Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 64


__ADS_3

...Cinta tidak harus memiliki karena seseorang itu harus setia menjaga orang yang telah di tentukan untuknya....


..._Eouny Jeje_...


...Segala sesuatu yang sakit, ku terima dengan akal sehat. Ternyata, rasanya lebih menyakitkan daripada kematian.Seakan tidak ada jalan lain, agar tetap hidup dengan membiarkan cinta bersama luka....


..._Santi_...


...꧁❤•༆PJP 64༆•❤꧂...


Sadewa mengenakan seluruh pakaiannya. Aprilia baru saja akan membuka pintu. Namun, tangan Sadewa menahannya sebentar. Tangan lain pria itu mengeluarkan satu botol dari saku celananya.


Aprilia menyipitkan matanya akan botol yang tiba-tiba di letakkan Sadewa pada telapak tangannya.


"Campurkan pada setiap makanan Ratih. Biarkan dia mengalami tidur yang panjang secara perlahan-lahan."


"Ini apa, mas? Obat apa?"


"Obat tidur!"


"Aku tidak berani, mas!" tolak Aprilia, "Ini pembunuhan berencana, mas."


Sadewa menyipitkan matanya, dan langkahnya terus maju membuat Aprilia mundur terjebak ke dinding. Lalu, tangan pria itu bertengger pada bahunya, cengkraman itu terasa menusuk dan ingin meremukkan tulang Aprilia.


"Obat ini tidak akan terdeteksi dalam darah dan tubuh. Reaksi cepat. Jadi, walau kita membunuhnya, kita tidak akan ketahuan."


"Mas."


"Dia membunuh anak kita, Ratih. Nyawa pantas di ganti nyawa."


Dup! Dup! Aprilia kaku sebentar. Dia tidak berani menatap mata pria di depannya. Kilatan amarah itu telah bercampur dendam yang luar biasa.


"Mas."


Namun, setiap kata Aprilia terkunci seketika. Bibir ranum warna kecoklatan itu telah di lahap begitu saja oleh Sadewa. Kasar dan rakus dominasi gerakan bibir pria itu.


"Lakukan, untuk anak kita!"


Aprilia menelan rasa panik dan bercampur takut, "Aku tidak berani, mas."

__ADS_1


Sadewa menjulurkan kepalanya dan bibirnya mendekati telinga Aprilia, "Kau akan menjadi Nyonya rumah secepatnya dalam rumah ini, apa kau tak ingin? Aku meminta kerjasamamu untuk mengangkat kehidupanmu menjadi ratu dalam istana ini."


Aprilia ambigu sesaat. Rasa serakah Sadewa seakan menular segera pada Aprilia, sepasang mata Aprilia mengedar ke dalam setiap perabotan ruang tamu yang terlihat antik, mahal,dan indah. Gelap mata seketika, Aprilia menelan ludahnya, dan mengangguk setuju kemudian.


"Kau tidak akan membuangku kan mas,setelah mendapat segalanya."


Sadewa menatap dengan bola mata hitam dengan banyak cinta terlihat di sana, "Aku mencintaimu, Aprilia. Tidak akan pernah aku meninggalkanmu apalagi membuangmu, sayang."


Selesai satu kalimat panjang itu. Bibir pria itu menempel lembut kembali pada bibir Aprilia. Desah napas lembut itu terdengar nyata, seakan mengantar kesungguhannya akan rasa cinta pada wanita janda beranak satu tersebut, dan bibir pria itu terus turun perlahan membelai lembut dari menyusuri leher, menyusuri dada hingga perut, menyusuri kaki panjang itu dan bibir pria itu berhenti lama di telapak kaki Aprilia.


Aprilia tertegun akan ciuman kaki dari pria itu.


"Aku rela menjadi budakmu. Mencium kakimu bukanlah suatu yang terhina. Namun, suatu kebanggaanku sebagai pria yang telah menemukan tulang rusuknya."


Aprilia tersenyum akan kepala tertunduk pria itu dengan bibir pria itu basah mencium punggung kakinya.


Rupanya pelet Nenek Mayang, sangat manjur.Sadewa pria yang bertukar dengan banyak wanita, malah tergila-gila padaku.


...꧁❤•༆Eouny Jeje༆•❤꧂...


Aprilia menyiapkan segala makanan di atas meja. Pada sup jahe Ratih, tidak lupa dengan diam-diam dia meneteskan cairan bening obat tidur.


Setelah segala sesuatu tersedia di atas meja makan. Aprilia berdiri bersama dengan beberapa pelayan lainnya. Layak menunggu majikan datang. Setiap orang tampak berdiri mematung kaku. Kala suara langkah terdengar menginjak lantai ruang makan. Barulah Aprilia dan setiap pelayan mengangkat kepala sebentar, tersenyum,dan kembali menunduk dalam, dan hanya membiarkan Koki dapur berbicara panjang soal menu yang akan di nikmati.


