
Still Lexa POV
Pagi yang indah, akhirnya aku bisa merasakan hari libur bersama Hinoto. Apakah aku sudah jatuh cinta padanya? Sehingga aku tidak bisa jauh-jauh darinya.
Saat aku menatap wajahnya hatiku merasakan kebahagiaan. Berbeda saat aku bersama Mamoru, meski aku mencintainya. Namun aku tidak bisa merasakan kehangatan darinya.
Aku bersyukur dapat mengetahui rencana busuk Mamoru lebih awal, sehingga aku tidak terlalu jatuh dalam perangkapnya. Sekarang di hati dan hidupku hanya untuk Hinoto seorang.
"Sayang, hari ini kita di undang untuk makan malam di rumah ayah." Hinoto berbisik padaku.
Aku sedikit terkejut dengan yang dikatakan oleh Hinoto. Jika aku menghadiri undangan makan malam di rumah ayahnya, itu tandanya aku akan bertemu dengan Mamoru. Orang yang belum mau aku temui dalam waktu dekat ini.
"Sayang...," Dia memanggilku kembali, guna mendengar jawaban dariku.
Aku tersenyum lalu menjawab, "Baiklah kita akan makan malam di rumah ayahmu!"
Siang ini aku berniat untuk selalu ada di rumah, tetapi Aiko memintaku untuk bertemu dengannya. Aku pun meminta izin pada Hinoto untuk pergi sebentar menemui Aiko.
Dia mengizinkan aku untuk pergi menemui Aiko, setelah mengantongi izin darinya aku bersiap untuk menemui Aiko. Namu dia mengingatkanku akan acara makan malam hari ini di rumah ayah.
Setelah siap aku pun pergi menggunakan mobil, Aiko meminta bertemu di sebuah taman. Aku tidak tahu apa yang ingin di bicarakan oleh Aiko. Apakah ini sangat penting? Sehingga dia memintaku untuk bertemu siang ini.
Perasaan ingin tahuku semakin besar saja, karena dia tidak biasanya mengajak bertemu di siang hari. Di taman pula dia ingin bertemu denganku.
Tibalah aku di sebuah taman yang sudah di tentukan oleh Aiko. Aku memarkirkan mobil lalu keluar dari mobil, lalu mengerlingkan kedua mata untuk menyapu seluruh taman ini guna mencari keberadaan Aiko.
Terlihat seorang wanita yang melambai-lambaikan tangannya padaku. Wanita itu adalah Aiko, aku pun bergegas menghampirinya.
Saat aku sudah dekat dengannya, hati ini ingin memeriksa apakah sudah terjadi sesuatu padanya. Aku menatap Aiko dari bawah hingga atas lalu mengulanginya lagi dari atas ke bawah.
Namun tidak terlihat adanya tanda-tanda bekas kekerasan yang terjadi padanya. Dia terlihat bingung dengan apa yang aku lakukan.
"Apa yang kau lakukan? Mengapa memandangiku seperti itu?" tanya Aiko padaku yang kebingungan dengan apa yang aku lakukan.
"Aku, pikir kau mengalami sesuatu. Sehingga mengajakku bertemu siang ini!" jawabku padanya.
Setelah aku mengatakan itu, terlihat jelas dia sedikit kesal. Lalu dia berucap, " Apakah harus urusan serius saja jika aku ingin bertemu denganmu? Jadi seperti ini? Kau melupakanku setelah suamimu pulang dari Korea!"
Aku terkejut dari mana dia tahu jika Hinoto sudah kembali ke rumah. Apakah dia memasang mata-mata di rumahku? Sehingga dia tahu apa yang terjadi di rumahku. Untuk menghilangkan rasa penasaranku, lebih baik aku bertanya padanya.
"Tunggu dulu! Tadi kau bilang Hinoto sudah kembali ke rumah, dari mana kau tahu jika dia sudah kembali? Apa kau menyimpan mata-mata di rumahku?" tanyaku dengan nada menyelidikinya.
Dia terkekeh mendengar apa yang aku tanyakan tadi, itu sedikit membuatku kesal juga. Aku terdiam sesaat guna menunggu jawaban dari Aiko.
Namun dia masih saja terus tertawa, sehingga aku menepuk pundaknya. Dengan maksud agar dia menghentikan tawanya itu lalu menjawab semua pertanyaan yang aku berikan.
