Pembalasan Si Kembar Wibowo

Pembalasan Si Kembar Wibowo
BAB 179


__ADS_3

Lexi POV


"Ada apa denganmu, sayang? Mengapa kau tidak bisa mengontrol emosimu?!" Aku bertanya pada Himawari yang tengah duduk di atas tempat tidur Rosalina.


"Bisakah kita bicarakan ini nanti di kamar— Rosalina baru saja tidur!" jawabnya padaku.


Aku melihat Rosalina yang sudah terlelap begitu tenang hati ini, lalu aku melihat sekilas Himawari yang menatap Rosalina dengan penuh kasih sayang. Lebih baik aku membiarkan mereka berdua dulu, mungkin jika Himawari sudah merasa tenang dia akan kembali ke kamarku.


Saat aku berjalan menuju kamar, aku melihat Aldo yang masih duduk di taman. Aku berjalan mendekatinya untuk menyuruhnya segera pulang dan beristirahat.


Langkahku terhenti saat melihat Rein sudah ada di belakang Aldo, mungkin Aldo sedang melamun sehingga dia tidak menyadari ada orang lain di belakangnya.


Lebih baik aku sedikit mendekat, entah mengapa aku merasa khawatir dengan Aldo. Yang aku takutkan jika Rein memancing emosi Aldo dan membuatnya hilang kesabaran.


Sayang sekali meski aku berusaha mendekat tetap saja tidak bisa mendengar apa yang mereka katakan. Namun, terlihat jelas jika Aldo sangat tidak menyukai kehadiran Rein di dekatnya.


Aldo berdiri dengan geram, dia hendak mengeluarkan semua emosinya. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya, sepertinya Rein sengaja memancing emosi Aldo. Entah apa yang dia inginkan kali ini.


Aku bergegas menghampiri mereka, lalu mengatakan pada Aldo untuk ikut denganku karena aku membutuhkan bantuannya. Aldo pun mengikuti diriku menuju ruang baca.


"Apa yang dia katakan? Sehingga kau tidak bisa mengontrol emosimu?!" tanyaku padanya.


"Sudahlah—aku tidak ingin membahasnya! Jika kau sudah tidak memerlukan bantuanku, izinkan aku kembali ke apartement." Aldo menjawab dengan nada dingin.


Aku pun mengizinkan dia untuk kembali ke apartemennya, mungkin ini lebih baik jika dibandingkan dia berada di sini. Karena di sini masih ada Rein yang pasti akan terus mengganggunya.


Setelah kepulangan Aldo, aku keluar dari ruang baca lalu menuju kamar. Mungkin Himawari sudah selesai dengan Rosalina, aku berharap dia bisa mengeluarkan semua emosinya. Sehingga dia tidak terlalu terbebani oleh masalah Rein.


Saat aku melangkahkan kaki untuk menelusuri anak tangga, aku melihat Rein yang sedang bicara melalui ponselnya lalu berjalan menuju kamarnya. Aku merasa curiga dengannya, sebenarnya apa yang dia lakukan dan siapa yang sedang dia hubungi.


Kakiku melanjutkan langkahnya menuju kamar, lebih baik aku menghempaskan semua masalah tentang Rein. Dia sudah membuat keluargaku tidak bisa hidup dengan tenang. Aku berharap semuanya akan segera selesai.

__ADS_1


Aku membuka pintu kamar, terlihat Himawari yang baru saja keluar dari kamar mandi. Tubuhnya masih berbalut handuk yang menutupi sebagian tubuhnya. Dia terlihat menggoda kali ini, aku langsung mendekatinya.


"Kau dari mana, sayang?" tanya Himawari padaku dengan lembut.


Tanpa menjawab pertanyaannya, aku langsung memeluknya dengan erat. Aku mengecup bibirnya yang terlihat segar kali ini, bermain sejenak dengan bibirnya. Sehingga dia merasakan setiap kecupan yang membuatnya terhanyut.


Aku menghentikan sejenak kecupanku padanya, sembari melihat wajahnya yang sudah memerah. Tidak kusangka jika handuk yang melilit ditubuhnua terjatuh begitu saja. Sehingga terpampang jelas setiap lekuk tubuhnya yang membuatku tergoda.


Dia menatapku, terlihat jelas jika dia sedikit tersipu. Namun, aku tidak akan melepaskannya begitu saja. Aku langsung menggendongnya lalu menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur.


Mataku menyapu setiap jengkal lekuk tubuhnya, sehingga membuat wajahnya memerah. Secara perlahan aku mulai mengecup bibirnya lalu menjalar menuju leher dan berhenti di bagian dadanya. Bermain sejenak di sana, sehingga terdengar suara yang bisa membuatku ingin melahapnya.


"Lexi...,"


Terdengar dia memanggil namaku dengan suaranya yang begitu menggoda, aku tersenyum menghentikan sejenak. Namun, terus melakukannya lagi. Selain bibirku yang bermain, tidak ingin ketinggalan kedua tanganku ikut bermain pula.


