
Annisa POV
"Kau sudah bangun cantik?!" ucap seorang pria padaku.
Aku tidak menjawab pertanyaan pria itu, kepalaku terasa sakit. Sebenarnya apa yang terjadi padaku, bukannya aku berada di cafe menunggu Lexa. Mengapa pula aku berada di tempat ini? Badanku juga terasa lemas. Sepertinya aku sudah terbius, aku berusaha menahan rasa sakit di kepalaku. Kubuka mataku lalu kukerlingkan kedua bola mataku guna menyapu seluruh ruangan.
Hanya ada seorang pria yang duduk di atas sebuah ranjang yang dibaluti oleh kain bewarna hitam. Mengapa semua ini terasa tidak asing bagiku? Aku merasakan sesuatu yang membuatku takut. Aku berusaha bersikap tenang, aku harus mengumpulkan kembali semua tenagaku. Aku tidak boleh takut! Aku bukan Annisa yang dulu.
Aku menyadari bahwa kedua tangan dan kakiku sudah terikat, aku berusaha untuk melepaskan ikatan itu. Namun mereka mengikatnya begitu kencang. Sehingga aku tidak dapat melepaskannya, karena tenagaku pun belum pulih semuanya akibat obat bius yang mereka berikan padaku.
Aku mendengar suara langkah kaki, dari kejauhan lama kelamaan semakin mendekat. Namun suara langkah kaki itu mengingatkanku akan seseorang. Tidak! Itu tidak mungkin! Ini pasti bukan dia?
Ceklek!
Sura pintu terbuka, aku begitu terkejut melihat orang yang baru saja masuk. Saking terkejutnya aku, itu membuat bulu kudukku berdiri. Aku teringat semua kejadian di masa lalu yang ingin aku lupakan.
Dia tersenyum namun menyiratkan kebencian padaku, lalu dia menghampiriku. Aku berusaha bersikap tenang, aku tidak ingin semua rasa takutku muncul. Karena itu adalah yang dia harapkan, namun saat ini semua kekuatanku hilang. Setelah dia berada tepat di hadapanku, rasa takutku dan rasa muakku kembali seketika.
Aku berharap ada yang bisa menolongku dari monster ini, aku teringat ayah dan ibu. Aku ingin mereka saat ini, aku berusaha menutup kedua mataku. Aku sungguh tidak ingin melihat wajahnya, dia memegang wajahku dengan tangannya yang kotor itu.
"Buka matamu! Dan lihat aku!!"
Dia memaksaku untuk membuka mata, namun aku tidak ingin melihat wajahnya yang membuatku muak. Dia mulai mengancamku, jika aku tidak membuka mataku. Maka dia akan melucuti pakaianku satu persatu. Mendengar ancamannya itu, kubuka kedua mataku. Dia tersenyum, lalu dia mulai mengatakan semua kebenciannya terhadapku dan kedua orangtuaku.
Aku hanya diam mendengar semua yang dia katakan, semua penderitaannya semasa dia berada di dalam penjara. Kulihat dari sorot matanya, seakan-akan dia hendak menerkam ku tanpa ampun. Aku berusaha kuat, agar aku tidak terlihat lemah dimatanya.
"Lalu apa yang kau inginkan Fais?!" Aku berusaha dengan sekuat tenaga untuk bertanya padanya.
Dia terkekeh mendengarnya menanggalkan itu, lalu dia mengatakan bahwa aku terlihat berbeda dengan dulu. Dan itu membuatnya semakin menarik, dia semakin ingin melihat kembali rasa takut di dalam mataku. Dia mengatakan apakah aku masih mengingat semua kejadian di masa lalu.
Aku terhenyak dia mengatakan itu padaku, dia mulai membuatku merasakan jijik atas kejadian itu. Dia terus saja memprovokasi ku agar mengingat semua kejadian itu secara mendetail. Dia mengatakan padaku apakah aku ingin melihat kejadian itu kembali. Tidak terasa air mataku menetes di pipiku, Fais melihat itu semua lalu dia tersenyum. Menandakan bahwa dia menang, dia berhasil membuatku lemah.
