Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 7


__ADS_3

Aprilia menggelengkan kepalanya. Berusaha menghapus ingatan akan pria yang terpaut belasan tahun itu. Namun, tetap saja wajah serius pria bermulut ketus itu, sulit di lupakannya. Dia sangat memikat dalam setiap detail penampilan dan fitur wajahnya yang terlihat tegas dan dingin.


Baru saja Aprilia mengenakan mini dress. Sepasang matanya tiba-tiba menyipit akan satu kotak yang terlihat bewarna-warni cerah di atas wastafel. Dia berjalan ke wastafel, dan mendapatkan kotak itu belum terbuka.


"Ah, jangan-jangan dia tidak menggunakan lagi." Aprilia meraih kotak tersebut dalam genggamannya, dan dia mulai mengingat segalanya yang telah dia lewati dengan Jack. Lalu, dia meraba perut ratanya.


"Bagaimana jika aku hamil?" Aprilia menggelengkan kepala keras. "Tidak mungkin hal itu terjadi hanya dalam satu kali. Semoga saja itu tidak akan terjadi." Aprilia membuang kotak bewarna warni itu ke tong sampah. Tetapi, sepasang mata bulatnya terlihat kosong sebentar, dan tak lama kemudian bagai bunga sakura yang bermekaran, pipinya memerah seketika.


Jika aku hamil, apakah Jack akan melihatku, dan Sudi menerimaku. Aprilia mulai berspekulasi yang indah dalam benaknya. Tiba-tiba saja dia membayangkan pernikahan akbar terjadi di antara mereka. Jake datang dengan membaca janji suci pernikahan, dan mencium keningnya.


"Ah, a-apa itu mungkin?" ragu Aprilia dengan hati yang mulai bergetar dan jantungnya berdegup kencang hanya karena menyebut nama pria itu dalam benaknya, dan menghapus nama Gusti, mantan suaminya.


"Cepat! Jangan berlama di kamar mandi!" tegur Puspa dengan suara nyaring dan terdengar menendang pintu kamar mandi dengan goyangan kecil ujung sepatunya, Tuk!tuk!tuk!


Aprilia menghela napasnya sebanyak mungkin, menenangkan ritma jantungnya bak musik disco yang menghanyutkan kepala setiap pemabuk. Setelah sekian banyak tersenyum membayangkan, dia dikejutkan dengan suara pintu, Brakkk! pintu terbuka lebar. Puspa terlihat berkacak pinggang.


"Kau jangan merasa di atas awan! Semua pria hanya akan memuji di atas tempat tidur, dan itupun hanya omong kosong!"


Aprilia menjadi kikuk sebentar, dan hanya mengangguk kecil, menepis kalimat tersebut segera, "Aku tidak akan berkhayal apapun. Karena aku cukup sadar. Ini hanyalah transaksi jual beli!"


Yah ini transaksi jual beli, yang sangat sulit aku lupakan. Sepertinya .... Aprilia menjadi lebih merah seketika. Ada rasa kesal namun juga bunga sakura ikut bermekaran di hatinya.


Lalu, Aprilia melenggang pergi pulang bersama Puspa.


...****************...

__ADS_1


Setelah mengantar Puspa pulang ke rumahnya. Aprilia berganti pakaian dan kembali ke rumah sakit. Dia hanya membantu Puspa untuk tertidur lebih cepat. Wanita itu terlihat sangat lemah sekali, dan wajahnya terlihat putih.


Aprilia memang mencurigai sesuatu telah terjadi antara Puspa dan Dandy, yakni penganiayaan berat. Namun, Puspa menolak bicara. Dia hanya menjawab mereka telah melewati malam yang sangat manis dan menggairahkan.


Deg! Aprilia meremas jantungnya, kala tanpa sengaja dia mengintip Puspa berganti pakaian. Punggungnya terlihat banyak memar. Apakah itu namanya berhubungan manis dengan menyiksa lebih du.


Baru saja dia mencapai rumah sakit. Ponselnya berdering. Satu pesan masuk. Nama Gusti Anugerah tertera di layar.


Apri, apa anak kita sakit?


Aprilia melemparkan kembali masuk ponselnya ke dalam tas usangnya. Dia terlihat kehilangan antusiasnya pada mantan suaminya, yang sangat dia cintai. Bahkan dia hampir pernah bunuh diri berkali-kali setiap perselingkuhan suaminya terungkap ke udara ataupun suaminya tidak pulang ke rumah.


