Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 90


__ADS_3

...Sakit hati memang seharusnya. Mengobatinya hanya perlu dengan Imunitas hati....


..._Eouny Jeje_...


...Balaslah setiap sakit hatimu  dengan cara iblis. Membunuhnya. Menghinanya. Mempermalukannya. Mengungkit dosanya. Mengotorinya....


..._Nenek Mayang_...


...꧁❤༆Pelet Janda Penggoda༆❤꧂...


Jleb! Lidah Nenek Mayang seakan setajam pisau. Dia memotong setiap arteri jantung Abas. Lalu, lidah panjang itu melilit erat jantung yang hanya sebesar genggaman tangan. Melilit menjadi kecil dan ketat agar mampu melewati sempitnya kerongkongan.  Benda kenyal bewarna merah hati dan berdenyut itu pun perlahan keluar dari kerongkongan, dan mulutnya. Setiap arteri itu meregang dan putus begitu saja dalam kerongkongannya.


"Arrg!" suara rintihan terdengar dari Abas  bersamaan dengan tertariknya jantung. Sekejap membuat wajah pria itu seputih kertas. Bibirnya sedikit bergetar dengan warna biru yang mulai teelihat naik ke permukaan bibir dan setiap jemari kukunya,dan hawa dinginpun mulai menyergap dari ujung kakinya. Dingin dan kaku.


Tubuh Abas bergetar sebentar untuk seperkian detik. Kini, Jantung pria yang terbaring kaku, dan berdetak berada dalam genggaman  tangan Nenek Mayang. Tatapan pria itu membola tanpa kehidupan hanya ada titik lampu mengisi dalam netranya.


Nenek Mayang membola cerah. Makanannya persembahan Aprilia telah tersaji di depan matanya. Jantung manusia. Setiap gigi taring terlihat kemudian, dan mulai menyantap jantung yang masih mampu berdenyut.


Krash! Krash! Krash! Nenek Mayang mengunyahnya dengan rakus dan melahapnya dengan nikmat. Dia menikmati setipa gigitan jantung yang masih berdenyut kuat.


"Jantung manusia kotor karena pikirannya sendiri. Sangat enak untuk dimakan." Nenek Mayang menyeka mulutnya dari jejak cairan merah sekitar bibirnya. Jantung itu telah selesai dia makan. Namun, dia tetap sangat lapar.


Nenek Mayang menoleh ke sosok pria yang telah terbaring kaku. Tangan halus dan indah berubah menjadi keriput, bergerak ringkih menutup mata yang membola kejang itu.


"Aprilia hatimu telah terbakar karena sakit hati. Oleh itu, balaslah setiap sakit hatimu  dengan cara iblis. Membunuhnya. Menghinanya. Mempermalukannya. Mengungkit dosanya. Mengotorinya."


Sekejap pria kaku tersebut itu hilang dari kasur, dan muncul berada di bak mandi. Air keranpun menyala sendiri, mengisi penuh bak hingga terus tumpah jatuh ke lantai.


Nenek Mayang pun mengubah dirinya, menjadi wanita cantik kembali dengan tanpa mengenakan sehelai benangpun melekat padanya. Dia bergulung dalam selimut, dan menerbitkan dengan sengaja air mata seperti air terjun yang jatuh deras dari lereng gunung.


Beep!


Dimas yang mengantuk menunggu di depan pintu. Terkesiap segera. Mengingat gilirannya telah tiba.


Giliran kamu. Aku dah puas. Sekarang lagi mandi.


Dimas terkekeh dan melihat angka pada jam tangannya. Dia mulai membayangkan bagaimana indahnya tubuh wanita cantik itu. Dia mengurungkan niatnya masuk kamar. Dia kembali kepada meja kasir,dan menambah harga, dia harus membayar lebih untuk durasi yang akan terasa sangat panjang membuai dahaganya.


"Satu juta, bang!" Penjaga kamar terlihat menerima rejeki nomplok di depan mata.

__ADS_1


"Iya! Cewek cantik nggak boleh di lewatkan!" Dimas pergi kemudian dan penjaga kamar hanya bergindik kemudian setelah kepergian Dimas.


Aku lihat yang datang hanya berdua saja. Cewek cantik mana? Ish, jangan-jangan ..., pikir penjaga kamar yang menggenggam uang di dalam tangannya, dan menoleh punggung pria itu telah hilang melesat masuk ke dalam kamar pesanan.


Penjaga kamar bergindik lagi. Namun, memilih tidak peduli kemudian. Dia pun kembali merebahkan kepalanya di atas meja. Kembali tidur.


Blam! Pintu terbanting pelan-pelan dan hati-hati.  Dimas menjilat bibirnya. Wanita itu terlihat duduk meringkuk menangis di atas ranjang, bahu telanjang terlihat jelas. Sekali lagi dia menelan ludah membayangkan betapa indahnya tubuh wanita itu, jika selimut itu segera di sibakkan.


"Dik Mayang kenapa menangis?


Nenek Mayang tidak menjawab. Dia hanya membenamkan seluruh wajahnya di atas lutut.


