Pembalasan Si Kembar Wibowo

Pembalasan Si Kembar Wibowo
BAB 177


__ADS_3

Still Lexa


Setelah acara makan malam, Hinoto mengajakku untuk berjalan-jalan lalu kembali ke hotel. Karena besok pagi dia harus menyelesaikan semua pekerjaannya sehingga bisa kembali ke Tokyo secepatnya.


"Bersiaplah— kau temani aku untuk mengusir sesuatu, setelah itu kita kembali ke Tokyo!" Hinoto berkata padaku sembari mengecup lembut keningku.


Setelah mengatakan itu dia kembali duduk di atas sofa memainkan ponselnya sembari menungguku untuk bersiap. Aku bergegas bersiap agar dia tidak menungguku terlalu lama, hatiku sudah tidak sabar lagi untuk kali ke Tokyo karena ingin bertemu dengan Zeroun.


Aku sudah selesai bersiap, lalu mengajak Hinoto untuk pergi. Dia tersenyum lalu menggandeng tanganku dengan lembut. Dan kami berjalan keluar dari kamar hotel menuju sebuah tempat di mana itu akan menjadi sebuah bangunan yang akan menjadi rumah kita. Jika kita pergi ke Kyoto.


Tibalah kami di tempat tujuan, Hinoto mulai memeriksa semuanya dengan teliti. Terlihat dengan jelas dia begitu fokus dengan apa yang sedang dia kerjakan. Mungkin ini adalah rumah impiannya dan juga impianku. Karena yang aku dengar darinya, dia akan lebih banyak pergi ke Kyoto. Apa mungkin dia ingin mengajakku dan Zeroun tinggal di Kyoto.


Namun, aku belum bisa meninggalkan Lexi begitu saja untuk mengusir semuanya sendiri. Jika memikirkan itu aku menjadi resah, sangat sulit untuk memilih antara Lexi dan Hinoto karena mereka berdua sama-sama penting bagiku.


"Sayang, apa yang kau pikirkan?" bisik Hinoto padaku.


Aku tidak menyadari jika dia sudah ada di sampingku, hanya senyum yang bisa aku tunjukkan padanya. Karena aku tidak ingin membuatnya sedih dengan apa yang sedang aku pikirkan. Hinoto selama ini tidak pernah memaksakan kehendaknya padaku. Dan juga tidak pernah menyuruhku untuk memilih antara dia dan Lexi.


Hinoto mengatakan jika semuanya sudah selesai lalu dia mengajakku untuk makan siang. Dia mengajakku ke sebuah restoran, kami duduk dengan santai dan berbincang-bincang sembari menunggu pesanan kami tiba.


Saat aku sedang asik berbicara dengan Hinoto, aku sedikit terkejut karena melihat Rosetta yang sedang berjalan masuk menuju restoran. Itu artinya selama ini dia masih berada di Kyoto, sebenarnya apa yang sedang dilakukannya di sini.


Rosetta menyadari keberadaanku, lalu dia tersenyum dan menghampiri kami berdua. Hinoto yang melihatnya bersikap dingin, terlihat jelas jika dia tidak suka dengan kehadiran Rosetta.


"Bagaimana kabar kalian?" tanya Rosetta dengan senyum yang di buat semanis mungkin.


Aku hanya diam, entah mengapa aku merasakan akan terjadi hal-hal yang akan membuatku merasa kesal. Namun, aku menghempaskan semua itu karena tidak mungkin juga dia melakukan hal-hal yang akan merugikan aku atau dirinya.


Rosetta terus saja bicara tanpa henti, dia bersikap akrab dengan kami. Dia begitu percaya dirinya dan juga bertanya mengenai Zeroun dan Rosalina. Apakah dia sedang merencanakan sesuatu pada anak-anak, aku harap tidak terjadi apa-apa pada anak-anak.


Dia terus saja berbicara tentang Zeroun, apakah selama ini dia mengawasi Zeroun. Apakah semua penjagaan terhadap anak-anak mengendur sehingga dia bisa tahu aktivitas Zeroun.


Hinoto mulai kesal dengan apa yang dikatakan oleh Rosetta lalu dia berkata, "Hentikan semua ini—jika kau menyentuh sehelai rambut anak dan istriku— kau akan habis!"


