
Setelah Lexi mengambil chipnya, aku segera kembali ke kantor. Disana sudah menunggu sekertaris Aiko, dia yang mengurus semua keperluan di kantor. Sudah setahun ini aku dan Lexi, mengurus perusahaan ayah yang berlokasi di Jepang. Kerja keras kami membuahkan hasil, dengan membujuk ayah akhirnya kami di ijinkan untuk memegang perusahaan ini.
Semenjak kepergian bunda, ayah lebih sering mengurus perusahaan di Indonesia. Aku tahu ayah sangat kehilangan bunda, bahkan ayah menyibukkan dirinya dengan segudang pekerjaan. Agar ayah tidak terlalu memikirkan bunda, tapi itu semua tidak berhasil menghilangkan kenangan bunda. Karena ayah sangat mencintai bunda.
"Nona, ada undangan nanti malam dari client kita! Dan Nona harus menghadirinya!" ucap Aiko padaku sambil tersenyum.
Aiko tahu bahwa aku tidak begitu menyukai pesta seperti itu, karena disana pasti banyak para wanita-wanita yang membagakan harta orang tuanya. Dan menghambur-hamburkan kekayanyaan orang tuanya. Aku paling tidak suka berhadapan dengan wanita seperti itu.
Lebih baik suruh saja Lexi untuk menghadiri acara nanti malam, ku kirimkan sebuah pesan pada Lexi. Dia langsung membalasnya secepat kilat, dan menolaknya dengan beribu alasan. Sesuai dugaan dia menolaknya, karena dia sama seperti ku. Aku menghela napas, dan mulai membereskan semua pekerjaan.
Tok...
Tok...
Tok...
"Masuk!"
Aiko masuk dengan membawa beberapa berkas di tangannya, dia meminta aku untuk menanda tangani dokumen tersebut. Sebelum aku menandatanganinya, ku baca dahulu dokumen tersebut baru setelah itu aku menanda tanganinya. Akhirnya pekerjaan ku hari ini sudah selesai, aku bergegas pulang untuk bersiap-siap.
****
"Lexa sebaiknya kau membawa peralatan mu! Aku yakin kau pasti membutuhkannya!" Lexi berkata padaku dengan serius, aku yakin dia mengetahui sesuatu yang tidak ku ketahui.
"Katakan padaku! Apa informasi yang kau perolehan?" Aku penasaran dengan informasi yang di dapat oleh Lexi.
Dia mulai memainkan jari jemarinya dengan sangat lihai, aku menunggu jawaban darinya. Setelah dia selesai mencari data dalam komputernya, dia memperlihatkan foto seseorang yang tadi siang aku temui. Dia adalah inspektur Alan, aku tanyakan pada Lexi mengapa dia ada dalam daftar tamu undangan. Lexi belum tahu pasti siapa inspektur Alan ini, yang pasti Lexi akan terus mencari sampai dia menemukan apa yang dia mau.
__ADS_1
"Berhati-hatilah! Malam ini ada yang harus ku kerjakan, jadi tidak bisa memperhatikanmu setiap saat! Jika kau dalam situasi darurat, kau langsung hubungi aku! Dan jangan lupa earphone harus selalu terpasang di telingamu!" ucap Lexi dengan nada seriusnya.
"Baiklah aku akan berhati-hati!" jawabku singkat.
Malam ini aku mengenakan gaun berwarna merah menjuntai hingga ke lantai. Aku merapihkan alat tempur ku, alat itu untuk melindungi ku dari orang-orang yang berniat jahat. Mulai dari semprotan merica, pedang tipis yang bisa di rubah bentuk menjadi sebuah gelang, yang melingkar di tangan. Masih banyak alat-alat yang di ciptakan oleh Lexi untuk keperluan ku. Semua alat yang di ciptakan Lexi, bisa terlewati oleh alat deteksi senjata.
Aku pun pergi dengan seorang sopir, malam ini aku ingin menjadi seorang gadis biasa saja. Di dalam perjalanan, aku melihat kendaraan berlalu lalang. Kulihat seorang anak perempuan sedang menggandeng tangan ibunya, tak terasa air mataku menetes. Aku begitu merindukanmu ibu.
Ckitttt....
Mobil terhenti rupanya sudah sampai di tempat tujuan, seorang pelayan membukakan pintu mobil. Aku keluar dari mobil, kulihat semua tamu berpasangan. 'Tahu gitu aku ajak saja Lexi kemari, untuk menemani ku!' kataku dalam hati. Ku melangkah masuk ke dalam gedung, sepertinya aku harus ke toilet dulu.
Ku langkahkan kaki ku menuju toilet untuk sekedar mengecek kembali dandananku. Dengan perlahan aku membuka pintu kemudian melangkah ke arah washtafel. Tiba-tiba saat aku sedang asyik bercermin membenarkan rambut, aku mendengar suara berisik dari salah satu sudut pintu toilet. Suara rintihan namun pelan, beradu dengan suara desahan garang yang sengaja ditahan oleh pemiliknya.
