Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 57


__ADS_3

...Masalalu bagai air ludah yang tidak bisa kembali ke dalam mulutmu. Apa yang kau lakukan, tidak akan bisa kau tarik lagi....


...—Eouny Jeje—...


..."Bagaimana cara Tuhan menghitung dosaku? Jika satu kejahatan yang kuperbuat lebih sedikit timbangannya daripada banyak kebaikkan yang kulakukan yang tidak pernah kembali padaku."...


...—Aprilia—...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aprilia diam mematung dengan raga yang terlihat lunglai dan kosong. Raga itu terpantul di cermin yang telah retak, akibat ulahnya sendiri yang membenci apa yang telah dia lewati. Kini rasa sakit fisik genital itu telah menguap hilang begitu saja. Namun, sakit di jantungnya mengingat betapa berdosa dirinya membuang anaknya, masih menoreh-noreh rasa bersalah, entah kapan sembuhnya.


Rasa bersalah itu tidak akan mengejarmu. Jika kau telah terbiasa. Ada harga yang akan ku gantikan padamu. Asal kau mampu setia padaku.Satu kalimat panjang itu terbesit kembali pada benak Aprilia.


"Kita harus terbiasa." Aprilia menyeka air matanya yang hampir jatuh.


"Bagaimana cara Tuhan menghitung dosaku? Jika satu kejahatan yang kuperbuat lebih sedikit timbangannya daripada banyak kebaikkan yang kulakukan yang tidak pernah kembali padaku."


Jika kau memiliki banyak uang. Dengan banyak uang mampu menebus dosa milikmu. Tidak ada dosa, yang tidak mampu di cuci dengan uang. Satu anak kau gugurkan. Kau mampu membeli dan merawat satu anak dengan uang. Itulah caramu mengimbangi timbangan dosa, ujar Nenek Mayang menyakinkan Aprilia waktu itu.


Aprilia mulai menyibakkan selimutnya. Dia bangkit berdiri, dan mendekati cermin. Dia tersenyum di sana, "Jika dosa itu di hitung dari apa yang di lakukan? Bukankah aku hanya perlu menabur hal yang baik, agar timbangan kejahatan milikku itu lebih ringan."


Aprilia mulai merapikan rambutnya, tersenyum sebaik mungkin di antara luka yang telah dia rajut, dan dia harus terbiasa melupakannya.


"Malam ini, mas Sadewa datang. Aku harus berhasil menggodanya."


Beberapa hari yang lalu, Sadewa selalu datang hanya untuk meminta dirinya membuka mulut, untuk menelan vitamin penguat kandungan, tanpa berniat menyentuhnya.


Anak itu sudah tidak ada. Apa yang harus di kuatkan? Vitamin untuk menguatkan hati? konyol sekali. Aprilia terkekeh menertawakan ketidaktahuan Sadewa. Anak yang dia harapkan, itu telah di tumbalkan, tepatnya sepuluh hari yang lalu.


Krettt! Suara pintu utama terbuka. Aprilia yang telah menggunakan kimono tipis yang membalut tubuhnya, berburu langkah keluar kamar. Namun, langkah itu terhenti pada garis pintu kamarnya. Lagi-lagi lengan kekar itu bergandengan tangan dengan sosok tangan kecil halus yang melingkar manja.


Ganti lagi. Tidak ada habisnya wanita cantik yang menjadi tambahan di belakang pria tua ini. Aprilia menatap lurus dengan tangan yang terlipat di dadanya.


Sadewa meminta gadis kecil miliknya masuk ke dalam kamar tamu. Setelah itu, dia melangkahkan kakinya mendekati Aprilia.


"Kau sudah makan obat?"

__ADS_1


"Sudah."


"Ibu hamil beristirahat lah lebih awal." Sadewa mendorong Aprilia masuk kamarnya, dan Blam! pintu menyatu dengan kusennya. Tidak lama kemudian terdengar langkah menjauh dari kamarnya. Aprilia pun menatap sinis pada pintu.


"Bagaimana menggodanya? Jika wanita cantik bertabur seperti bintang, tinggal dia petik dengan uang di kartunya."


Aprilia merebahkan dirinya di atas kasur. Baru saja dia akan memejamkan mata. Nenek Mayang tiba hadir di sisi ranjang, dan berbisik padanya.


"Cepat bangun!" pinta Nenek Mayang mengejutkan Aprilia. Bergindik sebentar,dan sepasang mata Aprilia menjuling kesal melihat ruh mengerikan yang telah memakan janin miliknya.


