
Still Lexa POV
Aku masih disibukkan oleh semua pekerjaan, sehingga aku tidak menyadari bahwa waktu sudah menjelang sore. Aku melihat Aiko masuk dan mengatakan bahwa Mamoru sudah menjemputku.
Aku melihat Aiko masih saja tidak senang dengan tindakanku yang menerima kembali Mamoru. Biar semuanya menjadi tanggungjawabku, mereka tidak perlu tahu apa yang ada dihatiku.
Sebelum aku pergi menemui Mamoru aku mendapatkan sebuah pesan dari Himawari. Dia memberikan semua informasi yang aku minta, aku sungguh terkejut dengan informasi yang Himawari berikan padaku.
Aku mengatakan pada Himawari agar merahasiakan semua informasi yang sudah didapat. Lalu aku menyuruhnya untuk terus mencari kebenarannya. Himawari menyetujui apa yang aku minta.
Aku tidak menyadari di hadapanku sudah berdiri Mamoru, aku berusaha bersikap tenang. Sehingga dia tidak curiga padaku, aku tidak ingin apa yang sudah menjadi rencanaku berantakan.
Aku tersenyum lalu mengajak Mamoru untuk segera pergi dari kantor, karena ayah dan Lexi sudah menunggu di rumah. Kami memasuki mobil, kulihat dia begitu tenang. Aku mau melihat sampai dimana keterangan yang dia miliki.
"Apa kau siap bertemu dengan Ayah dan Lexi?!" Aku bertanya padanya hanya ingin tahu kesiapannya saja.
Dia tersenyum lalu berkata, "Aku sudah siap!"
Handphone-nya berbunyi namun dia mengabaikannya, aku menyuruhnya untuk berhenti sejenak untuk menerima telepon. Namun dia menghiraukannya, dia mengatakan bahwa itu tidak terlalu penting.
Dalam hatiku berkata tidak penting bagaimana, handphone-nya berdering terus. Sehingga membuat sedikit risih, aku pun mulai mengabaikannya.
Tibalah aku di rumah, terlihat beberapa pengawal menjaga rumah dengan ketat. Aku tidak tahu mengapa Lexi memperketat penjagaan kali ini, bukankah Rey Hirasaki sudah tiada?
Aku turun dari mobil bersama Mamoru, lalu berjalan memasuki rumah. Kulihat semua sudah berkumpul, Mamoru memberi salam dan hormat pada ayah. Lalu ayah mempersilahkan Mamoru duduk, aku pun duduk di sampingnya.
Mereka mulai membicarakan semuanya, Mamoru meminta pada ayah dan Lexi untuk memberinya satu kali lagi kesempatan. Terlihat jelas ayah tidak suka, dia masih belum bisa percaya penuh pada Mamoru.
"Aku mohon Tuan Alex, berikan saya satu kali kesempatan saja!" ucap mamoru penuh dengan keyakinan dan harapan agar bisa mendapatkan restu dari ayah.
Ayah hanya terdiam, entah apa yang ada di pikiran ayah. Ku tatap Lexi, dia pun hanya diam namun aku melihat dia pun tidak menyetujui aku kembali bersama Mamoru.
__ADS_1
Namun aku harus membuat mereka bisa menerima Mamoru, aku ingin lihat apa yang akan dilakukan Mamoru padaku. Apakah dia benar-benar serius ingin melindungiku atau ini hanya strateginya saja.
"Berikan aku waktu untuk memikirkan semuanya!" Ayah berkata lalu pergi yang diikuti oleh asisten Ari.
Setelah ayah pergi sekarang giliran Lexi dan Aldo yang pergi, terlihat jelas di mata mereka ada rasa kecewa terhadap keputusanku. 'Maafkan aku ayah, Lexi! Aku belum bisa menceritakan semuanya pada kalian! Sebelum aku menemukan kebenarannya!' batinku.
Aku mendengar getaran handphone Mamoru terus berbunyi, sebenarnya apa yang terjadi. Siapa yang terus-menerus menghubunginya, apakah ada hal yang sangat penting sehingga orang itu terus menghubunginya.
Aku semakin penasaran sebenarnya siapa dia? Mengapa dia tidak sabaran? Apakah sudah terjadi sesuatu yang sangat kritis sehingga dia tidak bisa menunggu.
"Siapa yang terus menghubungimu?!" Aku bertanya untuk kesekian kalinya pada Mamoru, yang dia jawab sama bukan siapa-siapa.
Aku semakin curiga dengan tingkah lakunya yang seperti ini, lebih baik aku ikuti saja sesuai alurnya. Setelah semua orang pergi, dia pamit pulang. Aku pun mengijinkan dia untuk pulang, aku mengatakan padanya untuk berhati-hati.
