
Aprilia memaksakan diri untuk tersenyum. Ada rasa pengerdilan diri untuknya. Dia memejamkan matanya, dan bisikan nuraninya kembali datang.
Aku harus nekat. Jika tidak nekat, aku hanya akan terus seperti ini. Miskin. Ingin mati. Di injak. Di hina. Kapan harus mengangkat kepala? Jika tidak pernah nekat. Nekat dan tantang siapapun itu. Agar kau tidak berada di bawah.
Aprilia membuka matanya. Dia mulai mengabaikan kebenciannya. Dia menyusun setiap piring kotor dan meletakkan di wastafelnya, dan dia mulai membersihkan setiap kotoran, dan memberi sabun pada setiap piring kotor. "Dosa itu seperti piring kotor. Hanya perlu sabun untuk membersihkannya. Di bilas. Bersih kembali. Kotor lagi. Cuci lagi. Kotor lagi. Berdosa. Tobat lagi. Berdosa. Tobat lagi."
Aprilia tersenyum miris. Dengan tangan berbusa sabun, dia memukul dadanya sendiri, "Jangan khawatir berdosa. Karena esok hari, pasti ada pintu maaf. Aku akan berdosa. Lalu, aku akan tobat setelah kaya raya."
Aku harus nekat. Nekat! serakah dan harus memiliki segala sesuatu di bawah kakiku. Pria tangguh yang menguasai banyak harta, adalah dunia dan tujuanku sekarang.
Aprilia menyelesaikan cucian piringnya, membersihkan meja kemudian. Setelah usai membereskan dapur, dia segera masuk ke dalam kamarnya.
Ting! Satu pesan datang di saat Aprilia baru duduk di tepi ranjang. Pesan dari seseorang yang di tulis dengan kontak nama, Aji Pelet.
Terima kasih sudah menghubungi kami. Kami meberikan harga penawaran menarik untuk anda. Pelet ampuh ini untukmu. Datanglah pada titik maps yang kami berikan.
Aprilia mengedipkan matanya. Ada rasa ragu dan tidak yakin untuk melakukan aksinya.
Aku harus nekat. Aku tidak boleh terus bermimpi. Aprilia terpengaruh oleh pikirannya sendiri. Dia pun membalas pesan itu segera.
Berapa harga yang harus aku bayarkan?
Tidak menunggu lama. Pesan pun datang.
20 Juta. Bersih dan beres. Garansi 100 persen uang kembali. Jika pria itu tidak melirik.Yakinlah Pujaan hati akan tergila-gila padamu.
Aprilia melongo akan balasan pesan tersebut. Dia melempar ponselnya sembarang. Dia memijat keningnya, "Apa dukun sekarang lahir seperti perampok?"
Ting! Pesan masuk lagi. Dari kontak yang sama. Aji Pelet. Aprilia meraih ponselnya dan membacanya lagi.
Pelet ampuh bukan kaleng-kaleng. Ada yang murah, tetapi nggak ampuh. Kami mahal tapi berkualitas.
Aprilia mengerutkan keningnya dalam. Lalu, dia menepuk jidatnya sendiri. "Habislah uang yang di berikan Jack. Jika aku di peras dukun seperti ini."
Aprilia mengurung niatnya untuk melakukan pelet tersebut. Alasannya mahal dan tidak yakin akan ampuh.
"Buang-buang uang saja," keluh Aprilia. Dia pun membaringkan tubuhnya terlentang tidur di atas tempat tidurnya. Sepasang matanya menatap langit-langit kamar.
__ADS_1
Deg! Jantung Aprilia berdetak melompat. Bayangan Jack menghias kembali di langit-langit kamarnya.
Mengapa aku tidak pernah bisa melupakannya sih? Aprilia berpaling segera. Memeluk guling, dan menarik napas. Setelah berguling-guling di ranjang tak karuan . Akhirnya, dia begitu lelah dia pun terlelap sangat cepat.
Pukul 24.00 Wib
Tok! Tok!Tok! Suara jendela di ketok keras. Mengejutkan Aprilia. Aprilia segera membuka matanya selebar mungkin. Dia duduk bangun dan segera berdiri. Menarik gorden. Dia dikejutkan dengan sosok burung kecil yang mengetok kaca jendela. Perlahan sosok burung kecil itu berubah menjadi sosok kepala seseorang yang dia kenal. Ade. Sosok kepala itu melayang di udara tepat di depan jendela kamarnya.
