
...Diam dalam isyarat. Bergerak dalam persembunyian....
..._Eouny Jeje_...
...Kau memang sangat ramah pada setiap wanita cantik ataupun jelek. Tujuanmu hanyalah makan!...
..._Aprilia_...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aprilia melepas landaskan dirinya ke sebuah hotel ternama. Hotel Diamond. Dia berganti di bilik lantai kolam renang yang berada di atas atap gedung. Dia mengganti pakaiannya dengan bikini, yang terlihat Sexy dan ketat melingkar membalut tubuhnya yang ramping, sehingga gunung kembarnya yang terlihat menggoda dengan sebagian kulit dadanya melambung terkespos di balik bikini minim tersebut.
Aprilia mengeraikan rambutnya. Menutup letak daun telinganya. Dia menaiki tangga menuju atap gedung. Dia mengedarkan seluruh pandangannya. Mencari sosok pria yang pernah ada dalam hidupnya. Mantan suami. Gusti, pria yang pernah menyematkan cincin pada jari manisnya.
Belum menemukan pria itu. Aprilia berjalan ke pinggir kolam. Dia hanya sekedar berjalan hanya untuk memamerkan tubuhnya pada setiap pria yang terlihat diam-diam mengintip indahnya sepasang kaki jenjang itu berjalan.
"Cuek banget sih!"
"Gadis, lihat sini."
"Nggak ngilirik sedikitpun!"
"Cie sombong!"
"Sombong! Mentang cantik!"
Aprilia terus berjalan tanpa menoleh sedikitpun ke setiap pria yang berceletuk padanya. Dia telah kehilangan fungsi pendengarannya. Dia hanya fokus pada satu orang pria yang telah dia targetkan. Pria itu tampak bersandar dalam kolam renang.
Aprilia tersenyum. Dia berjalan kian mendekat pada sosok mantan suaminya. Aprilia mencapai pinggir kolam. Sang pria terlihat bersandar pada pinggir kolam dekat kaki jenjangnya berpijak.
Pria itu seakan menyadari sosok yang datang. Dia menoleh ke belakang, menatap kehadiran Aprilia dari ujung kaki hingga rambutnya. Pria itu tak kuasa menyembunyikan kekaguman akan mahluk yang tercipta. Bagai melihat seorang Barbie yang telah di jatuhkan dari langit.
Aprilia menurunkan pandangannya menatap sang mantan suaminya. Dia segera berjongkok. Lalu, satu demi satu menyelonjorkan sepasang kakinya bermain air di sisi pria itu.
"Nona," sapa pria itu mengangkat satu tangan meminta jabatan.
Aprilia tersenyum seraya mengedarkan pandangannya pada sekitar pria itu.
Dia tidak membawa istrinya turut berlibur.
Aprilia mengangkat tangannya. Menjabat tangan pria itu.
Deg! Jantung Aprilia berdegup melompat tinggi. Bergetar ingin memaki pria yang pernah menyakitinya, telah hadir di hadapannya. Namun, dia memilih bersikap tenang. Menjabat tangan pria itu. Sentuhan tangan lembut itu membuat jantung pria itu melompat bahagia.
"Namaku Adi," sebut pria itu dengan tangan basah yang terlihat enggan melepas tangan Aprilia.
Aprilia telah tuli. Dia tidak mendengar satu katapun. Lalu, dia segera memberi isyarat meminta pria itu melepaskan tangannya.
Gusti melepas tangan wanita cantik itu. Sedikitpun, dia tidak menyadari jika dirinya telah di pertemukan kembali dengan mantan isterinya yang terlihat seperti berlian. Bukan batu kerikil yang pernah dia lempar kembali ke luar, karena telah bosan.
__ADS_1
"Siapa namamu?" tanya Gusti.
Aprilia bisu. Hanya diam tanpa melemparkan satu katapun.
"Kau sangat cantik," puji Gusti.
"Kau cuek sekali," keluh Gusti. Dia pun mengangkat tubuhnya keluar dari kolam dan duduk di sisi Aprilia. Tanpa rasa canggung, sepasang matanya berani melirik dada Aprilia dan menatap kagum begitu lama akan setiap fitur indera yang terlihat bak boneka barbie hidup.
Aprilia hanya tersenyum setiap pria itu terlihat menggerakkan bibirnya. Dia telah tuli. Dia tidak mendengar satu katapun yang di lontarkan Gusti.
"Namaku Adi. Mengapa hanya tersenyum? Apakah kau enggan berkata satu katapun untuk seorang pria."
Tiab-tiba, semilir angin malam terasa menusuk daging kulitnya. Dia pun segera melompat berlari mengambil handuk di atas kursi. Lalu, dia menyamarkan handuk itu bergantung di atas pundak Aprilia.
"Takut dingin, cantik."
Kau memang sangat ramah pada setiap wanita cantik ataupun jelek. Tujuanmu hanyalah makan!
Aprilia tersenyum kaku. Ada getir aneh, bertemu kembali dengan pria yang pernah hinggap dan pergi kemudian.