"Gadis muda itu sedang datang bulan di haru pertama. Ini kesempatan untukmu. Mamfaatkan khasiat dari banyak perjuangan dan pengorbananmu," bujuk Nenek Mayang.


Deg! Jantung Aprilia mendadak berdebar kencang. Dia membalikkan tubuhnya mengubah pandangannya yang terlihat malas untuk menggubris Nenek Mayang.


"Aku sedang tidak mood untuk melakukan hal itu."


"Kau harus mood!" bujuk Nenek Mayang sedikit menaikkan suaranya, "Balas Santi yang telah melukai kening dan harga dirimu. Singkirkan dia dari istri sah Sadewa."


Aprilia menjuling malas, "Semua harta itu milik Santi. Tidak ada nama Sadewa. Jika mereka bercerai, aku tidak akan melompat kaya."


"Kau bodoh sekali. Jerat pria itu menjadi cinta dan melakukan apa saja untukmu. Dengan begitu kau akan meraih banyak hal tanpa harus mengotori tanganmu. Kau bodoh, jika tidak menggunakan malam ini."


"Intuisi Nenek Mayang tidak pernah salah. Dia tidak akan tahan untuk tidak bergaul setelah menelan obat penambah stamina. Siapa lagi yang akan dia gunakan?"


Aprilia melongos kesal. Seakan dirinya adalah alternatif cadangan pemuas napsu.


"Kau menyebut diriku sebagai cadangan kan?"


"Selanjutnya kau akan menjadi utama. Prioritas. Ambil kesempatan ini."


Aprilia ambigu sebentar akan tawaran itu. Belum saja dia akan membantah. Suara pintu terbuka mengejutkannya.


"Kau berbicara dengan siapa?"


"A-aku?" Aprilia bingung menjawab, dia melirik pada Nenek Mayang yang belum beranjak pergi.


Aku hanya bisa di lihat olehmu! pesan internal Nenek Mayang pada Aprilia sebelum akhirnya dia menguap hilang begitu saja.

__ADS_1


"Berbicara sendiri? Mulai gila?"


"Eh!" Aprilia menggelengkan kepala. "Tidak, aku hanya sedang membaca dialog novel yang aku baca."


Sadewa hanya mengangkat kedua alisnya tinggi tanpa niat menggubris lagi. Sepasang matanya tertuju pada pakaian tipis yang di kenakan Aprilia, dan pakaian itu terlihat cukup ketat untuk menonjolkan buah dada miliknya.


"Sepertinya di sana makin tumbuh lebih besar," genit Sadewa.


"Pengaruh hormon hamil, mas." Aprilia menelan ludah, seakan tahu akan arah pembicaraan Sadewa.


Tangan Sadewa terlihat meraba dinding, mendapati saklar,dan bunyi kleek terdengar. Lampu padam begitu saja. Suasana menjadi gelap,dan hanya langkah kaki terdengar mendekat, dan bunyi derit ranjang kala sepasang lutut pria itu bertumpu di atas kasur.


"Layani aku! karena wanita kecil di sana. Sedang haid. Aku tidak bisa menyentuh."


"Aku?" Aprilia menjadi kesal akan alasan pria ini menyentuh.


Aku cadangan di matamu. Lain kali kau yang akan menjilat kakiku hanya untuk memohon hubungan satu malam.


"Iya, mas. Aku istrimu, pastilah siap akan melayani dengan baik."


"Karena kau sedang hamil. Aku akan melakukannya dengan sangat hati-hati."


"Terima kasih Mas."


Sadewa pun menenggelamkan dirinya di atas bahu Aprilian mencium aroma shampo yang tercium wangi masuk ke dalam hidungnya. Endusan-endusan itu datang berganti dengan kecupan-kecupan yang terasa menggelikan di leher Aprilia.


"Aku akan pelan-pelan saja yah. Kasian bayinya ...," ujar Sadewa selesai melucuti apapun yang mereka kenakan.


Bayimu yang kau harapkan itu sudah tidak ada. Ha ... ha ... ha ... Namun, aku tidak akan ingin memiliki anak lagi darimu mas.


"Mas, jangan keluar di dalam yah. Takut jadi racun saat kehamilan."


Sadewa mengerutkan keningnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai dengan episode ini. Besar harapannya author sih, readers terus mengikuti dan membaca, dan jangan lupa berikan hadiah 🎁, Vote 🎫, Like 👍, dan Coment setelah membaca yah .

__ADS_1


Besar dukungan kalian sangat di harapkan Lo


__ADS_2