Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 138


__ADS_3

...Hormatilah orang yang lebih tua, supaya lanjut usiamu....


..._Eouny Jeje_...


...Apa yang terjadi, terjadilah...


...Yang dia tahu hanyalah menyambung nyawa....


..._Noah_...


***


Wo-oh, apa yang terjadi, terjadilah


Yang dia tahu Tuhan, penyayang umat-Nya


Wo-oh, apa yang terjadi, terjadilah


Yang dia tahu hanyalah menyambung nyawa


Uh-oh, ah-ah-uh


Segenap penonton Nona Harta serentak menyenandungkan setiap lirik yang sama. Hiruk pikuk dan tepuk tangan terdengar bersorak.


Aprilia dan Ade perlahan melangkah mundur dari kerumunan. Mereka berjalan melintasi median yang menghubungkan pada tenda-tenda biru jajanan gerobak.


"Kita makan gandos," ajak Aprilia.


Ade mengangkat satu alis, "Kau tidak takut gendut?"


Aprilia menolehkan kepalanya, mendelik sebentar, dan berkata dengan suara rendah, "Sebelum tidur aku akan menelan pil diet. Jadi, aku tidak perlu khawatir, tentang gendut, lemak, dan buncit."


Ade hanya mengangguk-angguk, dan mengikuti Aprilia duduk di bawah tenda cemilan gandos. Tidak lama, seorang pria tua datang menghampiri meja.


"Ingin varian gandos apa?" Sang pria tua itu berkata. Namun, sepasang mata membola terlihat menilai kaki mulus Aprilia.


"Susu keju, yah kek," sahut Aprilia.


"Coklat, yah mas!" timpal Ade.


Pria tua itu terlihat tersipu malu akan sebutan 'mas' pada ujung kalimat Ade yang terlontar. Dia tersenyum genit menggoda. Dia segera mencentang varian yang di pilih. Lalu, menuju wajan penggorengan. Pria tua keriput itu tersipu merah, dan dia terlihat membuka bibir dengan setiap kata tersembunyi tanpa suara kala tangan rentanya meletakkan gandos dalam jepitan tangannya.


Cuih! Pria renta itu mencipratkan air liurnya pada gandos, dan dia menoleh ke belakang. Memperhatikan Aprilia dan Ade.


Syukurlah, tidak melihat, apa yang aku perbuat!


Ade dan Aprilia terlihat berbincang dua arah, dengan suara rendah.


"Kenapa memanggil si kakek dengan mas? Kau tidak lihat ubannya jelas ada, dia terlihat jelas berumur dari dirimu. Kau tidak sopan!" gerutu Aprilia.


Ade hanya menguap, "Kau lupa usiaku. Dia lebih muda dariku. Hanya saja, dia lebih dulu keriput! Jadi, siapa yang pantas lebih di hormati?"


Aprilia mencebikan bibirnya dan menggelengkan kepalanya, "Kita berada di era, anak muda tidak menghormati orang yang lebih tua. Bahkan, walau mereka mengetahui dirimu berumur ratusan tahun. Anak muda tetap mengangkat kepalanya, dan berkata jika mereka adalah leluhurmu."

__ADS_1


Ade melipat tangan di dadanya. Menjulurkan lehernya panjang, sekedar mendekati wajah Aprilia, dia pun berbisik, "Jika aku bertemu anak muda seperti itu, aku akan menghanguskan satu garis keturunan miliknya hingga ketujuh. Karena, yang namanya tanggal kelahiran lebih dulu, tidak pernah bisa diubah, pantas dihormati."


Aprilia melambaikan tangannya, dan mendorong wajah Ade menjauh darinya,


"Aku tau kau adalah leluhur, yang pantas aku hormati. Aku ingin menyalakan dupa saat ini."


"Zaman sekarang adalah zaman yang tua menginginkan yang muda. Yang muda menginginkan yang tua. Kombinasi daun maple bertemu daun kedondong! Lucu kan? Tetapi, manis katanya," timpal Ade terkekeh kemudian.


"Lagi-lagi kau menyindir diriku! Kau sengaja!"


Ade akan berbicara menyahut Aprilia. Namun, aroma gandos yang tergoreng, dengan uap panas yang mengepul, mengalihkan perhatian dua wanita muda itu. Kakek pemilik kedai berjalan dan meletakkan piring dengan sajian gandos dua varian.


"Terimakasih kek," sahut Aprilia.


Kala, tangan Ade mengangkat gandos dengan tisue. Sepasang matanya menyipit tajam dan dia segera berpaling menatap sang kakek tua yang terlihat bergetar. Apalagi sepasang bola mata terlihat membidik dirinya, dengan tatapan menangkap basah dirinya.


