Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 157


__ADS_3

..."Percayalah, setiap kataku. Aku adalah Sadewa yang setiap katanya bagai doa yang terbang ke langit.  Hanya akan melukis keindahan untukmu. Hanya akan memberi kemudahan di setiap jalanmu. Hanya akan memberi kenyamanan dalam setiap harimu. Hidupmu akan berjalan lurus seperti hanya menemui tol. Tanpa hambatan. Tanpa gangguan. Percaya padaku. Hal itu akan terjadi. Aku Sadewa yang akan memberkahi hidupmu hingga akhir hayatmu."...


..._Sadewa_...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sadewa terjaga. Dia menghela napas terasa sangat berat. Dia duduk. Sepasang matanya terlihat sayu jatuh menatap setiap ubin lantai kamarnya. Tidak lama, pandangannya mulai berkabut, berbayang, dan rintik hujan jatuh dari setiap sudut matanya. Menit selanjutnya, jatuh lebih deras. Dadanya berguncang. Dia memukul dadanya pelan,seakan menjatuhkan batu yang mengganjal dalam tulang rusuk rongga dadanya.


Kret!


Pintu terbuka perlahan. Sadewa segera berpaling ke luar jendela. Menyeka air matanya. Lalu, berpaling hanya untuk mengetahui siapa yang datang menemuinya.


Aprilia. Wanita itu menemui Sadewa, dengan bibir melengkung tersenyum, dengan sepasang bola mata penuh sirat khawatir. Namun, senyuman dan tatapan itu pula, memberi kesejukan untuk hati Sadewa yang telah membakar kesedihan dari semalam.


"Oppa, ada apa denganmu? Kau baru selesai menangis?" tanya Aprilia mendekat. Sepasang tangannya jatuh membelai pipi pria paruh baya itu, dan ujung telunjuknya merangkak menghapus sisa  biji air mata yang tertinggal.


Sadewa menatap nanar sekaligus kagum. Bukan, karena kecantikan Aprilia saat ini. Melainkan, karena  jantungnya tetap berdebar bahagia walau di acuhkan, semesta pikirannya hanya meletakkan wajah wanita itu sebagai tugu acuannya.


"Aku menangis karena merasa sangat tua."


"Bagiku, kau masih terlihat muda, gagah, dan hebat. Akulah yang tua. Tua karena kebodohanku."


Sadewa tersenyum hambar. Merangkul pinggang ramping itu mendekat. Hingga kepalanya bersandar pada dada wanita itu, dan bertahan di sana, mendengar bunyi jantung wanita itu.


Deg! Jantung Aprilia berdegup kencang. Dia menahan napasnya. Agar bunyi jantung itu terdengar melambat. Wajahnya merah turut sedih, seakan kerapuhan Sadewa adalah kelemahannya pula.


"Oppa," sebut Aprilia lebih lembut.


"Ya," sahut Sadewa.


"Ada apa dengan Oppa?"


"Aku hanya merasa diriku telah lama berada di puncak. Perlahan, aku ingin bergerak turun ke barat, mengubah warna langit menjadi merah, peach, oranye, dan kuning keemasan yang membentang di horison."


"Matahari terbenam maksudmu?"


Sadewa mengangguk-angguk seperti anak kecil.


"Warna langit saat matahari terbenam beragam warna. Kau menyukai warna apa?" tanya Sadewa tiba-tiba setelah kepalanya berdiri tegak lurus menatap Aprilia.


"Merah muda. Apakah warna langit itu ada kala senja datang?"


"Sadewa akan selalu membuat segala hal itu ada."


Sadewa mendongakkan kepalanya. Dia tersenyum pada Aprilia, "Jika aku memilih terbenam. Aku akan melukis langit sesuai keinginanmu, warna merah muda, Aprilia."


"Oppa, kau sangat romantis. Kau dewa yang menjelma menjadi manusia."

