Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 58


__ADS_3

...Bagai luka yang telah terjahit rapi. Ada bekasnya. Namun, tidak menyakitkan lagi. Itulah Masalalu yang terkikis waktu....


...—Eouny Jeje—...


...Uang dapat membutakan hati. Demikian Cinta mampu menguras segala yang kau miliki....


...—Aprilia—...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dua Bulan Kemudian ....


Aprilia melepas diri dari pelukan Sadewa. Pria itu dalam satu bulan berlalu, terus hadir untuk bermalam. Bahkan, pria itu tidak pernah membiarkan malam Aprilia mampu tidur dengan nyenyak seperti dulu. Sentuhan pria itu selalu mengajaknya bangun pada tengah malam hari, yang terus membuatnya terjaga menjelang matahari yang akan terbit.


Aprilia bergerak di atas kasur, akan segera turun. Namun, tiba-tiba saja kembali dia jatuh ke ranjang, duduk di sisi pria yang telah terjaga itu. Ternyata sepasang mata hitam pria itu terlihat sudah lama mengawasinya.


"Mas, aku akan menyiapkan sarapan pagi?"


"Tidak perlu. Kau cukup lelah. Mulai hari ini, biarkan diriku yang menyiapkan segala sesuatu di dapur untukmu."


"Tetapi ...."


"Kau nanti begitu kelelahan. Bagaimana dengan bayi kita? Aku tidak ingin kau terlalu lelah, dan membuat bayi kita—"


"Kau hanya memikirkan bayimu!" Aprilia berpura merajuk.


Sadewa bangun. Merangkul dengan melingkarkan tangannya pada perut Aprilia, dan dagu kotak miliknya bertumpu pada bahu wanita itu.


"Aku memikirkan bayimu dan dirimu. Oleh itu,aku tidak ingin kau terlalu lelah."


Aprilia tersenyum sinis pada dinding.


Saatnya aku menguji hati pria ini.


"Jika kau memikirkan kami. Kau seharusnya menikahiku! Bukan menggantungku seperti wanita—"


Telunjuk Sadewa tiba-tiba menempel dengan cepat, tidak mengijinkan Aprilia menyelesaikan kalimatnya.


"Menikah itu hanya hubungan di atas kertas. Tidak ada yang istemewa daripada tiap malam yang telah aku lalui bersamamu, Aprilia, " bisik Sadewa dengan napas mulai berat, seakan dia menenangkan napsu miliknya yang terus datang memuncak dan tidak tertahankan. Ada rasa ingin yang sangat berlebihan, hingga selalu menuntun langkahnya terus datang masuk kamar Aprilia.


"Tidak, mas! Aku ingin status untuk anakku. Aku tidak ingin melahirkan seorang anak dengan akte kelahiran yang hanya di tulis nama ibunya!"


Aprilia berontak berdiri dengan raga yang terlihat kaku mematung seperti kayu. Setiap Sadewa terlihat membujuk, maka ragu kayu itu menepis setiap tindakan itu.


"Istri kedua? Harus meminta persetujuan Santi."


"Urusanmu untuk meminta ijin."

__ADS_1


Sadewa menghela napas. Santi adalah wanita cukup keras kepala, yang menolak untuk poligami.


Lebih baik bercerai, jika kau ingin memiliki dua istri dalam satu rumah. Soal anak? kau bisa mengambil anak itu, tanpa harus membawa ibunya masuk ke dalam rumah ini.


"Aku tidak bisa membujuknya. Dia hanya ingin bayi dalam perutmu."


Aprilia berbalik, menghadapkan dirinya menatap pria itu, telunjuknya dia letakkan pada bibir pria itu, "Aku akan pergi dari rumah ini, mas. Jika kau tidak segera melegalkan aku."


Sadewa menangkap telunjuk Aprilia dan menurunkannya cepat, "Apakah kah tidak cukup hanya dengan memiliki hatiku ini? bukankah aku tidak pernah meniduri wanita lain lagi selain dirimu!"


"Mas!" Aprilia setengah berteriak, "Cinta itu di buktikan. Bukan hanya di bicarakan!"


"Bukankah ada buktinya! Aku hanya menidurimu!"


"Itu napsumu! Aku meminta bukti kau akan mengangkat derajatku dengan anakku!"


"Aku tidak bisa berjanji."


"Seterah keputusanmu!" Aprilia bersikap merajuk seharian penuh. Sarapan, makan siang, dan makan malam di lewati dengan bibir yang terus terkatup. Sadewa bahkan ingin mengangkat topik. Namun,Aprilia hanya memasang wajah dingin dan terlihat malas menggubris.


Selesai makan malam, Aprilia menuju kamarnya di ikuti Sadewa yang terlihat mulai tergila-gila hanya melihat Aprilia merebahkan dirinya di atas kasur.


