
...Kambing hitam adalah cara terbaik menutup aib sendiri....
..._Eouny Jeje_...
...Kau selingkuh. Oleh itu, aku pun menodai diriku sendiri....
..._Santi_...
...꧁❤༆Pelet Janda Penggoda༆❤꧂...
Brakk! Puspa membalik meja.
Segala seajen di atas meja berantakan ke lantai.
Bintan segera bangkit berdiri. Dua langkah menjadi jarak yang terbentang di antara dirinya dan Puspa.
"Puspa, mengapa marah?"
"Bertanya!" Puspa menaikan satu alisnya, matanya sipit dan plak! Puspa memukul wajah Bintan.
"Kau bilang aku bisa hamil! Lalu, kau bilang boneka jelek jerami itu memiliki penunggu yang kuat! Kau mendustaiku!"
Bintan menahan napas.
"Kita baru melakukan sekali." Bagaimana bisa hamil? mungkin perlu 2-3 kali ritual lagi supaya hamil!"
Plak! Puspa menampar sekali lagi.
"Kau ingin mencabuli dirku lagi!"
Bintan menggelengkan kepalanya, "Tidak berani!"
"Kembalikan yang beserta bungannya!"
Bintan menyerah merogoh ponnsel dan mengirim saldo yang di dapatkannya ke rekening Puspa.
Beep!
Puspa tersenyum pada layar ponselnya, telah mendapatkankan pberitahuan SMS banking, jika sejumlah uang telah di transferan untuknya.
"Sekarang! Kau perlu membayar bunga!"
"Bunga?"
__ADS_1
"Kau pikir tubuhku harganya gratis. Ada harga atas itu! Bukan uang sebagai imbalannya. Namun, remuk tulang atas harga malam itu."
Braakk!
Pintu terbuka lebar. Beberapa pria berbadan besar dengan otot bisep yang besar masuk dengan wajah beringas, dan memindai Bintan.
"Hajar dia. Pastikan. Dia tidak mampu menggunakan kaki dan tangannya untuk sementara!"
"Baik Boss!"
Puspa melangkah keluar. Blam! Pintu apartemen terbanting menyatu dengan suara keras.
Puspa berjalan tanpa menoleh ke belakang lagi. Dia melirik jam tangannya. Menunjukkan angka tiga. Puspa menjulingkan matanya ke atas. Dia harus segera kembali ke rumah yang di sediakan Jack untuknya.
...****************...
Kediaman Santi.
Santi dengan langkah mengendap masuk ke dalam rumahnya,dan berhati-hati sekali untuk menimbulkan suara ketika merangkak naik ke atas ranjang, dan berbaring di sisi Sadewa.
Santi menarik selimut. Dia telah berganti pakaian tidur yang longgar, dia melirik mendapatkan punggung Sadewa yang menghadap dirinya. Menatap punggung pria itu cukup lama, membuat Santi menahan napas berat.
"Kau selingkuh. Oleh itu, aku pun menodai diriku sendiri."
Santi menggigit bibirnya sendiri. Menghela napas,dan berpaling menatap punggung suaminya kembali.
"Jangan mencari kesetiaan dariku lagi, mas. Karena, ternyata berselingkuh itu mengikis hatiku perlahan. Kau lah yang mengajariku, untuk tidak menghargai dirimu lagi."
Santi terlelap kemudian. Di saat Santi telah memejamkan mata. Sadewa membuka matanya perlahan, sedari tadi dia hanya berpura-pura tidur. Mendengar percakapan Santi, dia seakan mengiris jantungnya sendiri. Sakit perih mengetahui istri terlihat setia itu berani berselingkuh akhinya.
Sadewa menahan amarah. Dia membalikkan tubuhnya dan menatap wajah wanita berwajah bulat itu. Hidung Sadewa mengeryit seketika.
"Dasar kotor! Sudah kuduga jika anak dalam perutmu. Belum tentu milikku!" Sadewa terlihat penasaran dengan dugaan perselingkuhan Santi. Dia menyibakkan pakaian Santi, hingga dadanya. Bercak biru ungu nampak jelas di sana.
"Ini!" Sadewa bersiap marah. Namun, dia mengurungkan niatnya. Dia segera turun ke ranjang. Lalu,dia menerobos pergi ke halaman belakang, dan mengendap mencari jalan rahasia ke ruang bawah tanah. Dia yakin, Aprilia di sekap di sana.
Sudah cukup lama. Sadewa mengetahui keberadaan Aprlia di sana, melalui setiap mimpi yang datang membawa pesan dan rasa rindunya untuknya tiap malamnya.
