Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 52


__ADS_3

...Cinta itu memberi gratis, bukan membeli ataupun menjual Karena dalam cinta, tidak mengenal harga yang harus kau bayar/terima....


...—Eouny Jeje—...


...Bumi tidak akan pernah mencium langit. Kecuali langit itu runtuh, menjatuhkan standartnya untuk mencium bumi....


...—Aprilia—...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Matahari terlihat merangkak naik berwarna merah kekuningan di timur. Awan terlihat masih bersembunyi enggan menghias langit yang terlihat biru muda dengan sedikit gelap di setiap sisinya. Udara sekitar terasa sangat sejuk, burung-burung Pipit terlihat bernyanyi saling bersahutan, dan sekali-kali mengetok jendela kamar Aprilia.


Aprilia bangun segera. Dia segera masuk kamar mandi, dan mandi sepagi mungkin. Air yang mengalir dari keran, terasa sangat dingin menyentuh kulit, dan mampu membekukan tulangnya. Dia terlihat tidak peduli. Dia ingin menjadi sosok isteri yang baik untuk Sadewa. Dia ingin mencoba memulai mengambil hati pria yang telah menjadi ayah untuk anaknya. Anak dalam perutnya.


Usai mandi. Aprilia berdandan sebentar. Dia menghias wajah semeriah mungkin seperti warna daster yang dia kenakan. Merah. Dia terpaku sebentar di kaca. Tiba-iba saja dia merasa sedikit menyesal telah menolak tawaran Nenek Mayang.


"Mengapa aku tidak mencobanya?" Aprilia menggelengkan kepala,"Ah, Tidak. Kuasa Tuhan itu besar."


Namun, satu kalimat panjang Nenek Mayang terlintas kembali.


Aku bersedia membantumu. Marilah berteman denganku. Aturan pertemanan kita hanya satu, kau tidak boleh membuatku cemburu.


Aprilia menghela napas di depan cermin. Perlahan dia memulai menyisir rambutnya, dan teringat akan permintaan Nenek Mayang lagi.


Kau tidak boleh bersembahyang ataupun berharap Tuhan-mu lagi. Karena aku adalah teman yang pecemburu. Bagiku, kepercayaan adalah hal yang sakral. Kau tidak boleh menyembah dua Tuan.


Aprilia mengangkat dagunya sebentar dan menatap cermin lagi, "Aku percaya Tuhan. Oleh itu, jadilah orang yang terus baik. Tuhan tidak akan membiarkan hal buruk itu terus datang berturut-turut lagi. Aku hanya sedang di uji."


Pletak! Aprilia meletakkan sisir rambut pada meja riasnya. Dia mulai bangkit dari kursinya, dan perlahan keluar dari kamarnya. Hal pertama yang akan dia lakukan adalah menjadi wanita baik di hadapan Sadewa.

__ADS_1


Walau aku berharap Jack menjadi pria dalam rumah tangga. Tetapi, bumi tidak akan pernah mencium langit. Kecuali langit itu runtuh, menjatuhkan standartnya untuk mencium bumi.


Aprilia menepis angan-angannya terhadap pria yang telah mencuri hatinya. Kini, dia hanya berharap mendapatkan jodoh sebagai isteri dari Sadewa.


"Walau dia suami orang. Sudah terlanjur banyak mengorbankan diri, hanya satu langkah saja lagi. Menjadi ibu untuk anaknya,dan harus menjadi isteri sahnya."


Aprilia mulai bernisiatif untuk mengambil dan membujuk pria paruh baya itu. Walau, sangat tipis kemungkinan mampu mengejar pria hidung belang itu. Apalagi pria itu terlihat menyukai kehidupan berganti-ganti wanita. Teringat akan sosok wanita langsing malam itu. Membuat Aprilia makin menciutkan nyali dan harapannya.


"Tidak apa! Biasanya kupu-kupu hanya datang pada malam hari. Sepagi ini, mereka sudah hilang." Aprilia mulai menyemangati dirinya.


Aprilia menuju dapur. Mempersiapkan dua piring sarapan pagi dan dua cangkir teh panas. Dia pun mulai menyusun sarapan pagi dan teko beserta cangkir teh panas itu saling berseberangan di satu meja yang sama.


"Untuk suamiku. Untuk diriku sendiri." Aprilia tersenyum kecil. Baru saja dia akan berinisiatif mengetuk pintu kamar Sadewa.


