Pembalasan Si Kembar Wibowo

Pembalasan Si Kembar Wibowo
BAB 126


__ADS_3

Lexa POV


Mengapa setiap kali aku bermain piano, aku selalu teringat pada bunda. Aku terkejut saat Aiko memanggil namaku dengan penekanan, saat aku membuka kedua mataku. Aku melihat tante Lili sedang duduk bermain piano pula, lalu Aiko pun ikut bermain piano denganku.


Apakah aku bermain musik itu? Musik yang diamanatkan hanya bisa dimainkan oleh 3 orang. Yang menciptakan musik itu adalah bunda, tante Lili dan tante Salma.


"Ayo kita mulai!" ucapku pada tante Lili dan Aiko.


Mereka berdua mengerti apa yang harus dilakukan, mereka mulai bermain dengan suka cita begitupun dengan aku. Aku begitu menikmati permainan piano ini, aku rindu kau bunda. Aku harap kau bisa tenang disana.


Kami bertukar posisi dalam bermain piano, Aiko berjalan dengan menepuk kedua tangannya lalu duduk di kursi pianoku. Aku berdiri dengan menepuk kan kedua tanganku lalu duduk di kursi piano tante Lili. Begitupun tante Lili berdiri dan bertepuk tangan lalu duduk di kursi piano yang Aiko duduki pertama.


Aku sungguh menikmati semua ini, aku seperti bermain piano bersama bunda. Permainan ini aku persembahkan untukmu bunda, jika saja ayah dan Lexi melihat semua ini pasti mereka mendirikan air mata.


Setelah permainan kami selesai aku langsung memeluk Tante Lili, aku sungguh merindukan bunda. Saat aku memeluk tante Lili aku seperti memeluk bunda.


"Sayang, bagaimana kabarmu?" tanya Tante Lili padaku.


"Aku baik-baik saja Tante, bagaimana kabarmu Tante?" Aku menjawab serta bertanya pada tante Lili.


Sebelum menjawab pertanyaanku, suara gemuruh tepuk tangan para tamu terdengar begitu nyaring. Aku tidak menyangka akan mendapatkan hal seperti ini, karena aku hanya menikmati semua permainanku bersama Aiko dan tante Lili.


"Nona Lexa ada yang ingin bicara denganmu," ucap tuan Young Jin padaku yang masih ada di atas panggung.


Saat aku hendak turun dari atas panggung, tuan Young Jin mengatakan bahwa aku tidak perlu turun. Karena yang ingin bicara padaku berada di dalam sambungan telepon.


Tuan Young Jin menyuruhku untuk membalikkan tubuhku ke belakang, saat aku membalikkan tubuhku aku sungguh terkejut dengan apa yang aku lihat. Rupanya aku terhubung dengan ayah dan Lexi, mereka terlihat begitu bahagia. Apakah mereka melihat aku bermain piano?


"Sayang, akhirnya Ayah bisa melihatmu bermain piano lagi. Setelah sekian lama, aku sangat menantikan ini semuanya." Ayah berkata dengan senyum khasnya.


Aku tersenyum, aku tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Aku sungguh tidak mengetahui jika ayah akan melihatku bermain piano lagi. Karena semenjak bunda tiada, aku menghentikan permainan musikku begitupun dengan Lexi.


"Lexa, jika kau kembali kita main bersama. Aku tunggu kau di Jepang!" Lexi berkata padaku dengan senyum yang begitu hangat.

__ADS_1


Ayah menyadari bahwa disampingku ada tante Lili, dia terdiam sesaat lalu bertanya padanya.


"Bagaimana keadaanmu Lili?" Ayah bertanya pada tante Lili.


"Aku baik-baik saja, bagaimana keadaanmu Alex? Sudah lama kita tidak berjumpa." Jawab tante Lili


Merekapun berbincang-bincang sesaat lalu ayah menghentikan sambungan teleponnya. Setelah semuanya selesai aku memutuskan untuk turun dari panggung.


"Nona Lexa, rupanya itu adalah Anda? Pianis cilik berbakat yang belum ada yang bisa menandingi kehebatan Anda!" Seorang tamu berkata padaku.


Dia juga mengatakan bahwa dia pernah melihat permainanku disaat bersamaan dengan Lexi dan bunda. Dia sangat mengagumi permainanku, sehingga sampai kapanpun dia tidak akan pernah melupakannya.


Aku turun dari panggung dan berjalan menghampiri Hinoto yang terlihat masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat dan dengar. Dia baru mengetahui bahwa aku handal dalam bermain piano. Aku sangat senang melihat ekspresinya yang seperti itu.


"Inikah suamimu, sayang?" Tante Lili bertanya padaku saat pertama kali bertemu dengannya.


