
...Tentu saja. Aku sangat tau kelemahanmu. Tidak akan pernah memberikan pelajaran kalkulus untuk wanita yang selalu gagal memahami aljabar....
..._Sadewa_...
...Satu tambah satu tetap satu. Itu arti cinta. Menjadi satu tidak akan pernah mendua....
..._Eouny Jeje_...
...****************...
Matahari merangkak naik. Cerah dengan warna putih terang yang mendominasi penuh cakrawala. Cahaya matahari masuk menerobos setiap celah ventilasi membentuk jejar genjang berbayang terpantul pada dinding yang berseberangan.
Sepasang mata dengan bulu mata lentik tampak bergerak-gerak perlahan. Lalu, membola ketika kejutan tangan yang melingkar erat pada pinggangnya. Terdengar suara napas datar berada tepat pada ceruk leher wanita itu.
Apa yang terjadi? Aprilia menyipit tidak senang. Seakan dia telah melewati mimpi buruk. Dia segera menurunkan lengan pria itu. Lalu, perlahan setiap informasi datang, dan dia menyadari satu malam yang telah berlalu. Tidak ingat. Dia tidak mampu mengingat satu cuplikan adegan ranjangpun. Dia menahan napas dalam. Sepasang mata jernihnya membingkai setiap potongan pakaiannya yang telah tanggal di lantai.
"Aku dan Oppa?" Aprilia mengerutkan kening. Dia tak mampu mengingat satu adegan pun. Dia hanya mengingat, pertemuannya dengan Nenek Mayang dan hantu merah itu. Dia menghembuskan napas berat. Seakan jantungnya terlihat enggan berdetak. Mulai menduga-duga. Semalam pastilah dia telah dirasuki lagi. Oleh itu, dia telah lupa akan segala hal yang telah terjadi di atas ranjang.
Tap!
Aprilia menlonjorkan kakinya turun. Lalu, menapak kuat pada lantai. Dia memungut setiap potongan pakaian miliknya. Mendekapnya ke dada. Lalu, segera berlari ke kamar mandi. Membersihkan dirinya. Seakan dia melunturkan seluruh bekas-bekas percintaan bagai daki-daki yang harus di rontokkan segera. Daki-daki peluh keringat yang terasa begitu lengket.
Berada di bawah pancuran air hangat yang jatuh terjun menyiram rambut, tubuhnya hingga ujung telapak kakinya. Busa sabun tampak perlahan luruh jatuh ke lantai. Dalam hitungan menit, dia tetap berdiam di bawah shower, membiarkan dirinya di bilas sekali lagi. Setelah itu, barulah dia meninggalkan kamar mandi dengan balutan handuk kimono miliknya. Lalu, duduk di meja rias. Hanya untuk mematung. Tidak untuk menganggumi dirinya. Melainkan,untuk menangis dirinya sendiri dalam heningnya ketakutan akan pesan kematian yang akan menerkamnya.
Memiliki anak dan mati! Peringat itu terdengar sangat menyedihkan. Aprilia mendadak geram. Seakan iblis Mayang dan hantu merah sedang meletakan belati pada lehernya, mengiris setiap lapisan kulit, hingga menggorok tulang. Saat ini dia hanya menemukan teror dalam semesta pikirannya, setiap kata dua mahluk dari dunia lain itu bagai catatan suara teror kematian. Bunyi jam dinding saat ini, terdengar sangat menakutkan. Bagai menunggu jam pasir menjatuhkan seluruh pasir pada lantai dasar botol kaca tersebut, membuat jantung bekerja keras memompa, dup-dup-dup.
Aprilia geram. Tangannya mengepal kuat dan ketat.
Bahkan aku belum menerima kebahagiaan seperti yang aku inginkan! kutuk Aprilia dalam hatinya penuh penyesalan.
Aprilia menarik laci. Mengambil cream pagi wajahnya.
"Semoga wajahku tidak alergi dengan kosmetik maklon Oppa. Jesse beauty cream. Selamat tinggal wajah hitam!" Aprilia menghela napas panjang, dan segera memoles cream pagi pada wajahnya.
"Begitu pagi, kau telah mandi."
__ADS_1
Suara bariton pria itu mengejutkan. Aprilia mendongakkan kepalanya tegak, menatap cermin, hanya untuk menyadari bahwa pria yang telah melewati satu malam bersamanya, telah terjaga kembali . Tampak pantulan pria itu telah duduk dengan segaris senyum yang mengembang.
Aprilia menarik garis bibirnya. Seakan membalas senyuman melewati pantulan cermin. Senyuman itu terlihat kaku. Sangat di paksakan. Entahlah, ada sesuatu yang sangat janggal dalam hubungannya dengan pria ini. Serasa sangat menyeramkan. Karena, orang ke-tiga dalam hubungan mereka adalah, sosok arwah gentayangan yang menginginkan nyawa mereka berdua sekaligus.
Ironis dan menyedihkan. Akhir cinta yang terdengar tragis.
"Apa kau tidak kedinginan, sepagi ini telah mandi?"