"Makanan ini baik untuk Nyonya Santi yang sedang—"


Santi mengangkat tangannya. Koki pun berhenti tidak melanjutkan kalimatnya. Koki mundur ke belakang, kala pandangan Santi terfokus kepada sosok wanita yang berdiri di belakang sang koki dari tadi.


"Aprilia," sebut suara Santi terdengar bergetar. Sadewa terlihat melirik tidak suka, akan suara Santi terdengar bersiap menghardik istri keduanya.


"Dudukalah makan bersama kami," ajak Santi terdengar sangat mengejutkan setiap orang yang duduk bersiap makan. Sadewa menyipitkan matanya memandang Santi, dan tiba-tiba Santi tersenyum menoleh ke arahnya. Sadewa membalas dengan senyum yang terlihat ragu-ragu.


"Datanglah kemari, Aprilia. Kau kan istri kedua dari suamiku."


"Ehem!" Interupsi Ratih terdengar tidak setuju akan ajakan Santi.


"Ibu, nasi telah menjadi bubur. Berbaikan adalah cara terbaik."


"Huh!" Ratih melongos dengan napas terasa berat.

__ADS_1


"Itulah istri yang baik," timpal Sadewa pada Santi. Tiba-tiba saja dia merangkul tubuh besar wanita pertama dalam rumah tangganya.


Santi tersenyum getir.


Segala sesuatu yang sakit, ku terima dengan akal sehat. Ternyata, rasanya lebih menyakitkan daripada kematian.Seakan tidak ada jalan lain, agar tetap hidup dengan membiarkan cinta bersama luka.


"Aprilia, kemari lah." Sadewa bangkit berdiri dan menarik kursi,mempersilahkan duduk.


Santi tersenyum getir lagi. Memalingkan wajahnya sebentar hanya untuk menyeka air matanya.


Aprilia bimbang berjalan apalagi tatapan Ratih, wanita tua dalam rumah ini terlihat akan segera menerkamnya jika berani duduk di sebelah Sadewa.


Meja makan menjadi sangat hening. Tawaran untuk duduk makan bersama, terasa sangat menyeramkan. Aprilia kikuk akan dua nyonya rumah yang terlihat biru nelangsa,dan hanya Sadewa yang terlihat seperti merah tomat.


"Nyonya apakah aku boleh duduk?" pertanyaan itu terlontar pula dari tenggorokan Aprilia dengan sorot mata yang dia tujukan pada wanita berambut putih itu.


Ratih mendongakkan wajahnya kala tangan Santi menyentuh lembut tangan ibunya,dan sentuhan tangan itu mampu melunakkan kekerasan hatinya.


"Duduk saja.Tetapi, ingat kodratmu, dan kebaikan nyonya rumah itu harus kau balas dengan budi. Bukan dengan menginjak dirinya suatu saat."


Aprilia mematung kaku.


Ratih mendorong kursinya.Berdiri dan meraih tongkatnya,dan satu pelayan segera berburu membantunya kokoh berdiri.


"Kalian saja makan. Aku sangat lelah." Ratih segera menguap dan meminta pelayannya untuk memimpin jalan menuju kamarnya.


"Mari duduk di kursi bekas ibu," tawar Santi memberikan kursi terdekatnya.


Aprilia menahan napasnya. Sepasang matanya bertemu dengan Mata Sadewa. Sepasang mata itu mengisyaratkan agar Aprilia menuruti permintaan Santi.


Aprilia melangkah mendekat kursi yang di persilahkan untuknya. Santi menelan isaknya dalam.


Aku tidak pernah menyangka jika cinta akan membodohi aku sedalam ini.


Aprilia berhenti di sisi kursi Santi. Ada rasa biru menyergap hatinya, kala dia melihat rumah mata Santi, terlihat berembun.


Maaf, aku tidak melukaimu. Kau lah yang melukai dirimu sendiri dengan mengundangku masuk dalam rumahmu. Berbagi itu memang menyakitkan. Tetapi, kau tidak mampu menyingkirkan, itu adalah kelemahanmu.Lawanmu adalah aku,wanita yang ingin mengangkat kepalanya setinggi mungkin.


...꧁❤•༆PJP 64༆•❤꧂...

__ADS_1


Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai dengan episode ini. Besar harapannya author sih, readers terus mengikuti dan membaca, dan jangan lupa berikan hadiah 🎁, Vote 🎫, Like 👍, dan Coment setelah membaca yah .


Besar dukungan kalian sangat di harapkan Lo


__ADS_2