Bahkan setelah perceraian, Aprilia masih berharap Gusti rujuk dan memilih kembali padanya. Tetapi, setelah pertemuannya dengan Jack Alderman, pria yang telah terlibat cinta satu malam dengannya. Berhasil membuatnya lupa akan Gusti secara seutuhnya.


"Apa pak Jack memikirkan aku pula yah?" tanya Aprilia pada dirinya sendiri, dan menggeleng keras kemudian.


Sangat buruk! Penilaian pria itu terngiang kembali di telinga Aprilia. Aprilia menunduk malu pada dirinya sendiri. Diapun melepaskan genggaman tangannya dari Dimas, puteranya. Tina-tiba saja hatinya tertarik masuk kamar mandi, dan dia pun mulai berkaca di cermin yang berada di atas wastafel.


Aprilia menatap dirinya yang terpantul dalam cermin. Dia meraba setiap detail.lima indera wajahnya. Alisnya terlihat tipis. Sepasang matanya bulat besar dengan garis keriput menghias bawah matanya. Bibirnya tipis terlihat kering dengan garis senyum sekitar pipinya yang terlihat melengkung ke arah bibirnya. Memiliki rahang pipi yang besar, sehingga wajahnya terlihat kotak. Lalu, dia mengerti rambutnya terlihat gelombang ikal dengan setiap ujung rambutnya terlihat bercabang dua menunjukkan betapa kering kerontang rambut miliknya.


"Aku memang sangat jelek," keluh Aprilia yang terlihat menghela napas kemudian. Dia memutar keran air, dan mulai membasuh wajahnya. Setelah dia merasa lebih baik, dan pikiran kotor hilang dari isi kepalanya. Aprilia segera beranjak kembali duduk di sisi puteranya yang terbaring tidur terlihat sangat pulas.


Aprilia duduk di kursi yang bersisian dengan ranjang , dan membaringkan kepalanya di atas kasur, dia mulai memejamkan matanya. Dia mulai terlelap. Namun, dia malah bermimpi. Dia melihat dengan indahnya dirinya berekbaya putih, dengan ronce melati segar menghias kepalanya. Dia terlihat menunggu di meja riasnya, dan tidak lama pintu kamar terbuka, kret!


Jack terlihat bak pria muda, terlihat tampan dan gagah dalam satu penampilan jas pengantinnya. Dia terlihat berjalan bersemangat setelah bunyi klek, pintu pun terkunci.

__ADS_1


"Ini adalah malam pertama kita."


Aprilia mengangguk malu, dan tidak lama dia merasa tubuhnya terangkat ke udara. Dalam gendongan tangan Jack, tubuh Aprilia di angkat menuju ranjangg. Lalu, di rebahkan secara perlahan di atas tempat tidur yang beralaskan kain sprei selembut sutera bewarna putih cerai dengan banyak taburan mawar yang membentuk love di atas kasur tersebut.


Kala tubuh Aprilia telah di rebahkan. Jack terlihat berdiri menjatuhkan jasnya ke lantai. Lalu, melepaskan satu persatu kancing kemejanya. Setelah itu melonggarkan ikat pinggangnya dan mulai merangkak naik ke tubuh Aprilia.


"Jangan malu-malu dan takut," ujar Jack seraya merekuh tubuh Aprilia, memeluknya, dan dengan kepalanya yang miring menyentuh leher angsa wanita yang telah menjadi isterinya. Kecupan demi kecupan datang dan tercurah bak hujan manis setelah hanya kepolosan Aprilia yang terlihat di bawah tubuh Jack. Hal itu terus berlangsung sepanjang malam, dan terasa sangat bergairah dengan banyak suara lenguhan yang dikeluarkan Aprilia.


"Apakah aku sangat bagus, mas?" tanya Aprilia.


"Rasamu sangat buruk!"


Sepasang alis Aprilia terlihat mengerut tidak senang, sepasang telinganya terlihat merah dan panas mendengar pengakuan suaminya.


"Sangat buruk!" ulang Jack, dan Aprilia membuka mulutnya dan berkata ketus, "Aku tidak buruukkkkkk!" dan saat itulah sepasang mata Aprilia membuka kelopak matanya, dan yang dia dapatkan tangan Dimas terlihat menggoyangkan tubuhnya.


Argghh, aku hanya bermimpi, keluh Aprilia dalam hatinya.


"Ibu bermimpi buruk!"


Aprilia malu akan pertanyaan puteranya, dan hanya mengangguk pelan, "Tetapi, tidak apa ... itu hanya bunga tidur."


......................


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2