Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 167


__ADS_3

...Aku sangat senang bersemayam di dalam ragamu. Memeluknya dengan ragamu. Menciumnya dengan bibir manis madumu. Menggodannya dengan suara merdu milikmu. Itu awalnya. Selanjutnya, dia hanya akan melihat tanganku pucat memeluknya, bibirku dingin menciumnya, dan suaraku serak membisiki cinta....


..._Tina_...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Rinai hujan mencium bumi. Berisiknya perlahan senyap, dan hilang. Aprilia mengadahkan sepasang matanya keluar jendela. Langit terlihat tak berawan. Dia bangkit berdiri. Menggenggam tali kekang Dragon.


"Aku akan menjemput Sadewa," gumam Tina sebelum setiap kaki Aprilia melewati garis pintu kedai 'Tentang Kopi'.


Aprilia menoleh ke asal bisikan. Hanya semilir angin dingin yang menyapanya.


Pesan kematian untuk Sadewa membuat seluruh indera Aprilia jadi tumpul . Berkedut seketika. Wajahnya seketika muram. Setiap ujung matanya tampak air bermuara. Lalu, perlahan melumpuhkan seluruh inderanya. Dia hanya membiarkan Dragon menyeretnya pulang. Seakan, sang tuan telah mendadak buta. Mendadak tuli pula. Dia membiarkan anjing itu menuntunnya pulang.


Guk! Guk! Guk!


Dragon nyalang menggonggong di depan pagar kediaman Sadewa. Pak Kamto, tukang kebun berlari dari kejauhan.


Krettt! Derit pagar terdengar nyaring kemudian.


Aprilia segera menyeka air matanya, kala dia bangun dari lamunan panjangnya. Dia menyerahkan tali kekang pada Pak Kamto. Lalu, melanjutkan langkahnya memasuki kediaman pria tirani itu.


Menatap pada tangga yang melingkar menjulang tinggi dan megah. Aprilia menahan napasnya untuk sejenak.


Haruskah aku berkata jika setan maut akan menjemputnya?


Aprilia masih mematung menatap tangga. Dia mengangkat satu telapak kaki menginjak ubin lantai pertama anak tangga. Lalu, menghela napas panjang.


Bagai hidup dirundung penderitaan. Kesalahan apakah yang pernah kau perbuat, Sadewa?


Aprilia melanjutkan menginjak satu demi satu pada setiap anak tangga, hingga kakinya kembali menetap pada lantai penghubung kamar Sadewa.


Jauh sepasang matanya memandang. Sebut saja, pria itu telah mencintainya begitu banyak. Menyingkirkan banyak orang. Bahkan menyingkirkan sang ratu utama. Ada rasa miris, kasihan, sekaligus drama yang menyedihkan untuknya.


Sebut saja bahagia itu hanya sementara. Segala sesuatu yang ditumpuk dengan tujuan bahagia. Namun, berakhir sia-sia. Karma.


Menetes. Air mata Aprilia menetes kala sepasang kakinya telah menetap pada garis pintu kamar.


Pria paruh baya itu tampak membelakangi dirinya. Pria itu terlihat mengamati gambar yang terbingkai.


Aprilia segera menyeka air matanya. Kala, pria paruh baya itu menyadari kehadirannya. Pria itu menoleh, mengulurkan tangan, dan memanggil.


"Kemarilah."


Aprilia melangkah mendekat. Sepasang kakinya menetap kemudian, di sisi pria itu. Sedangkan, pria paruh baya itu terlihat mencermati dengan hati-hati wajah sang wanita kedua dalam hidupnya.


"Mengapa berwajah muram?"


"Hujan datang merangkai kenangan," sahut Aprilia asal kemudian.


"Apa yang kau lihat dari gambar tugu  ini?"


Aprilia melongos. Deru napasnya terdengar  bagai asap yang membubung tinggi rasa khawatir, akan pesan Kematian itu. Rasa kasihan akan pria itu. Sungguh miris.


Sadewa menatap pada gambar. Ada tiga tugu di sana. Tugu Monas. Tugu Bundaran burung. Tugu Lilin.


