Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 173


__ADS_3

...Hantu tidak pernah bisa tidur setelah kematiannya. Dia hanya berkeliaran kesana kemari. Duduk termenung seperti orang bodoh. Mengamati setiap orang yang lalu lalang yang tidak pernah menyadari kehadirannya yang selalu di dekat mereka....


..._Tina_...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aprilia melipat kelopak matanya lebar ke atas. Pupil matanya terlihat membola besar. Hidungnya mengernyit tajam, kala dia mengendus seakan ada sesuatu yang terbakar. Dia segera bangun untuk terjaga. Sepasang matanya menyelisik ke kiri dan ke kanan.


"Tidak ada yang terbakar kan?"


"Tidak ada! Hanya bau asap pagi buta," sahut suara seorang wanita.


Aprilia menoleh ke asal suara yang berasal dari sudut kamar. Sosok halus itu duduk dengan sepasang kaki yang melipat saling tumpang tindih, wajah pucat dengan serangkaian kesedihan di dalam bola matanya.


Aprilia menatap jam dinding. Pukul lima pagi.


"Aku pikir hantu tidak pernah akan hadir di pukul lima pagi."


"Hantu tidak pernah bisa tidur setelah kematiannya. Dia hanya berkeliaran kesana kemari. Duduk termenung seperti orang bodoh. Mengamati setiap orang yang lalu lalang yang tidak pernah menyadari kehadirannya yang selalu di dekat mereka."


"Mengapa aku bisa melihatmu?"


"Karena, kau di ijinkan semesta untuk turut campur."


"Menyedihkan yang berkepanjangan berurusan dengan hantu-hantu penasaran."


Aprilia menghela napas. Hidungnya mengerti kembali. Bau terbakar terendus kembali.


"Aku mencium bau bakar-bakaran."


"Jangan perdulikan. Wanita itu tidak memiliki kemampuan membakar manusia. Yang mampu membakar adalah orang yang bersembunyi di belakang punggungnya."


"Siapa maksudmu?"


"Apakah kau perlu tau? Tidak perlu tau."


Aprilia menelan ludah, "Lalu, bagaimana denganmu?"


"Tentu saja. Menjemput suamiku. Aku ingin dia memenuhi janjinya. Menikah denganku."


Deg! Jantung Aprilia berhenti sesaat. Nelangsa. Kasihan. Dia menatap bibir pucat yang duduk di sudut.


"Apakah kau tidak kasihan padanya?"


"Jangan mengemis untuknya. Kau bahkan tidak tahu, apa yang telah dia perbuat padaku. Bukan hanya sekedar manis yang terlupakan. Cerita ini adalah siraman cuka pada daging yang tertoreh pisau dan ternganga lebar. Siraman cuka menyiramnya. Perih dan pedih luar biasa, aku rasa saat itu."


Aprilia turun melompatkan kakinya, mendekat pada sosok dingin beku yang terlihat kehilangan simpatiknya, dia menyentuh telapak dingin itu. Menggenggamnya dengan erat dan berkata, "Apa yang akan kau lakukan?"


"Apa kau perlu tau? Atau kau ingin mati pula. Jadi, budak dalam rumah tangga gaib. Sepertinya menarik."


Aprilia tersodok sesaat. Menggelengkan kepala.


"Aku masih ingin hidup sampai nenek-nenek!"


"Cita-cita boleh seperti itu. Takdir siapa yang bisa menebak."


Aprilia menghela napas. Tangan yang tergenggam olehnya, raib. Wujud yang duduk di kursi sudut tidak terlihat lagi.


"Aku ingin bertanya dengan Oppa? Apa yang sedang terjadi dia dan wanita itu?"


Aprilia melangkah keluar dari kamarnya. Namun, baru saja selangkah dari pintu. Pria yang akan dia jumpai, telah turun tangga. Menatapnya dengan sepasang mata sayu.  Keredupan ada di sana.


"Oppa?"


"...."


Pria itu menoleh. Menatap dengan seluruh atensinya beralih memuja pada sosok wanita yang berdiri berhadapan dengannya. Dia berjalan mendekat pada wanita yang agung dalam rumahnya. Langkahnya terlihat sempoyongan.


