
Lalu, pandangan Aprilia tertuju pada sosok yang datang. Sosok dengan wajah sangat familiar. Pria yang menggunakan setelan double breasted hitam, yang terlihat masuk berjalan dengan langkah tegap. Dalam tangannya dia membawa bingkai cantik yang di sematkan foto seorang wanita cantik. Bingkai itu di peluk dalam dadanya. Raut kesedihan tampak jelas menghias seluruh wajahnya. Sepasang mata membola berkaca-kaca. Pria itu terlihat kehilangan setengah hidupnya.
Aprilia menatap lekat. Seakan tidak yakin akan sosok yang berduka itu. Aprilia mengucek-ngucek matanya. Namun, sosok pria botak dengan sejuta kesedihan itu, tidak berubah.
Apa dia pandai berakting? Aprilia menggelengkan kepala kemudian. Menepis kecurigaan akan kesedihan pria tersebut. Diapun merasa kesedihan itu nyata lahir dari penyesalan dan hati pria itu.
"Ternyata setelah istrinya meninggal, dia pun tetap menangis. Aku pikir dia akan tertawa. Terbahak seperti orang gila," sungut Aprilia dengan suara rendah.
Aprilia meninggalkan perusahaan. Namun, dia tidak langsung pulang ke rumah. Dia hanya ingin menenangkan dirinya. Dia pun mengirimkan pesan pada Ade, untuk menjaga puteranya.
Jaga Dimas yah, De. Aku tidak pulang cepat. Karena, aku mencari pekerjaan yang lain dulu yah, De.
Tidak menunggu lama, balasan pun datang.
Jangan pernah berharap mendapatkan pekerjaan dengan mudah yah. Kau harus memiliki sesuatu agar mendapatkannya dengan mudah.
Aprilia menghela napas. Sesuatu? Aprilia menggelengkan kepalanya kemudian, dia pun menepiskan pikirannya dan membuang jauh-jauh keinginan untuk mendapat kan dengan cara mudah.
Tuhan tidak tidur. Aku pasti akan mendapatkan pekerjaan dengan mudah atas restu sang pencipta semesta, ketik Aprilia.
Beep! Ponsel Aprilia berkedip lagi. Ade membalasnya dengan cepat.
Tuhan hanya mendengar orang benar! kan kau kan tidak!
Setelah membaca pesan Ade. Aprilia terlihat kosong. Dia menunduk menatap setiap jemari kakinya yang telah dia keluarkan dari sepatunya. Dia menyeka kesedihannya sebentar. Lalu, melempar ponselnya masuk ke dalam tasnya. Dia tidak ingin berlanjut membalas pesan Ade. Ada rasa iri menyelinap di dadanya. Ade dengan mudahnya mendapatkan pekerjaannya.
__ADS_1
Dasar Pak Aswin bodoh. Aku jelek tapi masih manusia asli. Nah, Ade cantik, sexy, menarik
Tetapi, kepalanya bisa lepas dari badannya. Karma di bayar instan, Pak Aswin.
Usai berkirim pesan dan mengomel dalam hatinya. Aprilia memilih berjalan kaki, seraya memasuki setiap toko yang menarik minatnya. Tentu saja, dia berharap gagal di satu berhasil, berhasil di tempat lain. Tidak henti-hentinya dia berdoa dalam hatinya. Harus mendapatkan pekerjaan.
Harus! Fighting to me! Yeah! Semangat Aprilia pada dirinya sendiri.
"Apa ada lowongan pekerjaan?" tanya Aprilia setiap pada toko yang dia duga akan butuh pegawai tambahan. Namun, semua toko yang dia masuki, tidak ada membutuhkan pegawai tambahan, bahkan ada yang langsung melambaikan tangan padanya memintanya pergi.
Aprilia menghela napas. Sepanjang jalan kiri kanan telah dia tempuh. Tetapi, mencari pekerjaan dengan secara acak begini, hanya mengantar kakinya makin lelah dan ingin patah rasanya. Dia berhenti di salah satu bangku taman. Mengistirahatkan kakinya seraya sepasang matanya menatap langit senja. Warna merah bercampur orange. Matahari tampak tak terlihat. Namun, sinar yang memancar itu adalah jejak-jejak matahari yang akan pergi berganti dengan bulan.
"Matahari saja memiliki waktu akan pergi berganti bulan. Mengapa kesusahanku tidak pernah berganti dengan kemakmuran? Sepanjang hidupku, miskin itu bagaikan satpam hidup dalam perjalanan."—Aprilia memejamkan mmatanya— "Rasanya lelah dan ingin mati saja. Andai bunuh diri bukan dosa, mungkin aku sudah mengiris setiap nadi tanganku."