Duh, godaan ini. Sadewa terlihat mengambil langkah segera. Berbaring di sisi Aprilia, dengan tangan pria itu yang terlihat ingin mencuri-curi kesempatan menyentuh kulit Aprilia dari balik kaos dasternya.


"Jangan menyentuhku!" cegat Aprilia pada tangan yang bersiap bergerak menyusup.


"Singkirkan Santi, jika dia tidak ingin aku masuk dalam rumahmu."


Sadewa terlihat kesal.


Menyingkirkan Santi, artinya sama saja melepas tambang emas.


"Bagaimana mas?"


Sadewa terlihat ambigu sesaat. Dia ingin menolak permintaan tersebut. Namun, hasratnya terus memberontak dan ingin berjelajah segera.


Berjanji saja. Untuk memenuhi janji bisa kapan-kapan saja. Aku akan memikirkan caranya.


"Baiklah aku akan berbicara dengannya. Jika dia tidak ingin, aku akan menyingkirkannya."


Aprilia tersenyum manis. Lalu, membiarkan pria itu melepaskan hasratnya pada malam ini, dengan menyentuhnya kembali.


Selesai satu malam yang terasa panjang. Dengan bulan yang masih membulat sempurna di langit yang terlihat hitam pekat. Sadewa terbaring nyenyak. Sementara, Aprilia segera membuka matanya, dan segera terjaga.


Aprilia menatap sebentar sosok pria paruh baya yang terlihat mendengkur halus. Aprilia tersenyum licik, dan merasa bahwa khasiat pelet itu telah membuat Sadewa jatuh hati padanya.


Uang dapat membutakan hati. Demikian Cinta mampu menguras segala yang kau miliki, pikir Aprilia.

__ADS_1


Aprilia berjalan mengendap keluar kamarnya dengan membawa boneka jerami ke ruang tamu. Dia mendudukkan boneka tersebut pada sofa. Lalu, dia pun duduk berjongkok di dekat kaki sofa yang merupakan tempat duduk boneka jerami.


"Nek."


Boneka jerami terlihat bergoyang sebentar dan tidak lama sosok ruh itu keluar dengan wajah yang terlihat ramah dengan senyum mekar.


"Ada apa?"


"Nek, bukankah permintaan ku setiap bulan purnama. Apakah aku bisa meminta satu benda satu manfaat lagi?"


"Tentu. Satu tumbal berlaku untuk sembilan bulan purnama. Jadi mamfaatkan kesempatan ini."


Aprilia menunduk malu dan memuji, "Pelet Nenek Mayang memang sangat hebat. Mas Sadewa dalam satu bulan ini, bahkan tidak pernah melepaskan sejenak untuk beristirahat."


"Apakah kau mulai menikmati khasiat pelet ku?"


Aprilia menganggukan kepala, "Pelet Nenek sangat ampuh. Bahkan aku tidak perlu menggodanya. Mas Sadewa terus seperti anjing melihat tulang. Ingin selalu makan."


Nenek Mayang terkekeh. Sementara itu,wajah Aprilia terlihat merona merah seperti tomat. Namun, sinar matanya terlihat sedih.


"Hanya saja aku tidak menikmati malam itu. Karena, aku menyukai oranglain, nek."


"Hmm. Aku tahu dia."


Aprilia tersipu malu, "Iya, nek! Aku suka Jack. Aku ingin menggodanya."


"Menggoda Jack. Tidak semudah menggoda Sadewa."


Aprilia mengerutkan keningnya, dan menyadari kekurangan itu pada wajahnya, "Oleh itu aku ingin mengajukan permintaan. Aku ingin susuk pada wajahku."


Nenek Mayang tersenyum,dan mengeluarkan satu jarum dalam telapak tangannya, "Satu jarum hanya untuk satu manfaat. Area mana yang ingin terlihat indah. Bibir? Mata? hidung? sebutkan saja."


"Tidak bisakah aku memiliki segala fitur dalam satu susuk."


"Hanya satu manfaat. Kau bisa meminta manfaat lain ini pada bulan purnama selanjutnya."


Aprilia terlihat berpikir keras, dan memutuskan bertanya manfaatnya lebih dulu.


"Apa khasiat masing-masingnya nek?"


"Khasiat umumnya adalah menundukkan. Bibir agar setiap kata yang kau ucapkan terdengar sangat manis. Mata, agar setiap pandangan matamu terlihat membawa perasaan pria itu seperti melihat permukaan laut yang tenang, terkesima dan terjebak di sana akan membuatnya tunduk dalam aura kecantikanmu."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai dengan episode ini. Besar harapannya author sih, readers terus mengikuti dan membaca, dan jangan lupa berikan hadiah 🎁, Vote 🎫, Like 👍, dan Coment setelah membaca yah .


Besar dukungan kalian sangat di harapkan Lo

__ADS_1


__ADS_2