"Hati-hati! Dan ingat kau sudah kuberi kesempatan jangan kau sia-siakan!" Aku berkata lalu berjalan masuk ke dalam rumah.
Pikiranku penuh dengan Mamoru, aku pikir dia sudah berkata jujur namun semuanya itu palsu. Aku menerima dia hanya ingin tahu sebenarnya apa dibalik dia mendekatiku.
Dia mengatakan padaku kalau dia pernah diselamatkan oleh bunda, apakah itu benar? Aku pun tidak tahu dari cerita mana yang benar-benar terjadi.
Aku melihat kebelakang siapa yang sudah membantuku, karena jika dia tidak membantuku aku pasti akan terjatuh. Saat aku melihat wajahnya ternyata dia adalah Hinoto.
Dia tersenyum dingin lalu berkata, "Apakah kau selalu ceroboh Nona?!" Lalu dia pergi meninggalkanku.
Kenapa dia berkata seperti itu, sehingga membuatku kesal. Kuikuti dia lalu menarik tangannya guna menghentikan langkahnya. Dengan refleks dia langsung menyerangku, aku mundur selangkah guna memasang kuda-kuda.
Mungkin dia merasa aku adalah musuhnya, ternyata tingkat kewaspadaannya sangat baik. Aku tersenyum lalu aku menyerangnya dengan tinjuanku, dia terus bertahan dari seranganku. Namun aku terus menyerangnya, akhirnya terjadilah perkelahian kecil antara kami.
"Hentikan!!" terdengar teriakan ayah sehingga suaranya menggema.
Aku menghentikan serangan lalu mengatur ritme pernapasanku, karena aku cukup mengeluarkan tenaga. Aku hendak berkata pada ayah namun Hinoto bicara terlebih dahulu.
__ADS_1
"Maafkan saya Tuan, ini kesalahan saya!" ucap Hinoto dengan membungkukkan badannya sebagai tanda hormat dan meminta maaf.
Aku masih kesal dengannya, lebih baik aku pergi saja. Tidak ada gunanya aku terus berada disini. Lagi pula diakan seseorang yang ayah percaya dan hormati.
"Terserah kalian sajalah, lebih baik aku pergi saja dari sini!" Aku berkata dengan sedikit kesal lalu pergi menuju kamarku.
Aku mendengar Lexi terkekeh yang diikuti oleh ayah, aku membalikkan tubuhku. Ternyata benar mereka berdua menertawakanku, aku semakin kesal kusibakkan rambutku lalu berbalik dan berjalan menjauhi mereka.
"Sebenarnya siapa yang menjadi anak dan saudarinya? Mengapa mereka terlihat membelanya dibandingkan aku! Kesal aku jadinya!" gumamku di dalam kamar dengan melempar sebuah bantal.
"Awwww..., Hei jika kau marah jangan melampiaskannya padaku?!"
Aku terkejut mendengar Aiko yang kesal karena terkena lemparan bantalku. Aku terkekeh melihat Aiko yang memonyongkan bibirnya, aku tidak tahu Aiko sudah berada di kamarku.
"Sejak kapan kau ada di kamarku?" Aku bertanya pada Aiko sembari menahan tawaku.
Aiko masih menggerutu, dia mengatakan bahwa dia sudah berada di kamarnya sudah 1 jam. Dia menungguku di kamar, karena tidak mau melihat Mamoru.
Aku tersenyum lalu memeluknya guna meminta maaf karena sudah membuatnya menunggu. Dan lagi karena telah menimpuknya dengan bantal.
"Aku masih tidak setuju jika kau kembali bersama Mamoru! Entah mengapa aku merasakan dia sangat berbeda dengan Mamoru yang aku kenal!" Aiko berkata dengan serius.
Aku mengerti apa yang dia katakan, karena aku pun merasakan apa yang dia rasakan. Oleh sebab itu aku ingin melihat sampai dimana Mamoru akan menjalankan apa yang sudah dia rencanakan.
"Tenanglah tidak akan terjadi apa-apa padaku!" Aku berkata guna membuat Aiko tidak merasa khawatir.
___________________________________________
Haiii para readers maafkan penulis yang banyak maunya ini ya xixixix....
Jangan lupa like di setiap episode, trus klik love biar dpt notif updatean terbaru dan klik bintang 5 biar penulis semakin semangat.
__ADS_1
Oia satu lagi jangan lupa komen juga ya, karena like dan komen kalian sangat berarti bagiku.
Satu lagi deh jangan lupa berikan poin kalian untuk ceritaku ya 😉😉