Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 170


__ADS_3

...Jangan terus memandangku. Kau boleh kagum. Namun, aku tidak menyukai tatapan setiap mata manusia memandangku lebih dari tiga detik. Bagiku, seseorang yang memandangku terlalu lama hanya sedang menjelekkan diriku dalam hatinya atau mencari kesalahanku....


..._Nenek Arum_...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Puspa keluar dari persembunyian di balik punggung Madam Marlena. Dia jatuh melorotkan dirinya ke lantai. Dia masih sangat shock dengan kehadiran Nenek Mayang. Kepalanya mengadah menatap wanita tinggi menjulang itu.


"Madam, apakah maksudnya aku telah bertentangan dengan muridnya?"


Madam Marlena menjauh, mendekati meja, mengambil sebatang rokok dari tungkunya. Menyalakan kemudian. Menghisapnya dan mengepulkan asap membumbung tinggi di udara.


Puspa bangkit berdiri. Seakan ledakan hormon gila telah menguasai setiap sel dalam tubuhnya. Terpicu stress. Dia segera merogoh satu kotak rokok. Mengambil satu batang. Menyalakannya pula.


"Satu rokok lagi, berikan untukku," pinta Madam Marlena setelah menghabiskan satu batang dengan cepat.


Puspa meletakkan satu batang rokok dalam tangan Madam Marlena.


"Buatkan kopi," perintah Madam Marlena.


Puspa menganggukkan kepala. Dia segera menyeduh dua cangkir kopi.


"Jangan pakai gula!" seru Madam Marlena.


Dua cangkir di jepit setiap tangan Puspa. Lalu, diletakkan perlahan di atas meja. Dia duduk kemudian.


Madam Marlena menekan ujung puntung rokok ke asbak.


"Apakah wajahku akan baik-baik saja? Nenek Mayang menggores dengan kukunya!" keluh Puspa.


"Ssst!  Aku akan mencoba memanggil Nenek Arum!"


"Tidak usah di panggil lagi!" Satu suara mengejutkan datang menembus pintu kamar hotel. Langkahnya senyap. Sepasang matanya menyipit tidak suka.


"Nenek Arum!"


Glek! Puspa menelan ludahnya. Dia mengikuti arah mata Madam Marlena berseru. Dia menoleh ke sosok yang baru tiba itu. Mengejutkan. Jika, Nenek Mayang mengenakan Yukata. Maka, Nenek Arum mengenakan pakaian Batavia. Ini adalah pertama kalinya, Puspa bertemu dengan dua sosok iblis modern. Dia pikir iblis wanita itu akan tampak mengambil wujud Nenek lampir.


"Madame Arum!" seru Madame Marlena girang memuja. Dia keluar dari meja bironya. Dia segera berlutut di lantai, menyembah kehadiran wanita aristokrat Batavia tersebut.


Madame Marlena segera memberi isyarat agar Puspa turun dari kursi, dan duduk berlutut di lantai.


Puspa segera turun dari kursi. Duduk berlutut di sisi Madame Marlena. Sepasang matanya diam-diam memuja dua iblis yang datang bergantian ini.


"Ssst! Jangan bersikap manis. Aku bahkan melihat kau berani bercabang dua! Kau bahkan ingin membujuk Mayang mengikutimu!" kesal Arum.


"Maafkan."


"Berdiri!"


Madam Marlena segera bangun berdiri.

__ADS_1


Plak! Satu tamparan panas mengenai wajah Madam Marlena.


"Aku tidak menyukai seorang babu bersiap berselingkuh. Berani berselingkuh di belakangku lagi. Kau akan mati!"


Glek! Madam Marlena ketakutan.


"Maaf!" Madam Marlena menyentuh pipinya. Panasnya bagai menyentuh bara api. Dia menghela napas panjang. Seakan, dia harus menghabiskan ritual satu minggu, untuk menyembuhkan memar wajahnya kelak.


"Aku haus!"


Madam Marlena segera berpaling ke belakang. Dia mengambil setiap kantong darah yang berada dalam lemari pendingin.


"Apa perlu di hangatkan?" tanya Madam Marlena.


Nenek Arum melambaikan tangan, mengisyaratkan tidak perlu di hangatkan. Dia duduk di kursi yang di gunakan oleh Puspa sebelumnya. Dia melirik Puspa yang masih duduk tersungkur di lantai.


"Jangan terus memandangku. Kau boleh kagum. Namun, aku tidak menyukai tatapan setiap mata manusia memandangku lebih dari tiga detik. Bagiku, seseorang yang memandangku terlalu lama hanya sedang menjelekkan diriku dalam hatinya atau mencari kesalahanku."


Glek! Puspa menelan ludahnya. Dia segera menundukkan bola matanya menatap lutut kakinya.


"Aku tidak menyukai warna kuning. Kau dandani calon muridku seperti itu. Aku ingin merobek seluruh dagingnya segera," komentar Nenek Arum.


"Jangan marah, Madame Arum."


Nenek Arum menahan emosinya. Dia-pun segera membuka tutup kantong darah. Menyeruputnya kemudian.


