Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 105


__ADS_3

...Jika dia tidak pernah menyakitimu? Lalu, mengapa kau menyakitinya?...


..._Eouny Jeje_...


...Pujian yang kuberikan hanyalah tepuk tangan terhadap nyamuk. Aku memuji untuk membunuhmu....


..._Sadewa_...


...꧁❤༆Pelet Janda Penggoda༆❤꧂...


Aprilia menunggu di ruang bawah tanah. Menunggu Santi membawa sejumlah uang yang banyak untuknya.


Kret! Pintu besi terbuka lebar. Sinar matahari masuk menerobos sesaat. Setelah pintu besi itu merapat kembali pada kusennya. Ruangan kembali menjadi gelap pekat.


Langkah berat terdengar berjalan menuju ke arah Aprilia.


Brakk! Dua tas hitam besar di hempaskan di atas meja.


"Milikmu dan pergi lah nanti malam. Jangan pernah kembali lagi ke rumah ini, ataupun mengekori Sadewa lagi."


Aprilia mengabaikan setiap kata. Dia hanya menarik retsleting tas. Sepasang matanya membola akan banyak lembar merah yang menggunung penuh ke dalam setiap mata.


"Lima ember? Uang aslikah ini?" tanya Aprilia seraya berpaling pada sang pemilik tas.


Santi mengambil satu gulung uang, membuka lembaranya dan menyodorkan di bawah hidung Aprilia, "Kau bisa mengetahuinya hanya dengan baunya!"


Aprilia terkekeh malu.


Santi meletakkan kembali uang dalam tas itu. Melangkah pergi bersama dua pengawalnya.


Sebelum berpisah dengan pengawalnya di halaman belakang. Santi segera berpesan pada dua pengawal di belakangnya, "Sebarkan ada orang udik keluar dari rumah Sadewa membawa lima miliar secara tunai. Rampok dan curi adalah kebebasan, karena dia hanyalah janda miskin yang merampok harta seorang isteri yang tidak ingin di tinggalkan suaminya."


"Baik, Nyonya Santi."


Santi pun melangkah masuk ke dalam rumahnya.


Sementara itu Sadewa kembali menutup gordennya, dia hanya berpura-pura tidur siang saat Santi melangkah keluar dari garis pintu kamar.


Sadewa tersenyum miring. Kala, telinganya Samar mendengar langkah yang mendekat ke arahnya.


"Tuan, bagaimana?"


"Jaga ketat pelarian Aprilia nanti malam. Aku khawatir Santi memberi uang hanya untuk di regut kembali."


"Baik, Tuan." Pria setelan hitam itu pun pergi. Di saat pria itu menuruni tangga, dia bertemu dengan Santi yang melangkah kakinya menapaki tangga.


Bertukar mata sebentar. Pria itu menunduk hormat pada Santi. Sedangkan, Santi menatap curiga akan punggung yang mulai menjauh, mengecil, dan hilang kemudian.

__ADS_1


Tumben sekali, Gilar hadir di sini.


Santi melanjutkan langkahnya. Meninggalkan pikirannya untuk nanti. Dia pun masuk menemui Sadewa. Pria itu terlihat bersenandung kecil di balik meja kerja.


I stand behind these lies


While I fall apart inside


There's no one to tell me why


Did I ever close my eyes to see?


Colors seems to fade


To this melancholy state


Who says what am I to change?


Did I ever take the time to breathe


"Mengapa menyanyi lagu seperti itu?" tegur Santi di sisi meja, dan meletakkan cangkir teh.


Sadewa meletakkan pulpennya dan mendongakkan wajahnya pada istrinya, "Aku hanya sedang bernyanyi."


"Aku kira sedang menyindirku."


Santi tersipu malu, dan bergerak berdiri di belakang kursi besar pria itu, dan memijit bahu pria itu perlahan, seraya bergumam kembali, "Terimakasih atas pujian besarmu, Mas."


Sadewa melirik ke belakang. Tersenyum ramah. Terlihat berbahagia di wajahnya. Namun, hatinya meludah.


Pujian yang kuberikan hanyalah tepuk tangan terhadap nyamuk. Aku memuji untuk membunuhmu.


"Mas, apa kau sudah memilih nama untuk anak kita kelak."


Santi berputar dan duduk di kursi lainnya.


Sadewa memutar kursinya dan menatap lurus Santi, "Aku membiarkan ibunya memilih nama yang bagus untuk putera-puterinya."


"Aku rasa seorang ayah harus terlibat memberi nama putera-puterinya pula."


"Aku menyerahkan segala sesuatu pada isteriku tercinta. Termasuk nama. Aku percayakan padamu."


