
...Maafkan aku, untuk memaafkanmu....
..._Eouny Jeje_...
...Apa kau tau bagaimana caramu menghancurkanku? Hanya dengan kata yang menghina. Namun, aku akan mengembalikan hinaan dengan sejuta kata manis kebohongan milikku....
..._Aprilia_...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aprilia memutar arah mobilnya. Pukul 23.00 wib. Dia tidak ingin pulang saat ini. Dia melirik ke kursi co-driver. Terlihat banyak catatan panggilan dengan nama yang sama. Oppa. Hanya pria itu yang bersikap khawatir akan sosok raganya yang belum tiba masuk ke dalam sangkar emasnya.
Aprilia meminggirkan mobilnya. Setelah menekan remote mobilnya. Mesin mobil segera mati. Dia keluar dan menatap gedung tinggi yang pernah menjadi aib untuk dirinya sendiri. Namun, aib itu bagai gula yang di teteskan dilupakannya. Dibenci sekaligus dirindukannya.
Aprilia mengangkat kelopak matanya setinggi mungkin, dan kilatan matanya terlihat bagai api yang membara. Sosok pria itu seakan menegurnya, mengundangnya untuk mendekat, dan membiarkan tangan halus itu meraba leher pria itu.
"Jack. Aku merindu sekaligus membencimu hingga ke nadiku yang berdenyut hidup untuk membalasmu dengan caraku."
Aprilia tersenyum ironis. Ada tangis yang tersembunyi dalam tirai mata yang dia turunkan perlahan,dan menjatuhkan kesengsaraannya dalam air mata yang bergulir miring.
"Apa kau tau bagaimana caramu menghancurkanku? Hanya dengan kata yang menghina. Namun, aku akan mengembalikan hinaan dengan sejuta kata manis kebohongan milikku."
Aprilia melangkah dengan gemerlap mata yang haus akan hari yang telah dia tunggu. Dia melangkah akan memasuki klab. Namun, baru saja berjalan tiga langkah. Satu tangan membuat tubuhnya terhuyung sedikit belakang. Hampir tubuhnya limbung. Namun, tangan pria itu menahannya.
"Oppa," pekik Aprilia kaget, wajahnya terlihat meringis bodoh dalam naungan payung wajah pria tirani itu.
"Untuk apa kau ke sana?"
Satu alis Sadewa terangkat.
"Apa kau lupa? Kau milik Sadewa."
Aprilia menegakkan sepasang kakinya di atas tanah. Dia menepis lembut tangan pria itu, dan sepasang matanya menerobos kegelapan malam mata pria itu, dan bibirnya terbuka perlahan berkata, "Jika hati ini milikmu. Apakah dendamku milikmu pula?"
Sadewa mengangkat pupil matanya. Dia sengaja melihat bulan yang terlihat berada di tengah cakrawala, "Bolehkan bulan bersaksi?"
Aprilia menatap bulan, "Bulan tidak mampu berbicara. Bahkan ketika oppa melanggar janji. Bulan tetap akan diam. Jika mencintai itu, perlu bukti. Bukan saksi!"
"Kau pandai berbicara, sayang!"
__ADS_1
"Karena pria itu bagaikan makan cokelat. Setelah makan, dia akan berkata Mamamia lezatos! Lalu, banyak mia-mia yang muncul kemudian. Mia-mia adalah sederet wanita korban ghosting! Hubungan tanpa kejelasan. Gantungannya di awan sih!"
"Jangan menggunakan bahasa anak muda. Sebut saja intinya."
"Habis manis, sempah dibuang," tandas Aprilia.
Sadewa kikuk sebentar. Seakan dia di tembak peluru keraguan yang di bidik pada dirinya. Lalu, pandangan mata pria itu kelam perlahan kala menatap gedung tinggi di hadapannya.
"Lalu, kau ingin mencari pria lain di sana? Yang tidak membuatmu ragu akan cinta sucinya! Kau ingin menjadi Don Juan! Playgirl! Kelinci nakal!" Sadewa terlihat panas. Dia bertolak pinggang saat ini. Dia akan bersiap menarik pergelangan tangan Aprilia, menariknya masuk ke mobil. Membawanya wanita itu pulang. Melemparkan ke kasur,dan menjebak wanita itu di bawah tubuhnya.
"Jangan membuatku kejam, hanya untuk mengatasi keraguanmu!"
Aprilia terkekeh. Namun, tawa kecil itu terdengar aneh. Seakan mengejek Sadewa seperti anak kecil yang merengek memohon gulali di belikan oleh wanita itu.
"Oppa, mengapa kau marah? Di gedung itu."
Telunjuk Aprilia menunjuk gedung tinggi itu, dan sepasang mata Sadewa mengikuti arah tangan itu. Kilatan Sadewa terlihat jelas tidak menyukai papan nama yang menggantung itu. Lampu kelap-kelip warna tampak indah. Namun, kesuraman akan mengikutinya jika Aprilia melangkah bagai kupu-kupu magnet dalam hiruk pikuk bola warna-warni yang bergantung di udara.
