
...Rasa dalam persembunyian. Menangis untuk sakitnya. Tersenyum untuk bahagianya. Namun, dia tidak mengenalmu....
...—Eouny Jeje—...
...Gunakan telingamu untuk mendengar. Karena, aku tidak pernah suka berkata untuk dua kali!...
...—Nenek Mayang—...
...꧁❤•༆PJP 78༆•❤꧂...
Aprilia mengangkat tubuhnya dan kembali merebahkan diri. Baru saja dia memejamkan mata, dia seakan melihat siluet seseorang duduk menatapnya dengan tajam.
Aprilia membuka matanya. Dia di kejutkan dengan sosok transparan yang tidak asing di matanya. Ratih terlihat jijik dan marah padanya. Wanita itu duduk menyilangkan kakinya menunjukan keangkuhan seperti masa dia hidup sebelumnya. Wanita tua itu mengangkat telunjuk yang dia arahkan pada Aprilia,seakan dia ingin membakar Aprilia dalam kebenciannya.
Nyonya Ratih, kenapa melihatku seperti itu?
Aprilia segera melompat dari tempat tidur. Dia ketakutan, dan Ratih menatap sinis padanya. Tatapan itu seperti ingin mencabik dan menelannya segera.
"Kau membuatku mengakhiri hidupku lebih awal!" gumam Ratih.
Aprilia menggelengkan kepala.
Tidak! Itu bukan aku. Itu Sadewa menantumu! teriak Aprilia hanya mampu dalam hatinya.
"Kau licik seperti ular dengan wujud merpati. Kau ganas seperti singa dengan wujud kelinci. Janda seperti dirimu itu mengerikan."
Aprilia beringsut takut. Dia berjalan mundur. Namun, langkah Ratih yang tidak menyentuh lantai itu terlihat mendekatnya. Menyudutkannya. Wajah wanita tua itu seputih kertas itu terlihat sangat menyeramkan,dengan dua pupil yang melotot tajam membawa murka di dalam sorot matanya.
Ampun. Aku minta ampun, jerit Aprilia tidak mampu berkata karena kehilangan lidahnya. Tiba-tiba saja dia ingin mengutuk dirinya yang tidak mampu berbicara. Dengan begini, dia tidak bisa meminta maaf pada Ratih yang terlihat sangat membencinya.
"Kau janda kurang ajar. Mengambil suami puteriku. Tidur bersama di masa ajalku. Lalu, kau berleha-leha di atas tempat tidurku."
Cih!
__ADS_1
Ratih terlihat meludah asap dari mulutnya, teringat akan sosok bayi berkepala botak yang telah mengikuti Aprilia.
"Berani sekali kau mengadopsi Moon, puteraku. Dia adalah bayiku. Yang akan di teruskan oleh Santi. Kau ingin menjadi kaya tanpa usaha!"
Aprilia menjatuhkan lututnya ke lantai. Membenturkan kepalannya memohon kasihan dan ampun. Aprilia kehilangan setiap katanya. Dia hanya bisa menggunakan ekspresi ketakutan dan merasa sangat bersalah terhadap sosok orang mati di hadapannya yang terlihat datang menghantuinya.
Maaf, Nyonya Ratih. Aku tidak bermaksud adopsi Moon. Jika kau ingin Santi menjadi ibu susu. Aku dengan senang hati memberikanya. Lagipula secara lahir dan batin, belum siap untuk menyusui bayi Moon, utara Aprilia dalam hatinya dengan seribu ekspresi sedih.Takut. Ingin gila.
"Aku akan menghantuimu setiap hari. Menemuimu setiap hari. Agar ajalmu dekat dengan kematian karena ketakutan setiap saat!" ancam Ratih membungkukkan badan dan mengeluarkan dua biji mata melompat ke arah Aprilia yang sedang bersimpuh dengan dua tangan terkatup menempel meminta ampun padanya.
Ya Tuhan, Nyonya Ratih setelah menjadi hantu lebih seram daripada masa hidupnya. Seharusnya, kau tidak mati saja, rengek Aprilia dan kembali melihat bola mata itu bergerak seperti bola pingpong yang melompat-lompat di lantai.
Hap! Tiba-tiba sebuah tangan datang menangkap kedua biji mata Ratih. Meremasnya dan mencengkram kuat hingga urat setiap mata itu terlihat kaku tegang dan sang pemilik kesakitan.
"Kau terlalu buru-buru menakuti anak gadisku, wanita tua!"
Aprilia menoleh ke asal suara. Dia menemukan Nenek Mayang telah meremas dua biji bola Mata Ratih.
Aprilia segera merangkak ke sisi Nenek Mayang,dan bersembunyi di belakang punggung.
"Lepaskan mataku!" jerit Ratih merasa sangat sakit.
"Kau hidup dengan ilmu serapan pesugihan. Sudah saatnya kematian yang kau terima akan membawa ruh mu kembali kepada dukun yang memberikan ilmu serapan padamu. Jangan kembali ke rumah ini lagi. Jika kau tidak ingin binasa."
