
...Setiap orang pernah mendapatkan cerita yang sama. Namun, akhir cerita di tentukan oleh sepatu pikiran....
...—Eouny Jeje—...
..."Perjanjian di antara kita adalah seperti sebuah pernikahan. Kau hanya mampu setia pada satu Tuan, baik dalam keadaan sehat ataupun sakit kelak. Karena kau tidak memiliki segalanya,dan aku memiliki apa yang kau butuhkan. Aku hanya ingin kesetian sampai akhir hayat."...
...—Nenek Mayang—...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Cahaya bulan menerobos masuk ke dalam kamar. Berkas-berkas kuningnya menerpa wajah Aprilia yang terlihat putih seperti kertas. Bibirnya pun ikut kehilangan warna merahnya. Perlahan sepasang mata yang terkatup erat itu terlihat bergetar. Terbuka perlahan dengan bibir yang terlihat menggigil. Haus. Dia merasa kehausan.
Aprilia menajamkan matanya menembus kegelapan. Perlahan tangan kecilnya meraba dinding, dan dia menyeret tubuh untuk merapat pada dinding. Setelah diam sejenak dengan tenggorokan yang terasa kering kerontang, dia bangkit perlahan dengan tangan yang meraba dinding, dan sepasang kaki yang maju perlahan, menuju meja sudut.
Setelah di depan meja, Aprilia duduk dengan lutut yang bertumpu pada lantai dingin, dia memiringkan tubuhnya dan menengadahkan mulutnya tepat pada keran air dispenser. Tidak, lama tuas keran dispenser di tekan, dan air jatuh perlahan ke dalam rongga mulutnya. Stelah dahaga terpuaskan. Aprilia duduk menyeka mulutnya, menghapus jejak air.
Baru saja Aprilia berdiri,satu tangan renta tua menyentuh bahunya. Rasa dingin itu menjalar hingga ke tulang.
"Aprilia!"
"Nenek Mayang." Aprilia mengenal suara itu. Dengan ujung matanya dia melihat Nenek Mayang telah berdiri di sisinya. Wajah keriput dan putih pucat itu terlihat tersenyum padanya.
"Bagaimana dengan tawaranku?"
Aprilia menunduk ragu. Apa yang ingin dia minta dari wanita tua ini?
"Kau masih ingin berjuang dengan segala sesuatu yang tidak akan memberimu hidup layak. Aku temanmu, aku akan memberikan kehidupan yang layak."
Deg! Aprilia mendongakkan kepalanya, dia meringis bodoh seketika, bantuan tidak akan pernah gratis, "Apa yang harus aku berikan padamu?"
Nenek Mayang tersenyum dengan sepasang mata menatap sekilas pada sosok kecil yang berenang-renang di dalam perut Aprilia.
"Upah itu tergantung kepuasan seorang teman. Bukankah di saat kau menerima terbaik kau pun harus memberikan yang terbaik padaku."
Aprilia merangkum tangannya, melipatnya sebentar,dan sepasang matanya menatap dirinya sendiri dari ujung kakinya.
"Aku miskin! Tidak ada yang bisa kuberikan untukmu."
"Hamba kegelapan seperti diriku tidak perlu uang. Karena aku bisa memberikan gunung mas untukmu."
Aprilia meraba wajahnya lagi.
"Aku tidak cantik. Tidak akan berguna untukmu."
__ADS_1
"Hamba kegelapan tidak memerlukan kecantikan. Karena, aku bisa membuatmu secantik bidadari yang jatuh dari surga."
Aprilia tercekat. Tawaran di depan matanya, sangat menggiurkan. Gunung mas dan bidadari yang jatuh dari surga.
"Lalu apa yang kau inginkan dariku?"
Nenek Mayang meletakkan telunjuknya pada dada kiri Aprilia, "Aku ingin kau hidup setia padaku."
"Hanya itu?"
Nenek Mayang menganggukan kepala, "Berjanjilah kau padaku. Akan setia sampai maut memisahkan kita!"
Aprilia terkekeh. Dia merasa konyol, "Nenek Mayang kau terdengar seperti mengajakku menikah."
"Betul." Nenek Mayang menganggukan kepala.
"Setia itu tidak sulit," jawab Aprilia.
Nenek Mayang terkekeh sebentar, dia menyeka kening Aprilia yang jejak darah itu telah mengering. Dengan ujung kukunya dia mengupas darah kering itu, dan darah kering itu di jatuhkannya ke dalam mulutnya.
Aprilia mengerutkan keningnya. Dia terlihat jijik bercampur takut.
"Jangan takut. Aku hanya ingin mencicipi bagaimana rasa manisnya darahmu."
"Nek! ini." Aprilia mundur selangkah.
Aprilia mulai berusaha menenangkan dirinya.