"Hentikan tawamu itu! Cepat cerita ada apa kau memintaku untuk menemuimu? Lagi pula aku tidak bisa menemanimu lama-lama, karena aku harus menghadiri makan malam di rumah ayahnya Hinoto." Aku mengatakan semua itu agar dia segera mengatakan apa yang dia mau.
Dia terdiam sesaat, aku tidak tahu apa yang ada di dalam pikirannya. Namun yang pasti dia sedang menghadapi kebimbangan dalam hatinya.
Dia menghela napasnya lalu mulai menceritakan apa yang ingin disampaikan padaku. Aku begitu terkejut tetapi merasa senang juga, dengan apa yang dia katakan.
"Itu terserah padamu saja, karena yang akan menjalani semuanya adalah kamu! Aku tidak bisa mengatakan jika kau harus menolaknya atau menerimanya. Karena yang bisa menjawab semua itu adalah kamu seorang, gunakan saja hatimu agar kau tidak bimbang."
Setelah mendengar apa yang aku katakan, terlihat ada rasa lega dalam dirinya. Aku tidak bisa memberikan keputusan atas masalah yang dia hadapi saat ini.
Karena masalahnya bersahutan dengan hati dan kebahagiaanya. Aku takut jika keputusan yang aku berikan padanya membuatnya menyesali semuanya. Dan nantinya dia akan menyalahkanku atas saran yang aku berikan.
Ini adalah hidupnya, yang akan menjalani semuanya adalah dia. Jadi yang bisa memutuskan semua itu adalah dia seorang. Maka dari itu aku menyuruhnya untuk bertanya pada hatinya sendiri.
"Lexa, jika kau ke rumah ayahnya Hinoto pasti akan bertemu dengan Mamoru. Apa yang akan kau lakukan?" Aiko bertanya padaku.
__ADS_1
Aku terdiam saat mendengar pertanyaan yang dilayangkan olehnya. Memikirkan apa yang harus dijawab, aku menarik napas lalu membuangnya dengan lembut.
"Di dalam hatiku sudah tidak ada dia! Sekarang hanya ada Hinoto seorang." Aku menjawab dengan melepaskan senyuman padanya.
Sebenarnya dalam hatiku masih tersimpan Mamoru, tetapi itu jauh dan sangat jauh di dalam relung hatiku yang paling dalam. Sehingga tidak akan ada yang bisa membukanya lagi. Karena aku sudah menutupnya dengan rapat.
Kami pun berbincang-bincang, sehingga hari sudah sore. Setelah selesai dengan semua keluh dan kesah kami berdua memutuskan untuk mengakhiri pertemuan hari ini.
"Dengarkan aku Aiko, tanyakan kembali pada isi hatimu yang paling dalam. Jangan kau mengambil keputusan tergesa-gesa, karena aku tidak ingin kau menyesal di lain hari."
Aiko tersenyum padaku, lalu dia memberikan tanda yang artinya dia mengerti apa yang harus dilakukan. Aku pun tersenyum lalu berjalan menuju mobil guna kembali ke rumah untuk bersiap.
'Azura, apakah kau benar-benar mencintai Aiko? jika itu benar, aku harap kau bisa membahagiakannya! Aku tidak ingin jika kau menyakiti sahabatku,' batinku.
Tibalah aku di rumah, aku bergegas menuju kamar guna membersihkan diri terlebih dahulu. Lalu bersiap untuk acara makan malam hari ini.
Aku melihat Hinoto yang sedang membaca berkas-berkas yang ada di tangannya. Apakah dia sedari tadi bekerja? Apakah semua masalah di Korea sudah dia selesaikan dengan rapi? Lebih baik nanti saja aku tanyakan itu padanya.
"Sayang, kau sudah pulang?" tanyanya padaku.
Aku tersenyum lalu mengatakan akan membersihkan diri terlebih dahulu lalu bersiap untuk acara makan malam di rumah ayah. Kulihat dia tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.
Aku memikirkan kembali apa yang ditanyakan oleh Aiko. Bagaimana jika aku bertemu dengan Mamoru malam ini. Aku juga tidak yakin dengan apa yang aku katakan padanya.
