Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 115


__ADS_3

...Gunakan hati nuranimu untuk menilai. Bukan dengan banyak alamat palsu yang tersebar....


..._Eouny Jeje_...


..."Aku tidak perlu bekerja keras, om! Segala sesuatu milikku itu bagai Jack Ma yang tidak perduli uang seratus juta di rampok seorang pencuri kecil."...


..._Damian_...


...꧁❤༆Pelet Janda Penggoda༆❤꧂...


Setelah malam itu. Sadewa terlihat tidak mengunjungi kamar Aprilia. Tidak pula bermalam di kamar Santi. Sadewa terlihat menghabiskan waktunya bekerja di kantor. Lembur setiap malamnya, dan pagi hanya pulang untuk berganti pakaian. Karena, sebuah rencana yang hanya di ketahui oleh Sadewa dan Aprilia saja.


"Mengapa suamiku pergi setiap hari?" Santi gelisah dan mengangkat pertanyaan pada Aprilia yang sedang bersiap dengan pakaian olahraganya.


"Lea, apakah oppa tidak bermain dengan wanita lain?"


Aprilia hanya mengangkat bahunya.


"Apakah oppa mu ada memberimu kabar?"


Aprilia menggelengkan kepalanya, seraya mengikat tali sepatunya.


"Aku pergi dulu."


Aprilia membawa kunci mobilnya, dan mengendarai salah satu mobil yang berderet rapi dalam garasi.


Santi, tunggu saja malam ini aku dan  Sadewa akan mendapat berita baru menyedihkan untukmu besok pagi.


Aprilia menginjak pedal gasnya dan melakukan perjalanan ke celebrity gym. Memakan waktu tiga puluh meni, akhirnya mobilnya terparkir rapi di halaman belakang gedung gym.


Aprilia merogoh ponsel dari saku tas pinggangnya. Mencari nama dalam daftar tersebut. Sadewa.


Siapa yang harus ku temui?


Pesan itu pun terkirim.


Aprilia mengangkat kakinya menginjak gedung gym. Dia berbincang kemudian untuk memdaftarkan dirinya sebagai anggota.


Beep! Pesan masuk beserta sebuah photo.


Dia masih sangat muda. Namun, dia adalah calon penerus Sinarmas. Namanya Damiano Davis.


Aprilia menyipitkan matanya. Nama yang tidak asing. Wajah yang tidak asing.


"Damian, kita bertemu lagi!" Aprilia meletakkan kembali ponselnya melangkah masuk ke dalam ruang gym. Tanpa menyadari seseorang mengambil gambarnya.


Cekrek!cekrek! Cekrek!


Suara kamera tersembunyi itu berhenti setelah banyak jepretan yang dia dapatkan.


Pria bertopi hitam itupun segera keluar dari gedung, dan memindahkan setiap photo ke dalam ponselnya, dan segera mengirimkannya pada salah kontak yang tertera dengan nama, Boss.


Pria itu pun mengirimkan pesan.

__ADS_1


Wanita yang boss cari telah ada di depan mata. Dia berjalan memasuki ruang gym.


Tampak seorang pria berbalutkan pakaian olahraga yang telah baru saja meletakkan barbelnya ke lantai. Merogoh ponsel dari saku tas lengannya, dan matanya berbinar setelah membaca pesan tersebut.


Mengedipkan matanya beberapa kali. Lalu, dia tampak menaikkan pupil matanya, bersiap beredar. Namun, sosok virtual itu kini sedang berjalan ke arahnya dengan kepala yang terlihat celingak-celinguk kebingungan.


"Dia!" Jack tidak berkedip. Menyipit tajam. Mengeker dengan tepat. Tahi lalat di atas bibir itu, tampak persis dengan sosok virtual dalam mimpinya. Bukan hanya itu setiap detail pahatan wajahnya tampak nyata.


Jack tersenyum bodoh. Menutup matanya. Seakan ingin keluar dari alam mimpinya pada sore hari. Membuka matanya kembali. Wanita itu hilang. Dia terkejut, dan segera beredar mencari sosok yang hilang.


"Tidak! Dia sosok nyata dalam mimpiku!" Jack berkeliling mencari sosok wanita itu dan raganya segera beredar ke setiap penjuru gedung Gym.


Hingga akhirnya langkahnya terhenti. Napasnya berhenti sesaat. Dia menemukan sosok yang telah di cari. Cukup dari punggungnya saja, dia mampu mengenali wanita virtualnya. Sepasang matanya merekam setiap detiknya sosok virtual yang nyata itu bergerak. Tangannya yang ramping terlihat mengibaskan rambut hitam yang indahnya ke belakang.


Tanpa sadar Jack berjalan mendekat akan sosok nyata yang dia rindukan. Namun, sosok pria lain tiba datang mengantarkan sebotol minuman.


Jack berhenti. Jejak langkahnya yang panjang, seakan terhapus oleh hempasan ombak yang datang menerpa pinggir pantai. Kini, kakinya terpaku. Seakan di paku dalam satu kotak ubin. Sepasang matanya menyala cemburu. Seorang pria mendekati sosok virtualnya.


Aprilia yang telah menerima botol minuman. Di saat itulah dirinya dan Damian meyadari ada sepasang mata yang terus menatap.


Aprilia menoleh bersamaan dengan Damian ke arah pria itu.


