Pembalasan Si Kembar Wibowo

Pembalasan Si Kembar Wibowo
BAB 136


__ADS_3

Still Lexa


Setelah berbicara dengan Mamoru aku memutuskan kembali ke kantor. Dalam perjalanan menuju kantor, Hinoto selalu menghubungiku. Sepertinya dia merasa khawatir denganku.


Aku mengatakan padanya tidak apa-apa dan akan menceritakan semuanya di rumah. Karena saat ini aku masih dalam perjalanan menuju kantor. Dia pun memutuskan sambungan teleponnya.


Tibalah aku di kantor, lalu berjalan menuju ruanganku. Melihat Aiko yang sudah menungguku di dalam ruangan. Apakah dia tahu jika aku bertemu dengan Mamoru? Tapi tidak mungkin karena tidak ada yang tahu selain Hinoto.


"Ada apa?" tanyaku pada Aiko.


"Sepertinya Lexi butuh bantuanmu," jawabnya padaku.


Jawaban dari Aiko membuatku terkejut, memangnya Lexi dalam bahaya? Apakah ayah juga dalam bahaya? Semua pertanyaan itu melayang di dalam otakku.


"Mengapa kau bisa berkata seperti itu? Jelaskan padaku!" tanyaku pada Aiko.


Aiko mengatakan semuanya, ada yang mengacau perusahaan parfum bunda. Dia takut Lexi tidak bisa bertindak dengan tegas karena yang menjadi musuhnya adalah yang memiliki hubungan dengan ibunya Himawari.


"Apa kau tahu semua ini dari Himawari?" tanyaku padanya.


Dia mengangguk, jika Himawari sampai menghubungi Aiko tandanya lawan Lexi cukup tangguh. Namun, aku tidak bisa begitu saja langsung terbang ke Indonesia untuk membantunya.


Karena Lexi pernah mengatakan padaku jika dia akan berusaha dengan semua kemampuannya. Aku tahu apa yang dia maksud kali ini, rupanya dia menghadapi saingan yang kuat.


Namun, aku yakin dengan kemampuannya. Aku tidak ingin membuat Lexi selalu bergantung padaku. Karena jika dia sudah menikah nanti, aku yakin ayah menyuruhnya memilih akan mengurus perusahaan di Indonesia atau Jepang.


Ayah pernah berkata jika kami berdua harus bisa berdiri sendiri tetapi jika salah satu dari kami membutuhkan bantuan barulah bertindak. Ayah ingin menyaksikan pribadi yang kuat, sehingga kami tidak harus selalu bersama-sama.


Mungkin ini adalah salah satu cara ayah untuk mendidik kami untuk berpisah guna mengurus perusahaan di dua negara. Lebih baik aku menghubungi saja Lexi, bertanya apakah dia bisa mengatasinya atau jika dia butuh bantuan aku akan segera terbang ke Indonesia.


"Jadi— bagaimana? Apa kau mau terbang ke Indonesia atau membiarkan Lexi mengurus semuanya sendirian?" Aiko bertanya padaku, terdengar rasa khawatir di setiap kalimat yang keluar dari mulutnya.


Aku mengatakan pada Aiko, tidak akan ke Indonesia sebelum Lexi yang memintanya. Karena Lexi membutuhkan waktu agar dia bisa berdiri sendiri.


Lexi harus bisa menangani masalah apa pun yang menimpanya karena tidak setiap saat aku bisa selalu berada di sisinya. Ini demi kebaikan kami berdua.


Aiko mengerti akan maksudku, lalu dia mengatakan akan selalu mengawasi semuanya. Aku tahu jika dia sudah menganggap Lexi seperti adiknya sendiri.


Setelah mengatakan itu Aiko kembali ke ruangannya, aku sedikit khawatir dengan Lexi. Lebih baik aku menghubunginya, kuambil ponsel yang ada di dalam tas. Lalu aku menghubungi Lexi. Terdengar nada sambung tetapi dia belum mengangkatnya, kutunggu beberapa saat akhirnya dia mengangkatnya.


"Hallo," sapaku pada Lexi.


'Hallo Lexa, ada apa kau menghubungiku?!' jawabnya.


Aku bertanya bagaimana keadaannya lalu menanyakan bagaimana penanganan masalah yang ada di perusahaan bunda. Dia mengatakan masih bisa menanganinya, jadi aku tidak usah mengkhawatirkannya.


Setelah mendengar Lexi baik-baik saja, aku mengakhiri sambungan telepon. Lalu aku kembali menyelesaikan semua pekerjaanku yang belum selesai.