"Kau cantik sekali," ucap Gusti terkagum-kagum.
Aprilia menghela napas. Dia tuli. Sepenuhnya, dia tidak mengerti apa yang di celotehkan pria itu di sisinya.
Tiba-tiba Aprilia teringat jika Gusti adalah pria yang pernah mengajarkan bahasa isyarat menggunakan tangan.
Aprilia segera menggunakan tangannya bermain isyarat tangan. Aprilia tahu betul tentang kehidupan mantan suaminya, yang terlibat aktivitas peduli tuna runggu. Oleh itu, sangat mudah membuat pria itu mengerti isyarat tangannya.
Gusti tercengang sesaat. Tidak pernah menyangka jika gadis di depannya adalah seorang tuna runggu. Cantik dan tuli.
Gusti tersenyum dan menggunakan tangannya pula.
Aku mengerti bahasa isyarat tangan. Aku seorang aktivis peduli cacat.
Aprilia tersenyum. Melebarkan bibir hingga telinganya. Seolah dia sangat berbahagia menemukan seseorang yang mampu mengerti bahasa isyarat.
Aku sangat senang bertemu denganmu, isyarat Aprilia kembali dengan tangannya.
Gusti merasa sangat simpatik. Seakan dia menemukan wanita polos dalam hidupnya kembali. Tiba-tiba dia menatap sang pemilik mata indah itu.
"Kau mengingatkanku pada mantan isteriku yang bodoh," gumam Gusti pada dirinya sendiri.
Gusti pun menggunakan tangannya kembali, melemparkan percakapan sebagai perkenalan dirinya.
Namaku Adi Nugraha. Panggil saja Adi.
Tanpa sadar Aprilia menyipitkan matanya. Dia telah banyak mengetahui, Gusti suka bertukar nama. Dia kerap kali menggunakan nama-nama yang berbeda pada setiap wanita. Gusti adalah sang Don Juan. Playboy tanpa cela malu, selalu mengaku sebagai pria single pada setiap wanita.
Jika dia menggunakan nama lain. Aku pun menggunakan nama lainku pula, gumam Aprilia dalam hatinya.
__ADS_1
Aprilia memamikan setiap jemari lentiknya merangkai isyarat untuk namanya sendiri.
Namaku Sherina Alia.
"Sherina Alia, nama yang cantik."
Gusti merangkai kembali setiap jemari bermain di udara.
Bolehkan aku memanggilmu Lia. Namamu, sangat mirip dengan almarhum istriku.
Aprilia tertohok sebentar.
Dia menyebutku almarhum. Pria gila, gerutu Aprilia dalam hatinya.
Aprilia berusaha tenang dan tersenyum setulus mungkin, dan merangkai setiap jemari tangan di udara.
Maafkan aku. Mengapa isterimu meninggal?
Gusti menundukkan wajahnya seakan dia telah memamerkan kesedihan yang sangat dalam.
Dia menderita kanker darah, jawab Gusti dengan bahasa tangannya.
Aprilia memalingkan wajahnya. Saat ini dia ingin meludah pada wajah mantan suaminya.
Aku belum mati. Aku telah berganti identitas. Sebagai sosok wanita yang tidak akan di kenali oleh kau sekaligus istri bodohmu itu! gerutu Aprlia dalam hatinya.
Aprilia mengangkat kakinya naik ke lantai. Melambai pamit pergi. Lalu, tangan pria itu menangkap pergelangan tangan Aprillia dan merangkai setiap isyarat di udara.
Bolehkah aku meminta nomor ponselmu.
Aprilia menganggukkan kepala.
Gusti segera berlari mengambil ponsel di atas meja terdekat pinggir kolam. Dia segera menyodorkan ponsel pada Aprilia. Aprilia meletakkan nomor ponsel miliknya pada kontak Gusti dengan nama, Sherina.
Setelah memberikan ponsel milik Gusti. Aprilia melambai pergi dan meninggalkan kolam renang. Dia kembali ke dalam kamar hotel yang telah dia pesan.
Aprilia menutup kelopak matanya kala dia merebahkan tubuhnya untuk beristirahat. Namun, sekejap sepasang matanya kembali terjaga. Dia di kejutkan dengan sosok yang keluar dari kamar mandi.
Pria itu berbalut handuk melilit pinggangnya. Sinar matanya terlihat murka. Entah apa yang membuat pria itu terlihat cemburu.
"Kau mengenal Adi."
Aprilia tuli. Dia hanya mengetahui Sadewa terlihat marah. Diapun tersenyum ramah, dan membuak pembicaraan baru.
"Oppa, bagaimana kau mengetahui ku di sini? Bukankah kau di ...." Aprilia menutup mulutnya sendiri. Seakan menyadari sesuatu, Sadewa tidak bisa gampang di bujuk apalagi topik di alihkan.
Aku kan tuli. Aku tidak tahu dia berbicara apa!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Jangan lupa mmpir ke cerita author lainnya. Terjerat suami orang.