Aprilia membola. Deg-deg-deg!Jantungnya berdetak karuan. Setiap nadinya berdesir panas kemudian, dan bibirnya kaku meloloskan nama yang telah lama dia rindu, "Jack!"


Jack mengangkat satu alisnya, dan mendekat lebih dekat, "Kau mengenalku?"


Gagap. Aprilia gagap dan mendadak teringat akan kebodohan dirinya. Dia adalah Lea, gadis muda yang belum menikah. Bukanlah Aprilia, si janda yang pernah dia kenal.


"Kau mengenalku?"


Jack mengangkat tangannya ke udara, dan menyentuh pipi Aprilia.


"Aku mendengarnya dengan baik. Kau menyebut namaku, Lea."


Deg! Jantung Aprilia tertanam paku.


Bagaimana dia mengetahui namaku? Dengan sangat cepat! Orang kaya memang hebat.


"Maaf, aku tidak kenal om!" Aprilia menurunkan tangan Jack. Namun ,tangan pria itu tetap bertenger menyentuh setiap kulit berona merah itu.


Cantik sekali. Persis seperti di alam mimpiku.


Damian mengedipkan matanya. Seakan tidak menyukai akan agresifnya pria yang baru datang ini. Dia pun menggunakan cengkeramannya melingkar pada tangan Jack.


"Turunkan tanganmu, om!"


Jack mengalihkan pandangannya pada Damian. Jilatan api terlihat jelas pada kedua bola mata pria yang bertukar pandang.


"Om, usiamu jauh di atas Lea."


"Banyak wanita muda menyukai om. Pria mapan yang mampu mengongkosi dirinya. Bagaimana denganmu?"


Damian membunuh dengan senyumannya, "Aku tidak perlu bekerja keras, om! Segala sesuatu milikku itu bagai Jack Ma yang tidak perduli uang seratus juta di rampok seorang pencuri kecil."

__ADS_1


"Kau lahir sombong!"


"Om lahir buta!"


Jack panas. Membuka matanya lebar dan bug! Dia menampar wajah pria muda di hadapannya.


"Awww!" Aprilia histeris. Menutup wajahnya, dan segera turun berjongkok memeriksa Damian. Ujung bibir pria itu terlihat memar. Sedikit sobek.


"Dam, kau tidak apa-apa?"


Damian menggelengkan kepala tanpa menoleh. Berdiri kemudian, dan melemparkan tinju, bug!


Giliran Jack mendapatkan memar yang sama pada ujung bibirnya. Jack akan kembali meninju. Namun, Aprilia segera berdiri di tengahnya.


"Hentikan!"


Dua pria itu terlihat mematung. Diam. Hening.


Aprilia mengangkat pupilnya, beredar ke sekitarnya. Mengedar dan banyak tatapan mata yang tertuju untuk mereka.


Aprilia tersipu malu. Wajahnya merah merona, di rebutan oleh dua pria yang pernah dia harapkan dulu. Diapun berpura-pura bersikap marah.


"Kalian seperti anak kecil!" teriak Aprilia melintas akan pergi. Namun, tangan kiri di cekal oleh Jack. Tangan kanannya di cekal oleh Damian.


"Jangan pergi!" ujar Damian dan Jack bersamaan.


"Lepaskan!" teriak Aprilia.


"Tidak!" Jawab Jack dan Damian hampir bersamaan lagi.


Aprilia menghela napas. Menyipitkan matanya, dan segera mengayunkan tangannya dengan kencang. Namun, cengkraman dua pria itu tetap ketat dan tidak terlepas.


"Jika kalian tidak melepasnya. Aku akan membenci kalian!"


Sekejap pergelangan tangan Aprilia bebas cekikikan dari dua tangan besar pria itu.


Aprilia berjalan melambai pergi. Namun, suara Damian terdengar berseru, "Berikan nomor ponsel mu dulu sebelum pergi."


Aprilia tersenyum sarkas di balik punggung dingin yang di berikan untuk dua pria itu.


Dulu, aku yang meminta nomor ponselmu. Namun, kau memberikan nomor palsu. Sekarang, dunia terbalik. Kau harus memohon untuk sebuah nomor ponsel milikku. Aku tidak akan memberinya dengan mudah.


Aprilia menolehkan kepalanya dan menjawab, "Cari di google!"


Damian menyipit. Jack ikut menyipit. Hanya membiarkan punggung itu makin menjauh dan hilang.


Jack dan Damian tampak bertukar pandangan. Ada persaingan nyata di antara mereka. Jack mengacungkan telunjuknya ke udara, dan gerak bibirnya berkata, "Awas kau!"


Damian hanya mencibir. Menyeka darah di ujung bibirnya, dan dengan percaya diri berkata, "Lea akan memilih diriku. Bukan anda, Om!"


...꧁❤༆Pelet Janda Penggoda༆❤꧂...


...Aw, Surprise si babu jelek. Jadi rebutan! Tepuk tangan untuk Babu Jelek naik level setelah bedah plastik. Cantik mah rebutan....

__ADS_1


...Apalah daya Otor yang pas-pasan di bawah rata-rata standar wanita, hanya bisa iri dengan Aprilia, muka Barbie cantik dengan kelakuan Annabelle 🌹...


...Jangan lupa vote/gift ☕ setiap Senin 🌹...


__ADS_2