"Jangan memakannya!" cegah Ade dan merampas gandos yang akan di jepit oleh bibir merah muda Aprilia.


"Ada pelet dalam gandos!"


Sang kakek terperanjat dan menggelengkan kepala, "Saya tidak ingin memelet siapapun!"


Ade mendengus, mengajak Aprilia berdiri bersama dirinya, dan dia mendekati gerobak, dan meletakkan uang dekat wajan.


"Dari mata-mu saja terlihat genit. Kau dan Aprilia itu berbeda 40 tahun. Apa kau ingin di sebut kakek pedofil?" umpat Ade menancapkan sepasang matanya meringkus pria tua yang terlihat gugup.


Siapa wanita ini?


Aprilia menghela napas panjang, dia merangkul lengan Ade, dan bersembunyi di belakang Ade, dan berkomentar, "Genit sekali! Tua dan miskin! Jauh sekali dari Oppa! Aku akan mengadu pada Oppa, bagaimana si kakek tua ini telah merendahkan aku? Kau akan mati lebih cepat, kek! Kau merendahkanku dengan tatapan mengerikan itu!"


"Tidak! Kau salah paham! Aku tidak pernah meletakkan guna-guna pada makanan pembeli," elak sang pemilik kedai yang bersikap tenang dan berusaha menatap nyalang pada sosok pembeli di depannya.


Ade mengangkat gandos yang jatuh di tanah, dan membaginya menjadi dua. Tidak lama, asap hitam keluar dari makanan yang terbuat dari tepung adonan dengan santan kelapa itu.


"Jika orang biasa. Tidak akan mengetahui ilmu hitam yang kau miliki. Namun, kau bertemu dengan pengunjung kedai yang salah. Yang mampu melihat kebusukanmu! Ilmu pelet ataupun magic milikmu, tidak akan berguna di hadapanku! Kau hanyalah ikan teri berhadapan dengan ikan paus!"


"Kau mencoba memeletku! Mimpi saja kek!" gerutu Aprilia segera menyeret keluar Ade bersamanya.


"Kakek genit! kurang ajar! Bau tanah! Bukannya bergerak ibadah! Malah mau tambah isteri!" gerutu Aprilia seraya keluar dari kedai. Amarahnya menggunung mengingat tatapan mesra pria tua itu. Ingin rasanya, dia segera mengadu akan Sadewa, dan meletakkan kakek tua itu pada kawah larva.


"Terbang ke neraka, sebentar lagi. Kakek tua beserta generasimu!" ketus Aprilia.


Aprilia segera melangkahkan kakinya sepanjang mungkin, untuk mencapai mobilnya. Dia ingin segera bersembunyi dalam tempurung saat ini. Pelet? mendadak dia ingat akan sosok dirinya yang juga meludah untuk mendapatkan hati Sadewa. Jijik dia mendadak jijik akan kue gandos itu.


"Pasti kakek tua itu meludah pada gandos! Aku ingin muntah segera!" gerutu Aprilia.


Klek!


Aprilia membuka pintu mobilnya, dan tubuhnya masih bergetar, mengingat hampir saja dia memakan kue gandos, jajanan tradisional Jawa tengah itu.


"Untung kau menyelamatkanku! Aku tidak bisa membayangkan bagaimana aku bisa menjadi istri siri! Keperawananku direnggut pria bau tanah!" gerutu Aprilia dan meremas tangan Ade, dan menundukkan tubuhnya, masuk ke dalam mobilnya, dan di balik kemudi, dia  segera menenangkan dirinya. Lalu, dia merogoh ponselnya dari saku tasnya. Menghubungi satu nama dalam daftar panggilan cepat. Oppa.


"Ya, ada apa?" tanya Sadewa di seberang sana. Dia terlihat berhadapan dengan seorang wanita cantik yang terlihat menyilangkan kakinya. Warna sepatu wanita itu terlihat merah menyala, senada dengan  warna polesan bibirnya yang tipis. Raut wajah wanita itu terlihat tidak muda lagi. Namun, bekas kecantikan dahulu kala bagai pena yang masih menyisakan tinta indahnya. Sepasang mata wanita itu teduh, seakan menatap senja yang datang di hadapannya.

__ADS_1


"Oppa, kakek tua menggangguku. Dia menggodaku!"


"Siapa yang berani menggoda wanitaku? Tidak perduli tua, muda, sakit, sehat, aku akan membuat bibir mereka mencium ujung sepatuku!"