"Ini rumahku! Janda penggoda itu hanya sampah yang harus di buang!" Telunjuk Ratih menunjuk Aprilia dan setiap jemarinya terpotong-potong,ingin menakuti Aprilia kembali.
"Kau ingin menakuti anak gadisku. Dia tidak akan pernah mati karena ketakutan pada hantu kecil sepertimu!" Nenek Mayang melesat cepat, dan berdiri di hadapan Ratih. Sepasang tangannya runcing mencengkram leher Ratih. Kuku panjang hitam itu masuk ke dalam telinga kiri dan menembus tajam ke telinga kanan Ratih.
"Gunakan telingamu untuk mendengar. Karena, aku tidak pernah suka berkata untuk dua kali!"
Jleb!Nenek Mayang menarik kukunya. Ratih terlihat meringis kesakitan. Wujud hantunya makin terlihat transparan dan perlahan membentuk bola asap hitam yang kemudian tertelan oleh Nenek Mayang.
Aprilia takjub akan kesaktian yang di pertontonkan Nenek Mayang secara langsung. Tidak lebih dari sepuluh detik. Ratih binasa dengan cepat. Nenek Mayang terlihat sangat berbeda dengan Ade. Dia sadis dan tidak memiliki sedikit rasa kasihan pun. Untuk pertama kalinya,Aprilia menyadari jika dirinya dalam bahaya telah bersekutu dengan Nenek Mayang.
__ADS_1
"Aprilia!" Nenek Mayang berbalik dengan wajah yang menyunggingkan senyum lebar seperti bulan sabit. Jika di lihat sekilas Nenek Mayang hanya terlihat seperti wanita renta, tidak berdaya, dan sikapnya sangat ramah.
"Mendekatkan padaku!"
Ya nek, sahut Aprilia dalam hatinya dan segera merangkak mendekat dengan bola matanya mengedar acak mencari sosok hantu Ratih. Tidak ada di temukan. Ratih sungguh raib dan hilang begitu saja.
"Hantu wanita itu tidak akan pernah datang mengganggumu lagi," ujar Nenek Mayang seakan mengetahui kekhawatiran Aprilia.
Glek! Aprilia menelan ludahnya. Untuk pertama kalinya dia menyadari jika dia telah terjun ke sungai dosa yang dalam. Dia hanya mampu berenang mengikuti arus yang telah di bawa Nenek Mayang, Ade dan Moon padanya.
Sudah terlanjur basah. Aku hanya bisa berenang mengikuti arus yang akan membawaku. Jauh dari Tuhan. Dekat pada Iblis.
Aprilia menitikkan air matanya, dan segera menyeka dengan cepat. Tidak ada yang perlu di sesal dan di tangisi kembali lagi.
"Aprilia jangan lupa setiap serapan ajian baru yang kau dapatkan. Kau tidak boleh bersetubuh pada malam Jum'at. Lalu, jangan lupa menyusui Moon."
Aprilia mengigit bibirnya. Dia teringat akan sosok kepala botak yang memanggilnya ibu itu.
Sudah repot oleh Sadewa. Kini, aku harus repot menyusui bayi tuyul itu, bayi Moon kau menyusui dengan Santi saja, keluh Aprilia jijik membayangkan bagaimana sosok kecil itu akan bergelantungan di dadanya dan menghisap gunung kembar miliknya. Jijik. Aprilia merasa jijik segera.
"Jangan mengenakan wajah jijik seperti itu. Nenek Mayang ini akan mendukung anak gadisnya, menjadi wanita ningrat, terkaya, dan nomor satu."
Tetapi mengapa harus menyusui Moon! Duh, nek! Itu pasti sangat menggelikan menyusui Moon, dia tuyul bukan bayi imut ataupun pria tampan, ringis Aprilia tidak berani mengangkat wajahnya kembali. Dia takut Nenek Mayang menangkap ekspresi wajah jijiknya kembali pada Moon kecil yang terlihat memiliki wajah dewasa,dengan tubuh kerdil itu.
"Syarat persugihan memang harus memelihara tuyul. Lagipula Moon tidak akan sering mengganggu. Karena, minyak kuyang pun tidak akan bisa mengalahkan persugihan yang di lipat gandakan oleh Moon. Karena, sifat persugihan minyak Kuyang, si Ade itu hanya seperti mengubah daun menjadi uang. Besok pagi kembali menjadi daun! Seperti sihir yang dia buat waktu itu, memiliki waktu habis. Bikin repot saja akhirnya," beber Nenek Mayang, yang kemudian mengangkat tubuh Aprilia untuk berdiri berhadapan dengannya. Tangan renta itu mengelus lembut rambut Aprilia.
"Percayalah Nenek Mayang ini akan menjadi ibu yang baik untukmu. Asal kan kau patuh dengan ibu."
Aprilia menahan napasnya. Dia telah terjebak dalam kehidupan horor yang tidak pernah dia duga akan seperti ini. Bersahabat dengan Kuyang. Menjadi anak gadis seorang Mak lampir. Lalu, menjadi ibu untuk Moon.
Aku tidak bisa menarik diri lagi. Aku hanya bisa terus berenang, dan jangan tenggelam.
...꧁❤•༆PJP 78༆•❤꧂...
__ADS_1