Kenapa sekarang aku merasa cemas jika memikirkan kaan bertemu dengan Mamoru. Sungguh dalam hati ini sudah tidak ada dia, hanya Hinoto seorang.
Namun— hati ini merasakan akan terjadi sesuatu yang tidak aku inginkan. Aku harap tidak akan terjadi sesuatu pada saat makan malam kali ini.
Setelah selesai membersihkan diri, aku terkejut dengan sebuah gaun yang ada dibatas tempat tidur. Mungkinkah dia yang menyiapkannya untukku? Sungguh romantis kau Hinoto.
Aku mengambil gaun tersebut lalu memakai gaun yang yang sudah disiapkan olehnya. Beberapa saat kemudian dia masuk ke dalam kamar.
Aku tersenyum melihat wajahnya seperti itu, dia melangkah mendekatiku. Dia tersenyum lembut lalu memelukku dengan hangat.
"Kau terlihat cantik dengan gaun ini," Hinoto berbisik padaku.
"Tentu saja cantik karena gaun yang kau pilihkan ini sangat cantik juga." timpalku pada Hinoto.
Setelah siap semuanya, aku dan Hinoto memutuskan untuk segera pergi ke rumah ayah Eiji. Dalam perjalanan hati ini merasa tidak tenang.
Namun aku melihat kembali wajah Hinoto yang tampak senang. Mungkin dia merasa senang karena bisa kembali bertemu dengan ayahnya.
Meski ayah Eiji bukan ayah kandungnya, tetapi dia sudah menganggapnya seperti ayah kandungnya sendiri. Yang aku khawatirkan adalah Mamoru, apakah dia akan bersikap baik pada Hinoto.
"Tidak usah khawatir, aku akan selalu ada di sampingmu!" Mendengar Hinoto mengucapkan seperti itu, membuatku merasa tenang.
Tibalah kami di rumah ayah Eiji, saat kami turun dari mobil terlihat ayah yang sudah menunggu kami di depan pintu.
Terlihat jelas dari wajah ayah yang senang dengan kehadiranku dan Hinoto. Dalam hatiku berkata, 'Mudah-mudahan tidak ada penganggu malam ini.'
"Bagaimana kabarmu Lexa?" tanya ayah Eiji padaku.
Aku tersenyum lalu menjawab, "Aku baik-baik saja, bagaimana kabarmu Ayah?"
Ayah menjawab jika dia baik-baik saja, setelah itu kami masuk ke dalam rumah. Aku duduk di atas sofa sembari menunggu ayah yang ingin bicara dengan Hinoto di ruang baca.
Untuk mengambil ponsel di dalam tas, untuk menghilangkan rasa jenuh karena tidak ada yang menemani.
"Kau terlihat sangat cantik, Lexa!"
Suara yang tidak asing bagiku, lalu aku berpaling guna melihat siapa dia. Rupanya benar dugaanku, dia adalah Mamoru.
__ADS_1
Sungguh aku tidak ingin bertemu dengannya saat ini, karena setiap melihat wajahnya membuatku kesal. Atas segala perbuatan yang telah dia lakukan kepadaku.
Dari pada aku melihatnya terus, lebih baik aku berjalan keluar. Tadi aku melihat sekilas ada sebuah taman. Aku mengirim pesan pada Hinoto untuk memberitahukannya jika aku berada di taman.
Ada seorang pelayan yang membungkuk padaku, itu tandanya dia hormat padaku. Lalu aku bertanya padanya arah menuju taman. Dia dengan ramah mengantarku ke taman.
Aku harap Mamoru tidak mengikutiku ke taman, jika dia mengikutiku. Entah apa yang akan terjadi nantinya, mudah-mudahan saja tidak akan terjadi keributan malam ini.
Pelayan itu pamit padaku lalu dia pergi meninggalkanku di taman. Terlihat sangat indah jika di nikmati pada malam hari. Dengan penerangan dari cahaya lampu yang membuat taman ini semakin indah.
Ada sebuah kursi bewarna putih, aku berjalan menuju kursi itu. Lalu duduk dengan santai sembari menikmati udara di malam hari.
Saat aku sedang menikmati indahnya malam di taman ini. Aku melihat Mamoru berjalan menghampiriku.
"Mengapa kau menghindariku?" tanya Mamoru padaku.
