Pembalasan Si Kembar Wibowo

Pembalasan Si Kembar Wibowo
BAB 125


__ADS_3

Aiko POV


Dia begitu percaya diri dengan semua kemampuan yang dia miliki, akan tetapi Yu-Ri memang memiliki bakat yang sangat bagus dalam permainan musik piano. Tidak ada kesalahan sedikitpun dalam permainannya. Namun dia tidak tahu siapa yang dia tantang untuk bermain-main.


Kutatap Hinoto sekilas terlihat kekhawatiran dari wajahnya, dia memang tidak tahu dengan kemampuan Lexa di seni musik. Karena dia tidak pernah menunjukkannya di depan umum.


"Lexa!" Hinoto memangil Lexa dengan lirih.


Aku tersenyum melihat kekhawatiran yang muncul dari wajah Hinoto, dia begitu takutnya kehilangan kesempatan berasa Lexa. Aku yakin bahwa Hinoto begitu sangat mencintai Lexa. Berbeda sekali dengan tatapan Mamoru pada Lexa.


Aku bersyukur jika Lexa tidak jadi menikah dengan Mamoru dan akhirnya dia menikah dengan Hinoto. Aku berharap jika mereka dapat hidup bahagian hingga akhir hayatnya.


"Sepertinya kau tidak terlihat khawatir?" Isamu bertanya padaku.


Kenapa dengan Isamu, dia selalu saja mendekatiku. Aku tidak ingin berdekatan dengannya, dia sangat berisik bagiku. Lebih baik aku mendekati maju beberapa langkah untuk melihat pertunjukan Lexa, karena aku sudah lama tidak melihatnya bermain piano.


Jreng!


Terdengar lantunan musik yang tidak merdu di dengar, aku mendengar Yu-Ri terkekeh mendengan permainan. Lexa yang begitu membuat sakit telinga. Para tamu pun mulai berbisik-bisik tentang permainan Lexa.


Aku tidak menyadari jika Hinoto dan Isamu sudah berada di dekatku lalu Yu-Ri pun mendekatiku.


"Inilah kehebatan temanmu itu?" Yu-Ri berkata sembari terkekeh.


Aku hanya tersenyum, sebenarnya aku ingin tertawa dengan keras karena Lexa sedang menjahili semua orang. Namun yang pasti niat jahilnya lebih besar ditujukan untuk Hinoto.


"Mengapa kau hanya tersenyum hah? Cepat hentikan temanmu itu, jika tidak dia akan diusir dari atas panggung!" ucap Hinoto padaku.


"Diamlah! Kau berisik sekali, sebentar lagi akan ada pertunjukan yang tidak akan pernah kau lupakan seumur hidupmu!" jawabku pada Hinoto.


Lexa menghentikan permainannya yang sangat buruk, dia melihat sekeliling lalu dia tersenyum. Dia melihat para tamu sedang berbisik mengenai keburukan dia bermain piano.

__ADS_1


"It's showtime!" ucapku pada Hinoto, Isamu dan Yu-Ri.


Lexa mulai memejamkan kedua matanya, dia mulai memainkan jari-jemarinya di atas tuts piano. Dia menekan tuts piano tersebut dengan lembut, sehingga menimbulkan suara yang begitu merdu.


Akhirnya aku bisa melihat dan mendengar kau memainkan piano seperti nyonya Alin. Aku rindu dengan suasana ini, aku ingat betul saat nyonya Alin, Lexa dan Lexi bermain piano. Semuanya terasa indah jika melihat mereka bertiga bermain bersama.


Alunan musik yang dimainkan oleh Lexa benar-benar membuatku mengingat semua kenangan bersama nyonya Alin. Aku pun pernah diajarikan oleh nyonya Alin sebuah musik yang begitu indah.


Musik yang hanya bisa diamankan oleh tiga orang, aku harap Lexa tidak memainkan musik itu. Jika dia memainkannya, maka aku juga harus ikut bermain bersamanya.


Ku melirik Hinoto sekilas, kulihat dia begitu terpaku karena dia melihat Lexa yang sedang bermain piano. Dia tidak menyangka jika Lexa bisa bermain dengan sangat indahnya.


Kulihat sekeliling semuanya terpaku karena permainan Lexa, termasuk Yu-Ri yang sudah menantang Lexa untuk bermain piano. Itu merupakan kesalahannya yang fatal.


Saat aku hendak memejamkan kedua mataku guna menikmati alunan musik piano yang dimainkan oleh Lexa. Aku mendengar nadanya mulai berubah, dia memainkan musik yang hanya bisa dimainkan oleh 3 orang.