"Aaa ...." Aprilia bersiap berteriak nyaring. Namun, mendadak lidahnya kelu dan kaku. Mulutnya seakan terkunci untuk membisu.
Bukakan jendela untukku. Ade mengirim perintah.
Aprilia menganggukan kepala. Telapak tangannya bergetar membuka jendela. Lalu, kepala dengan seluruh organ tubuhnya itu perlahan masuk ke dalam kamar Aprilia. Wajahnya terlihat lemas dan sangat pucat.
"Ade?" Aprilia akhirnya bisa menyebutkan nama sosok kepala itu. Lidahnya pun berhenti kelu.
Antarkan aku pulang? Bersatu dengan tubuhku lagi.
Aprilia mengerutkan keningnya, "Pulang sendiri saja. Mengantarmu bukan urusanku. Kau datang dan pergi, bukan urusanku." Aprilia merebahkan dirinya kembali.
"Ade, bangun!"
Antar aku pulang.
"Kemana?"
Apartemen Aswin. Tubuhku berada di belakang pintu kamar mandi. Cepatlah, nanti ketahuan.
Aprilia berkutat sebentar.
"Aku akan menolongmu. Tetapi, hal ini tidak gratis."
Kau tak usah mengajari. Aku sudah tau hal itu. Aku haus berikan aku darah.
"Darah apa?"
Darah haid misalnya.
__ADS_1
Aprilia menggelengkan kepala, "Aku sedang hamil. Tidak akan haid lagi selama 9 bulan."
Nona rumah ini sedang haid. Aku ingin mengisap darah kotor miliknya.
Aprilia membola bingung, "Bagaimana cara aku mengambilnya? mengambil sisa pembalutnya?" Aprilia merasa bodoh seketika. Melihat sosok putih bercahaya sinar merah redup itu malah meminta makan padanya.
Ade menggelengkan kepala dan menjawab secara internal. Kau hanya membantuku ke kamarnya. Aku akan menghisap sendiri.
Aprilia mengehela napas panjang, "Ya, jika tidak di kunci kamarnya." Aprilia pun berdiri dan beranjak pergi, Kret! Membuka pintu secara perlahan dan mengendap keluar ke kamar Puspa. Kret! Aprilia menghela napas kala pintu kamar Puspa dapat di dorong. Pintu tidak terkuci.
Aprilia pun melambai memanggil Ade. Ade yang lemas hanya membawa kepalanya bergerak menyeret di lantai. Setiap langkahnya terlihat ringkih dan tertatih-tatih.
Jijik dan ingin mual. Namun, Aprilia berusaha menahan diri. Bagaimanapun dia sudah mengetahui kondisi Ade adalah kuyang. Suatu saat aku bisa manfaatkan keberadaaan Ade untuk keuntungan diriku.
Kepala Ade dengan organ yang terseret masuk melewati garis pintu. Menyeret lebih perlahan hingga ke tepian ranjang.
Bantu aku singkap roknya. Aku sudah tidak punya tenaga lagi. Aku perlu makan.
Aprilia berjongkok dan berbisik, "Apa tidak takut dia bangun?"
Aku butuh sedikit setidaknya sedikit saja. setetes pun, tak apa. Agar tidak selemas ini.
Aprilia menarik napas dalam. Menatap Puspa dengan bergindik. Puspa terlihat tidur sangat pulas. Aprilian pun menyingkap rok itu lebih tinggi. Terlihat belahan paha yang mulus dan indah.
Tidak lama. Ade mengeluarkan lidahnya panjang seperti milik ular. Lidah itu terlihat memanjang dan lebarnya hanya seperti ukuran tali tambang. Ujung lidah Ade bergerak masuk melalui setiap celah paha itu, dan diapun menyeruput perlahan setiap darah kotor yang jatuh keluar menetes perlahan. Aku haus sekali.
Ada sensasi geli. Puspa bergeliat. Ade segera menarik lidahnya. Aprilia segera mengendap keluar dan melambai pada Ade. "Ayo keluar!" ajak Aprilia tanpa suara.
"Cepat nanti ketahuan!"โAprilia segera lari ke kamarnya โ Bahaya jika Nana mengetahuinya. Dia lebih kejam daripada Ade si kuyang.
......................
Bersambung ...
Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai dengan episode ini. Besar harapannya author sih, readers terus mengikuti dan membaca, dan jangan lupa berikan hadiah ๐, Vote ๐ซ, Like ๐, dan Coment setelah membaca yah .
Besar dukungan kalian sangat di harapkan Lo
__ADS_1