Srup! Srup! Srup!


Nenek Arum menjatuhkan kantong darah. Dia menatap pada Puspa yang tidak jauh dari ujung kakinya jika terbentang.


"Apa kau ingin menjadikannya muridku?" tanya Nenek Arum pada Madam Marlena.


"Jika, kau menginginkan."


"Ck! Ck! Ck! Sifatku jauh berbeda dengan Mayang. Apakah kau tau perbedaan kami?"


Puspa mengangkat pandangannya untuk sedetik. Lalu, menggelengkan kepala.


"Mayang sangat suka menyiksa abdinya hingga seumur hidup. Sedangkan, diriku sekali permintaanmu terwujud. Kau harus membayarnya segera. Jika tidak, hanya kematian menjadi tamparan wajahmu."


Deg! Jantung Puspa seakan di tusuk jarum. Tidak ada iblis yang berhati lembut. Kedua iblis yang telah dia temui, sangatlah bersikap bengis. Nenek Mayang menyukai hukuman seumur hidup. Nenek Arum menyukai hukuman instan.


Puspa menoleh pada Marlena. Dia melihat sosok itu adalah abdi setia yang paling bertahan di sisi Nenek Arum.


Seakan mengerti pandangan Puspa pada madam Marlena, Arum segera tersenyum dan berkata, "Dia bertahan hidup. Karena, bukan aku menginginkannya hidup. Namun, karena aku menyukai cara kerjanya. Dia pandai menyenangkan diriku." 


"...." Madam Marlena tersenyum. Diam-diam dia menghela napas panjang. Karena, telah begitu banyak selamat dari kuku tajam Nenek Arum yang setiap kali hanya dengan satu tusukan melubangi leher.


"Karena, aku bukan si kejam Mayang yang suka bertindak sendiri menemui mangsa. Kami jauh berbeda. Aku adalah sosok lembut yang ketika genting saja akan hadir. Untuk persembahan, Frozen food tidak apa-apa. Yang penting aku tidak perlu mematahkan kuku hanya untuk menyeruput jus merah. Aku sudah biasa menyantap yang dingin-dingin! Lidahku sudah pandai adaptasi."


Madam Marlena menyodorkan secangkir kopi pahit kembali pada Nenek Arum. Nenek Arum mendorong kembali cangkir.

__ADS_1


"Sudah kenyang."


Nenek Arum menatap pada Puspa. Sepasang matanya menyipit tajam. Lalu, bibirnya tersenyum miring.


"Bangun, biarkan aku melihat goresan Nenek Mayang."


Puspa bangun berdiri. Dia mendekat dengan kepala tertunduk. Nenek Mayang berdiri, mengangkat dagu Puspa. Lalu, memiringkan kepala wanita itu ke kanan.


"Kau tau mengapa dia mencakar wajahmu?"


Puspa menggelengkan wajahnya.


"Karena, dia tau kau hanyalah penjilat! Kau tidak akan setia! Kau hanya manis di lidah!"


Glek! Puspa menelan ludahnya. Seakan seluruh tulangnya berderak dan jatuh ke lantai. Dalam satu tangan Nenek Arum yang melepas dagu milik Puspa. Wanita berbalut kain kuning itu jatuh merosot ke lantai.


"Jika, kau ingin menjadi abdiku. Di saat kau terdesak saja. Karena, harga yang kau bayar bukanlah dirimu!"


"Apa itu?" tanya Puspa canggung kemudian.


Nenek Arum menerawangkan sepasang matanya, seakan menimang-nimang apa yang paling dia inginkan.


"Aku ingin kau persembahkan pria yang paling kau cintai."


Deg! Puspa hanya tertegun.


Siapa yang kucintai? Aku hanya menyukai diriku sendiri.


"Siapa yang kau maksud dengan pria itu?"


"Siapa saja! Yang melindungi, yang menyukaimu. Aku menginginkannya mereka semua."


"...."


"Apa yang kau inginkan? Akan kuberikan. Termasuk, menghancurkan musuh besarmu."


Nenek Arum turun dan mencubit dagu Puspa, "Kau bahkan mampu menyingkirkan putri-putri Mayang. Jika, kau ingin menjadi puteriku. Kau harus merelakan setiap pria milikmu, menjadi milikku."


Glek! Puspa menelan ludahnya.


Nenek Arum terkekeh. Mengubah wujudnya menjadi Nenek tua dengan hanya melilitkan kain tradisional yang terlihat lusuh, dan rambutnya terlihat abu-abu dan merak mengembang. Setiap kukunya tiba meruncing dan bibirnya menghitam berbisik, "Aku diam-diam lebih kejam dari Nenek Mayang."


Nenek Arum mundur dan hilang kemudian.


Madam Marlena menghela napas.


"Apa kau ingin menjadi murid Nenek Arum?"


Puspa tidak menjawab. Dia segera masuk ke dalam kamar mandi. Dia mengganti kembali ke pakaian sedia kalanya.


"Aku akan memikirkan persekutuanku dengan nenek Arum," ujar Puspa setelah melangkah keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2