"Iya Tan, ini Hinoto. Dia adalah suamiku," jawabku.


Tante Lili memperkenalkan dirinya sebagai sahabat bunda, akan tetapi Hinoto mengenal Lili sebagai seorang disign grafis yang sangat handal. Dia juga ingin bekerjasama dengan tante Lili, karena kesibukan tante Lili sehingga membuatnya sulit untuk bertemu.


"Lexa, kau begitu mirip dengan Alin, aku begitu merindukannya! Jika dia masih ada, dia pasti akan selalu membanggakan dirimu dihadapanku." Setelahengatajan itu tante Lili berjalan meninggalkan ruangan pesta malam ini.


Aku melihat Yu-Ri terpaku, dia tidak mengatakan apa-apa. Aku tidak menyangka dia bisa sampai seperti itu. Apakah permainanku begitu buruknya sehingga dia tidak bisa berkata apa-apa.


"Yu-Ri, bagaimana pendapatmu?!" Isamu bertanya padanya, sehingga dia tersadar dari lamunannya.


Dia menarik napasnya lalu berkata, "Kau adalah gadis cilik itu, 'kan? Gadis cilik yang sudah membuatku ingin selalu bermain piano!"


Aku tertegun, aku tidak mengerti apa yang dia katakan. Aku bertanya padanya untuk memastikan lagi apa yang dia tanyakan. Namun dia bertanya dengan hal yang sama.


"Apa maksudmu?" Aku bertanya padanya


Dia berkata bahwa dia pernah melihat anak kembar yang bermain piano bersama ibunya. Semenjak itu dia ingin bisa bermain piano seperti gadis cilik itu, sehingga saat ini dia sangat ingin bertemu dengan gadis cilik yang sudah membuat dia termotivasi untuk terus bermusik.

__ADS_1


"Mungkin kau salah orang Nona Yu-Ri," aku berkata agar dia tidak terus memikirkan masa lalu.


Karena dia melihatku sedang bermain bersama Lexi dan bunda, bagiku itu merupakan kenangan yang tidak bisa aku lupakan. Jika aku harus terus mengingat semua itu, maka aku akan terus larut dalam kesedihan.


"Baiklah, kali ini aku mengaku kalah! Jika kita bertemu lagi aku ingin kita bermain musik bersama!" Yu-Ri berkata lalu pergi meninggalkanku.


Aku menatap sekilas Hinoto, terlihat dia memandang kepergian Yu-Ri. Entah mengapa itu membuatku sangat kesal, apakah dia tidak rela jika aku menang terhadap Yu-Ri. Apakah dia sebenarnya ingin pergi bersamanya.


"Jika kau ingin bersantai? Kejarlah dia!" Aku berkata dengan nada dingin.


Hinoto tersenyum, dia langsung memelukku lalu dia membisikkan kata-kata yang membuatku merasa bersalah. Dan aku tidak tahu hukuman apa yang akan dia berikan padaku.


"Aku tidak menyangka Kakak ipar begitu handal memainkan piano, dan Anda juga Nona Aiko kau begitu handal. Sehingga membuatku semakin terpesona akan kecantikanmu." Isamu berkata dengan mata yang berbinar.


Aku hanya tersenyum mendengar perkataan Isamu terhadap Aiko, karena yang aku tahu Aiko tidak terlalu suka dengan pria yang terlalu banyak bicara. Entah mengapa aku lebih suka melihat Aiko bersanding dengan Azura.


"Ayo kita pulang!" Hinoto berkata dengan menarik tanganku.


"Tunggu! Apa kau tahu dimana aku menginap!" ucapku pada Hinoto.


Hinoto hanya diam saja, sepertinya dia marah padaku. Aku melihat Aiko seraya meminta pertolongan darinya, sialnya aku Aiko malah tersenyum melihatku seperti ini.


"Isamu, kau antar Aiko ke hotel!" Hinoto berkata pada Isamu sembari melanjutkan jalannya dengan memegang tanganku dengan erat.


Sebenarnya aku bisa saja melepaskan tanganku dari cengkeramanya, akan tetapi aku tidak bisa karena disini masih banyak tamu yang memandang kami keluar dari ruangan pesta.


___________________________________________


Haiii para readers maafkan penulis yang banyak maunya ini ya xixixix....


Jangan lupa like di setiap episode, trus klik love biar dpt notif updatean terbaru dan klik bintang 5 biar penulis semakin semangat.


Oia satu lagi jangan lupa komen juga ya, karena like dan komen kalian sangat berarti bagiku.

__ADS_1


Satu lagi deh jangan lupa berikan poin kalian untuk ceritaku ya 😉😉


__ADS_2