
Lexi POV
Sudah satu Minggu ayah berada di rumah sakit, hari ini ayah sudah diijinkan untuk pulang. Sedangkan Lexa sudah pulang sejak tiga hari yang lalu, meski luka di tangannya belum sembuh total.
Ayah tidak ingin aku atau Lexa menjemputnya di rumah sakit, karena ayah menginginkan agar aku menjaga Lexa di rumah. Sedangkan untuk kepulangannya kali ini seperti biasa sudah ada asisten Ari.
Aku percaya penuh akan asisten Ari, karena dia sudah bekerja dengan ayah sebelum ayah bertemu dengan bunda. Jadi bisa dibilang asisten Ari lebih mengenal ayah dari siapapun, selain bunda dan nenek.
"Lexi! Ayah jadi pulang hari ini kan?" Lexa bertanya padaku dengan memegang segelas jus ditangannya.
Aku mengambil jus ditangannya lalu meminumnya, dia terlihat kesal dengan ulahku. Namun aku langsung meneguk seluruh jus yang ada di dalam gelas.
"Kenapa kau habiskan jusku? Kalau kau mau bisa ambil sendiri? Kenapa pula jusku yang kau minum!" gerutu Lexa padaku.
Aku terkekeh melihat bibirnya cemberut, aku menggodanya terus-menerus. Karena kesal dengan kelakarku akhirnya dia mengejarku, dia hendak memukulku dengan bantal yang terduduk diatas sofa.
Aku terus berlari terus, Lexa masih tidak mau menyerah dia masih saja mengejarku.
Buggg!
Lexa menubruk seseorang yang baru saja masuk ke dalam rumah, aku terdiam melihat adegan Lexa yang akan terjatuh namun tidak jadi. Karena tubuhnya langsung di pegang oleh seorang pria.
Aku melihat itu seperti adegan dalam film, kulihat mereka saling memandang. Aku tersenyum melihat mereka saling pandang, timbul niat jahilku.
"Ehem...!"
Aku berdehem untuk menyadarkan mereka, dengan secepat kilat mereka melepaskan diri dari saling memandang. Aku terkejut melihat mereka, begitu pula ayah dan asisten Ari.
"Jika kalian belum puas, kalian bisa lanjutkan kok!" Aku berkata dengan nada menggoda Lexa.
Bug!
Awwww!
__ADS_1
Aku tidak menyangka Lexa akan melemparku dengan bantal yang masih dia genggam. Aku tidak terima dengan lemparannya lalu aku melemparkan kembali bantal yang dilemparkan oleh Lexa.
Namun bantal yang kulemparkan di tepis oleh Hinoto, aku sempat kesal karena Lexa dibantu Hinoto. Namun aku tidak mempermasalahkan karena jika itu mengenai lengan Lexa, akan terasa sakit. Itu baru aku sadari.
"Sudah cukup! Kalian itu sudah dewasa, jangan bertindak seperti anak kecil!" Ayah berkata guna menghentikan aku dan Lexa.
Lexa menggerutu, seraya dia ingin mendapatkan pembelaan dari ayah. Namun menurutku itu terlihat seperti anak kecil yang sedang meminta sesuatu pada ayahnya.
Hinoto tersenyum melihat kelakuan Lexa pada ayah, aku baru kali ini melihat Hinoto tersenyum. Biasanya dia selalu bersikap dingin, jika dia benar-benar pria bertopeng mungkin dia akan bisa melindungi Lexa.
Lexa pergi meninggalkan kami, setelah ayah menyuruhnya untuk istirahat. Dia pergi sambil menggerutu karena masih kesal dengan tindakan jahilku.
"Apa kau membuat ulah dengannya?!" Ayah bertanya padaku.
Aku tersenyum, dia memang ayahku selalu tahu apa yang sudah kulakukan sehingga Lexa menjadi kesal seperti itu. Ayah menghela napas, lalu ayah berjalan menuju kamarnya.
Aku mengikutinya dari belakang lalu diikuti oleh asisten Ari dan Hinoto. Aku masih penasaran sebagai ada hubungan apa antara ayah dan Hinoto.
Saat di dalam kamar ayah langsung bertanya pada asisten Ari dan Hinoto.
Aku hanya bisa menunggu jawaban dari merek berdua, karena aku juga sangat penasaran dengan Rey Hirasaki. Apakah dia masih hidup apa sudah tiada?
Beberapa hari ini juga aku tidak mendengar kabar dari Alan, apakah dia sudah mendapatkan informasi tentang Rey Hirasaki atau belum? Karena yang aku tahu dia sangat membutuhkan informasi siapa dari orangtuanya.