Rasa rindu yang datang bagai badai yang menenggelamkan rasa sakit akan Aprilia. Pengkhianatan Santi membuat dirinya menjadi jijik,dan hanya menduga Aprilia lah wanita polos yang tidak mencuri keuntungan darinya.
"Aprilia, apakah Santi ada hubungannya dengan aborsi yang kau lakukan?"
Sadewa terlihat linglung. Tangannya hanya terkepal kuat di depan pintu beja. Dia terlihat menguras sakit hatinya. Mengisi setiap bejana dengan hujan rindu yang datang bagai ombak yang bergulung-gulung menuntun dirinya harus segera larut dalam laut rindu.
__ADS_1
Kreet! Sadewa membuka pintu. Gelap ruangan itu gelap dan pengap. Tanpa sangka, air matanya jatuh menetes begitu saja. Seakan ikut sakit akan kehadirannya yang datang terlambat. Walau, sepenuhnya saat ini dia belum yakin akan sosok Aprlia,apakah wanita itu berada di ruanga gelap ini?
Sadewa turun menelusuri tangga beton yang terlihat curam, dengan senter di tangannya dia melangkah dengan hati-hati. Lampu senter terlihat mengedar mencari sisa-sisa keberadaan Aprilia. Dengan cermat dia mengedarkan bola matanya mengamati sekelilingnya.
Sepasang mata Sadewa membola cerah kemudian. Ada piring di atas meja, dengan ampas tersisa. Mendekat.Sadewa mendekat ke meja. Mengendus—makanan itu tidak basi. Saat ini, Sadewa makin yakin dengan mimpi yang menuntunnya ke sini. Sadewa mempercepat langkahnya, menyelusuri lorong gelap,dan menemukan sebuah kamar yang pintunya tertutup rapat.
Deg! Sadewa berhenti di depan pintu. Ada rasa malu dan segan menemui wanita malang itu. Diapun terlihat menimang-nimang. Hingga rindu di dadanya mendorong air matanya jatuh lagi.
Kret! Sadewa membuka pintu. Terenyuh diam— beku— Sadewa mematung berdiri dengan lampu senter yang menyoroti sosok tubuh yang berbaring dengan posisi miring meringkuk tanpa selimut. Dingin— terlihat menggigil. Jelas hal ini terlihat dari posisi meringkuk Aprilia yang memeluk erat lututnya.
"Aprilia," lirih Sadewa iba, menjatuhkan senter.
Pletak! Suara senter jatuh mengejutkan wanita itu.
"Aprilia!"
Aprlia samar mendengar suara itu. Membuka matanya perlahan,dan dia terkejut akan sosok yang tiba berjongkok di hadapannya, dengan sorot senter menerangi wajah pria yang terlihat teduh menatapnya.
"Mas Dewa!" Aprilia segera terkesiap dan bangun. Sadewapun memeluk setiap tulang dengan daging tipis. Miris. Tubuh wanita itu terasa kecil dalam dekapannya. Sinar matanya pun ikut redup.
"Sangat kurus sekali," komentar Sadewa sedih dengan setiap tangan terlihat ringkih memeluk takut akan setiap tulang wanitanya patah.
Aprilia tersenyum tanpa ada artinya. Dia hanya cukup puas akan kehadiran Sadewa karena mantera pemikat pria itu, berhasil membuat pria itu datang mencarinya, memohon dan mengemis kemudian.
"Kau datang juga. Aku pikir aku— akan mati di sini, tanpa melihat wajahmu sekali lagi," keluh Aprilia mendayu-dayu dengan sorot meminta iba yang dalam.
"Maafkan aku. Hal ini tidak akan terjadi lagi."
Aprilia makin erat memeluk pria itu, dan pria itu menarik napas atas setiap bau tubuh Aprilia. Bau badan yang menyengat hidung.
"Sungguh kasihan! Mari pergi bersamaku!"
Aprlia mendorong diri keluar dari pelukan Sadewa, "Tidak! Nyonya Santi akan marah padaku. Jika aku keluar, dia akan membunuh Dimas dan keluargaku!" karang Aprilia sangat mengejutkan jantung sang pendengar, deg!
Sadewa mengerutkan keningnya, tidak menyangka apa yang telah dia dengar.
"Apakah kau berkata benar?"
Aprilia menganggukan kepala.
Bug! Sadewa meninju lantai.
...꧁❤༆Pelet Janda Penggoda༆❤꧂...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan komentar pada kolom dengan hastag di bawah yah 💃