"Pagi seperti ini. Wajahmu begitu pucat. Ada apa Oppa?"


"Jangan khawatirkan itu. Aku tidak apa-apa. Aku akan pergi. berjalan-jalan keluar sebentar Menghirup udara pagi buta. Aku ingin menyaksikan matahari terbit. Seakan melihat secercah harapan kembali."

__ADS_1


"Iya." Aprilia hanya menganggukkan kepalanya. Lalu, dia hanya berpaling menatap punggung pria itu yang hilang di balik pintu kemudian. Walau, rasa aneh dan sesak terlihat bagai paku melayang mengikuti punggung pria itu.


Rasa khawatir mendera Aprilia dari pagi hingga menjelang malam. Dia menghela napas di hadapkan kembali pada sosok Nenek Mayang yang tiba hadir dengan kimono trendy dan dia tampak meletakkan secangkir kopi di atas meja miliknya.


"Kopi?"


"Teh saja."


Nenek Mayang menjetikkan jemari ke udara. Secangkir teh hijau tersaji dengan asap mengepul membubung ke udara.


"Terimakasih," ucap Aprilia. Mengangkat cangkir. Bersiap menyeruput teh. Namun, dia di kejutkan dengan hawa panas teh mendadak dingin. Lalu, warna hijau teh berubah menjadi merah hati. Bau amis tercium menusuk hidungnya. Seperti, bau amis ikan yang telah membusuk.


"Menjijikan," komentar Aprilia segera meletakkan cangkir kasar pada meja. Namun, sekejap warna air dalam cangkir teh berubah kembali menjadi hijau.


"Dengan teh kok jijik," singgung Nenek Mayang. Nada dalam suaranya, terdengar tidak senang.


"Tadi aku melihat airnya berubah seperti darah dan berbau amis seperti ikan telah busuk."


"Jika iya mengapa?"


"...."


"Eoma," rengek Aprilia setengah merengek.


"Jangan merengek! Kau itu sudah menipuku?"


"Menipu?"


"Kau telah membuang janin dalam perutmu kan?"


Aprilia terburu-buru menggelengkan kepala. Dia ingin mengelak. Namun, kuku tajam Nenek Mayang telah melingkar dari ceruk leher Aprilia.


"Kau tidak boleh menipuku!"


"...."


"Kau harus mempersembahkan anak dalam perutmu. Sudah jatuh tempo!"


Aprilia menghela napas.


Deg! Jantung Aprilia bagai dipecut kembali. Persembahan bagai tagihan yang telah berada pada tanggal jatuh tempo.


"Aku tidak berani melawanmu, Eoma."


"Kau menengguk jamu gugur lagi. Aku akan menghabisi nyawamu. Aku menginginkan anak itu tumbuh besar di dalam perutmu. Seharusnya yang kau telan adalah kuku Bima."


"Apa kau ingin aku mempersembahkannya?"


Nenek Mayang menggelengkan kepala. Dia menatap pada perut Aprilia. Lalu, mengelus perut itu. Tatapannya sedikit berubah.


"Entahlah. Hanya suasana hati yang mampu mengubah pikiranku kapan saja."


Nenek Mayang menjepit dagu Aprilia, "Bahkan terkadang dalam pikiranku melintas, ingin mencabik setiap daging milikmu, dan mengunyahnya."


Deg! Aprilia tidak mampu bernapas sesaat.Tidak bergeming. Nenek Mayang bagai teror yang ingin menelannya.


"Eoma, jangan menakutiku."


"Oleh itu. Jangan mencoba minum jamu gugur kembali."


Aprilia menggelengkan kepalanya.


"Kau harus hamil, Aprilia!"


"Aku tau."


Nenek Mayang menjilat kukunya. Dia menatap Aprilia dengan seksama. Lalu, jemarinya terlihat menghitung tanggal.


"Eoma." Tiba-tiba suara lembut datang menyapa. Dari sudut kamar tampak seorang wanita bergaun merah hadir dengan senyum cemerlang bibir pucat.


"Langit membara. Langit murka. Tanggal yang bagus untuk menitipkan titisanku dalam perut Aprilia."

__ADS_1


Aprilia berkedip.


Titisan dalam perut Aprilia.


Tina mengelus perutnya. Tiba-tiba tampak membuncit kemudian.