__ADS_1


Sadewa mengangguk, "Walau  suatu saat nanti, aku bagai matahari terbenam yang akan berlalu dengan sangat singkat. Namun, aku tetap akan sangat romantis dalam hidupmu. Menjadi fenomena di langit, indah dan langka. Kau bahkan akan mengenangku sebagai pria yang paling mencintaimu. Aku bukan hanya akan menjagamu, seumur hidupku. Bahkan jika ragaku telah pergi menjadi abu. Namun, cintaku tidak akan pernah menjadi abu. Cintaku akan terus mengikutimu seumur hidupmu. Cinta Jack pada Rose, bukan untuk yang sebelumnya. Hanya untukmu. Aku hanya akan mencintaimu. Kau adalah cinta sejatiku."


"Oppa, apa kau bermimpi buruk?" Aprilia teduh menatap. Bersiap mengeluarkan suara tangis. Namun, telunjuk Sadewa jatuh menempel pada bibir Aprilia.


"Ssst, segala sesuatu ada masanya. Aku hanya sedang berandai-andai. Aku hanya ingin menjadi pria paling romantis untukmu. Karena, aku hanya ingin meletakkan kebahagian setiap kau membuka pelupuk matamu."


Aprilia tersenyum. Mencium kening pria berkerut itu, dan berbisik pada kening pria itu, "Oppa, aku harus  berbangga pada ibu-mu yang telah memilih nama Sadewa untukmu. Kau memang terlahir sesuai namamu. Mampu memenuhi setiap permintaanku. Kau layak di sebut raja yang mencintai ratunya."


Sadewa memeluk erat pinggang ramping itu kemudian, dan bertutur lembut, "Seorang rajapun mampu menundukkan kepalanya pada seorang wanita yang di cintainya. Menjadi budak cinta di bawah kaki wanitanya."


Aprilia tersenyum.


"Aku terbang tinggi karena setiap katamu. Apakah kau tidak berdusta? Seperti, kau suka mendustai wanita lainnya," selidik Aprilia dengan senyum nakal mengejek dirinya sendiri. Tidak akan pernah percaya, Sadewa akan bertekuk lutut jatuh mencintainya sedalam lautan.


"Mengapa kau tidak pernah percaya?"


"Aku hanya sedang mengutuk masalalu. Hingga, aku menyimpan banyak keraguan."


Sadewa melonggarkan pelukannya. Dia ikut berdiri. Berhadapan dengan Aprilia, hanya menyisakan satu langkah. Sepasang matanya mendongak turun, menatap lurus pada Aprilia.


"Mereka adalah pria di masalalumu. Percayalah, setiap kataku. Aku adalah Sadewa yang setiap katanya bagai doa yang terbang ke langit.  Hanya akan melukis keindahan untukmu. Hanya akan memberi kemudahan di setiap jalanmu. Hanya akan memberi kenyamanan dalam setiap harimu. Hidupmu akan berjalan lurus seperti hanya menemui tol. Tanpa hambatan. Tanpa gangguan. Percaya padaku. Hal itu akan terjadi. Aku Sadewa yang akan memberkahi hidupmu hingga akhir hayatmu."


Aprilia terkesiap sesaat. Seakan setiap kata Sadewa telah terpahat dengan jelas pada loh hatinya.  Setiap kata itu, akan terwujud.


Aprilia menghela napas. Seakan untuk pertama kalinya, dia takut menggenggam emas dalam tangannya.


"Karena, hanya padamu jantungku pergi berdetak walau terasa sesak dan napasku tersisa satu. Aku mencintaimu seperti melihat diriku sendiri, melihat masalaluku, melihat kebahagianku. Aku bahagia. Jika, kau bahagia."


Aprilia memeluk pria itu dan mengajaknya untuk turun makan siang, "Oppa, mari kita makan. Hari sudah begitu siang. Kau terlambat bangun, kau bahkan lupa sarapan pagi."


Setelah makan siang. Aprilia mengecup kening pria itu, dan berpamitan pergi.


"Oppa, aku pergi ingin ke toko buku."


"Buku?"


"Iya, supaya terlihat sedikit pintar. Karena, setiap orang suka menyebut bodoh, hanya karena terlihat sering di rumah."


Sadewa hanya tertawa kecil, dan kembali menatap piring nasinya. Dia baru mengangkat beberapa sendok.


"Oppa, jangan lupa habiskan nasi milikmu. Aku pergi."


