Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 53


__ADS_3

...Keraguan akan membuatmu jauh melangkah dari tujuan. Keyakinan malah membuat tujuanmu datang melangkah padamu....


...—Eouny Jeje—...


...Punggung ini telah sakit di injak. Wajah ini penuh ludah hinaan. Lidah ini Kelu tak mampu menjawab. Oleh itu, aku berbalik dari jalan benarku....


...—Aprilia—...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aprilia mengacak rambut kering dan merak bak singa bangun tidur. Dia tidak menemukan botol minyak tersebut.


"Mengapa botol itu hilang?" Aprilia duduk jongkok kemudian. Tanpa sadar, dia berlama duduk mengigit setiap kuku jemarinya. Dia terlihat kaku dan bergetar. Sudah lama dia berdiam di dalam kamar. Bahkan suara keroncongan perutnya, terdengar tidak menyakitkan dirinya. Dia kenyang. Kenyang akan derita yang dia alami.


Bahkan matahari telah berganti bulan. Dia masih betah meringkuk melipat lutut dan memeluk erat. Seakan dia hanya memiliki sepasang lutut untuk kuat berdiri dan menopang jantungnya yang telah remuk.


Ijinkan aku mati, jika takdir membawaku pergi seperti ini. Di hadapkan dengan cinta yang tak berujung dan karma yang mengucur bak hujan, keluh Aprilia menatap bulan yang terlihat menatapnya dengan wajah kasihan.


Klek! Suara ganggang pintu di gerakan.


"Aprilia."


Suara itu familiar memanggil. Namun, Aprilia terlihat enggan membuka pintu. Dia tidak ingin berbicara dengan Sadewa lagi.


"Aprilia!" suara Sadewa terdengar keras.


Aprilia menutup telinganya.


"Mas Dewa." Wanita kecil itu melingkar manja pada lengan besar pria paruh baya itu, "Mas, ada apa sih memanggil dia?"


"Seharian dia tidak keluar kamar. Ini sudah malam."


"...."


"Aku mengkhawatirkan anakku dalam perutnya."


"Oh." Ghea tiba berjingkit dan melambai pergi, "Mas, booking sudah berakhir yah. Aku pamit pergi." Ghea mengeratkan rangkulannya dan berkomentar, "Semoga suka layanan,dan pesan lagi."


Sadewa memincingkan matanya, "Kau tidak akan pernah datang padaku. Kau datang karena aku memiliki uang."

__ADS_1


"Kau tidak akan pernah setia," tambah Sadewa menyingkirkan tangan Ghea.


Ghea tersipu merah mendapatkan jawaban yang benar mengena di hatinya, "Udah zaman now mas. Wanita melayani karena uang. Jika kau ingin aku setia, kau harus banyak uang."


"Pergi!" usir Sadewa merah.


Ghea hanya tersenyum kecil dengan hati yang terkekeh, Berharap orang lain setia. Padahal kau sendiripun tidak setia. Harga setia di mata kita itu, tidak ada. Nol!


Ghea menjulingkan matanya dengan langkah yang berjalan mendekati pintu utama.


Blam! Pintu tertutup rapat setelah di banting Ghea yang melangkah pergi. Sadewa menatap marah pada pintu utama.


Klek! Suara anak kunci terdengar berputar pada rumahnya. Amrah Sadewa hilang seketika, dan bunyi Kreet! selanjutnya. Aprilia sudah berdiri di ambang pintu dengan banyak jejak air mata.


Jejak air mata itu tidak membuat rasa kasihan Sadewa jatuh sedikitpun. Sepqsang mata hitam tajam miliknya, hanya jatuh pada perut rata Aprilia.


"Anakku belum makan. Buruan makan dan makan vitamin."


Aprilia menghela napas. Menyeka jejak tersisa.


Menangis tidak akan membawamu kemanapun , Aprilia. Berhentilah menangis terhadap pria yang tidak memiliki hati. Dia tidak akan pernah tersentuh. Hatinya batu. Menjadi air sungai yang deraspun, tidak akan pernah mampu memecahkan batu hati.


Aprilia berjalan ringkih ke meja dapur. Sadewa menarik kursi dan mempersilahkan dia duduk untuk menyatap makanan malamnya. Kemudian, Sadewa membuka kursi untuk dirinya sendiri. Tepat berseberangan dengan Aprilia.


Uhuk! Aprilia tersedak batuk menelan asap.


Sadewa tersenyum kecut, dan memutar ujung batang rokok merahnya pada permukaan asbak. Dia mendadak khawatir asap akan melukai anak dalam perut Aprilia. Anak dalam perut itu adalah hal yang telah lama dia tunggu. Dia tidak perduli ibunya siapa, yang dia inginkan adalah keturunannya.


"Makanlah yang banyak. Agar anakku sehat."


Aprilia memaksakan dirinya mendongakkan wajahnya, yang secara tidak langsung memamerkan kesedihan di balik senyum tipis yang terlihat terpaksa.