Baru pertama kali ini aku melihat Hinoto marah seperti ini, yang membuatku heran mengapa Rosetta sama sekali tidak takut dengan ancaman Hinoto. Dia malah tersenyum tidak ada rasa takut yang terpancar dari sorot matanya.

__ADS_1


"Kau tidak berubah Hinoto— sehingga aku semakin ingin memilikimu!" Rosetta berkata sembari menatapnya dengan penuh rasa ingin memiliki.


Aku tersenyum lalu mengatakan, "Dan kau tidak berubah Rosetta— masih saja berpikir merebut Hinoto dari tanganku!"


Hinoto tersenyum lalu memegang tanganku dan dia mengecup lembut punggung telapak tanganku. Lalu dia mengatakan bahwa dia sangat mencintaiku. Dia mulai mengucapkan kata-kata manis yang selalu di ucapkan padaku di saat kami berduaan.


"Ayo kita pergi, sayang!" Hinoto berkata dengan penuh kasih sayang padaku.


Mungkin dia sudah tidak mood untuk melanjutkan makan siangnya, begitu pula dengan diriku. Aku mengangguk lalu kami meninggalkan meja di mana Rosetta masih duduk. Mungkin dengan rasa kesal yang memuncak.


"Tunggu!" pekik Rosetta.


Biyurr! Aku membalikkan tubuhku, melihatnya menyiramku dengan minuman yang ada di tangannya. Dia sungguh-sungguh membuatku sangat kesal. Namun, aku tidak akan membalasnya karena itu akan menunjukkan bahwa diriku sama memalukannya seperti dia.


Aku mengajak Hinoto untuk pergi dan mengatakan padanya tidak penting melayani wanita yang tidak penting itu. Hinoto melepaskan jasnya lalu dia memakaikan jasnya itu padaku untuk menutupi bagian tubuhku yang menerawang.


"Kau tidak apa-apa?" Hinoto bertanya padaku dengan rasa khawatir.


"Aku tidak apa-apa— lebih baik kita kembali ke hotel saja! Tubuhku terasa lengket." Aku menjawabnya dengan sembari tersenyum.


"Jangan kau pikirkan apa yang dia katakan! Percayalah padaku— aku akan melindungi kalian meski harus mengorbankan nyawaku!" ucap Hinoto padaku.


"Stop Hinoto! Jangan kau ucapkan kata-kata yang terakhir itu! Aku tidak ingin kehilangan orang yang aku cintai lagi!" bentakku pada Hinoto.


Entah mengapa aku tidak suka jika ada orang yang mengatakan itu padaku. Dan mengapa aku selalu teringat akan peristiwa yang menyebabkan bunda tiada.


Tidak terasa air mataku menetes membasahi pipi, aku tidak tahan jika membayangkan tentang kecelakaan itu. Karena aku pernah mendengar perkataan bunda jika dia akan mengorbankan nyawanya demi melindungi orang yang dia cintai. Dan akhirnya itu terjadi, aku tidak ingin ada lagi orang yang aku cintai tiada.


Mengapa Hinoto tidak mengerti itu, sungguh aku tidak menyukai kata-kata itu. Jika ada yang harus berkorban adalah aku demi kebahagiaan orang yang aku cintai. Meski ini terasa egois tapi itulah aku, mungkin aku seperti bunda yang tidak ingin melihat orang berkorban demi dirinya sendiri. Namun, akan mengorbankan diri sendiri untuk orang yang dikasihi.


"Maafkan aku, sayang!" Hinoto berkata padaku semabri memegang tanganku.


Aku hanya diam hingga mobil terhenti di pelataran parkir hotel, aku bergegas menuju kamar tanpa mempedulikan Hinoto. Aku masih merasa kesal karena dia berkata seperti itu tadi.


Dia mengejarku tetapi tidak mengatakan apa-apa, pintu lift terbuka dan aku masuk kedalamnya begitu juga dengan Hinoto. Tidak membutuhkan waktu yang lama lift terhenti dan pintunya terbuka. Aku melangkah berjalan menuju kamar.