__ADS_1
Melihat senyumnya itu membuatku marah, aku berusaha menghentikan tangisku. Aku mengatakan pada diriku sendiri bahwa aku tidak boleh lemah. Aku harus kuat, aku harus bisa melawannya lalu membalaskan semua perbuatannya. Karena dia adalah sumber dari penderitaanku selama bertahun-tahun.
Aku tersenyum, kuperintahkan padanya bahwa dia belum menang. Dia tidak berhasil membuatku takut, Fais kesal melihatku tersenyum itu membuatnya semakin marah. Lalu dia menyuruh beberapa temannya untuk melakukan sesuatu. Entah apa yang dia perintahkan pada teman-temannya, namun yang pasti aku memiliki pirasat yang buruk.
Fais mulai duduk di atas ranjang, dia menyuruh salah seorang pria untuk duduk di dekatku. Dia mengeluarkan sebuah belati, entah apa yang hendak dia lakukan dengan belati itu. Pikiranku mulai merasakan kejadian di masa lalu. Fais menyuruhku untuk melihat semua yang terjadi di atas ranjang itu. Aku memalingkan wajahku, sungguh aku tidak ingin melihat adegan yang membuatku muak.
Srett!
Aku merasakan nyeri di lenganku, ternyata pria itu menyayat lengan kananku dengan belatinya. Aku berusaha menahan rasa sakit itu, darah segar mulai mengalir dari luka sayat yang dia berikan padaku. Dia menyuruhku untuk melihat adegan Fais yang sedang bersenang-senang. Semua itu membuatku merasa jijik, dia melakukan semua itu dengan beberapa pria lalu ada seorang wanita pula.
Mereka melakukannya dengan begitu santai, mereka sangat menikmati setiap gerakan yang mereka lakukan. Aku menutup kedua mataku, sungguh aku tidak ingin melihat apa yang mereka lakukan. Saat aku menutup mataku, aku merasakan lengan kiri ku tersayat. Terdengar bisikan di telingaku bahwa aku harus melihatnya, jika tidak maka akan banyak luka sayat di seluruh tubuhku.
Seorang pria dan wanita mendekatiku, mereka sudah tidak menggunakan sehelai pakaian. Mereka berdiri tepat di depanku sembari bermesraan. Aku memalingkan wajahku, pria yang ada di belakangku mulai menyayat tubuhku. Dengan arti jika aku memalingkan wajah atau menutup mataku, maka dia akan menyayat tubuhku.
Sudah banyak luka sayat yang aku terima, warna pakaianku sudah berganti warna menjadi warna merah darah. Aku berusaha menahan semua rasa sakit itu. Aku sudah tidak kuat lagi! Aku tidak kuat melihat semua kegiatan yang menjijikan yang dilakukan perekat di depanku. Ingin rasanya aku menghajar mereka tanpa ampun.
Fais berdiri yang diikuti oleh seorang pria, dia tersenyum lalu mulai melakukan hal-hal yang membuatku sangat jijik. Dan aku teringat akan masa lalu yang dilakukan oleh Fais. Aku menutup mataku kembali, meski aku merasakan kesakitan akibat sayatan belati yang diberikan oleh pria di belakangku. Aku masih tetap bertahan menutup kedua mataku.
"Buka matamu dan lihatlah aku!!" Perintah Fais padaku.
Fais mulai kesal karena aku terus saja menutup mataku, lalu dia menyuruh temannya untuk melepaskan hijabku. Sepersekian detik hijabku melayang, rambutku tergerai begitu saja. Fais terkejut melihatku tanpa menggunakan hijab. Dia berkata bahwa aku begitu cantik, aku begitu mirip dengan ibu.
Lalu ada seorang pria yang mendekatiku, tatapan matanya membuatku takut. Entah apa yang ada didalam pikirannya, namun yang pasti dia memiliki niat yang buruk. Pria itu melirik Fais, lalu dia tersenyum begitupun dengan Fais. Seperti dia meminta ijin pada Fais untuk melakukan sesuatu padaku.
Dia menghampiriku lebih dekat lagi, lalu dia mulai menyobek pakaianku. Aku berteriak agar dia menghentikan semua tindakannya itu. Namun dia bergeming, dia terus melakukan hal-hal yang membuatku takut.