"Dan mengapa kau selalu mengikutiku?!" ucapku lalu lalu berdiri.
Maksud hati ingin segera meninggalkan dia, tetapi dia memegang tanganku. Sehingga aku tidak bisa melanjutkan langkahku.
"Lepaskan!" Aku memerintahkan Mamoru untuk melepaskan tanganku.
Namun dia tidak melepaskan tanganku, dia masih saja memegang erat tanganku. Dari kejauhan aku melihat Hinoto yang sedang menatap ke arah kami.
Aku berusaha melepaskan diri dari genggamannya, sungguh aku tidak ingin membuat kesalahpahaman ini terjadi antara aku dan Hinoto.
Hinoto melangkah cepat menuju arahku, terlihat sorotan mata yang memancarkan kemarahan. Apakah dia akan marah padaku? Apakah dia akan percaya dengan apa yang aku jelaskan? Semua pertanyaan itu muncul dalam otakku.
"Lepaskan dia Mamoru!" perintah Hinoto pada Mamoru.
Aku melihat tatapan mata Mamoru yang penuh kebencian pada Hinoto. Aku sungguh tidak tahu dengan pasti apa yang menjadi masalah antara dia dan Hinoto.
Mamoru tersenyum tipis, menandakan jika dia tidak akan menuruti apa yang diinginkan oleh Hinoto. Aku sudah tidak bisa bersabar lagi dengan apa yang di ucapkan oleh Mamoru pada Hinoto.
Aku menginjak kakinya dengan sekuat tenaga, sehingga dia meringis kesakitan. Akhirnya tanganku bisa terlepas dari genggamannya.
Hinoto hendak menghajarnya, tetapi aku berhasil menahannya. Aku tidak ingin terjadi keributan khusus malam ini, karena rasa hormatku pada ayah Eiji yang sudah mengundangku dengan baik-baik.
Mamoru terus saja mengatakan hal-hal yang memancing emosi Hinoto. Pantas saja Hinoto sangat tidak suka dengannya, mungkin inilah sebabnya. Perkataan dia yang selalu membuat setiap orang yang mendengarnya ikut emosi.
Beberapa saat kemudian datang seorang pelayan yang mengatakan bahwa makan malam sudah akan di mulai. Dan ayah Eiji sudah menunggu kami di meja makan.
Akhirnya semua keributan ini bisa dihindari, Aku mengajak Hinoto untuk masuk ke dalam rumah karena ayah sudah menunggu. Hinoto tidak mau, karena dia masih kesal dengan Mamoru.
"Sayang, dengarkan aku! Ini demi ayah, jadi kita harus masuk," lirihku padanya.
Setelah mendengar yang aku ucapkan, Hinoto menggandeng tanganku untuk masuk ke dalam rumah. Aku mendengar teriakan Mamoru yang tidak akan menyerah untuk merebut ku dari tangan Hinoto.
Aku menggenggam erat tangan Hinoto agar dia tidak terpancing oleh perkataan Mamoru. Sembari terus berjalan meninggalkan Mamoru yang masih terlihat emosi.
Saat tiba di dalam rumah, aku melihat Ayah Eiji yang sudah duduk di ruang makan. Dia tersenyum melihat kedatangan kami.
Ayah menyuruh Hinoto duduk di sampingnya, lalu aku duduk di samping Hinoto. Tidak begitu lama Mamoru tiba dengan wajah kesalnya dan dia duduk dihadapan Hinoto.
"Semua sudah berkumpul, ayo kita mulai menyantap makan malamnya!" Ayah berkata kalu menyuruh pelayan untuk membuka semua penutup makanan di tas meja.
Kulihat Hinoto masih merasa kesal jika melihat wajah Mamoru yang tepat di hadapannya. Untuk membuatnya tenang aku memegang tangan Hinoto, seraya mengatakan untuk bersabar demi ayah.
Sebelum makan malam di mulai ayah mengatakan jika sesudah makan malam ini agar aku tidak pulang. Karena ayah masih ingin berbincang-bincang bersama aku dan Hinoto.
Aku tidak bisa menolak permintaan ayah begitu saja, sehingga aku dan Hinoto menyetujui permintaan ayah. Setelah itu makan malam pun dimulai.
__ADS_1