
"Ini rumah siapa?"
"Nona Nana. Dia lagi ke Australia."
"Lalu kau?"
"Aku hanya pembantu di sini." Aprilia melepas alas kakinya. Ceklek! Aprilia memutar kunci, di saat itu terdengar samar-samar suara isak anak lelaki.
"Duh, Dimas." Aprilia segera berhambur ke kamar belakang. Sementara itu, Ade terlihat menganggumi isi rumah. Dia berdecak kagum sekaligus iri. Lalu, dia mengikuti kepergian Aprilia ke kamar belakang.
"Oh, kau sudah memiliki anak?" Ade terlihat menyimpulkan. Aprilia menganggukan kepala dan merekuh Dimas berdiri bersamanya pergi ke dapur.
"Maaf, ibu lama interview. Ibu akan buatkan telor goreng yah."
Dimas menganggukan kepala, dengan sedikit isak menjawab, "I-iyaaa, ibuuu."
Ade melipatkan tangan di dadanya. Dia menyandarkan tubuhnya miring ke kusen pintu. Tatapan bak nyonya rumah yang sedang malas melihat drama ibu dan anak.
"Kamarku dimana?" tanya Ade terdengar merasa memiliki status tinggi di atas Aprilia.
"Kau bisa tidur bersama kami," sahut Aprilia seraya meletakan telor yang telah tergoreng ke dalam piring nasi Dimas.
Ade menjulingkan matanya. Dia menoleh ke dalam kamar. Hanya ada satu dipan kecil. Bagaimana bisa muat?
Ade pun berjalan menghampiri Aprilia ya g terlihat memberikan suapan nasi pada puteranya. Ade memukul bahu Aprilia pelan,dan saat itu kepala Aprilia mendongak dan mendapatkan tatapan Ade yang membola seakan menghipnotis dirinya dengan setiap perkataannya, "Mbak, tunjukan kamar Nana. Aku ingin mengunakan kamar Tuan rumah."
"Iya, baik." Aprilia langsung berdiri dan berjalan menuju kamar Puspa, dan Ade pun berjalan mengikutinya.
Cekrek! Ganggang pintu di gerangkan turun ke bawah, dan di dorong perlahan ke belakang. Ade langsung menggeser tubuh Aprilia yang berdiri di depan garis pintu. Seketika, dia berdecak kagum akan setiap perabotan dan interior indah sang pemilik kamar.
Kamar Tuan rumah memang sangat berkelas. Seperti tinggal dalam kamar President Suits, komentar Ade yang melangkah masuk. Blam! Ade menutup pintu kamar.
Aprilia terhenyak. Terbangun linglung sebentar, "Lah, kenapa aku malah memberikan kamar Nana yah? Bagaimana jika dia marah? Matilah aku!"
__ADS_1
Aprilia menggelengkan kepalanya, seakan ada sesuatu yang menguasai hatinya kembali, menghipnotisnya berpikir yang lain, "Ah, Nana tidak akan tahu. Dia kan sedang di Australia."
Selanjutnya, Aprilia tidak memikirkan hal tersebut lagi. Dia kembali ke dapur, dan melanjutkan memberi makan Dimas. Setelah mengantarkan Dimas mencuci tanga, wajah,dan sikat gigi. Aprilia pun mengajak Dimas untuk segera tidur. Karena kekenyangan, Dimas dengan cepat terlelap.
Pukul 10 Malam
Aprilia masih terjaga. Dia masih menatap langit-langit kamarnya. Hasratnya tiba naik memuncak, ketika dia mengingat dan menerka apa yang telah terjadi pada Ade dan Aswin di balik pintu ruangan yang terkunci rapat.
Tiab-tiba saja pikiran Aprilia menebak kotor jika sofa ataupun meja kantor, sebagai alas ranjang pasangan tersebut. "Menjijikan. Baru bertemu sudah melakukan hal seperti itu!"
Deg! Jantung Aprilia melompat histeris. Dia segera memukul mulutnya, dan memaki dirinya sendiri, "Kau juga seperti itu Aprilia Permata Indah. Kau juga meloloskan milikmu pada pria asing. Baru bertemu sekali, dan kalian ...." Aprilia mengehentikan kalimatnya. Menggantungnya dengan sengaja pada tenggorokannya. Kini, pipi Aprilia Semerah tomat rebus.
"Jack, apakah kau sudah lupa soal malam itu? Aku menginginkanmu, Jack." Aprilia menggigit sudut bibirnya, memejamkan matanya sebentar, hanya untuk bergerak dalam pikirannya. Menemui sosok Jack dan mencium pria tampan dan berwibawa itu.
Driiiiiiing! Cumbuan dalam alam pikiran Aprilia buyar seketika karena suara dering ponsel yang panjang dan nyaring.