Kret! Pintu kamar terbuka lebar. Terlihat pria itu keluar dari kamar. Baru saja Aprilia akan tersenyum. Senyum itu hilang, kala terdengar langkah kecil mengikuti pria itu.


Kupu-kupu malam itu masih belum pergi. Aprilia menahan cemburu dan marah di dalam dadanya. Dia hanya menyimpan tinju di balik punggungnya dan mulai mengumpat lagi, Mengapa Tuhan itu tidak pernah adil padaku?


"Terimakasih bibi, sarapannya terlihat sangat enak."


Aprilia menelan ludah. Membuang wajahnya, menunjukkan ketidaksenangannya. Bibi? sejak kapan aku terlihat menjadi pembantu di matamu. Aku ini sedang mengandung anak pria hidung belang ini.


"Silahkan makan, mas." Aprilia menunjukkan keramahannya pada Sadewa dan menarik kursi, mempersilahkan pria itu duduk.


"Mas?" gadis kecil yang terlihat polos itu mengerut tajam matanya pada Sadewa.


Sadewa yang melihat perubahan mimik Aprilia dan Gea. Diapun memilih tersenyum sinis pada Aprilia dan berkomentar, "Mengapa kau berkata kasar pada tamuku. Bukankah kau hanya babu di rumah ini?"


Gea terbahak keras, dan menambahkan cemoohan, "Hanya babu di rumah ini."

__ADS_1


Deg! Aprilia menatap pada setiap makanan di atas meja. Ada rasa malu yang telah menampar wajahnya, tanpa sengaja dia mundur dari kursi yang akan dia tarik. Awalnya dia akan duduk bersama di atas meja. Namun, penyebutan babu itu membuat harga dirinya jatuh segera.


Ghea terlihat menarik piring sarapan, tepat di depan wajahnya. Senyum.wanita muda itu terlihat mekar pada Sadewa,di balas dengan bibir hitam pria paruh baya itu mencium singkat pipi halus wanita muda itu.


Ironis sekali. Aprilia mundur perlahan kembali ke kamarnya. Raganya bergetar, dan Blam! Dia segera membanting pintu,dan Klek! mengunci rapat pintu.


"Aprilia. Aku hanya butuh anakmu. Bukan dirimu!" suara itu menggelegar mengejutkan Aprilia yang tengah meringkuk meraba perutnya.


Raga Aprilia masih bergetar, dan sepasang matanya merah kembali, "Sampai kapan aku terus baik. Jika kehidupan baik itu tidak pernah berpihak padaku. Mereka datang tidak pernah menghargaiku."


Aprlia memukul dadanya. Cukup tenang setelah menghabiskan tangis yang panjang. Kemudian, Aprilia merangkak menuju koper di sudut kamar. Dia membuka koper. Mengambil boneka jerami. Lalu, dia memeluk boneka itu,dan mengelus rambut ijuknya.


"Nenek Mayang datanglah padaku."


Tidak lama sosok itu hadir. Namun, enggan menunjukkan diri.


Lebih baik kau menderita lebih banyak lagi. Agar kau tau, bahwa Tuhan telah meninggalkanmu. Oleh itu, kau pun harus meninggalkan Tuhanmu, Aprilia. Nenek Mayang hilang dalam sekejap kemudian.


Aprilia memeluk boneka jerami. Mendekapnya dalam dada yang berdegup kecewa, marah. Lalu, diapun menciumnya dengan airmata. Namun, sosok itu tidak pernah datang.


"Apa Nenek marah padaku?" tanya Aprilia berharap sosok wanita renta, bungkuk dan keriput itu bersedia menjumpainya sekali lagi. "Nek. Nek. Nek. Datanglah padaku."


Aprilia terkekeh dalam tangisnya, "Bahkan setanpun terlihat tidak sudi membatu lagi."


Tidak putus asa. Aprilia ingin menggunakan cara yang lain. Dia ingin membuat Sadewa tergila-gila jatuh memohon di bawah telapak kakinya.Aprilia teringat akan botol minyak yang telah di berikan Ade. Dia segera mencari botol minyak dalam koper itu. Menggeledah setiap saku, bahkan melemparkan seluruh isi koper sembarang tempat, hanya untuk menemukan botol minyak tersebut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai dengan episode ini. Besar harapannya author sih, readers terus mengikuti dan membaca, dan jangan lupa berikan hadiah 🎁, Vote 🎫, Like 👍, dan Coment setelah membaca yah .

__ADS_1


Besar dukungan kalian sangat di harapkan Lo


__ADS_2