__ADS_1


Setelah masuk kedalam kamar aku bergegas menuju kamar mandi guna membersihkan diri karena badanku lengket. Semua ini ulah Rosetta dia merusak semuanya dan Hinoto juga membuatku kesal tadi dalam perjalan pulang.


Aku keluar dari kamar mandi setelah selesai dengan rutinitas membersihkan diri. Terlihat Hinoto yang duduk di atas sofa dengan pikiran entah berada di mana. Aku menghiraukannya dan melangkah menuju almari guna mengambil pakaian.


"Maafkan aku...," bisiknya padaku. Aku tidak mengira dia dengan cepat mendekapku, padahal aku melihatnya tadi masih duduk di atas sofa.


"Jangan kau ucapkan kata-kata itu lagi— kau tahu, 'kan? Jika mendengar itu aku selalu teringat akan bunda." Jawabku padanya.


Dia mengatakan iya dan kembali meminta maaf padaku, lalu dia mulai mengecup tengkuk leherku dengan lembut. Sepertinya dia akan memulai permainannya. Padahal ini masih siang, lebih baik bersiap untuk kali ke Tokyo.


Aku mengatakan untuk menjaganya karena aku ingin merapikan semua barang lalu mempersiapkan diri untuk kembali ke Tokyo. Dia tidak menurut padaku, kecupannya semakin nakal dan membuatku merasa kegelian.


Sepertinya sudah tidak bisa menghentikan keinginan darinya tetapi jika kau melayaninya maka aku akan kembali masuk kedalam kamar mandi. Tanpa aku menyadari dia sudah melepaskan handuk yang melingkar di tubuhku.


"Ka—," sebelum aku menuntaskan kataku dia langsung mengecup bibirku dengan lembut.


***


Setelah pergulatan kami, aku kembali membersihkan diri. Setelah itu aku bersiap untuk kepulangan kami ke Tokyo. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan putra kesayanganku itu. Dia pasti akan sangat senang jika melihatku sudah ada di rumah.


"Aku tidak ingin kembali!" ucap Hinoto dengan nada sedih yang aku tahu dia hanya berpura-pura.


Mendengar perkataannya itu membuatku terkekeh karena aku tahu yang ada di dalam hatinya. Dia pasti tidak ingin Zeroun melarangnya untuk dekat denganku. Jika membayangkan semua itu aku semakin terkekeh-kekeh.


"Hentikan tawamu itu— jika tidak kau akan kembali masuk kamar mandi!" Dia berkata dengan nada kesal.


Aku langsung menghentikan tawaku karena itu tandanya bahaya bagiku karena dia sudah mengancamku seperti itu. Aku tidak mau jika dia kembali menyerangku dan artinya aku harus membersihkan diri kembali. Dan tentunya kepulangan kami pun akan tertunda karena permainannya Hinoto yang tidak bisa aku elak.


Ponselku berdering, aku mengambil ponsel yang ada di atas meja dekat Hinoto. Lalu aku duduk disampingnya semabri melihat layar ponsel untuk melihat siapa yang menghubungi diriku. Tertera nama Lexi, aku segera mengangkatnya.


Lexi terdengar sangat tidak tenang, apa yang terjadi padanya atau pada anak-anak. Aku bertanya apa yang terjadi, dia mengatakan padaku agar segera kembali. Dia membutuhkan bantuanku karena dia tidak bisa berbuat apa-apa tanpa kehadiranku.


Aku bertanya kembali apa yang terjadi tetapi Lexi tidak menjawab dan yang pasti Lexi mengatakan jika anak-anak dalam keadaan baik-baik saja. Aku mendengar itu merasa lega tetapi aku masih khawatir apa yang membuat Lexi gelisah dan membutuhkan bantuanku. Karena selama ini dia masih bisa mengatasi semuanya tanpa meminta bantuanku. Sebenarnya apa yang sudah terjadi?


"Ada apa?" Hinoto bertanya padaku setelah aku menutup sambungan telepon. Aku mengatakan tidak tahu tetapi yang pasti kita harus segera kembali ke Tokyo.

__ADS_1


Mendengar itu Hinoto bergegas memesan tiket kereta dan kami pun pergi dari hotel menuju stasiun. Aku sangat khawatir dengan Lexi mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa nadanya dan juga anak-anak.


__ADS_2