
...Jika aku menyebutkan artinya adalah bunga untuk sang senja....
..._Sadewa_...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aprilia keluar dari kamar mandi. Dia telah mengenakan jubah tidur kimono dengan motif bunga sakura.
Menggigil kedinginan, kala suhu ruangan terasa ikut menusuk hawa dingin hingga ke tulang. Dia-pun segra ke nakas. Mengambil remote. Menekannya tombol off kemudian.
Kret!
Suara pintu kamar terbuka. Aprilia menoleh ke arah pintu. Sadewa dengan sepasang mata merah tampak berdiri di ambang pintu kemudian.
"Oppa," seru Aprilia terkejut.
Pagi buta. Pria itu terlihat menyelinap.
Klek!
Pria itu mengunci pintu.
"Aku tidak bisa tidur."
"Ada apa?"
"Entahlah. Tidak mampu tidur. Karena little Susie tidur berpisah denganku."
Aprilia meringis konyol dalam hatinya. Pria paruh baya itu mendekat ke sisi ranjang. Lalu, menarik Aprilia bersama jatuh ke pembaringan.
Pria itu menarik selimut, menutupi hingga ke dada miliknya dan Aprilia. Lalu, tangan itu melingkar merangkul ketat perut rata itu. Pria itu mengendus aroma wanita yang baru selesai mandi itu.
"Kau adalah wewangian yang mampu mengantarku tidur terlelap," puji Sadewa.
Aprilia hanya menatap jam dinding. Sepenuhnya, dia telah kehilangan jam tidurnya begitu banyak, karena Tuyul Moon. Kini, dia harus terjaga menjadi guling pria di belakang tubuhnya.
"Tidurlah, Oppa."
Pria itu menganggukkan kepalanya kecil bersemayam di punggung Aprilia. Sementara itu, Aprilia terus terjaga hingga matahari timbul dengan pesona di timur. Setiap berkas cahaya kuning itu menerobos masuk.
Perlahan Aprilia keluar dari rangkulan pria yang masih terlelap itu. Dia segera keluar dari kamar kemudian.
Lapar. Akibat ulah tuyul Moon yang menyedot energi Aprilia sepenuhnya. Dia-pun segera mengambil beberapa menu makanan siap saji di dalam kulkas.
Cukup lima menit. Dia telah menyajikan makanan paginya. Dia meletakkan porsi soup makanannya di atas meja. Aprilia duduk berhadapan dengan sarapan pagi.
Tidak lama, terdengar langkah menuju dapur. Aprilia menghentikan mengangkat sendoknya. Dia menoleh ke arah suara kaki itu datang.
Tampak Wati dan Kamto, sang tukang kebun.
"Non, selamat pagi," sapa Wati dan Kamto hampir bersamaan.
Aprilia hanya mengangguk kepala kecil akan sapaan itu. Dia melanjutkan sarapan pagi miliknya. Sementara, Kamto dan Wati bersiap kembali ke rutinitas pagi hari.
"Pak Kamto, jangan lupa tanaman pot yang berada di halaman belakang lebih di perhatikan," ujar Aprilia sebelum pria itu melesat keluar dari garis pintu dapur.
Pak Kamto menganggukkan kepala.
Lalu, dapur menjadi hening kemudian. Hanya suara denting garpu beradu sendok terdengar.
__ADS_1
Selesai sarapan. Aprilia meninggalkan meja. Lalu, kembali masuk ke kamarnya dengan nampan yang bertahtakan sarapan yang akan dia berikan pada Sadewa.
Benar tebakannya. Sadewa telah terjaga. Aprilia menghela napas pendek. Dia masuk ke kamar. Lalu, mendorong pintu dengan tumitnya.
Aprilia pun meletakkan sarapan di atas nakas. Sarapan masih terlihat mengepul panas.
"Little Susie, terimakasih."
Aprilia konyol akan penyebutan baru itu.
"Mengapa kau sering menjuluki seperti itu? little Susie."
"Raga boleh terus merosot dan membungkuk. Namun, jiwa tetap mampu kembali ke masa lampau. Mengingat kenangan. Siapa yang mampu melupakan sosok yang meletup di dada."
"Ah, kau membuatku merasa rendah diri untuk bersaing dengan wanita favorit."
Sadewa mengangkat sepasang alisnya, "Bagiku, hanya kau Little Susie saat ini. Selalu mampu membuat dada ini meletup panas."
"Jika kau memanggilku Little Susi semenjak hari ini. Jika begitu, aku akan memanggil nama lawasmu pula. Liong Gege. Liong Gege."
"Kau lebih mempesona jika di panggil Xia Hua. Hua artinya bunga. Sedangkan, Xia artinya matahari terbenam atau dapat pula memiliki arti matahari terbit."
"Jadi kesimpulan arti nama tersebut?"
"Jika aku menyebutkan artinya adalah bunga untuk sang senja."
"Kenapa memilih senja daripada terbit?"
"Karena senja artinya bagai peristirahatan matahari berhenti bekerja, terbenam di barat. Bagai peristirahatan terakhir. Di saat itu, hanya kau yang akan terakhir, menjemput senja itu."
