
Aprilia memeluk erat pria di sisinya. Hatinya sangat berbahagia hanya berbaring bersisian seperti ini. Aroma Jack terendus menyamankan hidung dan jiwanya. "Kau memikat sekali. Aku sangat menyukaimu Jack."
Nenek Mayang yang terus berdiri di ujung ruangannya. Terus mengawasi tanpa ada yang menyadari kehadirannya. Dia pun mengangkat telunjuknya, dan mengirim pesan pada pikiran Aprilia, seolah-olah pesan itu berasal dari hati nurani Aprilia.
Ini kesempatan. Nana sedang tidur. Aku harus membuat Jack bertanggungjawab untuk hari ini, esok dan selamanya.— Aprilia menggelengkan kepalanya— Tidak boleh hanya dengan sedikit rencana. Harus terlihat lebih menyakinkan lagi dan lagi.
Aprilia menelan ludahnya akan setiap kata yang terbersit dalam benaknya. Deg! Aprilia menggigit bibirnya. Dia mendongakkan kepalanya menatap pria itu yang terlihat pulas.
Kesempatan tidak datang kedua kalinya.
Aprilia pun segera duduk. Dia nekat meraih kesempatan. Dia melepas pakaian miliknya. Lalu, dengan hati-hati melepas pakaian milik Jack. Setelah semua itu terlihat polos. Aprilia segera merangkak ke atas tempat tidur, dan menarik selimut menutup tubuhnya dan tubuh Jack.
Aprilia menatap jam dinding. Sudah jam 4.
"Dia akan bangun dengan kejutan telah meniduri si jelek ini." Aprilia tersenyum menang, ada cinta bercampur benci akan pria ini. Dia pun berpura-pura terlelap pulas.
...****************...
Jack merasakan kepalanya bagai di hantam sesuatu yang berat. Seakan barbel besi menjadi mahkota kepalanya. Kepalanya terasa sangat sulit di angkat. Perlahan dia membuka matanya yang terasa berat, kantuknya masih menyerang. Tidak mengijinkan matanya terbuka lebar. Samar-samat hidung pekanya mencium bau tubuh seorang wanita. Namun, bau aroma ini bukanlah aroma bunga mawar yang terendus dari setiap kali dia meniduri Puspa.
Jack mengendus tajam. Aroma tubuh wanita di sisinya terasa seperti aroma bawang goreng.
Apa Nana habis masak sesuatu? Jack bergeliat dan berusaha menarik tangannya yang tertindih sesuatu yang berat.
Aprilia membuka matanya. Dia merasakan pergerakan pria di sisinya. Dia tidak pernah tertidur dari tadi. Merasakan pergerakan pria itu, degup jantung Aprilia berlari kencang, Dup-dup-dup! Apalagi tangan pria itu kini bergerak dan menyentuh kulit pinggangnya.
"Nana, kok sepertinya kau tambah gendut?" suara itu samar terdengar serak. Aprilia hanya diam membisu, memejamkan matanya. Lalu, dia merasakan kecupan di pundak polosnya.
"Nana, kamu masak apa? Baumu seperti bawang." Jack masih enggan membuka matanya. Dia merangkul sosok wanita di depannya. Kepalanya bergerak dari pundak, naik merangkak mencium rambutnya. Tiba-tiba hidung Jack mengerut tajam. Bau rambut wanita di depannya, membuat dia segera berkomentar, "Kau seperti tidak bershampo berapa hari?"— Jack mengendus— "Sangat berbeda dengan bau rambut tadi malam."
__ADS_1
Aprilia tidak berani bergeming sedikitpun. Dia bersikap seperti manekin dalam rangkulan pria ini. Wajahnya terlihat tersipu merah malu-malu.
"Kau?" — Jack membuka matanya— "Kau?"
Jack membolakan sepasang matanya lebar. Dia hanya melihat punggung wanita di depannya. Namun, punggung itu jelas bukan milik sosok Nana yang dia kenal. Nana berkulit putih seperti susu vanila. Di depannya terlihat seperti susu cokelat. Rambut Nana yang dia kenal, bergelombang indah. Wanita di sisinya bergelombang mekar mirip rambut singa.
"Kau?" Jack terpekik kaget. Dia segera duduk. Awal mulanya dia menatap dirinya. Terlihat polos dalam satu kejutan di bawah selimut. Dia segera mengedarkan matanya acak. Kamar ini bukan milik wanita yang dia kenal.
"Aprilia?" Jack meremas rambutnya. Mencoba mengingat sesuatu. Dia pergi ke dapur, merasa haus. Samar-samar dia mengingat dirinya memeluk dan mencium seorang wanita.