"Gerobak jajanan Semarang Oppa!"


"Apa itu?" Sadewa terlihat penasaran. Namun, panggilan terputus di seberang sana. Sadewa masih  menggengam ponselnya yang masih terletak di sisi daun telinganya. Sementara tangan lainnya menerima sebuah boneka Teddy Bear dari wanita cantik yang berhadapan seberang meja dengannya. Sadewa membuka laci, dan mengambil mawar merah dari laci kerjanya. Menyerahkan kepada wanita itu.


Wanita itu tersenyum dengan sepasang kelopak mata yang berkedip bagai Barbie. Seakan mengerti jika pria di hadapannya sedang berbicara hal yang manis pada wanita kesayangan. Dia pun menulis dengan malu-malu di atas secarik kertas sebagai dialognya.


Dewa, aku sangat merindukanmu! Kau mengabaikanku, bagai kemarau yang merindu awan meneteskan hujan. Tina.


Sadewa tidak bergeming sesaat. Namun, kerinduan itu hanya milik Tina. Bukan rindu yang pernah singgah lagi.


"Tina, lama tidak bertemu!" Senyum Sadewa bagai magnet yang menarik seluruh atensi wanita di hadapannya. Wanita itu tersenyum seindah mungkin. Melengkung sempurna. Memberikan sisa-sisa senyum terbaik di usia mudanya dulu.


Sadewa menghela napas panjang. Rindu itu telah menguap lama. Sadewa menyentuh dadanya. Tidak ada jantung yang bergetar lagi. Mendegupkan seluruh indera, hanya meneliti padanya.


Tina mengangkat satu tangannya, dan akan menyentuh punggung hebat tangan pria tirani itu. Namun, pria bagai matahari itu menarik mundur tangannya, dan hanya mengelus lembut boneka Teddy bear itu.


"Kau mengembalikan apa yang seharusnya? Boneka kenangan lama, yang terlihat masih bagus dalam lawatan tanganmu."


Tina tertawa, "Aku merawat boneka ini seperti merawat seorang anak."


"Aku tidak mampu berkata-kata. Kau membuatku mengenang kisah lama."


"Yah, aku terlambat menyadarinya dua puluh tahun yang lalu. Aku hanya ingin berkata sebelum senja itu menjemputku."


Sadewa mematung. Seakan sebuah album lama di jatuhkan di atas kepalanya. Satu demi satu foto hitam putih menghiasnya. Ada tangis. Ada tawa.


Sadewa mengangkat boneka dalam genggaman, ada bantal berbentuk hati yang bertuliskan 'i love you' yang tersemat pada boneka Teddy Bear.


"Kau ingin berkata, jika kau mencintaiku pula," tebak Sadewa terdengar mengeluh sekaligus ingin membunuh.


Saat itu aku sudah mati! Dengan tanpa bersalah, kau datang berkata mencintaiku!


Tina menyipitkan matanya, ada seonggok batu seakan di dorong masuk ke dalam tenggorokannya. Tak mampu berkata. Malu sekali, di panahkan akan kalimat itu. Jelas arahnya adalah membunuh jantung hingga membekukan darah dalam setiap nadinya. Apakah dia harus mengakuinya? Dia telah kehilangan pria yang pernah mencintainya dengan tulus.


"Namun, aku sudah tidak mencintaimu lagi," tikam Sadewa nelangsa, dan menjatuhkan boneka ke dalam tong sampah.


"Di saat kau memilih kembali pada dia. Aku telah terbunuh saat itu. Untuk bangkit, aku harus menerobos setiap dinding tanah yang serasa melemparku ke dalam lubang jurang. Aku telah keluar dari lubang kubur saat itu, dan meninggalkan rasa tentangmu di bawah sana."


Tina menghela napas. Dia tersenyum ironis. Seakan mengerti akan nilai pilihannya saat itu. Setiap sudut matanya terlihat bulir bening bersiap jatuh. Namun,segera dia seka perlahan. Seakan malu mengantar tangisnya pada pria yang layak matahari terbit di barat, jika akan merangkulnya seperti dulu. Saat ini, pria itu hanyalah senja. Matahari yang terbenam. Rasa cinta itu telah tenggelam selamanya.


"A-aku han-ya ingin berkata maaf."


"Aku terima maafmu. Pergilah!" Sadewa mengangkat telunjuknya menunjuk pintu yang terbuka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Penampakan Kue Gandos Pelet by. Tua" Keladi! Ulalalalalalala 🦁...


...Mirip Kue Pukis....

__ADS_1



__ADS_2