Aprilia meluruskan kakinya. Seharian dia telah lelah berjalan mencari pekerjaan. Namun, tidak satu pun yang merasa kasihan atau mempercayakan pekerjaan untuknya. Dia menitikkan air matanya. Dia ingin bekerja, dia ingin menghasilkan uang dengan telapak tangannya sendiri. Namun, tidak pernah berjodoh.
Mengapa ujian dan cobaan ini menjadi derita yang panjang. Bagaimana cara mengakhirnya?
Aprilia mengadahkan sepasang matanya yang berembun penuh. Dia memandang takjub akan semesta. Kala matahari bergerak ke timur, warna biru bercampur putih di berikan. Kala, matahari terbenam di barat, maka merah dan orange perpaduan yang sangat indah.
"Kala aku memandang takjub segalanya. Sampai detik ini aku percaya kekuatan semesta itu ada. Tetapi, mengapa nasibku hanya bagai di takdirkan berada di bawah dengan punggung yang harus terinjak. Bahkan setiap orang seakan memiliki mulut namun meludahkan paku ke punggung orang lain." Aprilia menghela napasnya panjang. Hatinya begitu sakit, seakan terasa sesak dan selalu sulit bernapas.
Aprilia menyeka air matanya. Merogoh ponsel. Menguatkan dirinya. "Tidak boleh menyerah." Aprilia mulai melakukan penelusuran lowongan pekerjaan melalui media digital pada ponselnya. Dia terlihat sibuk dengan setiap jemari lincahnya memilah-milah pekerjaan yang sesuai kualifikasi pendidikannya.
Waktu yang mulai bergeser dengan matahari yang mulai perlahan hilang di barat. Menyisakan warna langit yang terlihat jingga kemerahan. Satu sosok wanita dengan tubuh yang terus membukuk, terlihat selalu berdiri di sisi Aprilia. Nenek Mayang, wanita tua dengan banyak garis keriput di wajahnya, dengan mata yang terlihat menyipit terus berdiri mengawasi dan terlihat berbicara pada Aprilia. Namun, Aprilia belum bisa mendengar bisikannya.
__ADS_1
"Aprilia, gunakan pelet. Agar rejeki bagus," bisik Nenek Mayang dengan mendekatkan bibirnya pada telinga Aprilia. Terlihat hampir menempel, dan suara serak nenek tua itu berembus masuk seperti tiupan angin masuk ke dalam gendang telinga Aprilia.
Aprilia bergindik seakan ada angin yang meniup-niup di daun telinga. Bulu roma Aprilia berdiri seketika. Dia menatap sekelilingnya. Kosong. Sepi. Hanya tersisa dirinya sendiri menikmati senja.
Aprilia bersikap acuh dan tidak acuh kemudian, menyingkirkan rasa bergindik. "Aku hanya kedinginan." Aprilia merangkul tubuhnya menggosoknya perlahan dan memberikan kehangatan pada dirinya sendiri. Setelah rasa bergindik itu pergi. Aprilia melanjutkan penelusuran tentang mencari informasi lowongan kerja.
Sementara itu Nenek Mayang menggunakan ujung telunjuknya dan mengubah pemberitahuan berita terkini dan popularnya. Tiba-tiba saja setiap jendela pencarian yang muncul sebagai berita populernya, yakni santet, pelet, guna-guna dan susuk.
Aprilia berhenti sejenak. Kala sepasang matanya tertuju pada satu tajuk gambar mengenai pelet lawan jenis. Rasa penasaran menggelitik dirinya. Dia menjadi sangat tertarik akan media tersebut. Pelet lawan jenis.
Pelet lawan jenis, jika gagal, uang kembali. Pelet bergaransi. Buktikan Keampuhan Pelet Mbah Diyang. Hubungi segera 0852****6666.
Hanya dengan 100 ribu. Pelet bergaransi milik anda.
Aprilia membelotkan lidahnya, "Uangku tersisa pun hanya 49 Rb." Aprilia menggelengkan kepalanya, "Hush ... jangan terpikat daya setan!"
......................
Bersambung ....
Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai dengan episode ini. Besar harapannya author sih, readers terus mengikuti dan membaca, dan jangan lupa berikan hadiah 🎁, Vote 🎫, Like 👍, dan Coment setelah membaca yah .
Besar dukungan kalian akan cerita ini yah. Jangan lupa tinggalkan jejak kesukaan kalian. Support
Salam Take & Give
__ADS_1