"Kebetulan anakku ingin bertemu ayahnya dalam wujud manusia. Bukankah itu hal yang baik, Eoma."


Nenek Mayang tampak menghitung tanggal dengan setiap jemarinya, "Peruntungan yang bagus. Namun, membawa kematian untuk dua orang sekaligus. Naas untuk orangtuanya."


Tina tersenyum, "Itu tujuanku. Bayi iblis adalah kesialan untuk orangtuanya."


Tina menatap sarkas pada Aprilia. Sepasang mata itu tampak nanar dan mengerikan.


Glek! Aprilia menelan ludahnya.


"Apakah kalian ingin aku mati pula?"


Nenek Mayang terlihat ambigu. Dia menatap Tina dan Aprilia bergantian.


"Saat ini, aku ingin menitipkan titisan dalam perut miliknya. Apakah itu lebih menarik dari persembahan?"


Nenek Mayang menyipitkan mata.


"Bukankah bayi iblis memiliki peruntungan lebih besar jika di lahirkan manusia. Hal yang baik untuk Eoma kelak."


"Bayi titisan dengan wujud daging dan darah yang dilahirkan akan menjadi abdi setia yang kuat."


Aprilia hanya membola mematung. Dalam sekejap, kini dirinya sendiri yang akan di tumbalkan.


Tok! Tok! Tok!


Tiga ketukan pintu datang. Sekejap, Nenek Mayang dan Tina mengarahkan pandangan ke arah pintu. Sedangkan, Aprilia masih tertegun dengan apa yang telah dia dengar.


"Aprilia." Suara bariton pria itu mengejutkan lamunan Aprilia. Aprilia menoleh menatap pada pria yang baru datang, dan memeluknya tiba-tiba. Tubuh pria itu terasa dingin membeku. Seakan dia telah lama menyatu dengan malam yang dingin.


Tina berkedip.  Dia berjalan bagai wujud angin yang tiba-tiba menyelusup masuk ke dalam raga Aprilia. Jiwa Aprilia bagai jatuh tertidur. Hanya jiwa Tina bangun terjaga mengisi.


Nenek Mayang tersenyum, seakan dia telah menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia hilang kemudian.


"Ada apa denganmu?" tanya Tina.


"Ssst! Aku tidak bisa tidur."


Sadewa menatap pada jam weker. Jam 11 malam.


"Kau ingin tidur bersamaku?"


Sadewa mengangguk-angguk dalam pelukan. Tina berkedip dengan seulas senyum merekah karena mampu memenuhi permintaan anaknya. Janin dalam perutnya ikut bersorak menyukai kehadiran Sadewa, ayahnya.


"Apakah seorang Sadewa hanya ingin tidur bersama?"


Sadewa melepaskan pelukannya. Ujung matanya terlihat mengerucut akan pertanyaan aneh itu.


"Aku mencintaimu. Tidak hanya ingin tidur bersamamu."


"Aku tau. Maksudku ..., apakah kau akan menyukai anak kita pula?"


Deg! Sadewa linglung sesaat. Seakan pertanyaan ini bagai deja vu yang menerkamnya dari masalalu. Pertanyaan Tina itu terngiang terdengar sama terlontar dari mulut Aprilia . Dia terkekeh konyol dan menjawab, "Tentu saja. Aku akan sangat menyukainya."


"Sadewa ingat janjimu. Namamu begitu mulia. Setara dengan penyebutan Mahaesa. Agung. Raja. Jangan pernah mengingkarinya kembali, jika aku telah mengandung anakmu kembali."


"Tentu."


"Apakah kau akan menikahiku?"


"Apakah kau ingin?"


"Ya. Aku tidak ingin hanya terlihat adik."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Mohon maaf jika cerita ini agak nggak nyambung sebagian. ini akan mulai aku perbaiki pelan. kadang sebagai author aku lupa alurnya karena kelamaan lupa ma jalan cerita, dan tidak pernah membuat kerangka cerita. jadi, aku akan coba baca-baca kembali. lalu, mengatur ceritanya kembali agar nyambung. He he he he


cerita ini aku usahakan tamat sebelum akhir tahun. karena, aku mau pindah melanjutkan karya horor yg lain.


__ADS_2