Aprilia menggelengkan kepala, "Tidak. Bukankah sebelumnya, aku hanyalah wanita dari desa, yang telah terbiasa bermandikan air dingin. Bahkan air embun terasa nyaman menyentuh kulit."
Sadewa maju melangkah mendekati wanita dengan rambut tergerai basah itu. Dia duduk berlutut, mengambil telapak kaki wanitanya yang terasa begitu dingin. Tanpa sengaja sepasang mata hitamnya melihat kotak sepatu yang tampak usang berada di bawah meja rias itu. Kotak itu selalu berada di sana.
"Apakah kau sedang mengingat bagaimana dirimu sebelumnya?"
Aprilia menundukkan kepala. Menelisik maksud pria yang masih menggenggam telapak kakinya.
"Maksudmu?"
Sadewa melepas telapak kaki itu. Dia sedikit membungkuk, merunduk di bawah meja, menarik kotak sepatu usang berwarna orange yang terlihat bernoda dengan bercak abu-abu. Berdebu. Kotak sepatu itu tampak berdebu. Tangan pria itu segera menyingkirkan debu. Debu itu terbang ke udara. Kini, terlihat jelas setiap huruf yang tercetak pada kotak sepatu.
"Sepatu lama." Aprilia terkekeh geli. Itulah dirinya, sebelum dia menjadi seseorang yang di pahat ulang oleh Sadewa.
"Be your self! Apakah setiap orang akan mampu kembali menjadi dirinya sendiri, setelah banyak perubahan dalam hidupnya?" ujar Sadewa membuka kotak sepatu. Lalu, menyematkan perlahan sepatu usang itu pada kaki wanitanya.
Jatuh. Sepatu itu jatuh lantai kemudian. Longgar.
"Kini, sepatu lamamu tidak cocok lagi. Ukurannya lebih besar dari ukuran saat ini."
Aprilia terkekeh malu, berdecak konyol mengingat bagaimana telapak kakinya terlihat lebih berlemak, dan dia segera berceletuk, "Dokter Jung, juga telah mengangkat lemak pada lapisan kulit kakiku, Oppa. Tentu saja, size kami akan berbeda 1 cm atau 2 cm. Fisikku jauh berbeda dengan dulu."
Sadewa meletakkan kembali setiap sepatu pada kotaknya. Dia mendorong kembali ke bawah kolong meja rias.
"Aku akan memberikan sepatu itu pada Wati. Aku rasa kaki Wati akan cocok dengan sepatu ini."
Sadewa mengangkat satu alisnya. Mengangguk setuju, dan menimpali, "Itu artinya sebagai setiap manusia tidak akan pernah menjadi sama seperti sebelumnya."
__ADS_1
"Tentu saja, Oppa. Tidak ada yang akan pernah kembali ke hari kemaren. Jika mampu, apakah kau ingin kembali menjadi bayi kembali lagi?"
Sadewa menggelengkan kepala, dan mendesis, "Aku adalah pria dewasa. Tepatnya, menyumbangkan ****** menemui sel telur. Menciptakan zigot. Untuk apa kembali menjadi bayi kembali."
"Kau bercerita pelajaran biologi untukku. Pagi-pagi kau telah menjadi guru untukku. Terimakasih pak guru."
"Aku adalah guru yang mengajari wanitanya."
"Baik. Baik. Asal kau jangan pernah mengajari angka untukku."
"Tentu saja. Aku sangat tau kelemahanmu. Tidak akan pernah memberikan pelajaran kalkulus untuk wanita yang selalu gagal memahami aljabar."
"Ya, aku hanya mampu menghitung uang bergambar papi Mega atau uang gambar papi Tommy. Selebih itu, otakku tidak mampu menghitungnya. Aku bodoh matematika. Aku sangat terbelakang dalam matematika."
"Oleh itu, kau beruntung berdampingan dengan pria seperti diriku. Pria yang mampu menghitung lima langkah lebih maju daripada pria-pria lainnya."
Aprilia tersenyum bodoh.
"Kau terbaik, Oppa."
Baiklah aku yang idiot ini terselamatkan oleh kedudukan dan kekuasan mulut sang dewa yang pandai berhitung, angguk Aprilia dalam hatinya.
Sadewa bangkit dari posisi duduk berlututnya. Dia berjalan ke sisi jendela. Menarik setiap gorden. Membiarkan sinar matahari menerobos pada kaca besar yang terbingkai. Silau matahari pagi, membuat dua pasang mata itu segera menyipit tajam.
"Silau, Oppa."
Sadewa memutar raganya. Sinar matahari menjadi bayang kuning di belakang punggungnya. Dia tampak bagai raja yang telah terbit dari timur, dengan kekuasan matahari telah mengikutinya pula. Aprilia segera memutar raga pula. Seakan, menghindari silaunya dewa matahari, yang mampu membakarnya dalam satu kedipan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Selamat hari natal bagi yang merayakan....
...Jangan lupa vote dan hadiah Natalnya yah para sinterklas dan pembaca Budiman....
...Sehat selalu dan harimu menyenangkan yah....
__ADS_1