Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 6


__ADS_3

Jack membuka kelopak matanya,di saat dia merasakan pergerakan Aprilia berhenti, dan dia hanya melihat wanita usia seperempat abad itu mematung dengan kikuk.


"Maaf, a-aku kurang mahir."


Jack terpingkal sesaat dengan suara tawa yang dia rendam kecil, "Saya lebih menyukai yang amatiran daripada yang pro."


Kini, giliran Jack yang memulai lebih dulu, dan tidak terasa waktu telah berputar dengan cepat di antara bantah sentuhan yang saling bertukar.


Malam semakin larut, dan amat sunyi. Hanya deru napas yang terdengar lelah di atas ubin yang dingin. Aprilia terlentang dengan sehelai kain taplak meja yang menutupinya. Entah bagaimana dia telah berada di lantai, dia tidak ingat sedikitpun.


Sekarang, kelopak matanya terbuka. Cahaya lampu agak menyilaukan matanya. Dia harus mengerjapkan matanya berkali-kali, untuk mengurangi rasa silau yang masuk ke dalam matanya.


Kret! Pintu kamar mandi terbuka. Pria itu telah mengenakan pakaian lengkap. Aprilia mengerjapkan matanya teringat akan kepolosan yang dia miliki. Dia segera bangun berdiri dengan kain taplak meja yang dia lilitkan lebih dulu dari dada hingga atas lututnya.


Aprilia berusaha tersenyum. Kepalanya masih berdenyut sakit. Namun, rasa gairah yang tertinggal, membuat dirinya menatap mesra pada sosok pria di depan matanya. Dia berharap pria ini akan benar-benar mempersuntingnya kelak.


"Apakah menunggu bayaran?"


Aprilia menelan ludahnya. Tiba-tiba hal ini membuat dirinya tersadar akan satu hal. Jual beli. Aprilia menghela napas pasrah, dan menganggukan kepala. Lalu, mendekati pria itu dengan menyodorkan telapak tangannya yang terdapat sederet angka.


"Itu nomor rekening Nana. Nama aslinya, Puspa."


Jack hanya merogoh ponsel dari saku celananya. Wajahnya terlihat datar dan setiap jemarinya terlihat sibuk dengan papan teks pada layar ponselnya. Tidak menunggu lam. Jack kemudian menunjukkan layar ponselnya pada Aprilia.


"Sudah terkirim. 8 Juta."

__ADS_1


Aprilia tertegun sesaat. Tidak menyangka dalam satu malam, dia telah mendapatkan uang dengan mudah. Dia mendongakkan kepalanya, memberanikan matanya menatap lurus akan pria yang terlihat sangat manis dan tampan setelah hubungan lewat satu malam mereka. Hati kecilnya, tiba-tiba terselubung rasa serakah, dia ingin memiliki pria yang mendadak terlihat seperti tambang emas di dalam matanya.


"Apakah bapak puas?"


Jack membelotkan lidah dalam mulutnya, mendapatkan pertanyaan seperti itu. Dia terlihat menghembus napas dengan ekspresi dingin yang menilai, " Walau kau sudah tidak pernah berhubungan selama lima tahun. Tetapi, menurutku masih buruk. Sangat buruk. Bahkan akan terasa sangat berbeda dan jauh rasa dengan wanita-wanita yang sudah melajurkan dirinya beratus kali."


Aprilia berhenti bernapas. Jantungnya tercongkel. Sepasang matanya nanar. Lidahnya kelu, kehilangan kata-kata. Apakah aku di rendahkan? Lalu mengapa membayar begitu banyak.


"Aku membantu membayar utang pada Nana sebagai perkenalan pertama. Tetapi, saranku belajar lah dengan para senior di atas. Ini soal benda di sana. Bukan gaya yang kau peragakan."


Deg! Aprilia ingin menjadi mayat segera. Entahlah, dia merasa percaya diri awalnya. Namun,sekarang runtuh seketika. Apalagi kini sepasang mata Jack menilai penampilan fisiknya lagi, dan berkomentar pedas lagi, "Aku termakan rasa penasaranku. Ternyata kau biasa saja. Rawatlah dirimu, seharusnya kau bisa lebih mempercantik diri, jika ingin seperti Nana. Walau tidak nyaman.Setidaknya wajahmu cantik di lihat."


Aprilia terpaku di tempatnya. Ingin rasanya dia menampar wajahnya sendiri. Terlihat jelek dan buruk di hadapan seseorang yang telah membelinya pertama kali.


