
"Kau pasti sumber kekuatan sihir Arika! Aku akan membakarmu! Biar Jack lepas dari sihir sialanmu!" Aprilia mencengkram kesal boneka jerami.
Sihir Jack itu bukan dari aku, dia dari sosok yang lain. Yang sama kuatnya denganku. Nenek Mayang berjalan membungkuk mengikuti Aprilia.
Aprilia membawa Boneka Jerami dalam tangannya. Dia mengambil satu pemantik api dari lemari dapur.
Kret! Membuka pintu dapur. Lalu, duduk di teras belakang dan berjongkok. Menyalakan pemantik api dan mulai mengarahkan ujung kaki boneka jerami. Tangan Aprilia menjatuhkan boneka jerami ke lantai. Api cepat melahap boneka itu membakar dan menyala.
Panas, oh aku kepanasan. Aku terbakar, gumam Nenek Mayang berpura-pura kesakitan berhadapan dengan boneka jerami yang terbakar. Dia hanya terkekeh kemudian, menatap api merah jingga melahap boneka jerami tersebut.
Aprilia berdiri, dan terkekeh, bola matanya dihiasnya warna merah dan jingga melahap boneka jerami, "Sihirmu hilang, Nana!" Setelah memastikan api padam, dan boneka jerami menjadi abu. Aprilia kembali kedalam rumah. Membanting pintu. Blam! Lalu, melenggang pergi meninggalkan rumah, menuju wisma pertemuannya dengan Sadewa. Dia telah meninggalkan Dimas sendiri di dalam kamar itu.
Tanpa di ketahui Aprilia. Boneka jerami yang telah terbakar menjadi abu. Perlahan demi perlahan abu itu merangkai dan membentuk kembali menjadi boneka jerami yang utuh Hanya dengan telunjuk nenek Mayang menyihir abu hitam itu menjadi boneka jerami seperti semula.
"Tidak ada yang bisa membakarku! Kecuali Tuhan. Aku akan selalu ada di sekitar kalian, manusia-manusia penuh dosa. Aku bukan ruh kegelapan sembarangan. Semua orang menyebutkan nenek moyang mereka. Akulah penguasa udara. Hidupku bak udara. Setiap manusia pasti membutuhkanku pada saat dadanya mulai sesak, air matanya telah kering habis, dan kebencian berakar di dalam dadanya."
Boneka Jerami pun kembali utuh dan berada di dalam laci lemari Puspa.
"Karena kau berani membakarku. Maka jangan salahkan aku, suatu saat akupun menjadikan abdi yang menyedihkan. Matipun harus menggenaskan. Bersekutu denganku, tidak akan pernah berakhir dengan baik. Karena aku tidak menyukai sorga."
...****************...
Aprilia menyusuri lorong Wisma yang panjang dengan pencahayaan remang-remang itu. Dia berjalan seraya melihat memeriksa nomor kamar. 212. Dia berhenti tepat pada kamar 212.
Wisma Pisces Kamar 212
Aprilia berdiri di depan pintu kamar. Dia melihat layar ponselnya dan mengadahkan matanya menatap angka yang tertempel di pintu kamar lagi, dan mencocokan angka pada pesannya. 212. Merasa yakin. Dia tidak salah kamar. Dia pun mengetok pintu panjang. Tok-tok-tok!
Aprilia berdiri menunggu beberapa lama. Barulah terdengar suara, Kret! Keluarlah Ririn, seorang wanita muda dengan profesi sebagai penjahit, yang juga di kenal Aprilia sebagai janda di sebelah kamar kontrakannya sebelumnya. Wanita ini lah yang merebut kasih sayang Sadewa darinya. Semenjak mengenal Ririn, Sadewa bersikap dingin bak gunung es. Padahal, jika di lihat baik-baik. Ririn bertubuh subur, wajah bulat. Mungkin, hanya dadanya yang menggelembung besar menjadi daya tariknya, sehingga nilainya sedikit lebih unggul daripada Aprilia.
Aprilia menatap sinis. Begitu juga wanita itu bersikap sema. Sinis dan bertanya, "Kau datang, untuk apa?"
Ririn menatap Aprilia dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Tumben kau berdandan."
__ADS_1
Aprilia membuang wajahnya. Hanya mencoba melongo ke belakang tubuh Ririn. Memeriksa ruangan. Agar bisa melihat sosok pria paruh baya yang mengundangnya kemari.
"Cari mas Dewa."
"Hmmm."
"Mas Dewa sudah tidak tertarik padamu."
"Bukan urusanmu."