Ternyata mereka masih belum menemukan mayat dari Rey Hirasaki, aku berharap semua sudah beres. Sehingga kami tidak perlu khawatir lagi dengan kejahatan Rey Hirasaki.
Tapi aku teringat akan cerita Lexa tentang mimpinya bertemu dengan bunda. Apakah itu sebuah pertanda bahwa kita sudah bisa melanjutkan hidup kita. Yang artinya kita tidak usah khawatir lagi tentang Rey Hirasaki.
Aku ingin menceritakan tentang mimpi Lexa pada ayah, namun aku urungkan saja niatku itu. Aku tidak ingin ayah menjadi sedih karena rindu akan bunda.
Hinoto dan asisten Ari pun pergi untuk menyelesaikan tugas yang ayah berikan. Aku duduk di samping ayah lalu berkata, "Sejak kapan ayah mengenal Hinoto?!"
Aku ingin tahu jawaban ayah tentang Hinoto, karena aku sungguh penasaran mengapa ayah begitu akrab dengannya. Entah mengapa perasaanku mengatakan bahwa Hinoto adalah pria yang bisa melindungi Lexa.
__ADS_1
"Aku sudah mengenalnya cukup lama, bahkan Ayah berniat untuk menjodohkan Lexa dengannya. Namun saat Ayah baru tiba di Jepang, Lexa sudah memilih Mamoru! Namun Ayah kecewa dengan Mamoru, karena dia sudah membuat Lexa sedih!"
Aku sungguh terkejut dengan perkataan ayah, ternyata ayah sudah ingin menjodohkan Lexa dengan Hinoto. Tapi memang Hinoto cocok dengan Lexa, aku pun merasakan hal itu.
Namun aku juga tidak bisa mengabaikan perasaan Lexa, aku masih bisa melihat dengan jelas bahwa Lexa masih sangat mencintai Mamoru. Yang aku inginkan hanya melihat kebahagian Lexa, karena pernikahan adalah sekali untuk seumur hidup.
"Bagaimana menurutmu Lexi, mengenai pandanganmu terhadap Hinoto?" Ayah bertanya padaku.
"Dia adalah pria yang baik, dia juga bisa melindungi diri sendiri juga orang yang dia kasihi. Aku berpikir dia cocok dengan Lexa, namun aku tidak bisa mengabaikan perasaan Lexa pada Mamoru!" jawabku pada ayah.
Ayah berkata, kita lihat saja nanti bagaimana perkembangan hubungan antara Lexa dan Mamoru. Jika mereka memutuskan untuk bersama ayah tidak akan melarangnya. Namun jika ayah melihat Lexa bersedih karena Mamoru lebih baik Lexa menikah dengan Hinoto.
Setelah ayah mengatakan itu, aku pun menyetujui keputusan ayah jika itu demi kebaikan Lexa. Aku pun teringat akan cerita mimpi Lexa yang mengatakan bahwa ibu menyuruh Lexa untuk percaya pada keputusan ayah.
Apakah ini yang dimaksudkan dengan perkataan ibu dalam mimpi Lexa. Namun keputusan apapun itu jika demi kebaikan Lexa aku akan mendukungnya. Karena hanya dia saudariku yang paling aku sayangi.
Aku melihat ayah sudah lelah, aku menyuruhnya untuk istirahat dan aku akan pergi untuk melanjutkan pekerjaanku. Setelah melihat ayah berbaring, aku pun melangkah keluar dari kamar.
Saat aku membuka pintu kamar ayah, aku melihat Lexa sudah berdiri di depan pintu kamar ayah. Aku sungguh terkejut, apakah dia mendengar apa yang tadi kami bicarakan.
"Apa kau mendengar semuanya?!" Aku bertanya pada Lexa.
Dia mengangguk lalu pergi berjalan meninggalkanku, lebih baik aku biarkan dia untuk memikirkan semuanya dengan kepala dingin. Baik aku atau ayah tidak akan memaksakan kehendak.
___________________________________________
Haiii para readers maafkan penulis yang banyak maunya ini ya xixixix....
Jangan lupa like di setiap episode, trus klik love biar dpt notif updatean terbaru dan klik bintang 5 biar penulis semakin semangat.
Cara kasi rate : kamu bisa masuk ke beranda novel si kembar lalu lihat pojokan atas sebelah kanan, nah ada tuh bintang-bintang yang bertaburan butuh kalian isi. Klik bintang-bintang itu lalu klik 5 kali bintang yang kosongnya. sudah oke deh 😉
Oia satu lagi jangan lupa komen juga ya, karena like dan komen kalian sangat berarti bagiku.
__ADS_1
Mudahkan yuk coba biar aku semakin semangat 😉
c you next bab 😘