"Tugu Monas adalah ibu kota saat ini."


"Ya, aku tau."


"Tugu Bundaran Burung adalah rencana ibu kota selanjutnya."


"Namun, tidak jadi," sahut Aprilia.


Sadewa menjetikkan telunjuknya pada Tugu Lilin.


"Karena, Presiden Jokowi beserta orang-orangnya saat ini. Berubah pikiran. Mereka, lebih memilih tetangganya."


"Ya, pemikiran itu telah berubah. Yang menjadi sependapat mungkin hanya lah para hantu Belanda, yang memiliki pemikiran sama dengan Presiden pertama Indonesia. Ganti pimpinan, pasti akan ganti objek. Kecuali, satu pikiran dengan mendiang sebelumnya."


"...."

__ADS_1


Aprilia mengamati telunjuk Sadewa yang menghentikan jemarinya pada Tugu Lilin, " Dari semua tugu Jawa tengah. Mengapa memilih tugu lilin kau letakkan dalam gambarmu, Oppa?"


"Bagiku, tugu lilin adalah penerang dan melambangkan panjang umur. Karena, setiap ulangtahun, setiap orang selalu menyertakan lilin di atas kue ulang tahun."


Aprilia bertepuk tangan, "Selamat ulang tahun bertambah satu hari."


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan pintu datang. Menghentikan pertukaran kata antara Sadewa dan Aprilia. Tampak Wati datang membawa satu teko teh beserta dua cangkirnya.


"Kau minum saja lebih dulu, Oppa. Aku akan pergi membersihkan diri."


Aprilia melenggang pergi. Menuruni tangga menuju kamar miliknya. Semesta pikirannya berkecamuk akan satu makna. Lilin ulang tahun.


"Bagaimana jika Oppa tidak mampu meniup lilin lagi?"


Klek! Baru saja dia menutup pintu. Dia di kejutkan dengan sosok Nenek Mayang yang duduk di sudut kamar, dengan menggenggam secangkir teh.


"Jika dia tidak mampu meniup lilin, berarti dia sudah mati."


"Eoma," sapa Aprilia sedikit sarkas dan ingin meludahkan isak.


Aku tidak ingin, Oppa mati. Sangat kasihan.


"Jangan terlalu ambil pusing. Jika dia mati, cari pria lain lagi."


"Eoma!"


"Kau juga belum tentu panjang umur, Aprilia."


"Eoma, kau menakutiku."


Aprilia mendekat, dan duduk di dekat kaki Nenek Mayang, "Kapan saja aku bisa menjemputmu! Kau kan belum memberikan persembahan untukku, Aprilia."


"Eoma! Aku belum hamil."


Nenek Mayang berjongkok, dan membantu wanita itu berdiri. Lalu, tangannya meraba perut Aprilia yang masih rata, "Aku mampu merasakan kehamilan milikmu, Aprilia."


"Kau sedang hamil!"


"Tidak, Eoma!"


Aprilia menghela napas. Lalu, dia membuka sepasang matanya lebar, dan  berkata sangat pelan.


"Apakah kau bisa memberi dispensasi? Biarkan aku mengandung dan melahirkan anakku. Aku hidup. Aku berhenti bersekutu denganmu."


Nenek Mayang tersenyum.


"Tentu. Namun, nyawamu aku renggut. Bagaimana? Apa kau setuju?"


Aprilia menghela napas.


"Dengan demikian. Kau dan Sadewa akan bersama pula di akhirat."


"Eoma!"


Nenek Mayang turun berjongkok. Dia menempatkan telinganya pada dinding perut Aprilia. Lalu, perlahan hidungnya mengendus tajam bau wewangian di balik perut tersebut.


"Wangi yang masih terasa sangat samar."


"Eoma!" Aprilia mundur selangkah. Menjauhi dirinya dari ancaman nenek iblis tersebut.


"Daging lembut, dan darah manis yang segar."