Wajahmu cantik di lihat? Kalimat itu bak petir di malam hari.


Blam! Bunyi pintu seakan terbanting pelan, membuat Aprilia segera merasa lega. Dengan leluasa dia mengeluarkan isak bak ombak besar menyerbu bibir pantai. Dia menangis sejadi-jadinya, dan mengacak-ngacak rambutnya.


"Beginikah rasanya melajur? manis dan muntah di akhirnya!" Aprilia terduduk di lantai. Dia membenamkan seluruh wajahnya di atas sepasang lututnya, dia mengeluarkan isak panjangnya. Sampai suara pintu terbuka lebar mengejutkannya, Brakkkk!


Aprilia memeluk dadanya, dan perlahan mendongakkan kepalanya pada sosok wanita yang di kenal ya, terlihat berdiri sempoyongan di garis pintu.


"Ayo pulang, Grey!" ajak Puspa terlihat sangat lelah dan mengantuk. Aprilia segera berdiri menyeka air matanya, dan membuka suaranya yang terdengar serak dan nada Isak berbaur.


"Aku sudah membayarnya ke rekeningmu. Utangku dan Dimas lunas. Uang 8 juta."

__ADS_1


Mendengar uang dalam kalimat Aprilia. Puspa membolakan matanya lebih lebar dan bulat. Rasa kantuknya lenyap seketika.


"Sungguh?" Puspa menunjukkan ekspresi tidak percaya. Dia segera merogoh ponsel dari dalam tasnya. Memeriksa saldo rekeningnya. Tertera nama Jack Alderman, dengan nominal 8 juta. Kemudian, Puspa nyengir bahagia akan saldo rekeningnya yang bertambah kembali.


Aprilia hanya menghela napas kasar, seraya tanpa sengaja dia memindai leher dan sekitar tulang selangka Puspa, terlihat banyak bercak biru dan ungu yang jelas.


"Apakah kau di cekik?" tanya Aprilia polos pada banyak tanda seperti lingkaran di leher.


"Dasar bodoh! ini kecupan sayang!" sahut Puspa yang diam-diam menyembunyikan lukanya. Siapa yang tidak mengenal Dandy, pria kaya raya yang selalu bermain kasar jika berhubungan dengannya. Dia tidak segan-segan mencekik teman kencannya jika tidak membuatnya pria itu bergairah dalam lima menit. Hampir saja, Puspa akan mati dalam tangan pria itu. Jika Puspa tidak segera membelai dan memberi kecupan di telinga pria itu, untuk menurunkan emosinya. Untung saja kecupan telinga itu berhasil menaikkan gairah pria kasar itu, dan dia masih bisa bernapas keluar dari kamar VIP itu.


"Kau di beri 8 Juta. Apakah dia puas?" tanya Puspa mengalihkan pembicaraan.


Aprilia menggelengkan kepala, dia terlihat mengutuk dirinya, dia berjalan masuk ke kamar mandi, seraya berteriak, "Dia bilang aku sangat buruk. Sangat buruk!"


"Ha ...ha ... ha ...." Puspa terbahak keras seraya berjalan mendekati pintu kamar mandi,dan mengetuknya pelan, Tok! tok!tok!


Puspa terlihat iri, Jack malah memilih Aprilia menemaninya dalam satu malam. Selama Jack berteman dengannya, tidak pernah satu kali pun Jack mengajaknya tidur bersama, karena Dandy telah memblokir semua temannya, dan menyebutkan Nana hanya sebagai wanita di atas tempat tidurnya, tidak boleh yang lain.


Kau memblokirku bergaul dengan Jack. Tetapi, kau hanya memberiku uang sepuluh juta. Tetapi, hampir membuatku mati tercekik!


"Setidaknya dia masih sangat baik. Jack hanya menyentuh sekali. Tetapi, dia sangat royal. Dia tidak pernah memiliki pasangan tetap sebagai teman kencannya. Dia hanya menyukai hubungan One Night Stand, dan dia hanya menyukai pendatang baru yang polos."


Dup-dup-dup! Aprilia meraba dada kirinya. Jantungnya berdetak kencang. Aliran darahnya seakan mengalir sangat cepat dari jantungnya, membuat wajahnya memerah panas. Tiba-tiba saja dia teringat kembali akan setiap sentuhan dan kecupan Jack padanya. Rasanya sangat manis di ingatannya.


......................

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2