Aprilia mengangkat dagunya. Ingin rasanya dia pergi menjambak wanita di depannya. Karena wanita ini, dia telah kehilangan sumber uangnya untuk bertahan.
"Aku ingin menemui mas Dewa." Aprilia ingin menerobos masuk. Namun, tangan Ririn segera menepis pergi, menghalangi kaki Aprilia masuk ke dalam.
"Dia sudah tidur," sahut Ririn ketus dengan tangan yang menyilang di dadanya.
"Suruh dia masuk!" Suara seorang pria terdengar dari dalam.
Aprilia ingin meludah segera. Janda di depannya, telah ketahuan berdusta.
Seorang pria paruh baya tampak duduk di tepi ranjang. Asap cerutu mengepul di depan wajahnya. Jemarinya yang menjepit cerutu, terlihat berkilau dengan batu akik yang melingkar pada setiap jari pria paruh baya itu.
"Mas Dewa."
Sadewa mengangkat dagunya. Dia terlihat tersenyum, dan memuji, "Kau terlihat cantik, dan lebih modis dari sebelumnya."
"Pencuri!"— Ririn maju dan duduk di sisi Sadewa— "Tidak punya uang bagaimana bisa punya baju bagus. Pastilah mencuri!"
Aprilia melirik dengan ujung matanya menatap bagaimana Ririn tiba- tiba bergelanyut manja dengan Sadewa, dan seuntai kalimat manis terlontar kemudian, "Ririn, tetaplah madu kesayangan."
Ririn terkekeh, "Madu dengan rasa yang tiada taranya, yah mas?"
"Iya. Tiada duanya." Ririn pun mengecup bibir Sadewa tepat di depan Aprilia yang hanya berdiri dengan jarak tiga langkah kurang dari tepi ranjang.
__ADS_1
"Ada apa kemari?" tanya Ririn antusias seraya menjulingkan matanya, menunjukkan ketidaksenangannya akan wanita di depannya.
Aprilia terlihat bergetar dan malu akan membuka suara.
"Kau ingin uang?" Sadewa membuka mulut mengejutkan nyali Aprilia yang saat ini dengan tangan bergetar merogoh dan menggengam benda biru dalam tangannya. Benda testpack yang di harapkan menjadi bukti untuk Sadewa.
"Kau kan tahu. Uang adalah transaksi. Aku selalu mengeluarkan uang untuk membayar sesuatu. Untuk jasa misalnya. Jika tidak ada transaksi, aku tidak akan membayar. Uang hanya untuk membeli, membayar, dan sewa.
Deg! Raut wajah Aprilia terlihat jatuh kecewa, dan harga dirinya di injak. Tiga kata Sadewa membuat dia ingin merosot mati. Membeli. Membayar. Sewa.
"Kau tidak di pakai. Bagaimana bisa meminta uang?" sindir Ririn yang kemudian mengangkat dompetnya, dan mengeluarkan satu lembar uang bewarna biru. "Pulanglah jika kau hanya datang untuk mengemis."
Selembar uang di terbangkan dan jatuh mengenai kaki Aprilia. Aprilia menurunkan arah matanya. Menatap sebentar uang lima puluh ribu rupiah.
Aku mengemis! Aku memang memerlukan uang.Tetapi, aku bukan pengemis. Aprilia berjongkok memungut uang tersebut dan melangkah mendekati Ririn. Mengambil tangan Ririn, dan meletakkan uang lima puluh ribu tersebut ke dalam telapak tangan Ririn.
"Aku datang bukan mengemis. Hanya ingin memberi kabar."
"Kabar? " Kening Sadewa berkerut dalam.
Aprilia menarik napas panjang. Menepis keraguan dan ketakutannya . Dia-pun merogoh benda biru. Menunjukkan kepada Ririn dan Sadewa akan tanda dua garis merah pada benda biru itu.
"Aku hamil, mas."
Sadewa terlihat berwajah serius kemudian. Ririn terlihat kesal, mengetahui kehamilan Aprilia. Bahkan dia pun belum kunjung hamil.
"Anak siapa?"— Ririn berdiri menatap Sadewa— "Jangan percaya. Wanita murahan. Pasti bukan hanya dengan mas tidur."
......................
Bersambung ...
Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai dengan episode ini. Besar harapannya author sih, readers terus mengikuti dan membaca, dan jangan lupa berikan hadiah 🎁, Vote 🎫, Like 👍, dan Coment setelah membaca yah .
__ADS_1
Besar dukungan kalian sangat di harapkan Lo