Nenek Mayang mencelup ujung telunjuknya pada ujung lidahnya. Seakan, dia telah mencicipi manisnya cairan merah itu.


"Next time. Tidak sakit kok! Karena, kakakmu dengan senang hati mencuri janin itu dengan kelembutan, dan tidak akan melukai rongga intimmu."


"Eoma!" Aprilia histeris.


"Aku pastikan selama hidupmu hanya untuk memberikan persembahan, Aprilia."

__ADS_1


Setelah mengucapkan satu kalimat tersebut. Dalam hitungan detik, Nenek Mayang raib begitu saja.


Aprilia bergindik akan ancaman itu. Dia menatap dirinya pada pantulan cermin. Dia mengambil obat dalam nakas. Pil yang di khususkan menggugurkan janin.


Glek! Aprilia menelannya.


"Aku tidak akan hamil. Tidak akan!"


Aprilia mengambil segelas air. Meneguknya hingga habis.


"Aku menyesal bersekutu dengan iblis. Pada akhirnya, apa yang aku dapat dengan mudah. Harus aku bayar dengan banyak pengorbanan."


Aprilia meraba kedua matanya.


"Sepasang mata ini pernah dicongkel."


"Sepasang telinga ini pernah di potong."


"Lidah ini pernah di iris-iris!"


Aprilia meringis. Duduk berjongkok menghadap cermin. Dia menatap setiap jejak kenangan sakit pada setiap indera.


"Sesungguhnya aku telah buta, tuli, dan bisu sejak lama."


Aprilia tersenyum nanar. Air matanya berderai. Lalu, dia meraba perut ratanya, dan bertanya pada dirinya sendiri.


"Bagaimana jalanku untuk pulang? Segala sesuatu telah aku miliki. Namun, bahagia tak kudapat. Hanya teror iblis, dan pesan-pesan kematian."


Menyedihkan. Aprilia segera beringsut bangun dari lantai. Menuju kamar mandi. Untuk membersihkan dirinya.


Aprilia membiarkan dirinya tenggelam bersama air sabun yang menenggelamkan seluruh tubuhnya dalam bak mandi. Bermain sabun, mengalihkan pikirannya. Namun, tetap saja teror kematian itu membisiki dirinya.


Tidak lama. Bau mawar yang menyerbak terendus Aprilia. Lalu, sentuhan tangan dingin menyentuh kulitnya.


Bergindik.


Aprilia bergindik dengan bulu roma berdiri tegang seketika.


"Kau lagi datang! Tadi iblis Mayang, kini adalah-"


"Sister! Saudara perempuanmu."


"Kau bukan saudaraku." Aprilia meringis ketakutan pada wajah pucat yang mendekati wajahnya.


"Eoma Mayang, adalah ibu bersama."


"Ssst! Persetan!" Aprilia melompat keluar segera dari bak mandi. Mengenakan mantel mandinya.


"Mengapa kau menakutiku?"


"Apakah kau sudah pikun? Karena, kau yang paling di cintai Sadewa. Oleh itu, aku sangat senang bersemayam di dalam ragamu. Memeluknya dengan ragamu. Menciumnya dengan bibir manis madumu. Menggodannya dengan suara merdu milikmu. Itu awalnya. Selanjutnya, dia hanya akan melihat tanganku pucat memeluknya, bibirku dingin menciumnya, dan suaraku serak membisiki cinta."


Aprilia menghela napas.


"Mengapa harus aku?"


"Hanya kau yang berada di sisinya."


"Pergilah!"


"Tidak! Sebelum Sadewa setuju meminangku dan pergi bersamaku. Perlahan, dia akan membucah rindu, dan akan merasakan bagaimana cintaku lebih besar dari milikmu! Aku-lah wanita terbaik itu."


Aprilia menutup telinganya. Tina melesat berdiri di belakang punggung Aprilia. Dia meniup dingin tekuk wanita itu, dan berbisik.


"Aku mencintainya. Itu saja. Yang lain, kau tak perlu tau."


"Pergi! Pergi! Aku mohon jangan ganggu aku!"


Tina hilang kemudian.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2