
...Kita memiliki dua telinga. Untuk mendengar apapun tanpa kita mampu mencegah informasi itu masuk. Namun, kita memiliki satu lidah untuk berucap apapun. Namun, kita mampu mencegah fitnah dengan lidah kita....
..._Eouny Jeje_...
..."Dulu kau menyakitiku. Kini, aku menyakitimu. Kita impas. Jangan sebut saling berhutang."...
..._Aprilia_...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aprilia terbangun.
Sekejap dia langsung mengingat nasib sepasang daun telinga miliknya. Dia menyibakkan rambutnya ke belakang. Menyentuh letak daun telinganya. Kini, dia tidak memiliki daun telinga. Dia segera memposisikan dirinya bangkit dari ranjang, dan menatap pantulan dirinya pada cermin.
Tidak memiliki daun telinga. Sungguh mengerikan. Dia mendadak tuli dalam satu malam. Namun, hal ini bukanlah hal yang menakutkan dan sangat kejam untuk dirinya. Dia telah terbiasa dengan setiap kekejaman Nenek Mayang yang dilanda kelaparan.
Aprlia mengambil toner. Membersihkan setiap cairan merah yang mengering sekitar rahang kiri kanan dan belahan lehernya. Setelah, terlihat bersih dia menguraikan rambutnya menutupi letak daun telinganya.
Tok! Tok! Tok!
Seseorang mengetuk daun pintu. Namun,Aprilia telah tuli.
"Nona Lea, saya masuk."
Seorang bibi paruh baya terlihat masuk membawakan makan siang.
"Bibi Rini," sapa Lea mengangkat pandangan matanya.
"Nona Lea, telah melewati sarapan. Oleh itu, saya memberanikan diri mengantar makan siang."
Bibi Rini meletakan sarapan di atas nakas,di sisi ranjang.
"Makanlah, nona Lea."
Aprilia hanya tersenyum. Saat ini, dia telah menjadi tuli. Setiap kata yang terlontar dari mulut bibi Rini, tidak mampu dia dengar. Dia telah kehilangan fungsi telinganya. Harus menunggu tujuh hari kemudian.
"Saya permisi keluar."
"Terimakasih," sahut Aprilia dan segera makan dengan lahap setelah bibi Rini melewati garis pintu kamar miliknya.
Lapar. Aprilia terlihat rakus menyantap makanan di atas piring. Dia melahapnya dengan sangat cepat. Setelah piring itu terlihat bersih. Dia meletakkan sendok dan garpu. Masuk kamar mandi, membersihkan diri,dan mengganti pakaiannya. Dia memiliki rencana untuk menandatangani kerjasama kembali dengan Damian. Kesepakatan produk tersebut adalah 50:50.
__ADS_1
Namun, agar Sadewa tidak murka karena ratio keuntungan yang di bagi dua. Aprilia segera bersila di lantai, dan mengucapkan mantera.
"Aku datang," ucap Nenek Mayang hadir dengan tiba-tiba bersila di hadapan Aprilia, dan meletakkan tangannya pada kedua tangan Aprilia.
"Anak gadisku, kau ingin apa?"
Nenek Mayang terlihat menunggu jawaban, dan mengulangi pertanyaannya kembali, "Apa yang kau inginkan?"
Aprilia meraih ponsel dan menulis beberapa kata.
Aku telah tuli. Tolong, tulis saja di pesan.
Nenek Mayang terkekeh. Seakan merasa konyol. Dia pun mengangkat satu alisnya dan berkata, "Aku pikir kau berubah menjadi Miss cuek. Ternyata, aku lupa .... kau telah tuli karena telingamu telah aku makan."
Nenek Mayang mengambil ponsel Aprilia, dan menulis satu pesan text seraya bergumam, "Untuk aku adalah iblis bersertifikat. Membaca dan menulis tentu bisa."
Apa yang kau inginkan anak gadisku? Pertanyaan itu tertulis kemudian di layar ponsel Aprilia.
"Aku ingin ratio 70:30 untuk kontrak hari ini," sahut Aprilia kemudian.
"Mudah!" Nenek Mayang kembali bangkit berdiri, "Aku pulang!" Nenek Mayang hilang dalam sekejap.
Setelah kepergian Nenek Mayang. Aprilia meraih ponselnya kembali karena sebuah pesan masuk.
Nona, pria yang kau cari telah berada di Malaysia.
Aprilia tersenyum mendapatkan pesan tersebut. Dia telah mengincar kehidupan mantan suaminya. Kini, dia akan mengatur pertemuan kembali. Membalas rasa sakit yang telah mengantung hidupnya.
Aprilia menarik napas lega,dia pergi ke sisi jendela, menatap langit biru, dan melihat sosok ayah yang telah berada di sana. Dulu, dia berpikir, tidak akan mampu membalas sakit hatinya pada pria itu. Kini, saat itu telah tiba secara tidak terduga. Dia akan membuat pria itu membayar utang luka yang pernah dia tabur, "Pembalasan akan datang!"