"Lepaskan aku! Jika kau sentuh aku! Kau akan menyesal!" Aku berteriak terus menerus namun dia tidak menghentikan perbuatannya.
Brakkk!
Terdengar suara pintu dibuka dengan paksa, seorang pria masuk dengan santainya. Dia melihat kearahku, lalu tanpa basa-basi dia menyerang semua orang yang ada di ruangan ini. Aku tidak bisa berpikir apa-apa. Yang aku pikirkan sekarang adalah pergi dari tempat yang membuatku muak.
__ADS_1
Dia menghajar satu per satu pria yang sudah tidak mengenakan sehelai kainpun. Lalu Fais pun mulai menyerang pria itu, namun Fais bukanlah tandingan pria itu. Sehingga Fais jatuh tersungkur, beberapa pria yang sudah terjatuh mereka bangun kembali. Lalu mereka mengambil senjata yang ada di atas meja.
Dor!
Dengan cepat pria tersebut menembakkan peluru yang ada di dalam senjatanya. Satu persatu pria tanpa busana tersebut mati seketika, ku lihat Fais ketakutan. Dia memohon maaf pada pria itu, namun aku berteriak.
"Habisi dia! Jangan kau ampuni dia! Habisi dia!" Aku berteriak, tak terasa tangisku menyeruak. Dengan memerintahkan agar pria itu menghabisi Fais.
Aku sudah tidak ingin melihat Fais hidup, lebih baik dia tiada dari pada dia berbuat hal-hal yang merugikan. Pria itu menatapku dengan waktu yang lama, entah apa yang ada dibenaknya. Namun aku terus menangis dan memintanya untuk menghabisinya.
Fais yang melihat celah dia berniat melarikan diri, namun pria itu menembakkan pelurunya ke arah kakinya. Fais mengerang kesakitan, pria itu menembak kaki Fais yang satunya lagi. Terdengar suara lirih Fais yang menahan rasa sakitnya. Aku terus saja memintanya untuk menghabisi Fais.
Dor!
Peluru terkahir dia tembakkan ke arah kepala Fais, seketika Fais tidak bisa bergerak. Tidak ada suara yang terdengar dari mulut Fais. Aku masih tidak bisa menghentikan tangisanku, meski aku sudah melihat Fais tiada. Pria itu mendekatiku, dia mengambil hijab yang ada di bawah lantai. Lalu dia menutup kepalaku dengan hijab, dia membuka jas yang dia gunakan untuk menutup tubuhku.
Lalu dia membuka semua ikatan dari tubuhku, aku berusaha untuk berdiri. Karena aku ingin meninggalkan tempat yang menjijikkan ini, namun usahaku gagal tubuhku terasa lemas. Sehingga aku kembali terduduk. Pria itu menggendongku, lalu dia berjalan meninggalkan ruangan ini. Ku dengar dia bicara menggunakan earphone-nya, dia mengatakan agar membereskan sampah di ruangan ini.
"Lepaskan dia Alan!" Aku mendengar suara Lexi yang menyuruh pria ini melepaskanku.
Kulihat Lexi ada di depanku, begitupun Lexa yang baru saja tiba. Mereka menyuruh pria ini melepaskanku, apakah mereka salah paham pada pria ini. Terdengar Lexi terus berteriak agar pria ini melepaskanku, Alan! Apakah pria ini bernama Alan.
Lexi mendekati kami, lalu dia memaksa Alan untuk melepaskanku. Lalu dia memberikanku kepada Lexi, tanpa kata-kata Lexi segera pergi lalu membawaku ke rumah sakit. Kulihat wajah Alan hingga aku tidak bisa melihatnya lagi.
____________________________________________
Jika ada yang ingin ditanyakan padaku tentang karya dan bisa langsung menghubungi ku via akun Instagram.
Klik search di Instagram dengan nama akun :
@macan_nurul
__ADS_1
Jangan lupa follow Instagram ya agar kalian tahu semua karya saya selain novel ini.
Sekali lagi terimakasih untuk kalian semua 💋💋 jangan lupa ya like dan komen ya juga vote ya 😉 jangan lupa juga jadikan favorit ya 😉 😉