Dimas berjalan mendekat. Sepasang matanya melihat ada cairan merah di atas sprei linen putih. Pikirannyapin melayang akan selaput dara yang telah pertama kali di robek oleh Abas.


Gila. Abas dapat jackpot. Angka 777, telah menikmati perawan rupanya.  Dimas menjilat bibirnya. Nafsunya telah memuncak. Namun, miliknya tidak kunjung bangun.


Lihat orang cantik. Malah susah bangun. Perlu mancing x-tra, keluh Dimas segera merangkak naik ke ranjang, dan dagu pria itu menempel erat di bahu telanjang wanita tersebut.


"Jangan menangisi apa yang telah terjadi. Bumi ini luas. Isinya pun bukan semua orang baik. Terkadang jodoh kita, bukan seperti yang kita harapkan."


Nenek Mayang mendongakkan wajahnya. Bibirnya terlihat keriting.


"Selama ada sabun. Kita mampu bersih lagi. Jangan terlalu menghayati lakon yang hanya sekedar panggung sandiwara."


Nenek Mayang merengek keras,dan melirih lagi, "Menghindar perjodohan dengan orang baik. Namun,malah berjodoh dengan pemakan seperti kalian."


Dimas meletakkan telunjuknya pada bibir Nenek Mayang, "Dik, buaya juga bisa tobat, jika bertemu gua yang tepat. Adik cantik. Sexy. Siapa yang tega menjadi pengkhianat untukmu,Dik?"


Nenek Mayang hanya membisu dengan sepasang mata yang berkaca dan meledek di dalam hati, Bujuk rayumu tidak akan bisa menyentuh hati seorang iblis. Sejuta kata gombal, tidak akan menyentuh hatiku. Aku adalah iblis tanpa hati.


"Dik, bolehkah aku datang menghapus laramu?"


Nenek Mayang terisak pelan, "Bang, aku telah di ...."


"Aku tau dik. Mungkin tadi teman Abang kasar. Oleh itu, Abang bersiap lembut. Agar kau lupa akan sikap brutal itu."


Yang brutal itu nenek cantik ini, sahut Nenek Mayang dalam hatinya.


Dimas mendekatkan wajahnya, bibirnya terlihat bergerak mendekat bibir tipis dengan warna merah muda itu. Namun, telunjuk Nenek Mayang terangkat di udara, dan menempel pada bibir pria tersebut, menahan aksinya.

__ADS_1


"Bang, aku bekas orang lain!"


Dimas menghela napas, "Anggap saja kau sedang berpoligami, dik!"


"Poliandri kali bang," koreksi Nenek Mayang.


Poligami dan poliandri aja, tidak bisa membedakan. Kerap kali manusia budak napsu, IQ pasti jongkok.


Dimas terkekeh,dan menurunkan telunjuk Nenek Mayang dan tangan besar miliknya menjatuhkan bahu Mayang dengan perlahan. Kemudian, wanita cantik terlihat terlentang di bawah tubuhnya kemudian.


"Bang, jangan buatku menderita."


"Iya, dik!"


"Berikan jantungmu hanya untukku seorang, bang."


Dimas terkekeh dan napsunya mulai merangkak panas tidak tertahan, "Bukan cuma jantung. Hati. Ginjal. Akan ku berikan."


Nenek Mayang membola cerah. Ada tiga organ yang bisa dia santap.


"Pelan tetapi pasti yah bang. Daripada brutal, hanya menyakitkan."


Dimas menganggukan kepala. Menurunkan wajahnya dan mencium bibir wanita di bawah tubuhnya. Dia mencium dengan pelan, seakan menikmati kenyalnya puding yang tidak akan pernah habis dalam mulutnya.


Tiga organ tersedia, lembut sedikit untuk Abang yang satu ini. Pelan tetapi pasti. Nenek Mayangpun membalas pagutan itu dengan lembut dan Dimas membalasnya dengan lidah yang menyelusup masuk ke dalam mulut Nenek Mayang, mengabsen setiap gigi, menjilat setiap dinding mulut. Dengan tangan besarnya yang turun meraba gundukkan yang terasa lembut di tangannya.


Anggap saja bonus sebentar. Untuk tiga organ, diskon Nenek Mayang dalam hatinya lagi.


Nenek Mayang membiarkan Dimas menjelajahi seluruh tubuhnya.


Kok belum bangun juga sih, keluh Dimas lagi terhadap senjata miliknya. Dimas telah berpeluh keringat karena napsunya. Namun, miliknya tidak kunjung bangun.


Impoten mendadak! Sangat mengesalkan! Perlu rangsangan yang lebih banyak.


Dimas antusias dengan napsunya, dia mulai melepas kaos yang melekat pada tubuhnya.


Ah, bosan! Eksekusi hati, jantung apa ginjal dulu yah? Nenek Mayang terlihat gamang dalam pilihan makanannya yang pertama untuk di makan.


...꧁❤༆Pelet Janda Penggoda༆❤꧂...

__ADS_1


__ADS_2