"Ada orang yang ku benci di sana!" lanjut Apria membelah bisu.
"Gandos! Kue Semarang itu!"
Aprilia menurunkan tangannya. Mendadak konyol. Baru saja,dia akan menyebut nama Jack. Namun, Sadewa terlihat antusias berceloteh tentang pria tua penjual gandos.
"Oppa! Mengapa kau memperhatikan pria tua itu? Aku bahkan telah lupa tentang dirinya."
Aprilia mencebikan bibirnya. Dia terlihat menggoda dengan berpura-pura marah.
Sadewa menahan napasnya. Sungguh? Dia tidak dapat menghitung, berapa kali hasratnya menginginkan wanita ini berada di atas ranjang yang sama. Apakah dia mampu menundanya lagi dan lagi?
"Ayo kita pulang!" seret Sadewa dengan menyembunyikan hasrat napsu yang ingin meletup bagai boom waktu yang telah di potong kabel merahnya. Menunggu meledak dengan dahsyat.
"Oppa!" seru Aprilia terdengar setengah berontak. Dia menggerakkan pupil matanya ke gedung itu lagi. Telunjuknya naik menunjuk ke gedung yang menyimpan album biru miliknya.
"Ada apa lagi?"
Aprilia menatap pria di depannya. Terlihat ragu menceritakan aibnya. Tiba-tiba saja dia mengurungkan niatnya untuk meminta bantuan pria ini.
Dendam ini milikku. Akan sangat mengacaukan jika Oppa mengetahui cerita rumit antara aku, Jack , dan Nana.
__ADS_1
"Kita pulang saja!"
"Honeymoon segera!"
Aprilia melonggarkan lengannya dari leher pria itu. Dia mundur beberapa langkah, "Oppa, aku belum siap untuk unboxing sekarang!"
"Kapan kau siap? Lama-lama aku mengindap kanker prostat, karena ulahmu," protes Sadewa dan bergerak maju dengan cepat, meraih pinggang Aprilia, dan membuat tubuh wanita itu menekuk perutnya menempel ketat pada pinggang Sadewa.
"Oppa, tahan sebentar lagi. Setelah misi selesai."
Misiku adalah mengikat leher Jack dan Nana bersamaan. Aku harap pria ini bersabar menunggu hari itu.
"Misi apa?"
"Tidak penting bagimu. Namun, sangat penting bagiku."
"Kau membuatku gila dan bodoh. Apa kau lupa, kau sedang menolak singa lapar?"
"Kau singa lapar! Maka, aku adalah kelinci yang pandai menghilang."
Aprilia memanyunkan bibirnya dan memohon dengan sepasang mata kelincinya, "Aku mohon, ijinkan aku kabur, sekali ini saja."
"Kau ini!" Tangan Sadewa ingin segera merangkul tubuh ramping itu. Namun, hatinya turut menunduk akan wanita itu. Singapun membiarkan kelinci itu pergi dengan tenang.
Aprilia mendorong tubuh Sadewa dan berlari segera meninggalkan pria itu. Menyalakan mesin mobilnya, menginjak pedal gas, dan pergi hilang bersama mobilnya.
Sadewa terkekeh akan hilangnya kelinci yang sengaja dibiarkan kabur oleh sang singa yang lapar. Tidak lama, suara tawa itu berganti menjadi suara kesepian yang cukup pilu. Mendadak dua wanita terlihat membayangi tanah yang menjadi pijakan kakinya.
Tina dan Aprilia.
Entah? Kehadiran Tina, seakan membuka kotak yang tersembunyi. Wanita itu, tidak pernah sungguh hilang. Setiap kenangan masih tersimpan rapi. Walau kenangan itu sungguh sangat berdebu. Jika di buka, ada luka yang terjahit rapi. Membekas.
Sadewa menghela napasnya. Kembali ke mobilnya. Klek! Membuka pintu co-driver, mengambil boneka Teddy bear yang awalnya tergeletak di dalam tong sampah. Perlahan manik mata Sadewa terlihat berkaca. Dia mengelus kepala boneka tersebut, dan berbisik, "Untuk melupakan kotak itu. Kita harus membuang kuncinya. Melenyapkan sisa-sisa buktinya. Lagipula, aku dan Aprilia ingin berbahagia tanpa masalalu."
Sadewa merogoh korek gas dari saku celananya. Lalu, menyalakan api kecil mulai membakar kaki sang boneka.
"Teddy Bear, biarlah dirimu terbakar. Biarkan kenangan itu terkubur. Layaknya, sejarah yang telah di lupakan. Sayonara, Teddy bear!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...Habis ini lanjut ke Jack-Nana&Aprilia!...
...Sadewa sang singa kita masukan dulu ke kandang!...