"Kau Aprilia?"
Pertanyaan itu di ulang lagi. Yang di tanya hanya membisu. Berpura-pura tuli dan tidak mendengar. Sampai, satu tendangan datang mendorongnya terguling polos di lantai yang dingin. Aprilia memegang bokongnya, sakit sekali jatuh di tendang. Aprilia dengan dagu terangkat dan sepasang matanya menjuling ke atas, mendongak menatap pria di atas ranjang yang terlihat telah menyelimut pinggangnya dengan selimut.
"Aku tidur denganmu?" — Jack mengacak-ngacak rambutnya— "Babu jelek kau merayuku? Hah?"
Aprilia menelan ludah. Dia berpura-pura menunduk menatap lantai. Tangannya meraba-raba lantai, memungut setiap pakaian miliknya.
Jack melompat turun. Karena kesal. Telapak kakinya segera dia daratkan menginjak punggung tangan Aprilia.
"Argghh!" ringis Aprilia sakit akan tangannya. Jack mengangkat telapak kakinya. Aprilia mengambil tangannya yang merah.
Kemudian, Jack duduk jongkok, mencubit kasar dagu wanita itu.
"Aku paling membenci wanita jelek seperti dirimu merangkak naik dengan mencuri kesempatan di saat aku mabuk."— Jack melempar dagu tersebut— "Kau wanita sampah. Babu jelek!"
Deg! Jantung Aprilia teriris-iris saat ini juga. Angan manis yang dia harapkan kala pria ini bangun pagi membuka matanya, terbakar sempurna. Kini, hanya asap amarah yang mengepul, menyesakkan dada Aprilia. Tak terasa, embun di setiap ujung matanya terbit juga.
Sepasang mata Aprilia tunduk melihat kaki besar pria itu. Lalu, dia melihat bagaimana tangan besar pria itu memungut setiap pakaian miliknya, dan mengenakan pakaiannya.
__ADS_1
Buggg! Jack menendang kursi di sisi Aprilia Jatuh ke belakang. Dia kembali berjongkok dengan pakaian lengkap miliknya telah tekrnakan dengan rapi, diapun kembali mencubit dagu Aprilia. Dia menatap lekat setiap air mata Aprilia yang jatuh. Ada rasa kasihan sekaligus jijik.
Bagaimana bisa aku menyentuh babu jelek ini.
"Kau menjijikan, babu jelek!" ejek Jack. Aprilia menarik isak di dadanya, dia tidak akan menyangka jika reaksi Jack akan seperti ini.
"Kau apakan aku semalam?" Jack mencubit dagu Aprilia keras, seperti ingin meremukkan tulang dagu itu dalam satu cengkraman ketat.
Aprilia menggelengkan kepala dengan air mata ikut jatuh bergoyang ke lantai.
"Kau tidak ingin mengaku." Jack melempar dagu itu. Dia berdiri bertolak pinggang, dan dia mengatur napasnya. Ada rasa kesal bercampur amarah. "Apakah Nana mengetahui?"
Tidak menunggu jawaban Aprilia. Jack keluar dari kamar. Dia segera mengendap menuju kamar Puspa, Kret! Pintu terbuka perlahan. Jack hanya berdiri di garis pintu, mengintip Puspa masih terlelap pulas.
"Syukurlah, dia tidak melihat diriku salah kamar." Javk menutup pintu kamar perlahan kembali. Dia mencoba mengingat apa yang terjadi malam itu.
"Ah ...." Jack tidak mampu mengingatnya. Dia hanya samar-samar mengingat, jika malam itu dia telah berciuman dengan seseorang. Dia menduga itu adalah sosok Nana, dan tidak akan pernah menyangka jika dia telah salah orang. Mengingat betapa polosnya Aprilia kala dia bangun pagi. Jack memukul batok kepalanya sendiri.
"Bodoh! Mengapa aku mabuk dan malah meniduri babu jelek!" Jack segera ke mobilnya. Mengambil tas dalam mobilnya. Dengan tergesa dia kembali ke kamar Aprilia.
Aprilia terlihat sudah mengenakan pakaiannya. Dia duduk di sisi ranjang dengan sepasang mata terlihat sangat mendung.
......................
Bersambung ....
Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai dengan episode ini. Besar harapannya author sih, readers terus mengikuti dan membaca, dan jangan lupa berikan hadiah 🎁, Vote 🎫, Like 👍, dan Coment setelah membaca yah .
Besar dukungan kalian sangat di harapkan Lo
__ADS_1