"Baiklah. Aku akan mencari nama yang bagus."


Tepatnya, aku tidak sudi memberi nama untuk anak yang bukan milikku!


Santi pun melangkah pergi ke sisi ranjang dan mulai bermain dengan ponselnya. Sedangkan, Sadewa mulai kembali disibukan dengan laptopnya, dan sebuah rencana baru, untuk mengelabui Santi.

__ADS_1


...꧁❤༆Pelet Janda Penggoda༆❤꧂...


Pukul 23.00 wib


Aprilia bersiap dengan mantelnya. Dia menenteng dua tas hitam besar. Wajahnya terlihat bodoh dengan banyak pikiran yang akan terjadi di depannya. Kaya. Cantik. Sombong.


Kret!


Pintu ternganga lebar. Sorot senter terlihat menerangi ruangan gelap.


"Keluar dan ikuti kami!"


Aprilia bersemangat mengangkat dua tasnya dan berjalan keluar menapaki tangga. Langkahnya berat karena jinjingannya tas penuh uangnya.


Setelah keluar dari ruang persembunyiannya. Aprilia dengan langkah mengendap, mengikuti menelusuri jalan sempit gelap, dan kiri-kanan hanya ada  semak belukar berbaris lebat.


Langkah Aprilia terhenti kala pada sebuah mobil Van yang menunggunya. Aprilia menatap sesat akan sosok supir yang terlihat kejam dan beringas.


Tidak apa-apa Aprilia, Sadewa melindungimu dari manusia, dan ibu Mayang melindungimu dari hal gaib.


Aprilia masuk ke dalam mobil Van. Mobil berjalan perlahan menuju jalan perkotaan yang masih terlihat ramai pada tengah malam seperti ini.


Tidak lama mobil berhenti. Aprlia mengeryitkan hidungnya tajam. Dia telah di antarkan kepada tempat yang di kenal red distric, daerah sepanjangnya jalan penuh cafe remang-remang, banyak preman, banyak wanita yang menjual dirinya dengan mempertontonkan kaki mulus di atas kursi cafe, dan bibir merah yang terlihat pandai membujuk—memeluk—mencuri dompet.


"Mengapa berhenti di sini?" protes Aprilia.


"Antarkan aku ke bandara saja!" lanjut Aprilia.


Sopir mobil Van hanya turun dari mobilnya. Membuka pintu dan menyeret turun Aprilia dengan kasar, dan diapun mengeluarkan tas seraya berteriak, "Kau sudah memiliki 5 miliar. Jangan melihat pada majikan kami lagi."


Setiap mata terlihat bangun menatap heran dan takjub pada Aprilia yang tersungkur di atas tanah. Tercengang, heran,dan tidak yakin. Hingga, tiba sosok pria itu datang membuka salah satu tas, mengambil beberapa gulung uang dan menghamburnya ke udara.


Sekejap setiap mata terkejut, berlari dan menyambut hujan uang yang terbang di udara. Merebutkan setiap lembaran merah yang tersebar di udara.


"Wanita ini banyak uang! Rampok dan curi!" perintah Pria itu dan pergi melompat masuk ke dalam mobil.


Aprilia panik segera mengumpulkan uang yang bertaburan di dekat kakinya. Dia segera memungut dan memasukan kembali ke dalam tasnya. Menarik retsleting, dan memeluk tas dengan ketat dan erat.


Santi, kau pandai membuat drama baru lagi! Kau memberi. Namun, kau suruh banyak orang meregutnya lagi dariku. Aprilia murka. Namun, kehilangan tangan untuk menampar.


"Jangan melihat. Ini milikku. Kalian tidak berhak atas uangku," ujar Aprilia seraya bangkit berdiri dengan tas yang di rangkul ketat di dalam dadanya.


Setiap pasang mata yang merah terlihat hijau, bertukar pandang mengikuti jejak kepergian Aprilia. Bahkan setiap padangan di seluruh penjuru red distric mendadak serakah. Menginginkan tas berisi penuh uang tersebut. Sekejap semua orang mengetahui, seorang wanita muda dengan mantel lusuh itu mengantongi banyak uang, dan tidak ada penjagaan di sisinya. Di rampok dan di curi, adalah hal yang biasa untuk daerah rawan seperti ini.


...꧁❤༆Pelet Janda Penggoda༆❤꧂...


Apa yang akan terjadi pada Aprilia? di rampok di curi dan di perkosa 😑 duh kejam coret salah satu bagian part yah! Jika Nenek Mayang sih YESS aja banyak sial Aprlia. Kata Nenek Mayang : Banyak derita bikin kau kuat, nak!

__ADS_1


__ADS_2