Ponselku berdering, aku mengangkatnya langsung karena yang menghubungi adalah Hinoto. Dia berkata sudah ada di lobi.


Aku menyuruhnya untuk langsung ke ruanganku saja, lalu aku menutup sambungan teleponnya. Beberapa saat kemudian Hinoto tiba di ruanganku dengan membawa beberapa makanan.


Rupanya dia membawakan makan siang untukku, Hinoto duduk di atas sofa dan menyimpan makanan yang dia bawa diatas meja. Aku berjalan mendekatinya lalu duduk di sampingnya.


"Wah..., banyak sekali kau membawa makanan siang ini." ucapku.


"Suruh Aiko kemari, kita makan siang bersama!" perintah Hinoto padaku.


Saat hendak berdiri guna menghubungi Aiko, terdengar suara ketukan pintu. Aku menyuruhnya masuk. Ternyata itu adalah Aiko, kebetulan sekali jadi aku tidak perlu menghubunginya.


"Wah..., banyak makanan. Apakah kau akan merubah ruangan ini menjadi restoran?" canda Aiko.


Aku terkekeh mendengar dia berkata seperti itu, begitu pula dengan Hinoto.


"Sudah hentikan candaanmu itu! Ayo kita makan," ucapku pada Aiko seraya memerintahkan dia untuk berhenti bercanda dan makan siang bersama kami.


Aiko tersenyum lalu dia berjalan mendekati kami, dia duduk tepat di depanku. Tanpa basa-basi dia langsung menyantap makanan yang sudah ada di depannya.

__ADS_1


"Sayang, Isamu akan kembali ke Jepang!" Hinoto berkata padaku, tetapi yang terkejut adalah Aiko hingga tersedak.


Aku langsung memberi Aiko minum, mengapa dia sangat terkejut mendengar Isamu akan kembali ke Jepang. Apakah ada sesuatu diantara mereka berdua?


"Ada apa denganmu? Hingga tersedak setelah mendengar nama Isamu?" tanyaku pada Aiko seperti seorang ibu yang menyelidiki putrinya.


Aiko hanya diam, dia tidak menjawab apa yang aku tanyakan. Lalu aku bertanya sekali lagi karena aku sangat ingin tahu tentang dia dan Isamu.


"Tidak ada apa-apa, lanjutkan makanmu! Aku sudah selesai. Aku kembali ke ruangan." jawabnya padaku lalu dia pergi berjalan meninggalkan kami.


Pasti telah terjadi sesuatu diantara mereka, aku akhir mencari tahu semuanya. Aku melihat Hinoto ada senyum tipis yang keluar dari bibirnya.


"Ada apa sebenarnya?" tanyaku padaku Hinoto.


Hinoto menjawab jika Isamu kembali ke Jepang untuk mengejar cinta Aiko. Dia merasa jika Isamu serius dengan Aiko dan hendak menikahinya.


"Baru kali ini Isamu bertindak serius, sehingga aku tidak bisa melarangnya. Karena aku tahu di dalam hati Aiko belum ada nama Isamu." Hinoto berkata sembari menyandarkan kepalanya ke belakang sofa.


Aku tahu itu semua, tetapi apakah Isamu adalah pria yang tepat bagi Aiko. Namun, aku tidak bisa juga melarang Isamu untuk dekat dengan Hinoto.


Aku sedikit mengetahui tentang Isamu, selama beberapa tahun ini dia selalu berganti-ganti pasangan. Apakah dia sedang mencari cinta sejatinya? Ahhh entahlah intinya sekarang itu terserah pada Aiko saja.


Karena aku yakin Aiko bisa memutuskan apa yang terbaik untuknya. Dan aku akan selalu ada untuknya, apa pun yang dia pilih aku akan menyetujuinya.


"Sayang bagaimana pertemuanmu dengan Mamoru?" Hinoto bertanya padaku.


Sebelum menjawab pertanyaan Hinoto, ponselnya berdering dia mengangkatnya. Raut wajahnya sedikit berubah, setelah itu dia menutup sambungan teleponnya.


Hinoto mengatakan padaku harus pergi sekarang juga, sehingga nanti saat di rumah dia ingin aku menceritakan apa yang terjadi saat pertemuan dengan Mamoru.


Aku mengangguk, Hinoto mengecupku keningku dengan lembut lalu mengecup bibirku sekilas. Dia pun berjalan meninggalkan ruanganku.