Aprilia berjingkit turun, menarik koper dan membuka koper. Mengambil satu dompet kecil usang milik dirinya, di saat dirinya hanyalah seorang babu jelek di mata setiap orang.
Aprilia membuka dompetnya.
Sebuah foto dalam dompetnya. Dia telah menyimpan foto lama miliknya. Foto pernikahannya.
Aprilia menatap mantan suaminya yang terbingkai dalam gambar yang terlihat usang. Aprilia merobek gambar itu. Membagi menjadi dua. Memisahkan gambar dirinya dengan pria itu.
Aprilia meletakkan gambar wajah dirinya pada sisi jendela. Lalu, merobek gambar wajah pria menjadi serpihan kecil-kecil. Kemudian, dia menerbangkan kertas itu dari jendela.
"Aku dengar dia berada di Malaysia. Aku ingin tahu, apa yang terjadi. Jika dia bertemu dengan diriku saat ini."
__ADS_1
Aprilia mengepalkan tangan.
"Dulu kau menyakitiku. Kini, aku menyakitimu. Kita impas. Jangan sebut saling berhutang."
Raut wajahnya berubah sekejap. Terlihat merah murka, dengan sepasang iris mata yang terlihat menancapkan pedang atas luka yang pernah tertoreh sangat dalam.
Aprilia mengambil gambar tersisa yang berada di kusen. Dia menatap wajah wanita itu. Itu adalah dirinya sendiri. Dia tersenyum kala melihat setiap fitur wajah lamanya.
"Dulu, aku hanyalah itik. Sekarang, aku adalah angsa. Dulu, aku hanyalah ulat. Sekarang, aku adalah kupu-kupu. Dengan apakah kau menangkapku?"
Tidak ada yang bisa menangkapku lagi. Karena, segalanya telah aku miliki, lanjut Aprilia dalam hatinya.
Aprilia merasa konyol dan tersenyum sendiri, "Tidak ada cara menangkapku. Karena, aku adalah milik Sadewa. Pria dewa yang ingin mengepakkan sayap. Namun, tidak sudi meninggalkanku. Karena, dia pikir hanyalah rahimku lah akan menjadi kelak rumah keturunannya."
Aprilia merebahkan dirinya kembali ke ranjang. Dia memilih tidur sepanjang siang. Masuk ke dalam mimpi indahnya. Di mana dia memegang cawan emas, dan menginjak setiap lantai dengan sepatu emas. Impiannya telah terwujud.
Tepat pukul tujuh malam. Aprilia terbangun dari mimpi indahnya. Dia segera bersolek dan menemui Damian kembali. Di restoran yang lama. Kali ini, pria itu datang sendiri. Namun, karena Aprilia sedang tuli. Aprilia dan Damian hanya menghabiskan setiap detiknya dengan diam. Dialog mata yang hanya mengisyaratkan pada kertas dan pena.
Damian menghela napas. Dia menyelesaikan membaca kontraknya, dan mengangkat pandangannya,dan menandatangani kontrak, seraya bergumam, "70: 30. Baiklah! Dengan syarat aku hanya mengambil laba bersih tanpa harus terlibat operasional dan pengendalian di lapangan."
Damian berdiri. Berjabat tangan. Lalu, meninggalkan restoran.
Setelah kepergian pria jangkung itu. Aprilia meraih lembar kontrak dan memeriksa dengan teliti setiap kertas, "Apakah karena mantera Nenek Mayang ? Atau dia tidak perduli dengan keuntungan berapapun yang dia dapatkan. Karena, sudah terlanjur banyak uang."
Aprilia terkekeh sendiri. Lalu, mengirim foto lembar kontrak yang telah di tanda tangani Damian, pada Sadewa.
Beep!
Pesan balasan masuk.
Aprilia sayang terimakasih. Kau adalah istri terbaik. Selalu selangkah lebih pintar dari wanita lain. Kadang, kita harus memenangkan lawan kita dengan perasaan. Kau berhasil mendapatkan kontrak. Aku sangat mencintaimu. Apakah sudah melepas segel? Aku sangat menunggu kabar gembira itu. Aku bagai kuda liar menunggu rumput hijau di dalam bak makananku.
"Kuda *****!" jengkel Aprilia memiringkan bibirnya kemudian.
Aprilia mengangkat satu alisnya. Ingin rasanya dia segera melemparkan ponselnya ke lantai, "Mengapa pikiran pria selalu saja akan segel? Apakah mereka tidak bisa berhenti mengaitkan bisnis dengan hal berbau segel."
Aprilia melempar ponselnya ke dasar tasnya.
"Dia sebut aku istrinya. Namun, dia memintaku merayu pria hanya untuk ekonomi. Cinta atau sapi perah!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Hai Hai Author maaf banyak bolong update yah. Karena otor sedang alergi..nggak enak banget, gara2 salah makan. alerginya lama. Kulitnya jadi kering,dan gatel mulu cma di sekitar kaki. Malas minum obat, karena agak anti dengan obat tablet. 🤪
Jangan lupa jika tinggalkan komentar pada baris hastag yah 🥺