"Liong Gege. Nama yang kau berikan sangat bermakna indah. Cantik sekali, dan juga sedih."
Aprilia tersenyum berbangga.
"Jika begitu, semua orang akan menyebutku sebagai istri naga. Naga yang meludahkan api."
Sadewa terbahak, "Itu adalah nama yang sangat keren. Untuk mendapat gelar master bandit dengan nama mitos legenda naga. Kau harus menjadi sosok yang disegani."
Aprilia menggunakan kedua tangannya, memijit pundak pria itu, "Tentu saja Liong Gege yang banyak uang, selalu disegani."
"Jika aku bersalah.Jangan menghukumku, Liong Gege."
"Kau tidak akan pernah terlihat salah."
"Aku bukan maha suci, Liong Gege. Aku adalah pendosa."
Aprilia lalu mundur selangkah, menangkup kedua tangannya di depan dadanya, menundukkan kepalanya dengan dalam, seakan dirinya telah terjebak dalam drama kolosal kerajaan, "Jika selir Xia salah. Selir Xia hanya meminta dispensasi. Selir Xia tidak ingin di hukum pancung."
Sadewa terbahak keras. Lalu, mengibaskan tangannya.
"Pergilah selir jahanam. Biarkan aku menghabiskan sarapanku."
"Liong Gege. Mengapa menyebutku selir jahanam? Bukankah, kau menyebutku sebagai ratu masa depanmu kelak. Permaisuri yang bersinar bagai bintang satu-satunya di langit yang gelap."
"Aku hanya bercanda. Kau adalah selir favoritku. Walau bukan yang pertama. Namun, aku pastikan kau adalah yang terakhir."
Aprilia mendekat. Mengambil sendok Sop, dan mendekatkan ujung sendok pada bibir pria tirani itu.
"Liong Gege. Makanlah yang banyak. Agar kau mampu melindungi selir ini."
__ADS_1
"Tentu. Aku akan makan yang banyak."
Sadewa terlihat antusias.
Sadewa membuka mulutnya. Menelan kuah soup kemudian. Satu demi satu sendok masuk mengenyangkan perut pria tirani itu.
"Liong Gege, silahkan makan lebih banyak. Agar kau mampu bertahan lebih banyak."
Sadewa mengangkat satu alis.
Aprilia tertawa kecil.
"Karena biasanya dalam drama kerajaan. Aku sering melihat sebelum panah itu mengenai selir. Bagindanya dulu yang menjadi perisainya."
"Kau bercanda. Namun, jangan terlihat serius."
"Panah! Panah! Panah!" Aprilia menggunakan mimik serius. Terbahak kemudian, kala tatapan Sadewa terlihat menghujam tidak suka atas apa yang telah dia lontarkan.
Sadewa mengangkat kedua tangan kemudian.
"Aku menyerah."
Sadewa melanjutkan sarapan paginya. Sementara itu, Aprilia tanpa sadar menatap kalender duduk di atas nakas. Dia terpaku sesaat. Dia telah telat dua hari dari tanggal hari menstruasi.
Deg! Jantung Aprilia berdegup kencang satu kali. Dia menelan ludah. Di tarik rasa keinginan tahuannya. Dia-pun segera masuk ke kamar mandi.
Membuka laci pintu kotak peralatan mandi.
Satu tangan ramping Aprilia mengambil satu alat Tes kehamilan. Batang biru yang tersampul itu, segera di sobek.
Setelah buang air kecil, dengan menyisihkan sebagian air seninya dalam wadah. Aprilia mencelupkan batang biru itu ke dalam wadah.
Satu menit.
Aprilia menunggu satu menit. Membiarkan air itu merangkak hingga ke batang biru itu, meresap, dan memberi warna merah kemudian.
Deg! Jantung Aprilia berdegup lebih cepat. Alih-alih ingin mengetahui hasilnya segera. Wanita cantik itu, memilih memejamkan sepasang matanya.
"Tidak. Aku tidak ingin hamil untuk saat ini."
Aprilia menggenggam erat hasil testpack miliknya. Dia mengurungkan niatnya untuk mengetahuinya. Dia menerobos keluar kamar mandi.
Di saat yang bersamaan pria itu telah menyelesaikan sarapannnya. Aprilia segera berjalan pelan ke sisi ranjang. Lalu, menatap pria tirani itu.
"Ada apa?"
Aprilia membuka telapak tangan pria itu. Lalu, dia meletakkan batang biru itu pada telapak tangan pria itu.
"Kau saja yang melihat hasilnya."
Aprilia segera berpaling, menghindar untuk melihat garis merah yang tertera pada batang biru.
Sadewa mengerut. Sepasang matanya menyipit. Dia mengucek sepasang matanya. Lalu, dia mengeja hasil garis merah pada batang biru tersebut.
"Hasilnya satu garis jelas. Satu garis tampak sangat samar. Apakah artinya itu-"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Apa ada yang setuju Aprilia hamil kembali oleh Sadewa? atau oleh Jack.
__ADS_1