Aku menyuruh sekretaris untuk memanggil orang membersihkan ruangan. Tidak berapa lama tibalah seorang pria dan aku menyuruhnya untuk membersihkan meja.


Dia langsung membersihkan meja, setelah semuanya beres dia pamit lalu pergi meninggalkan ruangan. Sedangkan aku kembali membaca dokumen yang harus aku bubuhi tanda tangan.


Sebenarnya sekuat apa orang yang ingin menghancurkan perusahaan bunda di Indonesia. Sehingga ayah membuatku harus datang ke Indonesia jika Lexi membutuhkan bantuanku.


Sekarang saatnya bagimu Lexi untuk menunjukkan siapa dirimu yang sebenarnya. Kau harus menunjukkan kekuatanmu. Biarkan mereka yang meremehkanmu tercengang saat melihat kau beraksi.


Aku tahu pasti Lexi berpura-pura bodoh di hadapan musuh. Karena dia ingin mengetahui seberapa kuat musuh yang akan dia hadapi.


Dan aku juga mengerti ayah, mengapa memintaku untuk selalu membantu Lexi jika dia sudah tidak sanggup melakukannya seorang diri.


Tidak terasa hari sudah malam, aku memutuskan untuk pulang ke rumah. Mungkin Hinoto sudah tiba lebih dahulu di rumah.


"Kau sudah mau pulang?" Aiko bertanya padaku yang baru saja keluar dari ruangan.


Aku mengangguk, terlihat raut wajahnya lesu. Apakah dia dalam masalah, saat hendak bertanya padanya. Dia mengatakan padaku untuk berhati-hati saat perjalanan menuju rumah. Lalu di berjalan lebih dahulu.


Lebih baik aku bergegas kembali ke rumah untuk masalah Aiko, akan aku pikirkan nanti. Besok aku akan mengajaknya makan di luar dan bertanya padanya masalah yang sedang dihadapinya.


Dalam perjalanan pulang aku melihat seorang wanita mudah yang sedang di ganggu oleh beberapa pria. Aku menghentikan mobilku lalu berjalan mendekati mereka.


"Apa aku tidak salah lihat? Beberapa pria bodoh mengganggu seorang wanita!" ucapku dengan nada mengejek mereka.


Mereka memalingkan wajahnya lalu menatapku dengan tatapan ingin menerkamku. Rupanya mereka pria mesum yang tidak tahu diri.


"Nona, kau begitu cantik! Mari bergabung bersama kami untuk bersenang-senang!" ucap seorang pria dengan raut wajah yang membuatku merasa jijik.


Aku menatap wanita yang sudah sangat ketakutan itu, lalu menyuruhnya untuk pergi. Namu seorang pria mencengkeramnya dengan sangat erat.


"Jika kalian inginkan aku, lepaskan wanita itu! Karena aku ingin bersenang-senang dengan kalian tanpa ada wanita lain!" Aku mengatakan dengan nada menggoda pada mereka agar mereka melepaskan gadis itu terlebih dahulu.


Mendengar perkataanku tadi pria salah satu pria mengatakan pada temannya untuk melepaskan wanita itu. Setelah wanita itu pergi, sekarang giliranku untuk bersenang-senang.


Tanpa berpikir panjang aku langsung melayangkan tinjuanku. Aku menyerang mereka tanpa memberikan kesempatan pada mereka untuk menyerang balik.

__ADS_1


Brugggg!


Satu per satu musuh jatuh di atas jalan beraspal. Hanya segini kemampuan mereka, sungguh disayangkan. Tadinya aku sudah bersemangat tetapi mereka tidak memiliki kemampuan yang lebih.


Aku melihat satu per satu dari mereka apakah akan kembali berdiri. Jika ada maka aku akan menghajarnya sedemikian rupa hingga mereka tidak akan berani lagi mengganggu wanita.


Karena sudah tidak ada lagi yang bisa melawanku, maka aku putuskan meninggalkan mereka. Lalu aku melanjutkan perjalanan menuju rumah.


Tibalah aku di rumah, terlihat mobil Hinoto sudah terparkir. Aku melangkah masuk ke dalam rumah, di sambut oleh seorang pelayan yang bertanya apakah ingin dibuatkan minuman atau tidak.


Aku menyuruhnya untuk membuatkan minuman hangat untukemvahangatkan tubuhku. Setelah itu aku berjalan memasuki kamar.


Saat membuka pintu kamarku, aku melihat Hinoto yang sedang tertidur di atas tempat tidur. Lebih baik aku tidak mengganggunya.


