untuk di antar ke kamar Nona."
Aprilia tersenyum hambar. Dia hanya mengangguk pelan, dengan napas yang terdengar setengah mengeluh.
Tidak biasanya, Oppa akan bersikap seperti ini. Jika, aku terlambat keluar kamar saja. Dia akan segera berlari ke kamar dengan sejuta khawatir. Hari ini, dia mulai berbeda.
"Permisi, non. Saya kembali."
Imah pergi melangkah mundur. Sekali-kali dia menoleh ke belakang, melihat sosok wanita cantik yang terlihat bergerak mulai mengangkat sendok.
Mengapa aku merasakan dia terlihat seperti Nyonya Aprilia? Rasanya sangat mustahil. Namun, detak jantungku tidak karuan setelah melihat matanya, dan mendengar suaranya.
Imah menarik pintu perlahan. Menyatukan daun pintu merapat pada kusennya.
Blam!
Aprilia menoleh ke asal suara. Pintu telah tertutup. Tangannya masih menggenggam sendok. Dia mulai makan satu suap.
"Rasanya hambar," celetuk Aprilia. Dia bangkit dari sisi ranjang. Melepas sendok dari genggaman. Sungguh, dia mendadak gelisah. Mengingat, Sadewa terlihat dingin, apalagi dia telah menyebut nama wanita lain.
__ADS_1
"Namanya ... Vina atau Tina?" Aprilia mencoba mengingatnya. Namun, dia gagal mengingatnya lagi dan lagi.
Rasa penasarannya menumpuk makin tinggi. Tidak mampu membendung rasa penasarannya. Dia segera melangkah keluar.
Kret!
"Awwww!" jerit Imah setengah histeris. Dia telah kehilangan sandaran punggungnya. Dia menoleh ke belakang. Meringis bodoh, dan bibirnya terlihat seperti mie.
Aprilia mengerutkan kening. Dia cukup terkejut akan ulah Imah yang terlihat mematung di depan pintu kamarnya.
"Ada apa denganmu?" ketus Aprilia.
Imah tertegun. Kosong. Bukan, karena suara tinggi Aprilia. Namun, karena dia menyadari jika suara wanita di depannya terdengar sama dengan Nyonya Aprilia.
"Ada apa sih?"
Bangun. Imah bangun dari pikirannya.
"Tadi, lagi mikirin sesuatu. Jadi, tidak sengaja berlama di depan pintu."
"Apa yang kau pikiran?"
"Lupa," jawab Imah spontan. Walau terdengar berbohong. Setidaknya, dia tidak mampu jujur untuk saat ini. Dia telah menemukan persamaan Aprilia dan Lea.
Apakah aku harus percaya ada ruh Nyonya Aprilia menempel pada Nona Lea?
Aprilia enggan menggubris hal tersebut kembali, dia hanya mendongak naik menatap kamar pria tirani itu.
"Oppa di mana?"
"Di kamar Nyonya Santi."
"Nostalgia? Cinta lama bersemi kembali, yah?"
Imah hanya meringis, bercampur heran. Tidak tau untuk menjawab apa. Namun, dia mampu melihat kilatan api cemburu memenuhi sangkar mata wanita cantik di depannya.
"Aku akan menemui Oppa. Tolong, bersihkan tempat tidurku. Bawa pergi makan siang itu. Aku tidak selera makan."
Usai berkata. Wanita berambut panjang ikal itu berjalan melangkah panjang menuju kamar Santi.
Pintu kamar itu terbuka. Menghentikan langkahnya. Aprilia berdiri dengan memberi jarak yang cukup memandangi sosok pria yang berada di dalam kamar itu. Pria itu terlihat duduk di kursinya, dan tangannya terlihat bergerak perlahan membuka album. Album lama.
"Apa yang di lakukan pria itu? Merindu pada istrinya!" Aprilia terlihat sinis. Dia melangkah tergesa kemudian, masuk ke dalam kamar.
Sadewa mengangkat wajahnya. Kala,dia merasakan sosok bayangan hitam seakan memayungi dirinya.
"Apa yang kau lihat, Oppa?" tanya Aprilia dengan nada rendah. Dia berkata lembut, dan duduk di sisi pria itu. Menjatuhkan pandangannya, mengikuti arah mata Sadewa.
Sadewa hanya diam. Kembali, menunduk pada gambar lama.
"Siapa mereka?"