"Aku tidak menyiksamu. Jadi lepaskanlah topeng derita itu. Lebih baik kau cerdas sedikit, kau mengetahui kedudukanmu dan kau mengetahui kedudukanku. Dari awal, kau mengetahui aku adalah suami seseorang. Jangan pernah berharap banyak pada seseorang yang telah menikah."


Aprilia mengganggukan kepalanya. Entah, ada rasa malu yang tiba-tiba melucuti harga dirinya, Aku telah jatuh tidak terhormat dengan meniduri suami orang lain.


"Mas." Aprilia meletakkan sendok dan garpu, dia kehilangan napsu makannya.


Sadewa menatapnya dengan kaki yang saling menyilang menunjukkan keangkuhannya.

__ADS_1


"Pernahkah ...." —Aprilia menundukkan wajahnya— "Kau mencintaiku sedikit saja? pernah?"


Sadewa terlihat membelot lidahnya.eluriskam kakinya, dan telapak kakinya ketat menginjak lantai. Tatapan Sadewa terlihat kasihan padanya, "Tidak pernah."


Deg! Aprilia menelan isaknya. Aku bodoh untuk bertanya.


"Seseorang yang mencintaimu. Tidak akan pernah mengijinkanmu untuk menjadi ban cadangan. Ataupun membuatmu seperti kehilangan harga dirinya, menjadi pelakor seperti ini. Cinta itu tidak ada dalam kamus kenyamanan dalam persembunyian. Kau dan aku, hanya saling melukai jika persembunyian kita ini ketahuan."


"Tetapi, Mas ... a-aku juga wa-nita. Yang berharap—"


"Jangan berharap konyol. Ketika kita memutuskan bersembunyi. Maka kau dan aku hanya akan kehilangan kehormatan jika naik ke udara. Kau dan aku hanyalah asap hitam naik ke permukaan, membuat pedih di mata setiap orang. Ini Indonesia. Okey! Indonesia!"


Aprilia hampir menggigit lidahnya. Ingin rasanya dia mati segera.


"Kau berkata seperti itu, karena kau takut istrimu!"


Sadewa menggelengkan kepala, "Istriku lebih bodoh darimu. Dia mengetahui segala hal tentang diriku. Namun, dia memilih menutup mata karena aset bersama milik kami."


Sadewa berdiri kemudian. Mengambil satu botol obat di atas meja dekat jangkauan tangannya. Dia membuka tutup obat tersebut,dan mengambil satu tablet. Kemudian, tangan kasar hitam itu menyodorkan tablet itu di dekat piring Aprilia.


"Jangan lupa vitamin untuk anak yang aku tunggu. Aku akan membunuhmu, jika terjadi sesuatu pada anakku."


Aprilia tersenyum getir. Petir di dadanya belum berhenti, walau pria itu telah pergi meninggalkan rumah. Aprilia tidak menelan obatnya. Dia membuang obat itu ke lantai. Lalu, menyingkirkan setiap piring dari atas meja. Prank! prank! prank! Segala sesuatu terlihat pecah belah berserak di bawah meja dengan makanan yang terbuang sia-sia.


Aprilia meletakkan sikunya bertumpu pada meja. Setiap telapak tangannya merangkak mengacak rambut meraknya yang kering. Sepasang matanya membola kaca dengan setiap sudut yang terlihat sangat merah.


"Benar sekali, mas. Hubungan kita adalah hubungan pedih di mata. Namun, aku bersumpah akan membalasmu. Dengan cara kau meninggalkan istrimu, dan membuka aibmu sendiri. Pedih itu hanya akan di milikmu sendiri, tanpa aku!" tekad Aprilia berhembus dengan senyum yang terbesit aneh.


"Punggung ini telah sakit di injak. Wajah ini penuh ludah hinaan. Lidah ini kelu tak mampu menjawab. Oleh itu aku berbalik dari jalan benarku." Aprilia kembali ke kamarnya, memeluk boneka jeraminya.


Kau harus banyak menderita. Lebih banyak, maka kesetianmu padaku akan lebih besar. Penderitaan itulah yang akan membayar segalanya. Nenek Mayang terlihat berdiri di balik jendela. Dia sengaja tidak muncul di hadapan Aprilia lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ....


Duh... jangan di bilang cerita aku mutar mutar ... lama banget cerita pelet peletnya 🤭 ooh kenapa lama ... nggak tau nih author kan nulis tanpa kerangka .... koment Lanjut bagi yang mau yah. Biar kalian merasa kasian toh sama Aprilia. makanya jangan heran dia jadi tokoh jahat dan miris. Nikmatin aja alurnya.


Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai dengan episode ini. Besar harapannya author sih, readers terus mengikuti dan membaca, dan jangan lupa berikan hadiah 🎁, Vote 🎫, Like 👍, dan Coment setelah membaca yah .

__ADS_1


Besar dukungan kalian sangat di harapkan Lo


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2