Kusimpan tas di atas meja lalu ku buka satu per satu pakaianku. Aku berjalan memasuki kamar mandi guna membersihkan diri.


Setelah selesai dengan rutinitas membersihkan diri aku keluar, lalu melangkah menuju almari gunaengambil pakaian tidur.


Terdengar suara ketukan pintu, aku bergegas membukanya karena tidak ingin Hinoto terbangun karena suara ketukan pintu.


Seorang pelayan membawakanku minuman hangat, dia menyiapkan dua gelas. Aku memintanya membuatkan satu. Namun, dia membuatkannya dua.


Sebelum aku bertanya, dia mengatakan jika Hinoto belum minuman apa pun semenjak kembali ke rumah. Sehingga dia berinisiatif untuk membuatkan minuman juga.


Setelah mengatakan itu, pelayan pergi meninggalkan kamar. Aku membawa dua gelas minuman hangat lalu aku simpan di atas meja.


Brettt!


Aku terkejut sekali Hinoto langsung memelukku dari belakang. Sepertinya dia terbangun saat pelayan tadi mengetuk pintu kamar.


"Kau sudah bangun? Aku kira kau tidak akan terbangun hingga pagi?" tanyaku padanya yang masih memelukku dengan lembut.


"Aku menunggumu sedari tadi," bisiknya padaku lalu mengecup lembut daun telingaku.


Hinoto melepaskan dekapannya lalu duduk di atas sofa. Melihat ada di gelas minuman hangat, dia langsung mengambil satu gelas lalu meminumnya secara perlahan.


Dia menepuk-nepuk sofa dengan arti menyuruhku untuk duduk disampingnya. Aku pun berjalan menghampirinya, lalu duduk di atas sofa tepat di sampingnya.


Aku tahu pasti dia ingin mengetahui apa yang dibicarakan oleh Mamoru padaku. Sebenarnya aku hendak menjailinua tetapi saat ini terasa malas untuk bercanda.


Akhirnya aku mengatakan semua yang terjadi saat pertemuanku dengan Mamoru. Terlihat rasa lega dari wajahnya.


Mungkin dia merasa jika Mamoru sudah bisa menjalankan bisnis ayah dengan baik. Dan bisa melanjutkan hidupnya agar mendapatkan pasangan yang mencintainya.


"Apakah kau merasa lega?" tanyaku padanya.


"Iya, aku lega karena dia akan mulai serius dengan pekerjaannya. Sehingga tidak mengecewakan ayah dan aku berharap dia akan menemukan pasangan sejatinya." jawabnya padaku sembari meminum minuman yang ada di dalam gelas.


Sesudah menghabiskan minuman dan berbincang-bincang sesaat. Akhirnya aku dan Hinoto memutuskan untuk segera beristirahat.


Saat aku hendak berdiri, tiba-tiba dia menggendongku lalu berjalan menuju tempat tidur. Dia menghempaskanku secara lembut ke atas tempat tidur.


Setelah itu dia merebahkan tubuhnya disampingku, aku tersenyum mendapatkan perlakuan seperti itu darinya. Lalu aku mengecup sekilas bibirnya guna mengucapkan. terima kasih.


Dia tersenyum lalu memelukku dengan lembut, aku lebih mendekat tubuhku untuk merasakan kehangatan dari pelukannya.


Ponselku berdering, sehingga Hinoto melepaskan dekapannya padaku. Kulihat layar ponsel, ternyata Lexi yang menghubungiku.


Aku mengangkat teleponnya dan mendengar apa yang dikatakan Lexi. Dia butuh teman untuk bercerita, sehingga dia menghibungiku.


Tiga puluh menit dia menghubungiku, dia mengatakan mungkin akan berhadapan dengan saudara dari ibu kandungnya Himawari.


Mungkin butuh perjuangan lebih besar agar bisa menikah dengan Himawari. Dia merasa gelisah jika tidak bisa menikah dengan Himawari.


Karena Lexi sangat mencintai Himawari sehingga dia belum siap untuk kehilangannya. Namun, aku mengatakan padanya agar bisa lebih kuat lagi memperjuangkan cintanya.


Jangan mudah menyerah jika itu memang cinta sejatinya. Teruslah berusaha agar dia menjadi milik kita. Itulah yang aku katakan pada Lexi.

__ADS_1


Setelah mengatakan itu terdengar Lexi sudah merasa tenang. Akhirnya dia menutup sambungan teleponnya, aku melihat kesamping Hinoto sudah tertidur pulas. Aku pun merebahkan tubuhku lalu masuk kedalam dekapannya.


__ADS_2