"Aku dan mereka," jawab Sadewa hambar. Sepasang matanya hanya duduk melihat setiap orang yang berdiri di pinggir pantai. Dengan sederet motor di belakang mereka. Setiap pria di dalam gambar terlihat mengenakan kemeja dengan dua kancing terbuka, dan celana jubray panjang. Lalu, yang perempuan mengenakan dress vintage dengan motif bunga-bunga.
Aprilia mengamati setiap orang dalam gambar yang terbingkai hitam putih warnanya. Lalu, terminal matanya berhenti pada sosok Sadewa yang terlihat bergandengan tangan dengan seorang wanita. Namun, wanita itu terlihat jelas bukanlah Santi.
"Siapa dia?"
__ADS_1
"Vina?"
"Tina, tepatnya," koreksi Sadewa.
"Kenapa kau mengingat wanita lama?"
Sadewa menghela napas. Dia meraba-raba gambar itu, dan seakan teringat satu kalimat Tina yang berbisik padanya di saat itu. Dia menoleh pada Aprilia, dan mengulangi kalimat itu,"Seseorang berkata padaku, Kala kita berlari-lari di pantai, jejak kaki pastilah membekas pada pasir pantai. Lalu, bagaimana berlari-lari di hati seseorang, pasti sangat membekas."
"Apalagi menginjaknya. Tidak akan terlupakan," timpal Aprilia.
Pandangan Sadewa jatuh pada gambar. Pada sosok wanita itu.
"Air laut yang pasang berlari ke pinggir pantai, akan menghapus jejak kaki. Bisakah, air mata menghapus jejak-jejak kenangan kita."
Aprilia diam. Dia mengetahui kalimat itu bukan diperuntukan untuk dirinya, "Apakah kau sedang mengenang seseorang yang di pantai?"
Aprilia meringis dengan bibirnya. Dia membandingkan sosok wanita itu dengan dirinya, "Dia tidak cantik sedikitpun, Oppa."
Aprilia terdengar sengaja menunjukan kecemburuannya, dia segera mengkritik, "Hidungnya pesek dan berlubang besar. Rambutnya merak seperti singa. Apakah wanita jaman old seperti itu? Kuno, sekali!"
Sadewa tidak segera menjawab. Dia menutup album, dan berkata dingin, "Tidak semua pria akan jatuh hati karena fisik seorang wanita. Namun, ada sesuatu dalam dirinya, menjadi magnet untukku."
"....."
"Aku sendiri, tidak tahu. Setiap orang memiliki alasan untuk mendekat dan menjauh kemudian."
"Oppa, apakah kalian sering berkumpul di sana untuk melihat senja?"
Sadewa menganggukkan kepala. Dia berdiri. Bersikap dingin, dan pergi meninggalkan Aprilia begitu saja.
Blam! Pintu mengatup sendiri, bersaaman dengan langkah pria itu melewati garis pintu.
Aprilia membasuh wajahnya dengan telapak tangannya.
"Peletku kehilangan fungsinya. Dia kembali dingin."
"Oleh itu, kau harus segera memikatnya kembali," bisik Nenek Mayang yang tiba-tiba hadir di belakang punggung kursi, dengan wajah miring berbisik pada Aprilia.
"Aku perlu tumbal!"
Aprilia memiringkan kepalanya. Ketakutan meliputi dadanya berasal dari telinganya yang bersisian dengan bibir sang nenek keriput itu.
"Apakah kau tau cerita kehidupanmu mulai tidak menarik? Kau harus menghidupkannya kembali dengan pengorbanan?"
"Eoma? Bisakah kau bersabar."
"Kau yang mengikuti waktuku. Karena, aku tidak pernah mengikuti waktu hambanya. Berikan persembahanmu, Aprilia!"
Tangan keriput renta itu bertengger pada bahu Aprilia. Bergeser perlahan, dan melingkar pada batang leher Aprilia. Dia tidak mencengkram. Namun, sentuhan kulit tangan wanita tua itu, mampu membuat raga Aprilia bergetar kuat.
"Hukum gift and take itu berlaku mutlak. Berani berbuat, berani bertanggung jawab! Tanggung jawabmu adalah membayar apa yang pernah kau minta dariku."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Fashion Style zaman old
__ADS_1
...Sekedar ilustrasi. Betapa udara di pantai itu melebihi di rumah? Ya, nggak .......