Nyonya Alin pernah berkata pada Lexa, Lexi dan padaku bahwa musik ini hanya bisa dimainkan oleh 3 orang. Dulu nyonya Alin berkata musik ini dibuat olehnya dan kedua sahabatnya yaitu Lili dan Salma.


"Apa yang kau katakan Aiko?!" Hinoto mendengar gumamanku.


Aku tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh Hinoto, yang pasti adalah saat ini aku harus segera naik ke atas panggung dan menemani Lexa bermain musik.


Aku tahu Lexa, kau begitu merindukan bundamu. Namun tidak perlu melakukan hal seperti ini. Karena musik ini tidak boleh dimainkan dengan rasa sedih melainkan harus dimainkan dengan suka cita.


Saat aku hendak melangkah naik keatas panggung, aku melihat seorang wanita paruh baya melangkah mendekati Lexa. Dia tersenyum lembut lalu duduk di depan piano yang ada di samping Lexa.


Karena di atas panggung ada 3 piano, wanita paruh baya tersebut mulai bermain mengikuti lantunan musik Lexa. Yang asalnya penuh kesedihan. Namun wanita paruh baya itu berusaha menarik Lexa agar tidak bermain dalam kesedihannya.


Kulihat Lexa menitikkan air matanya meski kedua matanya tertutup, aku tahu kau begitu sedih Lexa. Aku harap kau bisa melewati kesedihan ini, aku harap wanita paruh baya itu bisa menarik Lexa kembali bermain dengan suka cita.


"Siapa wanita itu?" Isamu bertanya padaku.

__ADS_1


"Aku tidak mengenalnya! Namun yang pasti wanita paruh baya itu memiliki hubungan dengan Nyonya Alin!" jawabku.


Aku baru bertemu dengan nyonya Salma sewaktu di Paris, apakah dia adalah nyonya Lili sahabat nyonya Alin yang tidak diketahui keberadaanya saat ini.


Aku dengar dia berada di Jepang, akan tetapi dia sangat sulit untuk ditemui. Karena dia selalu berpergian ke luar negri untuk urusan pekerjaannya. Entahlah apakah itu benar atau tidak. Namun yang pasti aku yakin dia adalah nyonya Lili.


Alunan musik sudah berangsur-angsur menuju ke suka cita, aku yakin tidak perlu untuk naik ke atas panggung. Mengapa aku merasa nyonya Alin berada di atas panggung bersama mereka.


Aku merasakan nyonya Alin ikut bermain piano bersama Lexa dan wanita itu. Tidak terasa air mataku mengalir membasahi kedua pipiku, ternyata aku begitu merindukan semua ini. Aku juga merindukan kau nyonya Alin, kau sudah menganggapku seperti anakmu sendiri tanpa membeda-bedakan antara aku, Lexa dan Lexi.


"Kau tidak apa-apa?!" Isamu bertanya padaku dengan nada khawatir.


"Aku tidak apa-apa!" jawabku singkat.


Aku kembali terhayut dalam permainan Lexa dan wanita itu, akan tetapi semua itu tidak berlangsung lama. Alunan musiknya mulai berubah kembali, rupanya wanita itu tidak bisa menarik Lexa untuk bermain dengan suka cita. Aku merasa wanita itu sudah tertarik oleh alunan musik kesedihan Lexa.


"Sial! Aku harus segera ke atas, semua ini tidak boleh terus berlangsung!" gumamku.


Aku bergegas menghampiri Lexa, aku duduk di depan piano yang masih kosong. Aku menarik napasku, lalu aku meregangkan jari-jemariku. Aku harus bisa membawa kedua wanita disampingku untuk bermain dengan suka cita.


Aku mulai menekan tuts piano, aku berusaha bermain dengan suka cita. Aku harus berusaha membawa mereka kembali ke suasana yang membuat mereka bahagia.


Aku tidak akan memejamkan kedua mataku, jika itu kulakukan maka aku pun akan tertarik oleh permainan kesedihan Lexa. Ternyata butuh waktu dan kerja keras untuk membawa mereka bermain dengan suka cita.


"Sadarlah Lexa!" teriakku pada Lexa sembari bermain piano.


Setelah mendengar teriakku Lexa membuka kedua matanya, dia terkejut dengan kehadiran seorang wanita paruh baya yang sedang duduk sembari bermain piano. Dia melihat ke arahku, aku tersenyum padanya.


"Come on!" ucapku pada Lexa dengan lirih.


Dia mengerti dengan kata-kataku, lalu dia tersenyum dan bermain piano dengan suka cita. Sepersekian detik wanita paruh baya itu pun membuka kedua matanya, dia tersenyum lalu mulai bermain dengan suka cita.

__ADS_1


__ADS_2