Aprilia mengelap bibirnya, seakan menghapus jejak cumbuan pikirannya. Dia segera bangun dari ranjangnya, berjalan ke belakang pintu, merogoh ponsel dari dalam tas. Di saat itu panggilan telah berakhir. Aprilia menatap layar ponselnya, tiba-tiba dia tersenyum merekah, Sepasang matanya tertuju pada wallpaper photo sosok yang menghias layar ponselnya penuh. Foto Jack.
"Duh, Jack. Tiba-tiba aku sangat merindukanmu. Apa yang sedang kau lakukan saat ini? Apakah bermain wanita lagi."
Aprilia mengigit bibirnya. Ada rasa sedih bak selimut hatinya. "Tetapi, kau hanya menganggapku sebagai wanita sewaan. Melupakanku begitu saja. Namun, sejak malam itu, sosokmu malah menjadikanku gila dan makin gila memikirkan betapa aku merindukanmu. Aku rela ingin melakukan apa saja, Jack."
Aprilia menatap sosok dalam ponselnya dengan tatapan sejuta rindu, yang mengirimkan banyak hasrat dan perasaan cinta akan sosok pria tegap dan mapan tersebut.
Dringgg! Layar ponsel Aprilia berkedip lagi, dan nama Puspa tertera berkedip-kedip. Pikiran Aprilia biyat. Aprilia segera mengangkat panggilan, "Halo, Nona."
"Aku sudah berada di Sidney. Kau berlaku baik kan?"
"Iya, tentu saja," sahut Aprilia telah melupakan Ade menginap dan tinggal di dalam kamar Puspa saat ini.
"Besok pagi! Aku akan pulang!"
Aprilia terkejut, "Bukankah dua bulan?"
__ADS_1
"Istri Dandy meninggal dunia."
"Bagaimana itu bisa terjadi?" tanya Aprilia mendadak jantungnya seakan di remas sesuatu, dan dia bergindik seakan ada sesuatu yang hadir di belakang tubuhnya.
"Dia kecelakaan. Tubuhnya terbakar tanpa sisa!"
"Hah? Kasihan sekali."
"Itu upahnya. Karena, telah berani merebut Dandy dariku!"
Aprilia menahan napas. Bukankan dirimu yang merampas suami orang lain. Mengapa malah orang baik, yang kena karma, sahut Aprilia hanya berani menyimpan di dalam hatinya.
"Oleh itu, kau jangan nakal yah babu jelek. Jangan menyuruh satu orangpun masuk ke dalam rumahku. Baik pria ataupun wanita."
Setelah itu panggilan dari Puspa terputus begitu saja.
Deg! Saat itu juga, Aprilia teringat akan kehadiran Ade yang tinggal di kamar Puspa. Aprilia segera lari ke kamar Puspa. Cekrek! Aprilia menurunkan ganggang pintu. Untuk saja tidak terkunci. Dia pun segera masuk ke dalam kamar Puspa.
Ade terlihat tidak sedang berbaring di ranjang. Kamar begitu senyap dan sepi. Rasa mencekam terasa menyergap Aprilia. "Aneh, kok hawanya seperti ini."
"Mbak, kamu dimana?" Aprilia mulai meutar lehernya acak mencari sosok Ade.
"Masa tertidur di kamar mandi sih?" Aprilia berjalan ke pintu kamar mandi. Cekrek! Membuka pintu kamar mandi. Kosong. Sepi.
Aprilia bergindik sebentar. Merasa bingung sekaligus sangat aneh. Aprilia memutar tubuhnya akan kembali ke kamarnya. Namun, dia di kejutkan dengan sosok tubuh di belakang pintu yang bersandar di ujung dinding. Tanpa kepala.
"A-apa ini han-tu tan-pa kepala? Kuyang itu ada?" tanya Aprilia gugup dan takut, jantungnya seakan telah tercongkel, berhenti bernapas akan sosok yang tidak lazim di depan matanya. Perlahan, seakan rasa sesak yang menguasai dadanya, dia pun limbung jatuh ke belakang. Pingsan.
......................
Bersambung ....
Hai-hai-hai. Just Info, jika Cerita hantu Lala bersahabat baik dengan Zayn. Maka tokoh utama cerita ini, Aprilia bersahabat dengan kuyang. Tentukan tantangan selanjutnya di episode berikutnya?
__ADS_1
Sekedar informasi lagi.
Jika kalian sangat tertarik dengan cerita Kuyang, kalian bisa mampir ke karya Author Eouny Jeje, berjudul Terpaksa Menjadi Kuyang. Main cast pasti akan berbeda dengan cerita horor lainnya. Ini sangat romance horor dengan rumitnya konflik asmara mereka. Sang Kuyang jatuh cinta pada manusia, dan agar cerita ini lebih menarik, Author sengaja tambahkan budaya Tionghoa dan juga setting tempat akan berada di luar negeri. Bayangin betapa sosok tanpa kepala ini merantau ke luar negeri. Penasaran, jangan lupa mampir yah.