Akhirnya kami pun terbuai dalam permainan, aku merasakan sudah mencapai titik dari permainanku begitu pula dengannya. Setelah selesai, aku merebahkan tubuhku di atas tempat tepat di sampingnya. Menariknya sehingga dia berada di dalam pelukankum.sembari menarik selimut untuk menutupi tubuh kami.


"Belum—ada apa?" jawabku sekaligus balik bertanya.


Terdengar embusan napas kasar darinya, aku tahu apa yang akan dia katakan—pasti mengenai Rein. "Aku akan mengirim Rein kembali ke Indonesia!" ucapnya padaku.


Aku bertanya padanya, apakah semua ini sudah pasti? Jika dia kembali ke Indonesia apakah tidak akan menimbulkan masalah lainnya. Masih banyak yang aku tanyakan padanya, pertanyaan itu pasti akan membuatnya tidak bisa tenang.


"Jadi—aku harus bagaimana? Aku pikir Rein bisa kutangani sendiri tetapi aku salah—dia semakin tidak terkendali," tanyanya padaku.


Setelah mengatakan itu dia mengembuskan napasnya lagi, lalu memasukkan wajahnya pada dadaku yang masih berdegup kencang setelah permainan kami tadi.


Aku membelai rambutnya yang hitam dan tergerai, lalu mengatakannya untuk beristirahat. Semuanya akan dibicarakan besok pagi saja karena malam ini aku ingin beristirahat. Dia pun terlelap dalam pelukanku.


Keesokan harinya.

__ADS_1


Seperti hari-hari biasanya, Himawari selalu bangun lebih dulu dari pada aku. Dia selalu membangunkan aku, mengajakku untuk salat bersama dan aku menyukainya yang selalu mengingatkan diriku.


Setelah selesai dengan rutinitas sebelum keluar dari kamar dan melihat Rosalina di kamarnya. Rasa kantukku masih begitu kuat, sehingga dia menyuruhku untuk kembali tidur. Dia pun berjalan meninggalkan kamar mungkin dia akan menuju kamar Rosalina.


Saat aku hendak memejamkan mataku kembali tetapi aku tidak bisa. Pikiranku kembali teringat akan Rein semalam yang berbicara melalui ponselnya. Aku penasaran siapa yang dia hubungi, apakah semua ini ada sangkut pautnya dengan kembalinya dia ke Jepang?


Lebih baik aku berjoging saja sapa tahu bisa melepaskan semua gangguan yang ada dalam pikiranku. Aku bangun lalu menuju alam Ari guna mengambil pakaian untuk berolahraga. Setelah mengganti pakaian aku menggunakan sepatu lalu berjalan keluar dari kamar.


Aku menuju kamar Rosalina untuk memberi informasi bahwa aku hendak berjoging pada Himawari. Agar dia tidak merasa khawatir karena tidak menemukanku di dalam kamar.


"Sayang, aku akan pergi berjoging sebentar!" Aku berbisik padanya karena Rosalina masih terlelap.


Himawari mengangguk lalu aku mengecup keningnya dengan lembut. Aku mengatakan padanya untuk membangunkan Rosalina setelah aku pergi. Agar dia tidak merengek ingin ikut berolahraga bersamaku.


Setelah berpamitan pada Himawari, aku berjalan keluar dari kamar Rosalina. Aku berjalan menuju halaman rumah, hanya berkeliling sebanyak tiga putaran saja itu sudah cukup membuatku merasa lelah.


"Ayo kita lari bersama!"


Melihat kesamping, rupanya Hinoto yang berbicara padaku. Kami pun berolahraga bersama. Sembari mengobrol kan sesuatu, setelah selesai berolahraga aku memutuskan mengajak Hinoto untuk duduk sesaat. Karena ada yang aku ingin bicarakan dengannya.


"Apa kau sudah mengetahui apa rencana Rosetta?!" tanyaku pada.


"Sepertinya, dia sudah mengetahui semua kegiatan anak-anak." Dia menjawab dengan penuh rasa khawatir di dalam hatinya.


Aku terkejut dengan apa yang baru saja dia katakan, lalu aku bertanya kembali mengapa dia bisa berkata seperti itu. Dia pun mengatakan sewaktu di Kyoto dia dan Lexa bertemu dengan Rosetta.


Rosetta mengatakan pada Hinoto jika dia sudah mengetahui setiap kegiatan anak-anak. Dan dia yakin jika di dalam rumah ini ada seorang mata-mata atau pengkhianat.


Mataku terbelalak saat mendengar ada mata-mata dalam rumah ini, aku sungguh tidak bisa percaya akan semua ini karena semua pengalaman atau pelayan di rumah ini memiliki tingkat kesetiaan yang cukup tinggi.


Jika Hinoto mengatakan ini, itu tandanya aku harus melainkan memperketat kavling pengawasan. Akan aku suruh Aldo untuk mencari tahu siapa mata-mata yang ada di rumah ini.

__ADS_1


Setelah mengatakan itu Hinoto pamit padaku karena dia ingin bermain air dengan Zeroun. Dia sangat merindukan anaknya itu karena sudah beberapa hari mereka tidak bertemu.


__ADS_2