Aku semakin penasaran dengan suara itu. Ku langkahkan kaki ku pelan, mendekati kearah suara itu kemudian kembali menguping. Makin lama, suara itu semakin jelas. Namun aku masih harus memastikan lagi. Tidak mungkin rasanya jika dalam toilet ini ada sepasang kekasih.
Aku asyik dengan imajinasiku, membayangkan posisi mereka di dalam sana beradu dengan ruangan yang sempit. Secara tidak sengaja aku menertawakan imajinasiku, hingga membuat sepasang kekasih itu sadar jika ada orang lain selain mereka. Lalu beberapa detik kemudian hening. Aku tersentak, mencoba menerka apa lagi yang mereka lakukan hingga suara itu seakan hilang ditelan bumi.
Tiba-tiba dinding pintu itu dipukul, tepat di mana daun telingaku menempel. Aku terkejut setengah mati, kemudian segera berlari keluar toilet. Takut, jika mereka membukakan pintu lalu memarahiku. Syukur-syukur jika hanya dimarahi, kalau tiba-tiba aku malah ditarik masuk dan diajak main bersama? Kan bisa gawat!
Brugggg...
Ada seseorang yang menabrak ku, sehingga aku terjatuh. Ku mendongak untuk melihat siapa dia yang sudah menabrak ku.
"Maaf Nona!" Pria itu berkta dan mengulurkan tangannya padaku. Aku kesal dengannya, ku tepis tangannya dan berdiri sendiri. Aku pergi meninggalkan pria itu, tanpa sepatah kata pun.
Aku memasuki ruangan pesta, disana sudah berkumpul para tamu undangan. Disini aku tidak mengenal siapa pun, kecuali para client yang bekerja sama dengan ku. Karena aku tidak pernah mengekspose diriku sebagai direktur perusahaan. Seorang client menghampiri ku, dia menyapa dan sedikit bercakap-cakap.
__ADS_1
Kulihat para wanita disini berpenampilan habis-habisan, mereka ingin mencari para pengusaha muda. Apakah pesta seperti ini mereka gunakan untuk mencari jodoh. Awwww kaki ku sakit, apa mungkin kaki ku luka saat terjatuh tadi. Lebih baik aku mencari tempat duduk, untuk melihat luka ku ini.
Mataku berkeliling mencari tempat duduk yang nyaman, akhirnya aku menemukannya. Ku berjalan menuju tempat duduk yang berada di sebelah kiri ku. Duduk dengan perlahan, ku sibakan gaun ku untuk melihat luka di kaki. Ku buka tas kecil yang ku bawa untuk mengambil plester.
Sepertinya ada yang memperhatikan ku dari jauh, aku berdiri dan merapihkan pakaian. Berjalan menuju stand makanan, aku memilih makanan yang bisa kumakan, yang tidak bertentangan dengan keyakinan ku.
Datang seorang pelayan, dia memberikan ku segelas minuman. Dan menunjuk seorang pria, ternyata minuman ini dia yang berikan. Ku simpan gelas minuman itu tanpa meminumnya, kerena aku tidak suka minuman seperti itu. Dia melihatku tidak meminum yang diberikannya. Dia berdiri dan menghampiri ku, apakah dia marah? Ahh sudahlah bukan urusan ku, aku pun berjalan berlawanan arah dengannya.
Entah kenapa aku ingin menghindar darinya, ada perasaan aneh terhadapnya. Aku terkejut, entah sejak kapan dia sudah berada di depan ku. Aku tidak bisa menghindar darinya lagi, dia memperkenalkan dirinya padaku.
"Hallo Nona, perkenalkan nama saya Mamoru! Bolehkah saya tahu nama Nona?"
"Hai Tuan Muda Mamoru!" Sebelum ku menjawab pertanyaannya, seorang pria dari belakang ku memanggil namanya. Aku sangat terkejut, sepertinya aku mengenal suara pria yang memanggil Mamoru.
Pria itu melewati ku dan melangkah mendekati Mamoru, aku tidak melihat dengan jelas wajahnya. Yang kulihat perawakannya mirip dengan dia. Beberapa saat kemudian pria itu membalikkan badannya dan benar saja dia adalah inspektur Alan.
"Nona kau belum menjawab pertanyaan ku?" Mamoru mengingatkan ku akan pertanyaannya kembali.
"Nama ku Alexa!" Aku menjawab dengan singkat dan berpamitan untuk meninggalkan mereka. Yang pasti aku harus menghindari kedua pria ini, karena aku memiliki perasaan yang tidak nyaman.
____________________________________________
Sampai ketemu di bab selanjutnya 😉
Jangan lupa kasi author semangat ya biar makin semangat melanjutkan ceritanya 😙
Dan jangan lupa like, komen dan love nya ya 😉
__ADS_1
Author sayang kalian 😘😘