"Perjanjian di antara kita adalah seperti sebuah pernikahan. Kau hanya mampu setia pada satu Tuan, baik dalam keadaan sehat ataupun sakit kelak. Karena kau tidak memiliki segalanya,dan aku memiliki apa yang kau butuhkan. Aku hanya ingin kesetian sampai akhir hayat."
Deg! Aprilia menatap sosok tua yang terlihat tulus mengulurkan tangannya dan tersenyum ramah padanya.
"Apakah semudah itu? hanya patuh setia padamu."
"Kau harus memberikan hatimu padaku,Aprilia. Dengan begitu, kau hanya akan setia padaku."
Aprilia menganggukan kepalanya, "Aku akan setia padamu."
Nenek Mayang terkekeh dan membelakangi sosok Aprilia, dia tersenyum akan rencananya yang telah berhasil satu langkah. Dengan kesetiaan yang membodohimu, kau bahkan akan rela memberikan makanan daging yang lembut dan darah muda yang manis. Satu tumbal pertama akan kudapatkan segera.
"Nek, apa yang harus ku lakukan sekarang?"
Nenek Mayang memutar tubuhnya, dia tersenyum dan memeluk Aprilia sebentar, "Yang harus lakukan hanya berkata apa yang kau inginkan sekarang?"
__ADS_1
Aprilia menghela napasnya. Tiba-tiba rasa nyit di keningnya menerjangnya sebentar. Lantas, dia teringat akan sosok yang membuat dirinya terluka.
"Aku ingin merebut suaminya dan hartanya Sadewa, dari Santi."
"Permintaan di kabulkan."
Kemudian, telapak tangan Nenek Mayang terbuka di hadapan Aprilia. Ada satu jarum emas berada di atas telapak tangan Nenek Mayang.
"Gunakan susuk ini untuk memikat Sadewa."
"Eng itu? aku tidak mengerti."
"Aku akan memberikan susuk ini pada organ pemuas hubungan semalam kalian. Dengan susuk ini, miliknya tidak akan pernah mampu bangun lagi. Kecuali, hanya dengan dirimu."
Wajah Aprilia memerah sekaligus merasa tabu berbicara hal tersebut.
"Tetapi bagaimana jika dia menolak berhubungan intim denganku lagi?"
Nenek Mayang mengangkat telunjuknya dan menempelkan pada jidat Aprilia, "Gunakan otakmu! Jangan terus menjadi bodoh. Aku akan mengikatnya secara gaib,dan kau harus mampu mengikatnya dengan akal."
"Tetapi ..., tetap saja aku bingung bagaimana menggodanya. Bagaimana dengan wajahku? Apa kau akan memberikan susuk pada wajahku."
Nenek Mayang mengerutkan alisnya. Sepasang matanya terlihat bersinar tidak suka, "Dalam satu bulan purmama kau hanya bisa memiliki satu permohonan satu benda satu manfaat. Pria menyukai hubungan intim. Walau wajah jelek. Namun, sangat memikat di atas ranjang. Tetap saja kau akan terus di tidurinya berkali-kali."
"A-aku." Aprilia menunduk malu,dan sedikit menggigit bibirnya, "Seterah Nenek Mayang. Aku mengikuti saja."
Nenek Mayang tersenyum tipis, mengangkat jarum ke udara dan membacakan mantera. Selesai membaca mantera, dia pun mengangkat pandangannya pada Aprilia, "Ketika aku memasukannya benda ini. Kau harus menahan sakit selama satu minggu. Karena pelet ini sangat ampuh. Setiap pria yang berhubungan badan denganmu, tidak akan pernah mampu bangun lagi terhadap wanita lain."
"Sakit? Selama seminggu." Aprilia menjadi sangat ragu, dan makin takut akan efek jarum susuk tersebut.
"Ada harga yang kau tebus untuk manfaat yang bagus."
"Sakit bagaimana itu?"
"Dalam seminggu, kau akan seperti orang haid. Terus mengeluarkan darah dan harus menahan sakit perih bagai paku tertanam dalam daging. Hanya dalam satu Minggu. Setelah itu darah akan berhenti total, dan manfaat susuk bisa kau rasakan. Bagaiman milikmu bisa mengikat semua pria."
"Apakah itu perih dalam seminggu?"
"Kau harus mampu menahannya!"
Seakan tidak ada jalan keluar dan tawaran yang menjanjikan hidup yang layak. Aprilia pun menerima tawaran itu. Susuk pertama pada area genital miliknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai dengan episode ini. Besar harapannya author sih, readers terus mengikuti dan membaca, dan jangan lupa berikan hadiah 🎁, Vote 🎫, Like 👍, dan Coment setelah membaca yah .
Besar dukungan kalian sangat di harapkan Lo