Aprilia melambai tangan. Menuju garasi mobil. Memilih satu mobil. Lalu, melajukan mobil miliknya ke sebuah toko buku terdekat. Dia terlihat antusias awalnya memilih buku-buku dalam rak. Membacanya ulasannya. Namun, jenuh kemudian.


"Jiwa pemalasku lebih banyak daripada menjadi seorang wanita yang rajin mencari uang. Aku hanya ingin jalan yang Sadewa buat."


Aprilia pergi ke rak lainnya. Jemari tangannya mulai sibuk kembali, memilah-milah buku kembali, dan berakhir dengan helaan napas. Karena, dia tidak tertarik untuk mengerti satu buku bisnispun. Lalu, dia segera berpindah ke rak buku fiksi. Dia mengambil satu novel.

__ADS_1


Kekasih Tuan Muda Ruan, Eouny Jeje.


Aprilia mengoyak sampul plastik buku tersebut. Mengambil acak lembar bacaannya, dan berhenti pada lembar yang menyiratkan surat sang tokoh bernama Joe Han untuk Anna. Dia memilih membaca paragraf acak.


Aku menulis tentang perkenalan yang tak pernah aku sangka. Ketika sosok seorang gadis kecil, yang terlihat lebih berani daripadaku. Dia membelaku terhadap semua yang menginjak ku. Sejak itu, pandangan pertamaku, pandangan hari ini, dan pandangan  terakhirku hanya kutunjukan untuknya. Singkatnya perkenalan singkat ku, membuatku jatuh begitu dalam dan terus mengikutinya.


Terkadang aku ingin pergi memecahkan kepalaku. Pergi berlayar membawa hatiku ke sana kemari. Hanya untuk berhenti memikirkan dirinya. Namun, tetap saja  sosok cinta pertamaku lah menjadi pelabuhan tujuanku. Hal ini tanpa sengaja, membentuk diriku menjadi pengamat dirinya  level dewa, yang selalu memperhatikan  dan mengikuti setiap apa yang dia lakukan.


Sosok cinta pertamaku, bahkan tidak menyadari betapa aku merancang segala sesuatu untuknya. Memastikan hidupnya berjalan mulus, tanpa hambatan, dan tidak ada yang mengganggunya.


Aprilia menghela napasnya panjang. Entah, tiba-tiba saja seluruh rongga dadanya menjadi sesak. Semesta pikirannya tiba-tiba tertuju pada Sadewa, dan dia ingin menangis untuk saat ini. Rindu itu datang mencium keningnya.


"Mengapa setiap katanya seperti yang Oppa ucapkan?"


Aprilia terngiang kembali akan setiap kata Sadewa untuknya. Bagai bisikan cinta yang sangat menggetarkan seluruh raganya.


"Percayalah, setiap kataku. Aku adalah Sadewa yang setiap katanya bagai doa yang terbang ke langit.  Hanya akan melukis keindahan untukmu. Hanya akan memberi kemudahan di setiap jalanmu. Hanya akan memberi kenyamanan dalam setiap harimu. Hidupmu akan berjalan lurus seperti hanya menemui tol. Tanpa hambatan. Tanpa gangguan. Percaya padaku. Hal itu akan terjadi. Aku Sadewa yang akan memberkahi hidupmu hingga akhir hayatmu."



...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Author : 😭😭😭😭


Sadewa : Why?🧐


Author : aku jealous dengan kamu?


Sadewa : Why?🧐


Author : iri aku iri ....


Sadewa : Why?🧐


Author : sayang kamu cuma imajinasi aku 😂


Sadewa: iri kan dengan cintaku yang begitu besar. Romantis kan ! senja pun akan ku buat warna merah muda.


Author : Hebat deh pokok e 😘 taruh namaku di hatimu yah


Sadewa : Rayu aku dulu


Author : Kasih aku jajan, yah Opppa sampai 7 turunan 💰💴💷💵💶💵💷💴💰💵💴💶💴💶💴💵💴💶💴 🥰 muach 🥰 jadi 7 turunan nggk akan melupakanmu 🤣


Sadewa : 🤣🤣🤣🤣🤣🤣 Miskin banget yah! 🤣🤣🤣🤣🤣 ini namanya sang semesta ngemis ma sang tokoh novel.


Author : 😭😭😭

__ADS_1


__ADS_2